Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Tidak Tahu


__ADS_3

Pagi hari, Nafiza masih membuka dan menutup matanya perlahan seperti orang yang kelilipan saat seberkas cahaya keemasan menerobos masuk melalui celah jendela kamar bernuansa putih itu, ya kamar Nafiza dan Brian. Nafiza merentangkan tangannya lebar lalu mengucek-ngucek kelopak matanya yang masih terasa berat. Nafiza berpikir sejenak rasanya ingin menyambungnya lagi, tidurnya karena ia belum memiliki kegiatan apa pun. Lulus sekolah tetapi belum mendaftar ke Universitas. Ia benar-benar seorang pengangguran sementara.


"Bangun Nafizaku sayang" suara Brian sambil sesekali menepuk-nepuk bahu Nafiza.


"Hem kamu sudah bangun?" di bukanya lagi matanya perlahan, Brian duduk di sampingnya dan penampilan Brian sudah rapi. "Kamu akan bekerja hari ini?"


"Iya pekerjaanku di kantor sangat banyak, aku harus segera menyelesaikannya"


"Memangnya kamu sudah merasa baikan? dokter kan masih menyuruhmu beristirahat, masih ada sisa 1 hari lagi seharusnya kamu diam di rumah" Nafiza mendudukan dirinya di samping Brian, ia mengingatkan jadwal istirahat yang tertulis pada surat dokter. Brian memang sudah menghabiskan 2 hari beristirahat di rumah.


"Aku sudah sembuh kok, lagi pula aku rutin meminum obat dan juga vitamin jadi sekarang aku benar-benar sehat" Brian mengelus rambut Nafiza pelan.


"Ya sudah, jangan sampai telat makan ya"


"Iya, aku berangkat ya" Brian mengecup kening Nafiza.


"Hati-hati ya suamiku" Brian tersenyum dan menganggukan kepalanya pelan, ia meraih tasnya yang di taruh di meja dan keluar dari kamar pergi untuk bekerja.


Nafiza mengedarkan pandangannya, ia berfikir apa yang akan ia lakukan hari ini.


Kring Kring Kring


Suara ponsel Nafiza berdering, ia segera mengambilnya dari atas nakas. Terlihat panggilan itu berasal dari Tita.


"Halo"


"Selamat ulang tahun Nafiza, semoga panjang umur sehat selalu, di beri rezeki yang banyak dan cepat punya anak" suara Tita nyaring penuh semangat.


"Memang ini tanggal berapa Ta?"


"Kamu tidak lihat kalender ya sekarang tanggal 1 Agustus, hari ulang tahunmu"


"Oh aku sudah lama tidak mengingat-ngingat tanggal jika bukan hari sekolah, hehe. Terima kasih ya Ta kamu sudah mengingatnya"


"Sama-sama, ayo kita bertemu"


"Yuk, kita ketemu di kafe biasa ya nanti jam 11"


"Oke"


"Kalau begitu aku akan mandi dan bersiap-siap dulu, Sampai bertemu di kafe Ta"


"Daaahhhh" Nafiza menutup teleponnya. Ia meremas ponsel miliknya.


"Brian tahu tidak ya ini hari ulang tahunku?" Nafiza sedikit kecewa, sikap Brian dari kemarin dan hari ini biasa saja. Seolah tidak tahu.


***


Nafiza mengendarai mobilnya, masih sedikit rusuh. Terlalu kencang dan menyalip-nyalip padahal Brian sudah memperingatkannya untuk tidak mengendarai mobil sebelum ia mengikuti kursus mengemudi dan mempunyai SIM tetapi entah kenapa perasaan kecewa yang menyelimutinya membuatnya berani dan tidak menuruti perintah Brian. Bahkan tawaran pak Ramli untuk mengantarkannya juga ia tolak, hati Nafiza sedang kalang kabut karena ia berharap Brian memberinya ucapan selamat ulang tahun.


Nafiza telah sampai di kafe tempatnya ia dan Tita akan bertemu, setelah memarkirkan mobilnya ia segera masuk ke dalam. Rupanya Tita sudah sampai duluan, ia terlihat duduk di kursi dan di meja depan Tita ada yang spesial. Sebuah kue ulang tahun kecil dengan lilin angka 18 yang sudah menyala, Nafiza di sambut oleh senyuman sumringah Tita yang membuatnya jadi terharu.


