Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 70


__ADS_3

Tak terasa kini usia Baby Nura sudah satu bulan, baby Nura semakin imut dan juga gendut membuat Rian dan juga Maudy bertambah gemas dengan anaknya.


Karena perhatian yang Rian kasih akhirnya Maudy tak lagi mengalami Syindrom baby blues, ia mulai terbiasa bangun tengah malam untuk mengASIhi Nura walaupun tak di temani oleh Rian.


"Sayang Nura aku bawa berjemur ya !" teriak Rian di pagi hari.


"Iya mas" balas Maudy yang masih berada di kamar mandi.


Cuaca di pagi hari ini begitu mendukung untuk berjemur, Rian membawa Anaknya kehalaman belakang dimana sangat pas untuk di bawa berjemur.


Rian duduk di kursi yang ada disana, ia pandangi wajah Nura yang sangat mirip dengan Maudy.


"Katanya kalau anak cewek mirip sama Papanya, kok kamu malah mirip Mama Nak" gumam Rian.


Tangan mungin Nura melambai-lambai, serta suara khas bayi terus terucap di bibir mungil Nura, membuat Rian terkekeh dan menciumi pipi Nura bertubi-tubi.


"Terima kasih sudah hadir di hidup Papa ya Nak ! kamu akan menjadi bidadari dalam hidup Papa"


"Tidak akan Papa biarkan orang lain menyakiti kamu, Papa akan melakukan apa saja supaya kamu tetap bahagia"


Baby Nura masih kecil tapi Rian sudah menjadi seseorang yang sangat posesif.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Sementara itu.


Tok--tok--tok.


Seseorang mengetok pintu kamar Alya dan Kenan.


"Sebentar ya !" ucap Alya.


"Hmmm" jawab Kenan


Alya membuka pintu kamarnya. "Ada apa Bi ?" tanya Alya pada Bi Mina


"Ada tamu Bu, sedang mencari Ibu" jawab Bi Mina.


Kening Alya mengkerut "Cowok apa cewek Bi ?" tanya Alya lagi.


"Cowok Bu"


Kenan yang mendengar suara Bi Mina langsung mendekat, "Siapa Bi tamunya ?" tanya Kenan.


"Saya juga tidak kenal, dia belum pernah datang kesini"


"Baik saya dan istri saya akan segera kebawah"


Setelah Bi Mina turun, Alya kembali membantu memasangkan dasi suaminya, lalu mereka berdua turun untuk menemui tamu yang katanya untuk Alya.

__ADS_1


Sembari menuruni anak tangga mata Alya dapat menanangkap seseorang sedang duduk membelakangi mereka.


"Siapa yang Yang ?" tanya Alya.


"Aku juga gak kenal Yang" balas Kenan


Hingga Kenan dan Alya sampai di ruang tamu, seseorang yang membuat Alya penasaran berdiri dan menoleh kebelakang.


"Rayhan ?" panggil Alya dengan suara bergetar.


Mata Rayhan menatap tajam kearah Alya "Dimana mama Ku kak ? kenapa Kakak membuangnya ? dimana Om Fandi ? dimana mereka ?" tanya Rayhan bertubi-tubi.


"Siapa dia Yang ?" tanya Kenan.


"Dia Rayhan anaknya Tante Mayang" jawab Alya.


"Jawab Kak dimana Mamaku ?" Rayhan kembali berkata namun sekarang sudah di iringi dengan mata yang berkaca-kaca.


Alya mendekati Rayhan, lalu memeluk Rayhan dengan erat. "Maafkan Kakak Ray, maafkan Kakak" ucap Alya terisak.


"Kenapa mereka Kakak buang ? apa salah Mama dan Om Fandi Kak ?"


Alya melepaskan pelukan nya lalu menatap wajah Rayhan dengan seksama "Mama kamu aman sayang, tidak Kakak buang, tapi kalau Kak Fandi dia sudah meninggal" jelas Alya.


"Apa ? Om Fandi telah meninggal ? kok bisa ?"


"Dia sudah menembak Papa ku, makanya para anak buah Papa membalas, Fandi dan Mama kamu sudah sangat jahat sama Istriku, saat Mama kamu mengalami kebutaan karena ulah nya sendiri Fandi berniat jahat untuk mengambil kedua mata istriku supaya mama kamu bisa melihat lagi" sahut Kenan


"Lalu siapa yang membiayai sekolah ku di Singapura selama ini ?" tanya Rayhan.


