Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Episode 133


__ADS_3

Saat bangun tidur Kenan sudah mengomel, itu membuat sang istri kebingungan.


“Kamu kenapa sih ?? kok ngomel terus dari tadi” tanya Alya heran.


“Kesel sama Pras” jawab Kenan enteng, membuat Alya mengernyitkan keningnya karena bingung, kenapa bisa Pras membuat suaminya kesal di pagi hari seperti ini.


“Lah memangnya Kak Pras ngapain kamu sih ??”


“Kamu tahu gak semalam ??”


“Enggak tahu” sahut Alya cepat padahal suaminya belum selesai bercerita.


“Kamu dengerin aku dulu !! kan aku belum selesai cerita Sayang”


“Hehe, maaf Sayang !! ya udah silahkan selesai kan cerinya suamiku Sayang”


Dan Kenan mulai menceritakan semuanya, bagaimana Pras menghubunginya malam-malam hanya untuk menanyakan bagaimana cara memulai malam pertama.


Hahahahahahaha.


Alya mala tertawa terbahak-bahak, dia tidak menyangka jika Pras akan bertanya hal demikian, karena setau Alya, Pras adalah sosok yang serba tahu, ternyata Alya salah, dia sangat bodoh masalah malam pertama.


“Kok bisa sih Kak Pras bertanya hal begituan ?? itu Siska tahu gak ?? udah gak kebayang gimana reaksi Siska jika dia tahu kalau semalam suaminya minta di ajarin tentang malam pertama” Alya menjawab dengan di iringi tawa, perut nya bahkan terasa sakit akibat tertawa yang begitu lama.


“Makanya aku bilang gitu ke dia semalam, dia itu pintar dalam urusan perusahaan tapi dia sangat bodoh dalam urusan ranjang”


“Terus gimana ?? kamu ajarin gak Yang ??” tanya Alya lagi.


“Iya aku bilang aja kalau dia harus merangsang istrinya”


Hingga di pagi hari itu Kenan dan Alya habiskan dengan menceritakan kepolosan seorang Pras.


-


-


-


Di tempat yang berbeda, ada Rian yang sedang munta-munta, semenjak bangun tidur dia terus seperti itu membuat sang istri panik dan juga khawatir.


Keadaan Rian sangat lemah dan juga pucat, Dewi ketakutan kalau suaminya mengidap penyakit berbahaya sementara Rian santai dia hanya bilang kalau saat ini dia sedang masuk angin.

__ADS_1


“Di kerok mau gak ??” tanya Dewi saat suaminya sudah kembali ke kamar.


“Apaan tu di kerok ??” tanya Rian tak tahu, karena memang dirinya tidak pernah mengalami yang namanya di kerok.


“Itu loh Mas punggung kamu di kerok pakai koin tapi di olesi minya angin dulu, kata orang tua dulu bisa mengurangi masuk angin sih, tapi ya itu rasanya sakit”


“Tapi Mas kok gak pernah mempelajari ya di dunia kedokteran”


“Iya mana aku tahu” jawab Dewi sewot.


“Gimana kamu Mas mau gak ??” tanya Dewi lagi.


“Ya udah deh coba aja dulu siapa tahu sembuh”


Akhirnya dengan langka semangat Dewi mempersiapkan alat untuk mengerok suaminya, sebuah koin senilai seribuan dia ambil berikut dengan minyak telon nya.


Dewi menyuruh suaminya membuka baju, barulah dia mengoles minyak angin dan mulai mengerok punggung suaminya.


“Aaaaawwwww, Sakit Dek” teriak Rian tak tahan akibat rasa perih yang di hasilkan dari kerokan istrinya.


“Tahan Mas !! di kerok memang rasanya begitu” ucap Dewi enteng, dia dengan semangat menghasilkan warna merah di punggung suaminya.


“Iiisss, bawel deh, udah diam aja !! nanti juga hilang sakitnya kalau udah”


Rian hanya bisa pasra dia menggeliat ke kanan dan ke kiri untuk menghindari rasa sakit tersebut, bahkan Rian menggigit bantal karena rasa sakit itu tak bisa dia hindari.