Selamat ulang tahun


Selamat ulang tahun


Selamat ulang tahun Nafiza


Semoga panjang umur


Tita bahkan menyanyikan sebuah lagu untuk Nafiza sambil bertepuk tangan, Nafiza mendudukan dirinya di depan Tita.


"Selamat ulang tahun sahabatku tersayang sekarang cepat tiup lilinnya" Nafiza tak bisa berhenti tersenyum, kemudian ia meniup lilin pada kue tersebut kembali di beri tepukan tangan Tita.


"Kamu sampai repot-repot membeli kue Ta"


"Tidak repot ko, ini kan hari spesialmu"

__ADS_1


"Sekali lagi terima kasih banyak ya Ta" tiba-tiba wajah Nafiza berubah menjadi sedih.


"Kenapa Fiz wajahmu sedih? apa terjadi sesuatu antara kamu dan Brian hari ini?"


"Tidak ada justru Ta, sepertinya Brian tidak tahu ini hari ulang tahunku"


"Masa sih?"


"Iya sikapnya tadi pagi juga biasa saja malah ia sekarang sudah pergi bekerja, kalau ia tahu ia mungkin sudah mengucapkannya dan mengajakku pergi jalan-jalan"


"Kamu tidak memberitahunya hari ini hari ulang tahunmu?"


"Aku juga lupa jika tidak kamu yang mengucapkannya duluan"


"Kasihan, miris sekali nasibmu Fiz" Nafiza semakin menekuk wajahnya.


"Kamu bilang saja pada Brian beritahu hari ini ulang tahunmu, mungkin saja dia benar-benar lupa sebelum terlambat"


"Hem biarkan sajalah Ta kalau dia tidak ingat, sudah jangan membahasnya lagi lebih baik kita makan kue ini sepertinya enak" Nafiza mengambil pisau yang berada di samping kuenya.


"Iya cepat potong kuenya" Nafiza dan Tita menghabiskan waktu sampai sore bersama-sama.


Hari mulai gelap Tita memutuskan untuk pulang sedangkan Nafiza memilih untuk pergi ke kantor Brian, ia masih penasaran apa Brian benar-benar tidak tahu ini hari ulang tahunnya.


Nafiza sudah sampai di kantor Brian, berjalan masuk ke lobi naik lift kemudian sekarang sudah sampai di depan pintu ruangan suaminya. Ada Troy yang duduk di meja depan pintu.


"Nona ada keperluan apa datang kemari?" tanya Troy.


"Aku ingin bertemu Brian, dia ada di dalam kan kak Troy?"


"Ada, silahkan nona masuk" Troy mengetuk pintu dan membukakannya untuk Nafiza, ia langsung masuk ke dalam. Troy menutup pintunya kembali.


Terlihat Brian yang sedang sibuk dengan komputer di depannya, ia tidak melirik sedikitpun kepada Nafiza.


"Kamu masih sibuk bekerja?" suara Nafiza mengejutkan Brian.


"Aku hanya mampir tadi habis bertemu Tita"


"Ooohhh" Brian melanjutkan pekerjaannya kembali.


"Brian kamu tahu tidak hari ini tanggal berapa?" tanya Nafiza memberanikan diri.


"Tanggal 1 agustus, kenapa?"


"Sepertinya dia benar-benar tidak tahu ini hari ulang tahunku" batin Nafiza.


"Tidak ada apa-apa kok" Nafiza menggulung-gulung tali pada tas slempang yang di pakainya.


"Kamu ke sini di antar pak Ramli?" tanya Brian sambil sambil mengetik-ngetik keyboard komputernya.


"Aku membawa mobil sendiri" mendengar ucapan Nafiza Brian langsung menghentikan aktifitasnya dan menatap tajam pada Nafiza.


"Aku kan sudah bilang kamu harus kursus menyetir dulu dan dapat SIM, kamu belum stabil mengendarai mobilnya" tegasnya.


"Tapi buktinya aku baik-baik saja kan sampai di sini"


"Sekarang kamu bisa sampai sini tapi nanti kalau terjadi apa-apa bagaimana? kenapa kamu tidak mendengarkan ucapanku" Brian berbicara dengan intonasi yang lebih tinggi.


"Kenapa kamu membentakku? kamu tidak percaya pada kemampuanku?" Nafiza jadi ikut tersulut emosi.


"Iya, kamu belum terlalu paham tentang mengendarai mobil, aku sudah melarangmu tetapi kamu tidak menurutinya!"


