
Dengan tergesa-gesa Rian keluar rumah, menemuin Maudy yang katanya ada di depan.
Benar saja saat mata Rian melihat keluar gerbang, ada sebuah mobil terparkir, Segera Rian memakai payung untuk menghampiri mobil tersebut.
Tok--tok--tok.
Rian mengetok kaca mobil. Lalu kemudian terlihat lah wajah Maudy.
“Ngapain sih hujan-hujan kesini ??” tanya Rian masih menatap Maudy dengan seksama.
“Iiih kamu nih, orang kesini bukan nya di sayang malah di omelin” cibir Maudy kesal “Gak suka kalau aku kesini” lanjut Maudy lagi.
“Suka Sayang, tapi jangan lagi hujan deras seperti ini juga, kan bahaya”
Namun Maudy tak menanggapi selorohan Rian lagi. Rian menatap sekelilingnya, tanpa aba-aba Rian masuk kedalam mobil membuat Maudy heran dan juga kaget.
“Loh kok masuk juga ??”tanya Maudy heran.
“Udah diam.” ucap Rian “Pak jalan !!” punya Rian kepada sopir taksi.
“Mau kemana lagi Pak ??” tanya sang sopir taksi.
“Villa di jalan***” jawab Rian langsung.
Walau masih bingung Maudy tidak lagi bertanya, ia hanya diam kemana Rian akan membawanya.
Bukan tanpa alasan Rian membawa Maudy ke Villa keluarganya, karena kalau ia membawa Maudy kerumah Papa Bayu dan Kenan akan bertanya tentang Maudy.
Didalam perjalanan Maudy menyandarkan kepalanya di dada Rian. Sangat nyaman memang Dada kekar itu berhasil membuat tubuhnya hangat di karenakan hujan deras.
Tidak berapa lama mobil telah sampai di depan sebuah Villa keluarga Abraham. Rian segera membayar ongkos taksi lalu turun duluan untuk membuka payung. Barulah setelah itu Rian meminta Maudy turun dari mobil.
“Kita ngapain kesini ??” tanya Maudy sambil menatap Villa yang tampak mewah tersebut.
“Udah masuk aja dulu, dingin di luar mana hujan nya makin deras lagi” titah Rian kemudian.
Maudy menurut. ia melingkarkan tangan nya di pinggang Rian. Lalu berjalan menembus derasnya hujan untuk masuk kedalam Villa tersebut.
Suasana di Villa tampak sepi, membuat Maudy ketakutan. Beruntung Rian langsung menyalahkan lampu sehingga ruangan itu tampak terang benderang.
__ADS_1
“Apa gak ada yang tinggal disini Mas ??” tanya Maudy sambil menatap sekeliling Villa tersebut.
“Ada, tapi gak nginap disini, mereka hanya kesini saat siang kalau malam ya pulang.”jelas Rian.
“Jangan takut Villa ini gak berhantu kok, Kak Kenan sama Kak Alya sering menginap disini” ujar Rian lagi.
“Oh” jawab Maudy singkat.
Rian menyalahkan semua lampu ruangan, mungkin supaya Maudy tak ketakutan lagi. Saat hendak menyalahkan televisi buru-buru Maudy mencegahnya.
“Jangan, di luar sedanga ada petir jadi jangan menghidupkan televisi” ujar Maudy
“Baiklah !!”
Kedua nya duduk di atas sofa. Maudy bingung harus memulai pembicaraan dari mana padahal sebelum bertemu dengan Rian, ia sudah menyiapkan banyak sekali kata-kata untuk di katakan kepada Rian. Namun kenapa sekarang malah tak ada yang akan ia ucapkan.
“Maafkan Papa ya Mas !!” ucap Maudy memulai pembicaraan.
“Iya Sayang, Mas ngerti mungkin Papa kamu ingin kamu dapat laki-laki yang lebih baik”
“Tapi aku hanya ingin Mas Rian gak ada yang lain”
“Kita berjuang sama-sama ya Sayang, Mas akan berusaha untuk mendapatkan restu dari Papa kamu” ucap Rian sambil memandang wajah Maudy dengan seksama.
