
Pagi menjelang siang Troy menjemput Tita di rumahnya, ia sudah berjanji pada kekasihnya untuk pergi membawanya berkunjung ke kediaman orangtuanya di kampung.
Karena kesibukan Troy, ia belum sempat mengenalkan Tita secara resmi pada keluarganya, meski ia sudah berbicara dan menceritakan jika ia sudah melamar seorang gadis tetapinya nyatanya mereka belum pernah bertemu. Bagaimana pun pernikahan ini tetap akan di laksanakan walau pun prosesnya sedikit lambat.
Troy menempikan mobilnya di sebuah halaman yang luas, keadaan di perkampungan masih sangat asri, banyak pepohonan juga bunga yang bermekaran.
"Kita sudah sampai" ucap Troy mematikan mesin mobilnya.
Tita membuka pintu mobil di ikuti Troy dan turun dari sana.
"Wah udaranya sejuk dan segar" Tita merentangkan tangannya sambil menghirup udara di sekitarnya. Troy hanya tersenyum melihat ekspresi Tita, wajar saja jika Tita terlihat senang dengan suasana perkampungan, sedari lahir ia sudah hidup di kota besar.
"Kamu sudah datang nak?" sapa seorang perempuan paruh baya menghampiri mereka.
"Iya mak" Troy menyalami ibunya dan memeluknya, sudah lama ia tidak mengunjungi keluarganya alias tidak pulang kampung. Tita terharu melihat kedekatan Troy dengan perempuan yang telah melahirkannya.
"Bagaimana kabar mak sehat? kakinya masih suka sakit tidak?" ibu Troy sering mengeluhkan sakit karena menderita reumatik pada kaki sehingga jika kelelahan atau salah makan, sakitnya akan kembali.
"Emak sehat, kaki mak juga baik-baik saja, lihat tuh" ibu Troy memperlihatkan kakinya agar anak bujangnya itu tidak perlu khawatir. "Ini calon tunanganmu?" bisiknya pelan di telinga Troy?"
"Iya, mak kenalkan ini Tita" Troy menarik tangan Tita agar mendekat, ia menyalami ibu Troy.
"Cantik sekali" puji ibu Troy sambil tersenyum memandang Tita. Ia hanya bisa tersenyum malu mendengarnya, selama perjalanan menuju kemari Troy bercerita jika ayahnya sudah meninggal sejak ia masih bersekolah, ibunyalah yang berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya, Troy adalah anak pertama. Dia pergi ke kota setelah lulus dari SMA, dia bekerja sambil kuliah lalu bertemu Brian yang memintanya menjadi sekretarisnya, kini ialah yang memanggung semua biaya sehari-hari keluarganya, Troy tak membiarkan ibunya bekerja karena terlalu khawatir dengan kesehatannya, Tita yang mendengarkan cerita pilu kekasihnya yang biasa kaku dan lucu itu menjadi sedih, ia sangat menghargai Troy dan keluarganya, biasanya Tita yang cerewet dan manja ini bertingkah jika di dekat Troy tapi kali ini tidak, ia menjadi kalem menjaga sikap.
"Kalian pasti lelah, ayo kita masuk ke dalam" ibu Troy memegang punggung Tita mengajaknya ke rumah sederhananya.
Begitu sampai di dalam, dua gadis menghambur memeluk Troy, ya itu adalah adik Troy.
"Kakak" panggil mereka berdua kompak.
"Eh adik kakak sudah besar" Troy membalas memeluk keduanya.
Gea adik pertama Troy bersekolah di SMA dan yang satu lagi Giska bersekolah di SMP.
"Iya dong kan makan tiap hari kak jadi tambah besarlah, apa lagi yang di makan masakan emak, kakak tahu kan bagaimana rasanya" ucap Gea.
"Oh iya juga ya, mak sudah masak belum? Troy jadi lapar" Troy memegangi perutnya.
"Sudah, mak masak spesial buat kalian berdua"
"Kak kenalkan dulu dong pacarnya" ucap Giska memandang Tita.
"Ini adikku Ta, yang ini Gea" tunjuknya pada Gea. "Yang jelek ini Giska" Troy mencubit pipi adiknya.
__ADS_1
"Aw sakit!!" Giska memukul bahu Troy.
"Hai aku Tita" ucapnya memperkenalkan diri.
