Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Tak Cukup Satu Kali


__ADS_3

**Pada bab ini ada beberapa adegan dewasa, mohon bijak ya bagi yang belum cukup umur bisa di skip saja. 😁


Happy Reading πŸ’•**


Dalam hitungan detik Nafiza dan Brian sudah berada di dalam kamar menuju ke peraduan cinta mereka. Brian membelai pelan rambut yang menutup pelipis Nafiza, ia memajukan wajahnya mengecup perlahan bibir istrinya, kecupan perlahan hingga ciuman menuntut. Brian sangat menginginkannya, entah kenapa 7 hari itu terasa sangat lama, hari di mana ia tidak bisa menuntaskan gairahnya. Malam ini ia akan membalasnya, melakukannya semaunya dan sebanyak ia inginkan.


Kedua tangan mereka saling menggenggam erat satu sama lain, Brian belum melepaskan Nafiza masih menciumnya dengan penuh rasa cinta. Ciuman mereka terhenti sejenak, deruh nafas dari keduanya memburu, tatapan Nafiza berubah menjadi sayup, Brian tidak bisa berhenti menatap istri kecil di bawahnya itu, ia terlihat manis dan menggoda.


Ciuman itu datang kembali kini Brian menuruni leher Nafiza, ia dapat mendengar isapan dan kecupan dari mulut Brian. Tangannya bergerak menarik pakaian yang menutupi tubuh istrinya, Brian melepasnya dan melemparnya membiarkannya teronggok di lantai. Satu tangannya membelai lembut dada Nafiza membuatnya memejamkan mata dan mengeluarkan suara desau. Tubuh mereka semakin panas, Nafiza membuka kedua kakinya begitupun Brian yang sudah bersiap pada posisinya, tak sabar ingin mencapai klimaksnya. Tentu saja ini memang klimaks yang pertama tetapi akan ada klimaks-klimaks selanjutnya yang akan terjadi pada malam yang panjang ini.


***


Sinar matahari pagi menembus ke dalam kamar, Brian membuka matanya perlahan dan mengedarkan pandangannya, ia menatap Nafiza yang berada di sampingnya, hanya berbalut selimut tak sempat memakai pakaiannya kembali. Brian juga masih merasa kelelahan usai aktifitasnya semalam, ia mendekat dan memeluk erat Nafiza dari belakang, mencium sejenak bahu Nafiza dan bergegas bangun memakai pakaian dan keluar kamar.


Setelah cukup lama akhirnya Nafiza terbangun, ia merasa sedikit sakit pada tubuhnya terutama kewanitaanya. Ia mencari Brian yang sudah tidak ada di samping lalu tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.


Ceklek


Nafiza terperanjat, ia segera menyembunyikan dirinya di bawah selimut, malu karena ia tidak memakai pakaian sehelai pun. Ia merasakan seseorang menarik selimutnya dari atas.


"Kenapa kamu bersembunyi?" tanya Brian setelah melihat kepala Nafiza.


"Aku masih telanjang, cepat ambilkan pakaianku" perintah Nafiza sambil menutup kembali dirinya dengan selimut. Brian hanya tersenyum tipis ia menuruti permintaan Nafiza, mengambilkan pakaiannya dan memberikannya.


"Ini cepat pakai pakaianmu"


"Putar tubuhmu menghadap belakang!" teriak Nafiza dari dalam selimut.


"Kenapa? aku sudah melihat semuanya Nafiza bahkan baru terjadi semalam kamu belum melupakannya kan"


"Pokoknya cepat putar tubuhmu!!"


"Iya iya" Brian terkekeh sambil membelakangi Nafiza.


Nafiza menurunkan selimutnya dan melihat Brian membelakanginya ia segera meraih pakaiannya dan memakainya.


"Sudah belum?" tanya Brian.


"Sudah" Brian memutar tubuhnya kembali menghadap Nafiza.


Brian memandang Nafiza dengan penampilannya yang masih semraut, ia mengambil kue yang di taruhnya di atas nakas saat masuk ke dalam kamar tadi.


"Semalam kamu tidak sempat tiup lilin, sekarang kita lakukan ritual ulang tahunnya dulu walaupun sudah lewat" Brian menyalakan lilin menggunakan korek api.

__ADS_1


Nafiza tersenyum dan menganggukan kepalanya. Brian menyanyikan sebuah lagu selamat ulang tahun untuk Nafiza. Setelah lagu itu selesai Nafiza meniup lilin pada kue hingga padam.


"Selamat ulang tahun istriku sayang" ucap Brian sambil mengecup kening Nafiza.


"Terima kasih suamiku" rona bahagia terpancar dari wajah Nafiza. "Tapi aku fikir kamu itu lucu ya"


"Lucu bagaimana?"


"Aku yang berulang tahun tapi kamu yang enak, sungguh moment yang pas dan taktik yang luar biasa" Nafiza menyindir Brian.


"Hahaha kan mumpung sekalian sayang"


"Mangkanya aku jadi gemas padamu" Nafiza mencolek krim pada tart di depannya dan menempelkannya pada wajah Brian sambil tertawa.


