Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Hati Yang Di Kawal


__ADS_3

Brian, Nafiza, Troy, Tita bersama kedua orangtua mereka berakhir makan malam bersama di restoran dalam hotel, meski Troy dan Tita hanya minum saja tak memesan makanan. Perut mereka masih kenyang karena makan malam berdua tadi di kamar hotel. Mereka juga kurang berselera, malam panjang yang tadinya akan mereka bayangkan indah dan nikmat terpaksa harus di tunda. Brian sudah memperingatkan Troy untuk tidak melakukannya sebelum pernikahan, Troy tergoda oleh bisikan Devil.


Makan malam pun usai, Brian dan keluarganya sudah pulang terlebih dahulu, kini hanya menyisakan Troy dan Tita.


"Kalau kembali lagi ke kamar hotel mungkin tuan Brian akan datang lagi, pasti pihak hotel menghubunginya jika aku ke sana" gumam Troy, dalam lubuk hatinya yang terdalam masih ada sedikit keinginan untuk menuntaskan hasratnya tetapi ia juga takut akan ketahuan Brian lagi.


"Kak Troy tolong antarkan aku pulang ya" pinta Tita. Fiks pupus sudah harapan Troy untuk menginap malam ini, Tita ingin menyudahi pertemuannya dengan Troy.


"Baiklah" jawabnya lesu, mereka berdua berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di luar.


Troy melajukan mobilnya perlahan, selama di perjalanan suasananya hening hingga mereka sampai di depan rumah Tita.


Kekasihnya itu enggan turun tetapi Troy cuek saja dan tidak basa basi.


"Terima kasih untuk malam ini ya kak Troy"


"Iya sama-sama" Tita menyerah lebih baik ia pulang, ia membuka pintu mobil hendak keluar, tiba-tiba Troy menghentikannya.


"Sebentar Tita, aku melupakan sesuatu" Troy merogoh jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna keemasan dan menyerahkannya pada Tita.


"Ini apa kak Troy?"


"Cincin lamaran sebagai tanda keseriusanku pada Tita"


Tita merasakan sejuk dalam hatinya, rasanya ia sedih dan terharu. Bagaikan mimpi ketika orang ia dambakan selama ini benar-benar bisa mencintainya tulus, orangnya tadinya selalu cuek dan tidak perduli akan menikahinya secepat ini.


Tita menghambur memeluk Troy, buliran air mata mengalir di pipinya.


"Aku tidak menyangka kak Troy akan menyukaiku seperti ini" Tita menyeka air matanya beberapa kali.


"Kenapa Tita menangis?" Troy mendorong tubuh Tita dan membantu mengusap air matanya.


"Aku benar-benar bahagia kak Troy" senyumnya dengan wajah memerah.


"Kalau bahagia sudah jangan menangis lagi ya, harusnya Tita tertawa. Jika menangis seperti ini lucunya Tita hilang loh" hiburnya.


Tita benar-benar tersenyum di buatnya.


"Sekarang kak Troy sudah jago menggombal"


"Kan belajar dari Tita" keduanya menjadi tertawa.


Tita membuka kotak hadiah yang di pegangnya, sebuah cincin mas putih cantik dan berkilau. Troy mengambilnya dan memakaikannya di jari Tita. Ukurannya sangat pas.

__ADS_1


"Cantik kan?" Tita memamerkan cincinnya di depan Troy.


"Sangat cantik" Troy mengelus rambut Tita, perlahan ia menariknya mendekat pada wajahnya.


Dua centi lagi saja jarak di antara bibir mereka.


"Ekhem!!!" suaru batuk seorang pria paruh baya mengejutkan mereka yang berdiri tepat di depan mobil mereka.


"Eh ayah" sapa Tita, segera ia turun dan menghampiri ayahnya.


"Mati aku" gerutuk Troy dalam hatinya.


"Apa kabar om?" sapanya setelah berada di depan ayah Tita.


"Baik, sudah malam Tita pulang" ucapnya tegas.


"Iya ayah" Tita melambaikan tangannya pelan pada Troy dan melangkah pergi. Tita juga ketakutan.


"Saya juga permisi pulang om" pamitnya bersalaman pada ayah Tita.


"Hem" ayah Tita memasang wajah garangnya. Secepat kilat Troy sudah berada di dalam mobilnya ia menginjak pedal gasnya cepat.


"Ini sih tegangnya lebih-lebih daripada di grebek satpol PP. Aduh masih lanjut jadi calon menantu tidak ya kalau begini urusannya. Kamu sih 'Dek' bangun-bangun terus meminta jatah yang belum waktunya" bicaranya sendiri. Ada yang tahu maksud 'Dek' yang di panggil Troy itu siapa? Hahahaha.