"Kenalannya nanti lagi, biarkan kakakmu dan Tita makan dulu"
"Iya mak" jawab kedua adik Troy kompak.
Troy Tita dan ibunya pergi ke dapur, di sana ada sebuah meja makan yang di atasnya sudah tersaji beberapa macam makanan tetapi makanan ciri khas orang sunda, ibunya Troy sengaja memasakkan makanan sederhana kesukaan anaknya.
"Wah ini sih bikin khilaf makannya mak" Troy begitu merindukan makanan ini.
"Iya ini pete kesukaan kamu" tunjuknya pada pete yang terhampar.
"Duh malu mak jangan bilang di depan Tita kalau Troy suka pete"
"Hahaha, nak Tita Troy itu tidak pernah pilih-pilih makanan, dia bisa makan semua menu apa pun tapi yang paling dia sukai ya ini pete rebus" ucap ibu Troy mengangkat tinggi pete di depannya.
Tita jadi terkekeh, tak menyangka pria setampan Troy menyukai makanan sesederhana itu.
"Jika makan dengan ini nasi sebakul bisa dia habiskan sendiri"
"Berarti nanti kira harus stok pete yang banyak ya di rumah" timpal Tita.
"Jangan, jika di sana aku tidak makan pete nanti kalau rapat penting dengan pejabat perusahaan bisa bau mulutnya"
"Oh jadi itu alasannya kamu tidak pernah makan pete di sana" ucap ibu Troy.
"Iyalah mak, anak emak ini sekretaris orang penting jadi banyak bertemu banyak orang" ucapnya membanggakan diri.
"Ya sudah mumpung di sini, makan pete yang banyak, emak sudah stok nasi tambahan buat kamu"
"Emak memang yang terbaik" Ibu Troy mengelus kepala anaknya pelan sambil melempar tawa.
Melihat keintiman Troy dengan keluarganya semakin membuat Tita bersyukur telah menjadi gadis yang akan di nikahinya, semoga keluarganya kelak sama hangatnya seperti keluarga Troy.
Benar saja Troy makan dengan lahapnya dan tidak malu di depan Tita, perutnya sampai begah.
"Ahhh aku bilang akan khilaf makan jika makannya dengan masakan emak"
"Masakan emak atau pete?" ledek Tita.
__ADS_1
"Dua-duanya sih" Troy menampakan wajah polosnya.
Mereka berada di belakang rumah Troy, di sana ada sebuah gubug atau saung dengan pemandangan hamparan sawah yang hijau dan luas.
"Enak sekali di sini, aku jadi betah tinggal di rumahmu"
"Kamu tidak keberatan menikahi seorang pria miskin sepertiku?"
"Jangan berkata begitu, aku tidak pernah memandang status seseorang, aku justru iri dengan kehangatan keluarga kak Troy"
"Benarkah?"
"Iya semoga nanti keluarga kecil kita juga seperti ini ya, saling menyayangi dan menjaga" Tita menaruh kepalanya di pundak Troy.
"Aku ingin punya anak yang banyak nanti" ucap Troy sambil merangkul bahu Tita.
"Berapa banyak?"
"Sepuluh"
"Hah? banyak sekali"
"Biar ramai, banyak anak banyak rejeki"
"Harus siap-siap dong aku"
"Siap untuk apa?"
"Dinikahimu kak Troy" Tita memandang wajah Troy yang berada di dekatnya, kedua mata mereka bertemu, Troy mendekatkan wajahnya mempersempit jarak di antara mereka. Bibir mereka bersentuhan, keduanya membuka mulut sedikit dan saling membalas bermain di dalam mulut kekasihnya, mereka terbuai dengan nikmatnya ciuman yang sempat tertunda beberapa kali ini.
"Untung saja tadi aku sudah menggosok gigi dan makan permen, kalau tidak mungkin Tita tidak mau di cium olehku yang bau pete, oohh pete kamu membuat hidupku semakin sempurna" gumam Troy dalam hati.
Troy menarik tubuh Tita mendekapnya lebih dalam. Sedang asyik-asyiknya bercumbu, sebuah teriakan terdengar cukup keras menghentikan aktifitas mereka.
"TROOOOYYY!!!" teriak ibu Troy wajahnya menjadi garang melihat kelakuan anaknya.
"Emak?" Troy menelan salivanya.
"Tercyduk lagi, bagaimana ini?"
***
Hai sehat selalu dan jangan lupa bahagia ya 😘
__ADS_1