-


-


Hari-hari berikutnya, keadaan Rian belum juga pulih, dia masih saja mual dan munta bahkan sekarang lebih parah karena Rian tak bisa memakan apapun, mencium bau masakan saja dia langsung mual, apalagi kalau makanan itu masuk ke perutnya maka Rian akan langsung memuntahkan semuanya.


Dewi semakin khawatir dengan keadaan suaminya, di bawah kerumah sakit Rian tidak mau.


“Ya sudah kita kerumah Papa aja yok Mas !! biar disana aku juga ada teman nya, ada Kak Kenan juga buat jagaian kamu ” bujuk Dewi


Rian hanya mengangguk saja, dia memang sangat lemas sekarang, tenaga nya terkuras habis akibat mual dan muntah yang dia alami, Rian adalah seorang dokter dia merasa kalau dia tidak punya penyakit apa-apa, jadi dia bingung penyebab mual dan muntah yang dia alami karena apa.


“Ya sudah aku siap-siap dulu” ucap Dewi kemudian.


Setelah semuanya siap Dewi membantu Suaminya berjalan, wajah Rian sangat pucat, jadi terpaksa Dewi yang menyetir menuju kerumah Kenan dan Alya.

__ADS_1


Tidak berapa lama mereka sudah sampai di kediaman Kenan, Disana Dewi melihat Kenan sedang duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi, tenyata Kenan tidak berangkat bekerja.


Melihat kedatangan adik iparnya Kenan langsung berdiri dan menyambut kedatangan Dewi.


“Wi, kok sendiri Rian mana ??” tanya Kenan.


“Itu ada di dalam mobil Kak, Rian sakit wajahnya pucat sekali” jawab Dewi hingga membuat Kenan khawatir.


“Loh kok di bawah kesini ?? kenapa gak di bawah kerumah sakit ??” Tanya Kenan lagi dengan nada khawatir dia mendekat ke mobil dan membuka pintunya.


Disana Kenan dapat melihat adiknya terkulai lemas, itu membuat Kenan semakin khawatir.


“Ya Allah Rian, kamu kenapa dek ??”


“Aku gak papa Kak, aku hanya perlu istirahat”


“Kita kerumah sakit aja ya ??”


“Enggak Kak, aku beneran gak Papa”.


Akhirnya Kenan terpksa menuruti keinginan adiknya, dan Kenan membantu adik nya masuk kedalam rumah, Dewi pun ikut membantu memapa suaminya.


Di dalam rumah, ada Alya yang sedang menata masakan, perutnya yang sudah sangat membuncit karena akan segera lahiran agak sedikit kesusahan, Alya menoleh dan melihat suaminya sedang memapa adik nya Rian..


“Lo Yang, Rian kenapa ?? kok wajah nya pucat sekali ??” tanya Alya setelah mendekati suaminya.


“Gak tahu Yang dia sakit apa, di bawah kerumah sakit Rian gak mau” jawab Kenan..


“Ya sudah bawa ke kamar aja, nanti kan ada Dokter Arif biar di periksa dulu sama dia”


Kenan membawa Rian ke kamar yang biasa dia tempati, agak susah memang karena harus naik tangga, tapi akhirnya sampai juga di kamar itu.


“Kamu itu berat sekali Rian” ucap Kenan ngos-ngosan.


Rian hanya membalas dengan senyuman. Dewi membantu menyelimuti suaminya.


“Sudah berapa hari Rian seperti ini Wi ??” tanya Kenan sambil dudu di sofa kamar itu di ikuti oleh istrinya.


“Sudah 3 hari Kak, awalnya aku pikir dia masuk angin, udah aku kerokin dan kasih obat tapi mala makin parah, setiap pagi Mas Rian selalu mual dan munta, apalagi saat mencium bau masakan, bahkan Mas Rian pun tak bisa makan apapun karena munta terus Kak” Dewi menceritakan semua keadaan suaminya, tanpa dia tutupi sama sekali.


BERSAMBUNG ----------

__ADS_1


__ADS_2