
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, Nafiza berada di ruang TV. Ia sedari tadi berjalan mondar mandir menunggu Brian pulang, suaminya itu memang memiliki banyak pekerjaan yang harus di selesaikannya di kantor. Ia tetap menunggunya meski Brian telah mengatakan akan pulang larut malam dan meminta Nafiza tidur duluan saja. Nafiza tak henti menatap jam yang menempel pada dinding rumahnya.
Ceklek
Suara pintu terbuka dan suara langkah kaki menuju ke dalam, Nafiza menghampirinya sedikit berlari berharap Brian memang sudah pulang dan memang benar suaminya itu telah tiba di rumah. Nafiza semakin mempercepat larinya dan menghambur memeluk Brian, beruntung Brian dengan sigap menangkap tubuh Nafiza walau sempat mundur beberapa langkah karena menahan istrinya, tas yang di pegangnya pun jatuh. Ia lebih memilih memegang pinggang Nafiza dari pada mempertahankan tasnya.
"Pelan-pelan Nafiza" bisiknya.
"Aku menunggumu pulang dari tadi" Nafiza semakin mengeratkan tangan yang merangkul pada leher Brian.
"Pekerjaanku sangat banyak jadi aku harus menyelesaikannya dulu" Brian membalas pelukannya, sesekali mengelus punggungnya dan mencium kepala Nafiza.
"Ada yang aneh, rasanya aku sangat membutuhkanmu dan merindukanmu. Seperti kita sudah bertahun-tahun tidak bertemu dan rasanya sedikit sesak" Nafiza mengutarakan perasaannya.
"Tenanglah aku akan selalu berada di sampingmu dan kamu tidak perlu takut akan apa pun"
Nafiza mengangguk cepat.
"Tapi sebaiknya aku harus mandi dulu" ucap Brian, ia benar-benar harus membersihkan dirinya sebelum istirahat.
Nafiza melonggarkan pelukannya dan melepaskan Brian, mengangkat wajahnya dan menatap Brian yang tersenyum tipis di depannya. Nafiza sedikit berjinjit ia mengecup bibir Brian pelan.
Cup
"Tubuhku kotor Nafiza jika ingin menciumku nanti setelah aku mandi"
"Biarlah aku tidak peduli" Nafiza menghujani seluruh bagian wajah Brian dengan beberapa kecupan.
"Kamu ini" Brian berusaha membalas ciuman Nafiza ia memegang tengkuk leher Nafiza dan mendekatkan wajahnya.
"Lanjutnya jangan di sini" ucap Nafiza menghentikan gerakan Brian.
"Hem ya sudah" Brian mengambil tasnya dan menarik tangan Nafiza menaiki tangga menuju kamar mereka berdua. "Apa yang terjadi hari ini? kenapa kamu tiba-tiba memutuskan untuk menjadi psikiater?" tanya Brian sambil berjalan.
Nafiza menceritakan kejadian saat ia bertemu seorang perempuan yang menderita skizofernia yang membuatnya ingin menjadi seorang dokter kejiwaan. Brian mendengarkannya dengan seksama, kini mereka telah sampai di dalam kamar, Nafiza duduk di tepi ranjang bersama Brian masih membicarakan hal tadi.
"Oh jadi seperti itu, jika kamu ingin menjadi seorang psikiater kamu harus menjadi dokter umum terlebih dahulu baru nanti mengambil jurusan spesialis kedokteran jiwa, bagaimana kamu sudah menentukan mau kuliah ke Universitas mana?" tanya Brian.
"Salah satu universitas negeri di Jakarta saja, di sana cukup bagus dan aku menuruti kata-katamu untuk tidak kuliah jauh-jauh"
__ADS_1
"Kalau begitu kamu harus mulai belajar besok, aku akan mendaftarkanmu secara online pada kampus itu dan minggu depan tes masuk Universitasnya. Persiapkan dengan baik" ucap Brian seraya berdiri.
"Terima kasih ya suamiku, aku akan berusaha agar lulus dan di terima" Nafiza penuh keyakinan.
"Iya semangat ya Istriku, lalu bagaimana mau melanjutkan yang tadi?" goda Brian sambil tersenyum menyeringai. Nafiza menganggukan kepalanya. "Tapi tunggu sebentar aku mandi dulu"
"Iya cepatlah" Brian bergegas pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Mandi setelah bekerja membuatnya segar kembali, kini ia telah selesai dan sedang menggosok-gosokan handuk pada rambut untuk mengeringkannya. Ia hanya memakai baju handuk, tatapannya kini tertuju pada ranjang ingin segera memulai aktifitas panasnya bersama Nafiza, ia segera menghampirinya dengan semangat yang menggebu-gebu. Terlihat Nafiza merebahkan dirinya menghadap ke samping membelakangi Brian.
