
Cuaca pagi yang hangat, matahari pun masih malu-malu memancarkan sinarnya, Nafiza membuka matanya sambil menggeliatkan tubuhnya kemudian ia memandang langit-langit kamar sambil mengingat ciuman yang terjadi semalam.
"Jadi seperti itu ya rasanya, manis" Nafiza menutup kedua matanya dengan tangan, ia berguling ke kanan dan ke kiri, merasa malu sendiri.
"Mau sampai kapan kamu berguling-guling begitu?" suara Brian mengejutkan Nafiza, dia duduk di sofa samping pintu kamar Nafiza.
"Kamu mengejutkanku, sejak kapan kamu ada di situ?" Nafiza kini menutup wajahnya dengan selimut yang terlihat hanya matanya.
"Sejak tadi, sepertinya kamu mengingat sesuatu sampai senyum-senyum sendiri?" Brian menghampiri Nafiza dan duduk di samping ranjangnya.
"Hem tidak kok, aku cuma sedikit berolahraga, menggulingkan tubuh dan meregangkan otot" Nafiza mendorong tubuhnya menjauhi Brian.
"Mau kemana? kenapa menjauh?" tanya Brian sambil tertawa, Nafiza hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut.
"Cepat mandi dan sarapan" Brian menarik selimut Nafiza, ia refleks langsung bangun dan berlari ke kamar mandi.
"Tunggu aku di bawah" teriak Nafiza.
"Ckckck Kamu sangat menggemaskan Nafiza" Brian tertawa dan meninggalkan kamar Nafiza.
***
Brian menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang sekolah Nafiza.
"Kalau pak Ramli terlambat menjemput, kamu telfon aku" ucap Brian.
__ADS_1
"Siap bos"
"Juga ingat jangan terlalu dekat dengan anak baru itu"
"Baik laksanakan!" Nafiza tersenyum, Brian mengecup pipi Nafiza.
"Belajar yang benar jangan mengingatku terus" Brian mengelus rambut Nafiza membuatnya sedikit berantakan.
"Geer!!" ia membalasnya dengan senyuman, kemudian Nafiza turun dan melambaikan tangannya ke arah Brian.
***
Nafiza telah berada di kelas sambil menunggu bel tanda masuk ia dan Tita bercengkrama tak lama kemudian Septa datang.
"Hai Nafiza Tita" sapanya.
"Fiz nanti pulang aku antar ya sekalian aku ingin mengajakmu ke suatu tempat" Septa menundukkan bahunya dan berbisik ke telinga Nafiza.
"Maaf Septa sepertinya aku tidak bisa, aku di jemput supir pribadiku"
"Kalau besok?"
"Aku tidak tahu"
"Ayo dong Fiz, aku baru saja merasa punya teman dekat, yah satu kali ini saja ikut denganku" Septa melipat kedua tangannya sambil terus memohon kepada Nafiza membuatnya merasa tidak enak.
__ADS_1
"Hemm baiklah tapi aku juga mengajak Tita ya"
"Oke" Septa tersenyum menyeringai, Nafiza sebenarnya mulai menjaga jarak dari Septa karena perkataan Brian, fikirannya tentang pernikahan akhir-akhir ini agak berubah, menurutnya tidak ada salahnya ia menuruti perkataan Brian.
***
Di tempat berbeda Brian tengah menyimak penjelasan dari karyawannya, dia sedang menghadiri rapat tentang persiapan lapangan untuk proyek terbarunya. Perusahaan Brian merupakan salah satu perusahaan kontruksi terbesar, dia memang sukses memimpin perusahaannya walaupun usianya masih terbilang muda, rapat terus berjalan, sekitar satu jam kemudian setelah selesai Brian langsung menuju ke ruangannya, dia kini berada di lift bersama Sabrina.
"Lusa kita akan ke Hongkong pak, ada pertemuan dengan klien kita untuk memperpanjang kontrak dan juga cabang perusahaan yang kita bangun di sana gedungnya hampir selesai jadi kita bisa sekalian melakukan peresmian" ucap Sabrina.
"Berapa lama kita di Hongkong?"
"Sekitar lima hari pak"
"Kamu atur saja persiapannya"
"Baik pak, aduh!" Sabrina menekuk kakinya hampir terjatuh, ia kemudian menyandarkan tubuhnya kepada Brian.
"Kenapa Sabrina?" Brian membantu Sabrina berjalan saat pintu lift terbuka.
"Kaki saya sepertinya terkilir pak" Sabrina semakin memberatkan tubuhnya.
"Pelan-pelan saya antar ke meja kamu" Brian mengantar Sabrina ke mejanya sambil memegang bahunya.
"Terima kasih pak" Sabrina meringis menahan kakinya tetapi tak lama kemudian bibirnya sedikit menyunggingkan senyuman.
__ADS_1
Terlihat seseorang memegang kamera dari balik tembok.