"Kamu yang seharusnya dapat ini" Brian membalasnya menempelkan tart pada wajah Nafiza. Wajah mereka menjadi belepotan karena krim kue ulang tahun. Mereka tertawa bersama dan berakhir saling berpelukan.


"Terima kasih ya sudah membuat hidupku menjadi berwarna warni" ucap Nafiza.


"Terima kasih juga sudah membuat hidupku menjadi lebih indah, sekarang mandilah. Aku juga harus pergi bekerja" Brian melepas pelukannya.


"Iya, aku akan pergi ke perpustakaan ingin membaca beberapa buku, bolehkan?"


"Boleh tapi harus di antar pak Ramli jangan mengendarai mobil sendiri" Brian berjalan ke arah kamar mandi.


"Siap Bos" setelah sedikit berfikir akhirnya Nafiza menyusul Brian pergi ke kamar mandi.


Setelah Nafiza menutup pintu yang terjadi sebelum mandi adalah aktifitas panas yang terulang kembali.


Author : "Ehem ehem"


Brian : "Ngiri ya thor?"


Author : "Enggaklah, heran aja nafsu beut hahaha"


Brian : "Situ yang ngatur pake heran"


Author : 🀣🀣 "Udahlah lanjut"


***


Brian telah pergi ke kantor sedangkan Nafiza kini berada di perpusatakaan, ia sedang berkeliling mencari buku yang ingin di bacanya.


Setelah menemukannya ia segera mencari tempat duduk yang nyaman, suasana di dalam perpustakaan hening. Memang keadaannya agak sepi tidak terlalu banyak pengunjung yang datang.

__ADS_1


Gubragg


Terdengar seperti sesuatu yang jatuh dari arah rak buku di pojok belakang, Nafiza terkejut ia kemudian menghampirinya ingin mencari tahu apa yang terjadi.


Nafiza melangkah pelan, terlihat seorang wanita dengan kepalanya yang tertunduk pada kedua tangannya yang di lipat sedang menangis.


"Maaf apa nona baik-baik saja?" tanya Nafiza mendekatinya.


"Kekasihku, kekasihku terlambat datang kemari. Sesuatu terjadi padanya" tangisan wanita itu semakin histeris membuat Nafiza panik.


"Tenanglah nona cobalah kamu hubungi kekasihmu dulu" Nafiza mencoba menenangkan.


"Hahaha siapa yang harus aku hubungi? kekasihku itu meninggalkanku bersama wanita lain, aku menunggunya tetapi ia malah bersenang-senang dengan yang lain" wanita itu melemparkan beberapa buku yang ada di sampingnya sambil berteriak-teriak, Nafiza berusaha menghalaunya tetapi tidak bisa. Keadaan semakin memburuk, beberapa orang mengerubuni mereka, penjaga perpustakaan pun datang.


"Dia lagi, permisi nona ini menderita Skizofernia. Kami akan membawanya dan mengantarnya kepada keluarganya" dua orang penjaga perpustakaan itu membopong wanita tersebut dengan susah payah karena meronta-ronta tak ingin di giring keluar dari perpustakaan.


"Apa skizofernia?" ucap Nafiza mengulangi apa yang di dengarnya, seorang wanita lain menghampiri Nafiza yang masih memandang wanita itu pergi.


"Wanita itu setiap hari rabu memang selalu datang kemari, ia dan kekasihnya bertemu di sini dan sering menghabiskan waktu belajar bersama-sama karena masih berstatus pelajar. Kekasihnya meninggal karena kecelakaan saat bersama dengan wanita lain padahal ia menunggunya di sini seharian. Hal itu juga yang menyebabkan gangguan jiwa yang di alaminya, Kasihan juga karena keluarganya tidak mempunyai biaya untuk membawanya perawatan agar lekas sehat seperti dulu. Nasibnya sangat malang" ucap wanita tersebut menceritakan pada Nafiza.


Nafiza mendengarkan dengan seksama dan berusaha mencernanya, ia merasa sangat iba. Setelah wanita itu pergi semua kembali pada posisinya melanjutkan membaca buku yang mereka ambil. Nafiza memutuskan untuk membaca buku tentang gangguan jiwa tadi skizofernia ia menemukannya dan mulai membalik halamannya.


Nafiza selesai membaca buku tersebut, hatinya merasakan sesuatu seperti agak sesak. Ia meremas pakaiannya dan pergi ke meja pustakawan, mendaftar untuk meminjam buku yang di bacanya tadi agar di bacanya lagi di rumah.


Nafiza segera keluar dari perpustakaan tersebut ia merogoh tas dan mengambil ponselnya menghubungi Brian.


"Halo" suara Brian.


"Brian aku sudah memutuskan"


"Memutuskan apa?"


"Aku ingin menjadi seorang Psikiater"


"Oh itu cita-cita yang bagus"


"Aku ingin membantu orang lain yang memiliki masalah berat sehingga kejiwaannya terganggu dan membuatnya kembali sehat dan normal terlebih mereka yang tidak mempunyai biaya"


"Istriku memang sangat baik, tujuanmu juga sangat mulia, tapi apa kamu tahu kuliah kedokteran itu cukup sulit"


"Aku akan berusaha dengan keras"


"Kalau begitu aku akan mendukungmu"

__ADS_1


***


To be continued


__ADS_2