
Pagi itu Brian sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor dan menunggu Nafiza di mobil, Nafiza lupa menaruh ponsel miliknya sehingga ia kembali berlari ke dalam rumah. Cukup lama ia mencari, akhirnya ia menemukannya terselip di bawah bantal di dalam kamar Brian. Ini membuatnya cukup frustasi, ia kembali dengan penampilan yang cukup berantakan. Rambutnya kusut, dasi yang menempel di kerah kemejanya menjadi miring.
"Rapikan dulu rambut dan dasimu" tegur Brian.
Nafiza terkejut sendiri melihat penampilannya di cermin, ia menyisir perlahan rambutnya dengan jari juga membenarkan posisi dasinya.
"Sabuk pengamanmu"
"Iya iya, jangan menegurku lagi. Aku akan mengingatnya." Brian mulai melajukan mobilnya.
Hampir setengah perjalanan untuk mengantar Nafiza, Brian membelokkan mobilnya ke sebuah pengisian bahan bakar, akan mengisi bensin untuk mobilnya. Antrian di tempat itu cukup panjang.
"Gladi resiknya belum mulai kan?" tanya Brian khawatir lama.
"Masih 15 menit lagi di jadwalnya"
"Ooohhhh"
"Brian aku boleh meminta sesuatu"
"Apa lagi yang kamu inginkan sekarang?"
"Boleh ya gantian aku yang menyetir mobilnya, sudah lama kemampuan menyetirku tidak di asah lagi. Aku yakin kali ini tidak akan seceroboh waktu itu"
"Nanti kalau membawa mobilnya terlalu pelan kamu akan terlambat"
"Tidak akan, aku akan lebih cepat. Aku tidak mau jadi siput lagi."
"Hmmmmm" Brian menghela nafasnya. " Janji ya hati-hati menyetirnya"
"Iya aku janji akan hati-hati"
Selang waktu berjalan tiba giliran mobil Brian maju untuk mengisi bahan bakar, Brian dan Nafiza keluar dari mobil berjalan memutar mengganti posisi duduk mereka.
Setelah transaksi membeli bahan bakar mereka pun segera bersiap, Nafiza sudah memegang setir dan menggunakan sabuk pengaman. Begitu pun Brian ia sudah siap dengan posisi siaganya. Jikalau Nafiza menyetir dengan ceroboh ia akan berusaha mencegah segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.
"Ingat hati-hati" ulang Brian lagi.
"Iya!" Nafiza mulai menginjak pedal gasnya, mobil melaju dengan aman dan stabil keluar dari tempat pengisian bahan bakar dan sudah melaju di jalan raya.
Awalnya kecepatan mobil mereka stabil membuat Brian bisa bernafas lega tetapi kemudian kecepatannya di atas rata-rata. Nafiza dengan cepat berbelok ke kanan dan ke kiri menyalip mobil lain.
"Pelan saja injak gasnya Nafiza!" Brian memegang handle pegangan tangan di atasnya dengan erat, sangat panik melihat Nafiza menyetir cukup ugal-ugalan. "Aku tidak mau mati sekarang Nafiza" teriak Brian.
"Siapa juga yang mau mencelakaimu Brian, tenang saja sekarang aku sudah ahli menyetir mobil dan tingkat percaya diriku sangat tinggi. Kita akan sampai dengan selamat di depan gerbang sekolahku" pandangan Nafiza sangat fokus pada jalan di depannya.
"Tetap saja, aduh pelan-pelan Nafiza" Brian tak sanggup melihat mobil-mobil di depannya yang di salip Nafiza. Menyesal pun tiada guna, mereka sudah hampir sampai di sekolah.
CCkkkiiittt
Suara mobil berhenti sekaligus, Nafiza menginjak rem dengan cepat sampai Brian hampir terbentur ke depan.
"Ahhhh syukurlah kita selamat" Brian mengambil nafas panjang dan menyandarkan punggungnya.
"Aku bilang kan kita pasti sampai dengan selamat, kamu tidak percaya sih" kedua tangan Nafiza menepuk setir mobil.
"Lain kali aku tidak akan menginjinkanmu menyetir mobil lagi sampai kamu bisa membawanya dengan stabil!"
"Isshhh ini kan juga sudah bisa Brian"
__ADS_1
"Bisa, bisa ngebut dan celaka!"
"Kamu bilang waktu itu aku nyetir mobil seperti siput sekarang kamu bilang aku bisa membuat kamu celaka, kamu seperti ABG Labil!"
"Bukan begitu, lebih baik kamu ikut kursus menyetir dulu ya, nanti kalau kamu sudah benar-benar mahir dan menguasai aku akan mengijinkanmu menyetir lagi"
"Janji ya?" Nafiza mengacungkan jari kelingkingnya.
"Iya janji" Brian menyatukan kelingkingnya dengan kelingking Nafiza. "Sudah masuk sana ke dalam"
"Siap bos" Brian dan Nafiza keluar dari dalam mobil berbarengan dan berjalan memutar, Nafiza berdiri di samping mobil. "Hati-hati ya"
"Iya, kalau sudah pulang telepon pak Ramli" ucap Brian sambil masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya pelan.
"Iya" Nafiza melambaikan tangannya, memandangnya sampai mobil Brian tak terlihat. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam gerbang sekolah.
***
Sesampainya di lapangan Nafiza langsung menghubungi Tita, sahabatnya itu sedari tadi belum kelihatan batang hidungnya.
