
Dewi tersenyum kecut saat mendengar kata talak dari suaminya, begitu lantang bahkan tanpa beban sedikitpun, Rian mengatakan semua itu seperti dia tak pernah memiliki rasa cinta sedikitpun.
“Terima kasih pernah menjadi suamiku selama ini, pernah akan menjadi ayah dari anak ku, dan terima kasih atas waktu yang kau korban ku untuk ku, maaf jika aku belum bisa jadi istri yang baik untuk mu, sekarang aku menghargai semua keputusan mu semoga ini yang terbaik dan tidak akan ada penyesalan suatu hari nanti” ucap Dewi lirih.
Setelah mengatakan semua itu Dewi meninggalkan mantan suaminya, dia masuk kedalam kamar untuk mengemasi barang-barangnya, rasanya dia tidak ada hak lagi untuk tinggal di rumah itu, rumah dengan beribu kenangan.
Satu tetes air mata Dewi hapus menggunakan ibu jarinya, sambil terus memasukan bajunya kedalam koper Sesekali Dewi meremas kain yang dia pegang, sakit sekali perasaan nya saat ini, tak di bayangkan jika iya akan menjadi janda di usia yang masih terbilang mudah.
Dewi tak membawa pakaian yang dia beli menggunakan dari uang Rian, dia hanya membawa pakaian yang dia bawa ketika baru pertama datang kerumah ini. Setelah selesai Dewi menyeret kopernya keluar dari kamar menuruni setiap anak tangga yang akan menjadi kenangan hidupnya.
Di ruang keluarga Rian masih berdiri mematung, mendengar suara orang berjalan Rian menoleh ada Dewi yang telah siap pergi dari rumah itu.
“Aku pamit Mas, sekali lagi maafkan atas kesalahan ku selama ini, tolong percepat urus surat perceraian kita apalagi kamu sudah mengatakan talak” ucap Dewi berusaha sekuat mungkin dia tidak ingin menjadi lemah di hadapan Rian sekarang ,Dewi ingin menunjukan kalau dia juga bisa bahagia walau tanpa Rian.
“Pergilah !! pergi yang jauh dari hidupku, aku tak ingin melihat wajahmu lagi seumur hidupku, dan kau tenang saja besok aku akan segera mengurus surat perceraian kita jadi jangan khawatir” kata Rian dengan nada yang sangat tegas.
“Iya Mas aku janji tidak akan menunjukkan kembali diriku dihadapan Mas, titip salam buat Papa Bayu, Kak Kenan dan juga Alya, sampaikan maafku kepada mereka”
Dewi kembali menarik kopernya, tak ada sedikitpun Dewi menoleh kebelakang, dengan langkah pelan dan deraian air mata Dewi membuka pintu rumah itu.
“Aku pergi, terima kasih sudah memberikan aku sedikit kebahagiaan, selamat tinggal cinta pertama ku, semoga kamu bahagia dengan keputusan mu, aku tak mengambil apapun dari rumah ini bahkan baju yang kubeli menggunakan uang mu tak ada satupun aku bawa, aku benar-benar ingin melupakan kamu”.batin Dewi.
Ceklek
Pintu rumah sudah terbuka, suara yang di timbulkan membuat Rian tetap menatapnya, tiba-tiba hatinya terasa kosong seiring dengan langkah wanita Yang sudah dia talak barusan.
Tapi karena keegoisan Rian yang sudah mendarah daging, kini Rian berusaha tak peduli dengan kepergian wanita Yang sudah menjadi mantan istrinya.
“Aaaahhhhhhh” Rian berteriak sekencang mungkin, dia memutuskan pergi ke kamarnya.
Di dalam sana matanya tertuju pada lemari yang terbuka masih ada baju Dewi yang tertinggal, bahkan bukan masih tapi ada banyak, Rian kembali menatap ke meja nakas samping tempat tidur ada handphone Dewi juga, Rian langsung mengeceknya.
“Kenapa pakaian dan ponselnya dia tinggal ?? apa dia masih berharap aku susul, Ciih jangan harap wanita sialan”
Rian mengecek ponsel yang selama ini Dewi gunakan, tapi ternyata ponsel itu sudah di restart dari pabrik sehingga semuanya kosong tak ada satupun foto atau aplikasi Dewi disana.
Ternyata saat kembali ke kamar Dewi sempat merestart hp nya terlebih dahulu, tapi sebelum itu dia memesan taksi online untuk mengantarnya ke rumah kedua orang tuanya.