"Alya yang membiayai sekolah kamu, sampai kamu lulus seperti sekarang" jawab Kenan.


"Tolong Kak Kenan antarkan aku ke tempat Mama ! aku kangen sama Mama Kak !" pinta Rayhan.


"Baik hari ini saya antar kamu kesana, tapi kamu jangat kaget dengan kondisi mama kamu sekarang"


Rayhan mengangguk.


Sekitar jam 09:30 Kenan, Rayhan dan juga Alya langsung ke tempat dimana Tante Mayang berada. Alya menatap keluar jendela, kembali mengingat saat kebersamaan nya dengan sang Tante dulu, karena sampai saat ini Alya masih tak percaya kalau Tante Mayang baik dengan nya karena ada maunya..


Mobil Kenan berhenti tepat di sebuah bangunan bercat putih, Rayhan menatap sekeliling.


"Rumah Sakit Jiwa" gumam Rayhan.


Alya menghela nafas panjang "Ayok Ray !" ajak Alya.


"Kenapa kesini Kak ? apa ini tempat Mama ?"


Alya mengangguk "Disinilah Tante Mayang berada"

__ADS_1


Mata Rayhan kembali berkaca-kaca, Sang Mama berada di rumah sakit jiwa, itu berarti Mamanya ----


Ah rasanya Rayhan tak berani mengucapkan apa yang sedang ia pikirkan


"Ayo" ajak Kenan.


Rayhan membuka pintu mobil, dan berjalan mengikuti langka kaki Kenan dan Alya, jantungnya berpacu dengan kuat. Banyak jenis kegilaan disana, dan itu membuat Rayhan meringis.


Kenan dan Alya menghentikan langkahnya di depan sebuah ruangan, membuat langka kaki Rayhan juga ikut berhenti.


Ceklek.


Alya membuka pintunya.


Di dalam ruangan itu seorang wanita paruh baya sedang di ikat kakinya supaya tak bisa kemana-mana.


"Mama" teriak Rayhan dan langsung berlari memeluk tubuh sang Mama dengan erat.


"Tante, ini Alya tante" ucap Alya mendekati Tante Mayang.


Tante Mayang hanya tersenyum kemudian tertawa terbahak-bahak "Rumah ini dan segala isinya sudah menjadi milik saya, bukan punya Alya ini punya saya" teriak tante Mayang membuat Rayhan menatap wajah Alya lagi.


"Kenapa Mama jadi seperti ini ? ini Ray Ma, anak kesayangan Mama" ucap Rayhan .


Saat Rayhan ingin mengelus pipi Tante Mayang, tangan nya malah di tepis dengan cukup keras.


Tidak berapa lama dokter yang di tugaskan Kenan merawat Tante Mayang masuk keruangan itu.


"Bagaimana keadaan pasien dok ?" tanya Kenan.


"Kondisinya masih sama Tuan Kenan, tapi saya akan terus mencoba untuk menyembuhkan pasien" jawab Dokter Radit.


Rayhan mendekat "Apa kemungkinan masih ada harapan Mama saya untuk sembuh dok ?" tanya Rayhan.


"Ada, tapi itu sangat kecil" jawab Dokter Radit.


Rayhan hanya menatap nanar sang Mama, telinga terus mendengar dengan jelas teriakan dan jeritan sang Mama.


"*Rumah ini punya saya !"


"Saya kaya sekarang !"


"Alya tidak berhak atas rumah ini lagi*"


Membuat Rayhan memejamkan matanya, dengan perasaan yang teramat sakit.


Iya sungguh sakit saat melihat keadaan sang Mama yang seperti ini, hati anak mana yang tidak hancur melihat Mama di ikat seperti ini.


Kenan menepuk bahu Rayhan dengan pelan "Sabar Ya !" ucap Kenan.

__ADS_1


"Mungkin ini hukuman untuk Mama, karena sudah jahat sama Kak Alya, walaupun aku tak tahu apa yang terjadi tapi mendengar ucapan Mama aku bisa menyimpulkan bahwa Mama ingin hartanya Kak Alya" jawab Rayhan


Kenan merasa legah karena akhirnya Rayhan mau mengerti, selama ini ia masih takut kalau belum bertemu dengan Rayhan ia takut Alya akan kenapa-napa lagi.


__ADS_2