Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Semua Proses Untuk Mendapat Kebahagiaan


__ADS_3

Tita masuk ke dalam rumah tergesa-gesa, semua barang bawaannya telah di ambil oleh asisten rumah tangganya. Ia berjalan menuju kamarnya dan begitu sampai ia mengunci kamarnya dari dalam.


Ibu Tita di beritahu jika anaknya telah pulang, ibu pun beberapa kali mengetuk pintu kamar Tita.


Tok tok tok


"Ta kamu sudah pulang? sudah makan belum?" ibu mendorong gagang pintu tetapi tak bisa di buka dan sang pemilik kamar belum terlihat batang hidungnya. "Ta buka pintunya"


"Aku sudah makan bu, nanti saja ya bicaranya. Aku lelah mau istirahat" teriaknya dari dalam dengan suara yang sedikit parau.


"Kamu baik-baik saja kan? ada apa dengan suara kamu?"


"Aku tidak apa-apa bu, ini karena aku terlalu senang berlibur dan tertawa jadi suaraku sedikit serak"


"Oh ya sudah, jangan lupa bersihkan dulu badanmu sebelum tidur"


"Iya" ibu merasa curiga sepertinya Tita ada masalah, ini pertama kalinya ia bersikap muram. Tetapi anaknya kini sudah beranjak dewasa jika ia belum mau menceritakannya ibu tidak bisa memaksanya. Nanti setelah suasana hatinya lebih baik barulah ibu akan bertanya, ibu meninggalkan kamar Tita dengan banyak pertanyaan di dalam fikirannya.


Sedangkan Tita, kini ia sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia terus menyeka buliran air mata yang mengalir tiada hentinya. Rasanya sakit, dadanya sesak hingga beberapa kali ia merasa sulit bernafas.


"Jahat! kak Troy jahat!" Tita mengambil ponsel miliknya, ia berbicara sambil memandang foto Troy. Melihat fotonya yang tersenyum ia menjadi semakin histeris.



"Kenapa kamu tersenyum padaku! Apa kamu senang membuatku menderita! aku bilang berhenti tersenyum padaku!!" Tita menyentil-nyentil layar ponselnya kemudian ia pun melemparnya ke kasur di depannya.


"Aku benci padamu kak Troy!" Tita menjambak rambutnya sendiri, ia melirik pada ponselnya yang tergolek dan kembali meraihnya. "Aku ingin kamu juga punya perasaan yang sama denganku tapi kenapa tidak bisa" Tita mulai sesegukan ia memandangi foto Troy kemudian memeluk ponselnya di dadanya. "Rasanya sakit tapi aku tidak bisa berhenti mencintaimu"


***


Troy telah sampai di kediamannya, ia menaruh tas yang melingkar di bahunya ke atas kursi, ia mendudukan dirinya di sofa samping jendela.


"Aku benar-benar tidak tahu bagaimana perasaanku pada Tita dan juga menjalin suatu hubungan? aku masih takut memulainya, rasa sakit karena mantan pacarku saja masih aku ingat sampai sekarang tetapi sikapku yang seperti ini pun membuat Tita pasti sedih, aahhhh ini bisa membuatku menjadi gila!" Troy berdiri dan membuang dirinya di ranjang.


Ia meletakkan satu tangannya di wajahnya, fikirannya menerawang, ia harus menata hatinya dan memberi Tita jawaban secepatnya.


***


Keesokan harinya, Brian dan Nafiza tengah bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Perkataan Nafiza yang ingin mengikuti program hamil membuat Brian sangat bersemangat dan ingin segera berkonsultasi dengan dokter kandungan. Bahkan hari ini ia tidak pergi ke perusahaan yang beberapa hari ia tinggalkan untuk berlibur.


"Nafiza apakah kamu benar-benar sudah memikirkannya, jika nanti saat kuliah kamu hamil besar bagaimana?" tanya Brian, mereka telah ada di dalam mobil.


"Ini ke sepuluh kalinya kamu menanyakan pertanyaan yang sama padaku sejak kemarin Brian"

__ADS_1


"Aku hanya penasaran sayang takut-takut jika jawabanmu berubah"


"Aku tidak akan merubah keputusanku suamiku, tak apa jika hamil besar aku tetap bisa belajar dan saat waktunya melahirkan aku akan cuti sebentar, itu kan sudah kodratnya perempuan"


"Wah istri kecilku sekarang sudah mulai dewasa"


"Tentu saja, mana mungkin aku akan bersikap kekanak-kanakan terus"


"Aku jadi semakin menyayangimu" Brian mengelus kepala Nafiza sambil tersenyum menatapnya.


"Jangan memandangku terus, alihkan pandanganmu ke depan! kamu sedang menyetir"


"Hehe iya iya" Brian kembali fokus mengendarai mobilnya.


Tak lama kemudian mereka telah sampai di tempat tujuan, Brian sudah mendaftar online jadi mereka bisa langsung menemui dokter kandungannya.


