Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 44


__ADS_3

Keesokan paginya, karena hari ini adalah hari minggu Keyla tidak sekolah. Papa Bayu mengajak ketiga cucunya bermain sambil belajar.


"Kakek coba tebak Zio gambar apa ?" tanya Zio sambil mamerkan gambar hasil buatan nya sendiri.


"Apa ya ?" Papa Bayu tampak berpikir.


"Aku tau, aku tau" sahut Alwi antusias.


"Apa ?" tanya Zio kepada Alwi.


"Cacing" balas Alwi.


"Salah !" Zio menggelengkan kepalanya.


"Terus apa ?" kali ini Keyla menyahut, ia mengkerutkan keningnya lalu memperhatikan gambar dari Zio.


Jelas itu terlihat seperti cacing, karena hanya ada garis panjang yang meleok-leok.


"Ular" jawab Zio.


"Mana kepalanya ?" tanya Keyla heran.


"Kepalanya kecil Kak, tu lihat" Zio menunjuk ujung garis yang di beri lingkaran kecil. Sangat beda sekali dengan gambar ular.


Papa Bayu tersenyum melihat ketiga cucunya, Keyla dan Zio menerima kehadiran Alwi dengan baik.


"Semoga sampai besar kalian akan selalu rukun seperti ini" batin Papa Bayu penuh harap.


-


-


"Alwi suka makan apa Mas ? biar aku masakin ?" tanya Maudy.


"Nanti aku tanya dulu. Mas juga belum paham sama makanan kesukaan dia" jawab Rian.


"Ya sudah sana kamu temenin Alwi main, aku mau masak sama Kak Alya" pinta Maudy.


"Baik sayang. Tapi kamu jangan capek-capek ya, ingat ada anak Mas juga di sini" Rian mengelus perut Maudy yang masih rata.


Maudy tersenyum "Iya Sayang" jawab Maudy.


Rian bergabung bersama Papa Bayu dan yang lain,juga ada Kenan disana. Sementara Maudy memasak bersama Alya.


"Masak apa Kak ?" tanya Maudy.


"Ini kakak lagi masak gurame asam manis, terus capcay sama ayam goreng kesukaan Keyla sama Zio kata Dewi Alwi juga suka banget sama Ayam goreng" jelas Alya.


Maudy menganggukan kepalanya, kemudian membantu Alya memasak. Banyak pelajaran yang Maudy ambil dari kehidupan Alya karena walaupun istri dari pengusaha sukses seperti Kenan tapi Alya tetap berpenampilan sederhana.


"Kamu udah cerita belum sama Papa dan Mama mu kalau udah ngisi ?" tanya Alya.

__ADS_1


"Udah Kak, minggu depan aku sama Mas Rian mau nginap disana"


Alya tersenyum "Beruntung kamu masih punya orang tua, jadi sayangi mereka, sering berkunjung apalagi kamu anak tunggal"


"Iya Kak"


Maudy tidak perna tau kalau kedua orang tua Alya meninggal karena di tabrak oleh Kenan sendiri, biarlah semua itu menjadi rahasia keluarga Abraham kareba Alya juga udah bahagia sekali hidup bersama Kenan.


"Udah jadi" seru Alya "Bi tolong tata di meja ya semua masakan nya !" pinta Alya kepada Bi Mina.


"Baik Bu"


Semua masakan sudah terhidang di meja makan, Maudy memangguil yang lainnya untuk ikut makan bersama.


-


-


-


Hari berlalu begitu cepat, bulan demi bulan terlewati, tak terasa kini kandungan Maudy sudah berusia 7 bulan. Tinggal dua bulan lagi ia akan segera melahirkan.


Hasil USG menyatakan kalau calon anak Rian dan Maudy perempuan. Rian semakin antusia menjaga sang istri apalagi saat kehamilan besar ini tekanan darah Maudy menjadi tinggi.


"Sayang Mas kerja dulu ya ! kamu jangan capek-capek di rumah. Mas akan segera pulang" ucap Rian.


"Iya Mas ,hati-hati di jalan. Aku akan baik-baik saja di rumah"


Rian mengecup kening Maudy sebentar kemudian berlalu pergi meninggalkan sang istri.


