Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Sunset


__ADS_3

Hari mulai sore, matahari sudah mulai redup. Nafiza dan Brian masih berada di perjalanan, mereka menaiki mobil baru untuk Nafiza pemberian dari Brian, sebuah mobil mewah yang memiliki atap yang bisa di buka. Mobil tersebut melaju dengan backround senja yang sangat indah.



"Kita akan pergi ke mana?" tanya Nafiza setelah melewati perjalanan yang cukup jauh.


"Kita kan melihat matahari terbenam di pantai"


"Kenapa tidak bilang kalau kita akan ke pantai? aku belum berganti pakaian" Nafiza masih mengenakan kebaya, begitupun dengan Brian yang masih mengenakan setelan jas.


"Ada sebuah tas di belakang, Bi Inah sudah menyiapkan pakaian untuk kita" jawab Brian sambil tetap fokus mengendarai mobil.


Nafiza memutar tubuhnya ke belakang dan sedikit membungkuk ia mengambil sebuah tas kecil berwarna hitam yang ada di pojok kursi belakang. Ia langsung membuka dan memeriksa isi tas tersebut.


Ada dua pasang celana jeans dan t'shirt milik Brian dan Nafiza, ia juga menemukan satu set pakaian dalam miliknya dan satu lagi tak ketinggalan sebuah lingerie.


"Kenapa Bi Inah membekalkan baju ini" Nafiza mengangkat lingerie tersebut, Brian meliriknya.


"Tidak usah di pakai, percuma. Nanti hanya akan membuatku berkhayal yang bukan-bukan saja"


"Kasian jun meronta seperti apa pun tetap saja tidak masuk ke dalam GUAnya" Brian mengingat nasibnya semalam.


"Memangnya kita mau menginap?"


"Iya"


"Menginap hanya membawa pakaian ini? ya ampun"


"Kalau pakaianmu tak cukup kita bisa membelinya di pertokoan di pinggir jalan."


"Ya sudah" Nafiza pasrah, mobil yang di kendarai Brian melesat sangat cepat.


***


Nafiza dan Brian telah tiba di pantai, Brian memarkirkan mobilnya di atas hamparan pasir putih. Pantainya cukup sepi meski begitu pantai itu tetap asri dan indah.


"Uwaaaa akhirnya kita sampai, aku akan berganti pakaian. Kamu keluarlah dari mobil" Ucap Nafiza.


"Kenapa aku harus keluar? aku sudah melihat semuanya Nafiza, tak usah malu, tak ada yang bisa kamu sembunyikan"


"Aku tidak menyembunyikan apa pun, walaupun kamu sudah melihatnya tetap saja aku gugup jika harus membuka pakaianku di depanmu" wajah Nafiza merona.


"Aku akan menutup mata, bukalah sekarang" Brian sudah menutup matanya padahal Nafiza belum bersiap.


"Aku tidak percaya, kamu nanti pasti akan membuka matamu. Lebih baik sekarang cepat keluar saja dari mobil Brian"


"Aku sudah memejamkan mata, cepatlah Nafiza ganti pakaianmu. Aku tidak akan mengintip. Janji"


"Baiklah aku akan membukanya sekarang, kancing depan kebaya dulu ya" Nafiza membohongi Brian sebenarnya ia tidak membuka apa pun. "Lalu aku akan membuka daleman kebayanya"


Benar saja, mendengar Nafiza berkata membuka pakaian dan daleman, Brian membuka matanya sedikit dan melirik pada Nafiza.

__ADS_1


Bletak


Nafiza menyentil dahi Brian cukup keras.


"Aduh sakit" Brian mengusap dahinya dengan kedua tangannya.


"Katanya tidak akan mengintip!"


"Hehe, ayolah Nafiza aku hanya ingin melihatnya, aku tidak akan menyentuh dan melakukan apa pun"


"Bohong lagi, sudah cepat sana keluar! tunggu aku di luar saja!" Nafiza mendorong bahu Brian paksa.


Kekuatan tangan Nafiza cukup kuat, Brian tidak bisa melawannya. Akhirnya ia keluar dari dalam mobil, tetapi kini ia malah berdiri menghadap ke dalam.


"Percuma saja aku suruh dia keluar kalau ujung-ujungnya masih melihat ke sini!" gerutu Nafiza melihat Brian tersenyum sambil melambaikan tangannya. Nafiza mengibaskan tangannya memberi tanda Brian harus memutar tubuhnya.