__ADS_1
Di luar rumah, Dewi masih menunggu taksi yang akan menjemput nya, tidak berapa lama sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di hadapan nya.
“Dengan mbak Dewi ya ??” tanya sang sopir taksi sambil menurunkan kaca mobilnya.
“Iya Pak” jawab Dewi.
Sopir itupun keluar karena hendak membantu mengangkat koper yang di bawah Dewi.
“Tidak usah Pak, ini ringan kok” ucap Dewi tak enak hati.
“Oh ya sudah silahkan masuk Mbak ini sudah malam”
Dewi pun langsung masuk kedalam mobil, setelahnya sang sopir juga ikutan masuk, mesin mobil sudah di jalan kan Dewi menyandarkan kepalanya di jok mobil, memandang ke arah luar yang sedang gelap gulita.
Sesekali Dewi menghela nafas kasar saat ingatan nya kembali mengingat kata talak yang Rian ucapkan.
“Tak kusangkah pernikahan kita hanya sampai disini, perjuangan kita yang bertahun-tahun untuk menuju halal terasa sia-sia, hanya karena satu kesalahan ku kamu melupakan kasih sayang yang ku berikan” kembali Dewi membatin.
“Kejalan X ya mbak ??” tanya sang sopir membuyarkan lamunan Dewi.
“Mbak ada masalah ya ?? kok sepertinya sedih sekali”
Dewi hanya menanggapi dengan senyuman, tak mungkin dia menceritakan semua masalahnya apalagi kepada orang yang baru dia kenal.
“Jangan panggil aku Bapak, apa aku setua itu di matamu ?? aku masih berumur 27 tahun, eh tapi memang sudah tua ya. hehehe” kembali sopir itu berbicara sambil di iringin dengan tawa ringan.
Dewi menjadi tertawa lucu, orang di depan itu sangat lucu ternyata, dia yang mengaku belum tua tapi dia juga yang menyadari.
“Aku sebenarnya bukan sopir taksi loh Mbak, jadi jangan salah sangka”
“Lah terus ngapain Bapak eh maksudku Masnya narik taksi online kalau bukan sopir taksi ?? aku gak salah mobil kan ??” Dewi terlihat panik dia takut kalau ternyata dia salah mobil.
“Mbak gak salah, ini milik teman ku yang menjadi driver taksi online tadi saat kumpul dia dapat orderan makanya aku nyoba, eh ternyata seru juga ya apalagi dapet penumpang yang cantik”
“Oh” hanya itu Jawaban Dewi merasa tak suka dengan ucapan pria itu, sok akrab dan sok kenal.
“Kenalin namaku Rega, kalau mbak gak usah ucapin aku udah tahu nama mbak Dewi kan ??” ucap sopir itu yang mengaku bernama Rega.
__ADS_1
“Iya, kan pasti ada pemberitahuan di aplikasi nya” ucap Dewi ketus dia sedang tak ingin bercanda mengingat perasaan nya sedang terluka.
Tidak berapa lama mereka sudah sampai di jalan X yang Dewi katakan, Sopir yang bernama Rega itu segera menanyakan dimanakah rumah Dewi.
“Rumahnya nomor berapa ya mbak ??” tanya Rega karena mereka memasuki perumahan elit.
“Nomor 26 mas”
Rega segera mencari rumah bernomor 26 setelah mendapatkan nya Rega menghentikan mobilnya.
“Alhamdulillah sudah sampai" gumam Dewi pelan tapi masih bisa di dengar oleh Rega.
Setelah Dewi turun Rega mengikuti nya, membuat Dewi bingung dengan tingkah pria di hadapan nya itu.
“Kan udah aku bayar lewat aplikasi, kenapa ikutan turun ??”
“Oh iya-iya ,maaf lupa” Rega menggaruk kepalanya yang tak gatal merasa malu kepada Dewi.
Dewi menggelengkan kepalanya, setelah itu dia melangkahkan kakinya untuk membuka gerbang, dia melangkah dengan pelan.
Sementara Rega masih berdiri mematung sambil menatap wanita cantik yang menjadi penumpang nya tadi.
“Abi, Aa' aku mau nikah, Aku sudah menemukan cinta ku” batin Rega dengan senang. Dia langsung kembali ke mobil sambil bersiul-siul.
_
_
_
_
BERSAMBUNG......
JENG--JENG--JENG..
AYO ITU REGA SIAPA YA ??
__ADS_1