Namun Maudy tetap menjalani kehamilan nya dengan baik.


"Apapun yang terjadi kedepannya yang penting aku sudah menjadi wanita yang baik untukmu" itulah yang selalu menjadi jawaban Maudy saat Rian begitu khawatir.


Padahal di awal kehamilan tekanan darah Maudy begitu stabil, Rian selalu rutin mengeceknya. Namun saat kehamilan Maudy menginjak 6 bulan tekanan darah Maudy meningkat drastis.


Menurut informasi yang ia dapat tekanan darah tinggi akan hilang setelah melahirkan..


-


-


Sementara itu di rumah Dewi.


Wanita itu juga begitu sulit karena perutnya yang begitu besar, apalagi ada dua bayi di dalamnya.


"Berapa hari Mas ke Turki ?" tanya Dewi.


"Hanya 1 minggu sayang, itupun paling lama. Bisa-bisa Mas cuman 3 hari disana karena gak enak ninggalin kamu sendiri disini". jawab Afnan.


Dewi mengangguk kemudian duduk di samping sang suami. Ia menyenderkan kepalanya di bahu Afnan.

__ADS_1


"Kenapa hmm ?" tanya Afnan.


"Gak papa Mas. Lagi mikir aja kegiatan apa yang akan aku lakukan saat Mas pergi" jawab Dewi.


Afnan terkeleh kemudian mencium puncak kepala sang istri yang di tutupi hijab "Kan gak lama sayang, mas akan cepat pulang"


Haruanya Afnan berangkat beberapa bulan yang lalu tapi karena kondisi Dewi yang masih dalam tahap mengidam Afnan menunda keberangkatan nya.


"Nanti ajak Mama jalan-jalan supaya kamu gak jenuh" titah Afnan.


"Tapi akam susah Mas, aku juga maunya cuman sama Mas aja"


"Tumben manja biasanya selama ini Mas tinggal juga baik-baik saja, Apa efek hamil ya" Afnan kembali terkekeh.


Dewi menggeleng, ia terus menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, menikmati harum tubuh Afnan yang akan ia rindukan beberpa hari kedepan.


"Mas"


"Hmmm"


"Kemeja ini jangan di cuci ya !"


Afnan mengernyitkan keningnya "Kenapa memangnya ?" tanya Afnan heran.


"Buat nemenin aku tidur kalau Mas lagi gak ada, jadi gak terlalu rindu gitu"


Afnan kembali tergelak "Baiklah sayang, apapun itu akan Mas lakukan"


Kemudian beralih mengelus perut besar sang istri, baru saja Afnan menempelkan telapak tangan nya sebuah tendangan sudah Afnan dapatkan.


"Masya Allah anak-anak Abi, makin hari makin linca ya" gumam Afnan.


"Mereka tau kalau besok Abinya mau pergi" balas Dewi.


"Abi kan gak lama sayang, cuman seminggu"


Dewi tidak menjawab ia memejamkan matanya menikmati tendangan bayinya di dalam perut, sementara Afnan masih mengelus perut sang istri sambil melantunka sholawat nabi yang begitu merdu.


Sehingga membuat Dewi terbuai dan tidur di bahu sang suami. Begitu nyaman dan sangat nyaman dulu biasanya jika Afnan akan ke Turki ia tidak akan sesedih ini, tapi entah kenapa sekarang semuanya nampak berbeda, ia begitu berat melepaskan sang suami walau hanya 1 minggu sekalipun.


Apa karena efek hamil.?


Entahlah Dewi sendiri bingung namun kepergian Afnan kali ini begitu membuatnya khawatir dan juga takut.


"Tidur rupanya" ucap Afnan saat melihat mata sang istri terpejam.


"Dengerin suami sholawat mala tidur"


"Baik-baik disini ya sayang,.Mas akan kembali padamu. Jangan khawatir"


"Mas mencintaimu karena Allah"

__ADS_1


Afnan kembali mencium kening sang istri dengan sangat dalam.


"Ya Allah tolong jaga istriku saat hamba tidak di sisinya, selalu berilah ia kebahagiaan saat hamba tak bisa membahagiakannya. Jaga juga anak-anak hamba ya Allah" doa Afnan dalam hati.


__ADS_2