Brian berpura-pura tidak mengerti, ia mengangkat kedua bahunya memasang wajah polos dan menggelengkan kepalanya.


"Haaahhhh" Nafiza menghela nafasnya, ia akhirnya memilih bersembunyi di kursi belakang dan mengganti pakaiannya. Brian berpindah ke tengah mobil mencoba mencari celah untuk melihat Nafiza tetapi yang kelihatan hanya kepalanya saja.


"Tidak kelihatan, Payah!" terjadilah drama suami berusaha mengintip istri berganti pakaian. Hehe


Nafiza keluar dalam mobil, ia sudah mengenakan celana jeans pendek dan atasan t-shirt.


"Ini sekarang giliranmu ganti" Nafiza menyerahkan tas kecil pada Brian.


"Iya" Brian membuka jasnya dan sekarang sedang membuka sabuk yang melingkar di pinggangnya.


"Kamu mau membuka celanamu di sini!" Nafiza menengok ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang selain mereka.


"Isshhh malu Brian" Nafiza membuang wajahnya tetapi kemudian meliriknya.


"Kalau kamu mau lihat ya lihat saja, sudah pernah juga" goda Brian.


"Boleh ya"


"Boleh lah" Nafiza melihat ke arah Brian berharap melihat sesuatu tetapi ternyata saat Brian menurunkan celananya masih ada celana pendek yang di pakainya.


"Hemmmmm" Nafiza kecewa.


"Hahahaha dasar mesum! kamu kira aku akan sembarang membuka celana di depan umum! tubuhku ini hanya boleh di lihat olehmu Nafiza"


"Ya ya ya karena kamu sekarang otakku jadi mesum" Nafiza mengangguk-nganggukan kepalanya pelan.


"Kalau mau berharap lebih tunggu seminggu lagi, kamu kan yang menyuruhku bersabar"


"Iya siapa juga yang mau sekarang!" Nafiza menjulurkan lidahnya dan pergi meninggalkan Brian berjalan menuju ombak kecil di depannya. Kakinya basah terkena air laut.


Brian melepas kemeja dan mengenakan t-shirt nya, ia juga menghampiri Nafiza.


"Jangan berenang sekarang ya"

__ADS_1


"Iya" Nafiza dan Brian bermain-main


mereka saling menyipratkan air dengan kakinya sambil berlari-lari dan tertawa bersama.


Setelah sedikit lelah mereka akhirnya memilih untuk duduk dan memandang matahari yang mulai terbenam di depan mereka.



"Indah sekali" Nafiza menyadarkan kepalanya di bahu Brian.


"Senja memang sangat indah, karena senja selalu menerima langit apa adanya"


"Ciye puitis" ledek Nafiza, Brian merangkul bahu Nafiza dan membelai rambutnya pelan.


"Senja itu seperti aku, aku yang menerima kamu apa adanya" ucap Brian sambil tersenyum tipis.


"Terima kasih ya kamu sudah mau menjadi suamiku"


"Sama-sama, terima kasih juga kamu sudah mau terus mendampingku" Brian mengecup kening Nafiza pelan.


"Kamu pernah tidak camping di pinggir pantai?" tanya Nafiza tiba-tiba.


"Belum, kenapa? kamu mau?"


"Sepertinya menarik. Lain kali kita harus membawa tenda ke sini"


"Baiklah, tidak usah nanti. Sekarang juga bisa" Brian melepas tangannya dari bahu Nafiza dan mengambil ponsel dari dalam sakunya. Ia menelfon seseorang.


"Halo tuan" Suara Troy.


"Troy tolong siapkan peralatan untuk camping di pinggir pantai ya, antarkan ke sini. Aku akan share lock lokasinya"


"Baik tuan" Brian menutup telefonnya.


"Kekuasaan seorang Brian, hanya tinggal telfon semua jadi" ucap Nafiza, Brian hanya membalasnya dengan senyuman, ia kembali merangkul bahu Nafiza dan bercengkrama sambil menunggu Troy tiba.


***


Maaf ya episode kali ini nanggung. Hehe


Ada beberapa pekerjaan yang harus Author kerjakan di dunia nyata


Mohon tunggu part selanjutnya ya


Bagaimana malam Brian Troy dan Nafiza di pantai. 😁


Oia author mau merekomendasikan salah satu novel menarik punya teman author



Ceritanya seru loh jangan lupa mampir ya

__ADS_1


Tetap jaga kesehatan dan jangan lupa bahagia Readers


Love love love


__ADS_2