"Brian kamu sangat menyebalkan dan egois!" Nafiza menghentakkan kakinya dan pergi berjalan keluar ruangan Brian, hatinya merasa sakit. Hari ulang tahunnya menjadi hal buruk.


"Kamu mau kemana!" Brian beranjak mengejar Nafiza dan menarik tangannya.


"Aku mau pulang!" Nafiza menepis tangan Brian.

__ADS_1


"Aku antar" Brian menarik kembali tangan Nafiza keluar dari ruangan Brian bersama-sama. "Troy tolong matikan komputer" ucapnya melewati meja Troy.


"Baik tuan"


Brian dan Nafiza sudah keluar dari kantor dan kini berada di jalan raya, Brian mengendarai mobil Nafiza. Tidak ada pembicaraan apa pun dari keduanya, Nafiza memalingkan wajahnya pada jendela, sangat sedih sesekali ia menyeka air matanya.


Mereka telah sampai di rumah, Nafiza buru-buru turun dari mobil langsung menuju ke dalam rumahnya. Brian kembali mengejarnya dan memegang tangannya.


"Ada apa denganmu? kenapa kamu bersikap seperti ini?" tanya Brian.


"Kamu yang aneh, membentakku hanya karena hal sepele padahal sebelumnya kamu tidak pernah marah padaku" air mata Nafiza tak terbendung. Brian menarik tangan Nafiza pergi ke halaman belakang rumah mereka.


Ketika sampai di halaman belakang Nafiza terperanjat, lampion-lampion kecil terhias rapi di halaman mereka, di kolam berenang terdapat mangkuk-mangkuk kecil berisi lilin berwarna merah serta ratusan bunga mawar yang mengambang di atasnya.


Nafiza menggigit bibirnya dan matanya kembali berkaca-kaca saat melihat spanduk yang terpasang di atasnya.


SELAMAT ULANG TAHUN ISTRIKU NAFIZA


AKU MENCINTAIMU πŸ’•


Nafiza menyeka air matanya kali ini bukan air mata kesedihan tetapi air mata bahagia. Brian mengapit tangan Nafiza menuju ke sebuah meja kayu dengan dua kursi. Terdapat kue ulang tahun, lilin-lilin merah dan sebuket bunga.


Nafiza duduk di kursi di ikuti Brian, mereka duduk saling berhadapan.


"Terima kasih ya aku kira kamu tidak tahu ini hari ulang tahunku"


"Mana mungkin aku tidak tahu hari ulang tahun istriku" Brian menggenggam tangan Nafiza kemudian menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang dengan pita berwarna gold. "Selamat ulang tahun ya sayang" ucapnya sambil tersenyum.


"Iya"


"Bukalah kadonya"


Nafiza membuka kotak tersebut, ia mengangkat isinya. sebuah Lingerie berwarna pink.


"Apa ini kenapa hadiahnya ini?"


"Kamu belum pernah memakai pakaian itu saat bersamaku"


"Aku memang punya beberapa dan aku tidak memakainya"


"Iya mangkanya kalau yang ini hadiah spesial dariku jadi kamu harus pakai"


"Mesum!!"


"Hehe aku kan sudah memberikan semuanya padamu. Rumah, mobil perhiasan jadi sekali-sekali yang bermanfaat bagiku dan bagimu kan tidak apa-apa" Nafiza menyipitkan matanya memandang Brian. "Bagaimana kalau kamu ingin berterima kasih padaku langsung saja pakai sekarang lingerienya" Brian menghampiri Nafiza dan menggendongnya ala bridal style.


"Aku belum tiup lilin dan potong kue" Brian membawanya ke dalam.


"Nanti habis ini baru kita lanjutkan ulang tahunnya"


Dalam hitungan detik Nafiza sudah berada di dalam kamar menuju ke peraduan cinta mereka.


"Sudah boleh kan?" tanya Brian, Nafiza mengangguk pelan.


Malam ini menjadi malam ulang tahun yang panjang untuk Nafiza.


Brian : "Gak di jabarin thor step by step nya?"


Author : "Emang maunya di publikasikan?"


Brian : "Kan yang baca penasaran ngapain aja. Iya kan readers??


Readers : "Iyaaaaa" (author jawab sendiri hahaha)


Author : "Tar aja besok lagi ya" 😁


Brian dan Readers : "Huuuuhhhh"

__ADS_1


__ADS_2