
Rian---------------------------------
Setelah siap dengan pakaian kerjanya, ia langsung turun kebawah sambil menggendong Zio yang selalu membuatnya gemas.
"Sarapan dulu Yan" ucap Kenan sambil mengambil alih menggendong Zio.
"Iya kak"
Ia dan yang lain nya sarapan dengan tenang, kecuali sang kakak ipar yang selalu beradu mulut dengan Keyla. Sementara Zio ada saja tingkahnya yang selalu memancing kemarahan Alya.
Setelah menyelesaikan sarapan, ia langsung pamit untuk segera berangkat bekerja, memulai hari dengan senyuman walau hatina masih begitu rapuh.
"Eh tumben udah datang duluan" Seru Seno demi mendapati dirinya sudah duduk di meja kerja sembari mengecek data pasien nya hari ini. Ada yang akan melakukan kontrol dan ada juga yang baru akan berobat.
"Dapat ilham dari mana sampai bisa berangkat pagi ?" Seno kembali mengejeknya.
"Biasa aja sih" Cibirnya kesal.
Namun justru Seno tergelak, ia hanya bisa menggeleng karena sudah biasa dengan candaan Seno yang baginya selalu lucu.
"Gak jemput Maudy ??" Seno kembali bertanya dan sekarang sudah duduk di hadapan nya tanpa di persilahkan.
Membuatnya lagi dan lagi mencibir. "Emang gue udah pernah jemput Maudy ??" Tanya nya balik "Enggak kan ? Gue cuman nganterin dia aja"
Seno terkekeh, setelah itu Seno keluar dari ruangan nya.
_______________________________________
Maudy.
Seperti biasa hari yang akan ia lewati adalah di rumah sakit, membantu puluhan orang yang mungkin masih membutuhkan dirinya sebagai seorang dokter.
Dan seperti biasa akan banyak pasien yang mengantri untuk berobat. Namun ia tak pernah merasa lelah terus memberikan senyum ketulusan untuk membuat pasien nyaman berobat dengan nya.
Saat ia memasuki rumah sakit matanya sempat menatap ruangan Rian yang tertutup rapat, Hingga mendadak kejadian kemaren kembali melintas dalam ingatan nya.
"Eh Maudy" sapa Seno saat mereka berpapasan di jalan.
Ia hanya tersenyum.
"Ada salam tu dari Rian" Seno kembali berkata.
"Ihhh, apa sih" Cibirnya dengan degup jantung yang tak karuan hanya karena mendengar nama Rian.
Ia bahkan tau kalau yang di ucapkan Seno hanyalah akal-akalan saja. Tapi entah kenapa itu berhasil membuatnya bahagia.
__ADS_1
"Hari ini ada banyak calon dokter yang akan mengikuti Coas. Enggak tau kita kebagian berapa orang untuk dididik" Seno mulai berbicara tentang pekerjaan.
"Oh ya ??" tanya nya kaget "Kok aku gak tau" ucapnya lagi karena memang ia tidak tau kalau hari ini ada anak fakultas kedokteran yang akan menjalankan Coas.
"Kamu kemana aja sih Dy ?? kan udah di kasih tau seminggu yang lalu"
Benarkah demikian ??
Hello Maudy. kamu kemana saja selama ini kenapa masalah ini tidak tau. Batin nya dengan geram.
______________________________________
Dan tepat jam 09 pagi para mahasiswa fakultas kedokteran sudah sampai. Ia mendapat 4 mahasiswa untuk mengikuti dirinya. Sementara Rian dapat 4 juga dan sayang nya itu Cewek semua.
Perasaan nya mulai tak karuan, apalagi saat matanya menangkap seorang wanita yang selalu memandangi Rian. Rasa cemburu mulai merasuki dirinya.
Bahkan yang paling menyebalkan adalah, Rian mala tersenyum manis kearah wanita tersebut. Sedangkan dengan dirinya Rian seolah tak kenal padahal berulang kali ia tersenyum kearah Rian namun di abaikan.
Sialan memang !!!!
"Oh Iya kita belum kenalan kan" Rian mulai berbicara kepada 4 mahasiswa yang akan mengikuti Coas tersebut.
"Perkenalkan nama saya Rian Almer Abraham kalian bisa memanggil saya dengan sebutan dokter Rian ataupun Almer juga boleh" Terlihat Rian di ikuti oleh 4 mahasiswa tersebut.