Tuuutt Tuuuttt
"Halo di mana Ta? aku sudah di lapangan."
"Aku di kantin Fiz, kemarilah"
"Baiklah" Nafiza mematikan sambungan teleponnya. Ia langsung berjalan menghampiri Tita, terlihat seorang gadis duduk di bawah payung besar.
"Aku mencarimu kemana-mana" Nafiza langsung mendudukan dirinya di samping Tita.
"Aku sedari tadi di sini Fiz sedang sibuk belajar" Tita memperlihatkan buku yang di pegangnya.
"Lebih dari itu aku akan membuat Troy jatuh cinta padaku" Tita mendongakkan wajahnya sedikit ke atas terlihat sangat percaya diri. "Lihat aku sangat bersungguh-sungguh" Tita mengeluarkan isi tasnya yang berisi empat buku tentang menarik perhatian pasangan.
"Kamu sudah berusaha dengan baik, aku dan Brian akan membantumu, jadi tenang saja, tetapi kamu harus berjanji dulu padaku akan menahan diri agar tidak terlihat murahan"
"Benarkah?" Nafiza menganggukan kepalanya, "Baik aku berjanji akan terlihat dewasa di depan Troy, terima kasih Fiz kamu mau membantuku." Tita memeluk Nafiza, "Kalau begitu mana no. handphone Troy?"
"Aku tidak bisa memberikannya tanpa seijin Troy, nanti saja saat acara perpisahan kamu meminta sendiri padanya, aku dan Brian akan membujuknya untuk datang ke sini"
"Huuhhh masih lama Fiz, aku ingin mendengar suaranya sekarang juga" Tita mengerucutkan bibirnya, merajuk.
"Bersabarlah" Nafiza mengelus punggung Tita pelan.
"Oia untuk kebaya besok kamu sudah ada Fiz?"
"Hari ini aku akan ke butik langganan Mama, aku tidak sempat memilih-milih"
"Oohhh" Tita mengangguk-nganggukan kepalanya.
Tak lama kemudian panitia acara perpisahan memanggil semua siswa angkatan Nafiza untuk berkumpul di lapangan, mereka pun beranjak dari kantin mengikuti acara gladi resik.
***
Hari sudah mulai malam, Nafiza baru saja tiba di rumah. Setelah pulang dari sekolah ia langsung pergi ke butik untuk membeli baju kebaya.
Ia sudah mendapatkannya, ia menenteng sebuah paper bag dan memberikannya pada Bi Inah agar di siapkan untuk di pakai besok pagi.
"Brian sudah pulang Bi?"
__ADS_1
"Tuan sudah pulang non, sekarang ada di kamar atas"
"Terima kasih Bi" Nafiza langsung menaiki tangga menuju kamar Brian. Ia berjalan sambil memegang perutnya sedikit sakit.
Setelah sampai di atas Nafiza langsung membuka pintu kamar dan terlihat suaminya itu sedang duduk bersandar di ranjang sambil memegang ponselnya.
"Kamu baru pulang?" tanya Brian.
"Iya aku habis mengambil baju kebaya dari butik, oia bagaimana besok Kak Troy apa bisa datang bersama kita ke acara perpisahan?"
"Kenapa kamu langsung menanyakannya? seharusnya kamu menanyai suamimu dulu sudah makan atau belum, sudah mandi belum"
"Oke, kamu sudah makan dan mandi belum?"
"Sudah"
"Baik, lanjut ke pertanyaan berikutnya, bagaimana Troy bisa kan ikut dengan kita?" Nafiza sudah sangat penasaran.
"Bisa, ini dia baru membalas pesanku" Brian memperlihatkan isi pesan Troy.
"Yessss!!!" teriak Nafiza langsung membuang dirinya di atas tubuh Brian, tak perduli dirinya akan di marahi.
"Sakit Nafiza"
"Hehe, maaf" Nafiza memeluk Brian. "Tahap awal rencana kita menjodohkan Tita dan Troy mulai menemukan titik terang, semoga mereka bisa jadian"
"Apa kamu sesenang itu?"
"Tentu, kapan lagi bisa melihat orang terdekat kita bahagia. Tita dan Troy sudah menjomblo sejak lama"
"Kamu sangat peduli dengan kebahagiaan orang lain, apa kamu sendiri juga bahagia?"
"Iya aku bahagia, kamu?"
"Aku juga bahagia, apa lagi jika kamu ingat perkataanmu tadi pagi. Double" Brian tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.
Brian mengangkat tubuh Nafiza lebih tinggi agar bisa sejajar dengannya, ia mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Nafiza.
"Brian beri aku waktu lagi"
"Hemm?" Brian berhenti sejenak, tersisa sedikit lagi jarak wajahnya dengan wajah Nafiza. "Kenapa? kamu mau mandi? aku akan memberikanmu waktu 10 menit"
"Seminggu"
"Apa maksudmu seminggu? memang kamu mau kemana?"
"Bukan mau kemana, tapi aku sedang datang bulan. Kali ini sungguhan"
"Hadeh Gagal maning, gagal maning jun jun" Brian membuang kepalanya pada bantal di bawahnya. Lemassss โ๐
***
Halo semuanya apa kabar? sehat kan?
Maaf ya jika episode kali ini kurang seru. Hehe
Semangat author sedang kendor nih, ayo dong minta dukungannya supaya author lebih semangat lagi
Jangan lupa like komen dan vote jika berkenan
__ADS_1
Love Love Love