Sesaat mata mereka saling beradu.Hujan di luar semakin deras.
“Kalau Papa tetap tidak merestui hubungan kita apa mas akan menyerah ?” tanya Maudy.
“Berjuang aja dulu, kalau memang sudah tak ada jalan lain ya sudah kita menyerah, mungkin memang kita berdua tidak berjodoh”
“Tidak” Hardik Maudy cepat “Apapun alasan nya Aku cuman ingin menikah dengan Mas Rian”
Rasa sayang Maudy kepada Rian begitu besar, ia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan restu dari sang Papa. ia hanya ingin menikah dengan Rian tidak peduli walaupun Rian sudah menjadi seorang Duda.
Lagian Rian pasti sudah berubah, dengan masalalu Rian yang kelam pasti akan menjadikan Rian lebih baik lagi. Dulu Rian hanya terbawa emosi karena terlalu sakit kehilangan itulah mengapa Rian bersikap jahat kepada Dewi mantan istrinya.
“Mas juga ingin nya menikah sama kamu Dek” balas Rian sambil membelai wajah Maudy dengan gerakan halus.
Wajah Rian semakin mendekat, pandangan mata mereka semakin beradu. Maudy tak menolak saat sesuatu telah menyatu dengan bibirnya. Itu malah membuat mata Maudy terpejam untuk menikmati sensasi yang ingin dia rasakan.
__ADS_1
Rian menggerakkan bibirnya, Me lu mat bibir Maudy dengan lembut. Decapan yang keluar dari keduanya membuat suasana dari yang dingin menjadi panas.
Merasakan pasokan oksigen telah habis. Rian menyudahi permainannya. Ia kembali memandang wajah Maudy yang terlihat dengan nafas terengah-engah. Rian tersenyum.
“Maaf” ucap Rian merasa bersalah. Karena lagi dan lagi ia tak bisa menahan hasratnya.
Maudy menggeleng “Udah diam aja” ujar Maudy sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Rian.
“Udah mau Maghrib, kita pesan taksi online lagi ya, aku anterin pulang takutnya Papa kamu nyariin”ucap Rian. Namun saat Rian hendak membuka ponselnya segera Maudy merebut benda persegi tersebut.
“Aku gak mau pulang !!” ucap Maudy kesal.
“Kenapa.??”
“Pokoknya aku gak mau pulang Mas”
Rian mengernyit bingung. Lalu kemudian kembali berpikir jika Maudy tidak mau pulang berarti tidak ada cara lain selain menginap di sini. Rian juga tak mungkin pulang meninggalkan Maudy seorang diri. Namun Rian takut kalau keberadaan mereka di ketahui oleh Papa Maudy ataupun Papa Bayu.
“Tapi Mas takut kita Ketahun Dek, kalau gak mau pulang, Mas anterin kerumah teman ya” Rian masih membujuk Maudy.
“Aku gak mau Mas. Udah deh Papa gak mungkin nyariin aku apalagi dengan keadaan hujan deras seperti ini. Papa lagi enak tidur berdua sama Mama” jelas Maudy dengan menggebu-gebu.
“Tapi menginap berdua disini salah sayang”
“Bodoh amat”
Rian hanya geleng-geleng kepala melihat kekeras kepalaan Maudy. Apalagi saat Maudy membuka satu kamar membuat pikiran Rian menjadi traveling kemana-mana.
“Mas sini ” panggil Maudy.
Dengan cepat Rian menyusul Maudy yang sudah berada di kamar bawah.
“Kita tidur disini ya mas malam ini”
“Hah kita ??” tanya Rian dengan kaget.
“Enggak. Kamu aja yang tidur disini. Mas akan tidur di luar atau di kamar atas” tolak Rian dengan cepat. Bahaya kalau mereka beneran tidur sekamar.
“Tapi aku takut Mas. Kita kan gak melakukan apa-apa cuman tidur”
__ADS_1
Rian tetap menggeleng Ia sekarang mereka berdua tidak melakukan apa-apa. Tidak tau kedepan nya. Rian tetap laki-laki normal apalagi saat tidur berdua dengan wanita.