"Yah dia tidur padahal tadi aku sudah mandi cepat-cepat" Brian membalikkan tubuh Nafiza menatapnya yang tidur dengan mulut terbuka. "Haaahhh mungkin dia lelah" akhirnya Brian menarik selimut dan menutupi tubuh Nafiza pelan di ikutinya tidur di sampingnya. Walau sedikit kecewa tapi tak apa ia tahu Nafiza tidak bisa tidur lewat dari tengah malam. "Salahku juga mengharapkan dia memberi waktunya saat tengah malam begini" gumamnya sendiri masih ada sedikit perasaan sedih dalam lubuk hatinya.
***
Pagi telah datang, Brian dan Nafiza sudah bangun, suaminya itu tengah bersiap untuk pergi bekerja.
"Hari ini kamu akan pergi ke mana?" tanya Brian sambil memakai dasinya.
"Aku tidak akan pergi kemana-mana, hari ini aku akan fokus belajar" Nafiza tengah menyiapkan jas untuk di pakai Brian.
"Kalau ada yang tidak mengerti kamu bisa menulisnya dan saat aku pulang nanti aku akan mengajarimu" Brian memakai jas di bantu Nafiza.
"Baik tapi jangan galak-galak ya mengajarikunya"
"Kalau kamu pintar dan mudah mengerti aku tidak akan emosi"
"Sedikit" goda Brian sambil terkekeh.
"Ya sudah tidak usah mengajariku sekalian!" jawab Nafiza merajuk.
"Hahaha jangan marah dong, aku hanya bercanda. Pokoknya nanti aku akan membantumu belajar jika kamu tidak bisa mengerjakannya" Brian memeluk Nafiza. "Aku berangkat ya" tak lupa ia mengecup kening Nafiza.
"Iya hati-hati ya" Brian pergi keluar dari kamar sedangkan Nafiza segera mengambil beberapa buku dan bersiap untuk belajar di kamarnya.
Ia kini tengah sibuk membolak balikkan halaman demi halaman buku yang di pelajarinya, dari pagi hari sampai siang ia masih berkutat dengan pensil dan buku bahkan Bi Inah sampai mengantarkan makan siang Nafiza ke kamarnya. Ia sangat fokus belajar.
Sedikit lelah ia merebahkan dirinya di ranjang dan tertidur, tetapi saat ia terbangun lagi ia segera melanjutkan kegiatan belajarnya kembali.
Perasaan suntuk dan bosan mulai menyelimutinya, di tengah-tengah waktunya belajar ia membaringkan kepalanya di atas meja menatap jam dinding yang sudah menujukkan pukul 18.00, ini pertama kalinya ia belajar dengan keras dan giat. Hingga akhirnya Brian pulang.
Brian masuk ke dalam kamar Nafiza sudah memakai pakaian rumah dan segar sehabis mandi. Ia menghampiri Nafiza yang masih tertunduk lemas.
__ADS_1
"Kenapa kamu mengantuk?" tanyanya sambil memegang pundak Nafiza.
"Ah tidak hanya bosan" Nafiza mengangkat kepalanya. "Kamu pulang dari jam berapa?"
"Baru sampai tapi aku langsung pergi mandi" Brian beralih menidurkan dirinya di kasur. "Sudah teruskan belajarmu kalau tidak mengerti tanyakan saja padaku" Brian mulai memejamkan matanya.
"Iya"
Nafiza membuka buku catatannya dan mulai mencorat coret tidak jelas, belajarnya sekarang tidak fokus. Ia sesekali melirik pada Brian yang menutup matanya.
Beranjak dari kursinya ia berjalan pelan dan langsung menghambur memeluk Brian seperti memeluk bantal guling. (Maaf ya pelukan terus soalnya nyaman. Hehe)
"Apa sudah selesai belajarnya?" tanya Brian dengan matanya yang masih tertutup.
"Aku sudah lelah, besok lagi saja belajarnya"
"Memang kamu ini belajar seharian penuh?"
"Iya dari semenjak kamu pergi berangkat bekerja"
"Oh pantas saja kamu sudah mulai merasa suntuk"
"Sekarang mataku benar-benar lelah"
"Mau di buat semangat tidak?"
"Mau, bagaimana caranya?" Nafiza penasaran.
"Ayo" Brian membalikkan tubuhnya menghadap Nafiza.
***
Hayoo gimana ya cara Brian membuat Nafiza bersemangat? Hehe
Besok lagi di sambungnya
Maaf ya author telat update
Author juga sedikit tidak fokus seperti Nafiza π
__ADS_1
Terima kasih yang sudah menunggu cerita abal-abal ini
Love You ππ