***


Dua hari kemudian, kedua orangtua Nafiza dan Brian telah pulang ke rumahnya masing-masing, papi dan mami Brian kembali ke Amerika sedangkan mama dan papa Nafiza juga kembali ke kediamannya.


Selama keluarganya menginap, baik Brian maupun Nafiza menjelma menjadi anak manja. Maklum saja mereka sama-sama anak tunggal dan jarang bertemu kedua orangtuanya sehingga walaupun tak lagi muda sikap mereka kadang menjadi manja dan kekanak-kanakan.


Kini ketika keluarganya sudah tidak ada, mereka kembali harus mandiri dan dewasa apa lagi dalam waktu kurang dari 9 bulan mereka akan menjadi orangtua dari anak yang di kandung Nafiza.


Hari ini adalah hari pertama Ospek Nafiza di kampusnya, Brian sudah meminta Nafiza untuk tidak mengikuti kegiatan tersebut, ia khawatir Nafiza kelelahan dan terjadi sesuatu pada janinnya tetapi Nafiza bersikeras untuk tetap ikut.


Nafiza berpikir kapan lagi ia akan mengikuti kegiatan seperti ini dan juga ia berjanji akan berhati-hati karena ia merasa sehat tidak merasakan mabuk yang biasanya di alami oleh ibu hamil muda.


Brian tidak tega menolak keinginan istrinya itu, hamil di usia muda saja pasti sudah berat untuknya jadi setidaknya ia juga ingin Nafiza merasakan hal yang biasanya gadis seusianya rasakan, terlebih dia sudah menyiapkan keperluan ospek ini jauh-jauh hari, Nafiza sangat antusias dengan statusnya sebagai Mahasiswi Baru (MABA).


Brian akan mengantar Nafiza pergi ke kampusnya, saat sudah berada di depan rumahnya Troy tiba mengendarai mobilnya.


"Loh ada kak Troy" sapanya.


"Pagi nona"

__ADS_1


"Ayo naik" Ajak Brian.


"Kita naik mobil kak Troy?"


"Iya" jawabnya singkat sambil membukakan pintu untuk Nafiza, istrinya itu hanya menurut saja.


Mereka tiba di kampus, hari memang masih agak gelap. Peserta ospek di wajibkan datang pukul 6 pagi. Nafiza turun dari mobil, Troy membantu menggendong tas Nafiza yang cukup berat.


"Sini kak Troy tidak usah di bawakan" pinta Nafiza.


"Tak apa-apa nona biar saya yang bawa" tolak Troy.


"Ospeknya sebentar lagi mulai, kalian kan harus pulang" Nafiza menoleh pada Troy dan Brian.


"Kami tidak pulang, kami akan mengawasimu melaksanakan ospek ini" ucap Brian dengan wajah datar.


"Hahaha kamu jangan bercanda Brian, mana ada mahasiswa baru yang ospeknya di kawal orang"


"Aku tidak bercanda" Brian mengeluarkan secarik kertas persetujuan antara dirinya dan panitia ospek di kampus Nafiza, surat itu berisi pernyataan jika Brian boleh mengawasi dan menjaga Nafiza selama pelaksanaan ospek karena kondisinya yang sedang hamil muda.


"Ini gila! aku melalui ospek ini bersama kalian?" Nafiza menghela napasnya. Suaminya itu benar-benar protektif, pantas saja ia mengijinkan Nafiza mengikutinya ternyata ada rencana terselubung yang dipikirkannya.


Seluruh mahasiswa baru di beri instruksi untuk berkumpul di lapangan, Troy mengeluarkan pluit dan mengalungkannya di lehernya.


"Kak Troy kenapa memakai itu?" Nafiza memandangnya heran.


Ppriiiitttt


Troy meniupnya cukup kencang sampai Nafiza menutup telinganya.


Mereka berjalan cepat, Nafiza hampir saja tersenggol oleh bahu orang lain.


Priiiittt


Troy meniup pluit itu lagi dan mendorong orang tersebut menjauh dari Nafiza.


"Jaga jarak dengan nonaku!" Troy menyingkirkannya.


"Itu fungsi pluit milik Troy" ucap Brian di belakang Nafiza.


"Hahhhh kenapa ospekku harus beginiiiiii" Nafiza meratapi nasibnya.


***

__ADS_1


Happy Weekend guys 😍


__ADS_2