"Saya Tasya dokter Rian"
"Saya Bintang"
telinga nya terus mendengar ketiga mahasiswa itu memperkenalkan diri, hingga tiba dengan sosok perempuan yang sedari tadi membuatnya tak nyaman, seorang wanita biasa dengan kecantikan natural di tambah dengan hijab yang melekat di kepalanya.
"Saya Anisah Dok, Bisa di panggil Nisa. Cita-cita saya ingin menjadi dokter spesialis Anak"
Begitu lembut suara wanita yang bernama Anisa itu, ia saja yang sebagai seorang wanita menjadi tersentuh apalagi dengan Rian.
____________________________________
Rian.
Ia bukannya tidak tau kalau sedari tadi Maud terus menatapnya, mencoba tersenyum dengan begitu manis tapi ia acuhkan.
Bahkan ia sendiri tau kalau Maudy memperhatikan seorang wanita yang memakai hijab terus menerus. Ia tahu kalau Maudy tengah gusar saat dirinya mencoba tersenyum seramah mungkin kepada mahasiswa yang sedang mengikuti coas tersebut.
Setelah selesai berkenalan ia langsung kembali keruangan, dan membiarkan keempat mahasiswa itu untuk mengikutinya. Karena jadwal nya pagi ini adalah mengecek kondisi pasien yang akan melakukan kontrol.
______________________________________
__ADS_1
Tepat jam 02 siang waktu bekerja nya habis. Ia langsung bersiap untuk pulang. Entah kenapa hari ini ia tak berniat untuk mengatar Maudy pulang.
Mungkinkan ia mulai jenuh mengejar wanita itu ? Entahlah .
Atau mungkin sebaiknya ia tak perlu mengejar karena jika yang maha kuasa masih memberikannya seorang jodoh ia pasti akan segera di pertemukan.
Tanpa keruangan Maudy dulu seperti biasa ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit.
"Gue duluan ya " Ucapnya ketika berpapasan dengan Seno.
"Sendirian aja ? Maudy mana" teriak Seno namun ia hanya mengangkat telapak tangan nya tanpa menjawab.
Namun ketika berada di parkiran perhatian nya teralih karena mendapati seorang wanita sedang duduk dengan lesu di latar rumah sakit.
"Bukan nya itu Nisa ??" gumamnya sambil bertanya.
Ah bodoh amat. Ia tak perlu bertanya kenapa Nisa belum pulang. Dirinya dan Nisa hanya sebatas dokter yang akan mengajarkan Nisa selama Coas di rumah sakit tempat nya bekerja.
___________________________________
Maudy
Hari ini ia begitu lesu, dan bercampur dengan heran karena Rian mendadak berubah kepada dirinya. Rian tak lagi menyapa ataupun menawarkan ajakan makan siang atau pulang bareng.
Apa salahnya sehingga Rian berubah drastis seperti ini ? Apa Rian marah karena dirinya tak menjawab telepon Rian semalam dan mengabaikan setiap pesan yang Rian kirimkan.
Namun harus ya Rian bersikap seperti ini ?
Dan lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan karena melihat sudah tidak ada lagi mobil Rian di parkiran. Itu berarti Rian sudah pulang duluan.
"Seno" ia memanggil Seno yang kebetulan akan pulang juga.
"Iya Dy" Jawab Seno
"Rian mana "
"Loh Rian udah pulang dari tadi, kirain kamu uda tau"
"OH"
"Kenapa ?? lagi berantem ya ?" tanya Seno karena melihat wajah murungnya.
Ia menjawab dengan gelengan, entahlah apa yang menggambarkan tentang kebersamaan dirinya dan Rian selama ini. Lalu saat di situasi seperti ini apakah ia dan Rian di sebut sedang berantem. Mengingat selama ini ia tak pernah menjawab saat Rian ingin menjadikan dirinya kekasih ataupun istri.
"Aku boleh ikut pulang gak" Ia memandang kearah Seno berharap Seno mau mengatakan ia. Lagipula jalan kerumahnya dan rumah Seno searah.
__ADS_1
"Aduh maaf dy, tapi aku mau jemput istri dulu"
Lagi dan lagi kekecewaan yang menerpa. Ketika harapan tak sesuai dengan keinginan.