Kebetulan mereka datang tepat waktu dan nama Nafiza di panggil sebagai pasien pertama.


"Selamat siang" sapa dokter Abyan.


"Siang juga dok" Brian dan Nafiza duduk di depan dokter Abyan.


"Kita bertemu lagi tuan dan nyonya, kali ini ingin berkonsultasi tentang apa?"


"Wah sekarang sudah siap ya, ada beberapa hal yang harus di perhatikan saat mengikuti program kehamilan. Yang pertama apa nyonya menggunakan alat kontrasepsi?"


"Alat kontrasepsi seperti apa dok?" tanya Nafiza kurang mengerti.


"Alat yang bisa menunda kehamilan, ada yang berbentuk pil, kond*m dan iud atau spiral"


"Oh kalau yang pengaman itu dok, kami hampir memakainya tetapi menurut yang aku baca katanya rasanya tidak enak jadi kami tidak jadi memakainya" jawab Nafiza polos kemudian langsung di bahunya di senggol oleh bahu Brian.


"Tidak usah di ceritakan secara detail seperti itu Nafiza" bisik Brian malu sambil menundukkan wajahnya dan tersenyum.



"Baiklah berarti anda belum pernah menggunakan alat konstrasepi ya nyonya?"


"Hampir tapi tidak jadi dok" Nafiza sengaja mengulangi perkataannya lagi untuk menggoda Brian yang sedari tadi mulutnya bergerak-gerak tetapi tidak mengeluarkan suara. Dokter Abyan pun sedikit tertawa melihat tingkah suami istri polos kedua pasiennya sambil mencatat sesuatu di buku besarnya.


"Selanjutnya kami akan memeriksa kesehatan dan kesuburan tuan dan nyonya" Suster mengajak Brian dan Nafiza pergi ke ruangan lain untuk melakukan pemeriksaan.


Beberapa rangkaian pemeriksaan sedang Brian dan Nafiza jalani dari tes urine, tes darah, dan usg. Mereka berada di ruangan tes yang berbeda.

__ADS_1


"Ternyata ikut program seperti ini cukup menyita banyak waktu ya" ucap Brian di samping Nafiza kini mereka hanya tinggal menunggu hasil pemeriksaannya. Suster memberikan beberapa berkas pada dokter Abyan dan ia membacanya dengan seksama.


"Tuan dan nyonya hasil untuk pemeriksaan kesehatannya bagus, anda berdua sehat wal'afiat"


Brian dan Nafiza menghela nafasnya, rasanya lega mendengar hasilnya. Sekarang hanya tinggal menunggu hasil tes kesuburan, jujur saja jantung mereka berdua berdegup kencang, mereka gugup takut hasilnya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan.


"Untuk tes kesuburan nyonya bagus, kondisi rahim dan sel telur semuanya sehat dan tidak memiliki masalah dan untuk tuan . . "


Brian menelan salivanya, tangannya sedikit bergetar.


"Untuk tuan kesuburannya normal" Brian mengusap dadanya lega. "Sperm* yang dihasilkan bagus memiliki 20-200 juta sel yang dihasilkan dalam setiap mililiter air man*"


"Sekarang tuan nyonya hanya tinggal mengatur waktu untuk melakukan hubungan suami istri, lebih baik di lakukan pada masa subur perempuan yang akan di jelaskan nanti oleh suster" Suster menjelaskan pada Nafiza dan Brian cara menghitung masa subur.


"Baik selanjutnya kita akan bertemu lagi bulan depan, semoga tuan dan nyonya segera di beri momongan" ucap dokter menyudahi konsultasi kali ini.


"Aamiin, terima kasih dok" Brian dan Nafiza berpamitan dan keluar dari ruangan dokter. Setelah mengambil beberapa vitamin dan obat mereka langsung menuju parkiran untuk segera pulang.


"Brian tadi kamu menjalani tes apa? kenapa dokter sampai mengetahui kualitas sperm* Jun?"


"Hahahaha, kamu sudah terbiasa ya memanggil jun?"


"Issh aku serius, jawab saja pertanyaanku"


"Bagaimana ya aku menjelaskannya"


"Jangan-jangan kamu tadi bermain dengan suster ya? sampai Jun?" Nafiza menggerakan tangannya memperagakan orang muntah.


"Kamu tidak waras ya, mana mungkin aku melakukan hal tidak terpuji seperti itu"


"Lalu bagaimana bisa keluar?"


"Ahhhh sudahlah aku tidak mau menjelaskannya, itu rahasia kaum laki-laki"


"Ih Brian aku mau tahu" rengeknya.


"Jangan itu rahasia besar"


"Briannnnnnn" Nafiza mengejar Brian yang berlari meninggalkannya sambil masuk ke dalam mobil. Nafiza menyusulnya dan memasang sabuk pengaman, sepanjang perjalanan mereka sibuk membahas cara Brian tadi menjalani tes kesuburan dan Brian tidak mau menjelaskannya.


***


Selamat pagi semuanya

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 😍😘


__ADS_2