
Setelah selesai menghabiskan makan malam sederhana mereka, Brian dan Nafiza memutuskan untuk menginap di rumah orang tua Nafiza, tak nyaman bagi mereka untuk pulang ke rumah tanpa berpamitan karena kedua orang tua Nafiza tengah tidur dan bagi Brian ini pertama kalinya menginap di rumah orang tua Nafiza.Β
Nafiza meminjamkan baju atasan milik papanya untuk Brian, ia merasa kasihan jika Brian harus tidur memakai kemeja. Mereka kini tengah berada di kamar Nafiza, Brian memperhatikan beberapa foto yang terpajang di meja belajar Nafiza.
"Aku tidak menyangka kamu akan tumbuh secepat ini" Brian memegang foto Nafiza saat masih kecil.
"Kata-katamu seperti yang sering di ucapkan mamaku" jawab Nafiza yang sedang duduk bersandar di ranjangnya. Brian terkekeh mendengarnya.
"Kenapa kamu menyamakanku dengan mamamu?" tanyanya sambil meletakkan foto Nafiza kembali.
"Bicaramu seperti orang tua" Brian tersenyum sambil menengok ke arah istrinya.
"Aku kan mengenalmu sejak masih kecil, aku bahkan tak menyangka akan menikahimu, padahal dulu aku sering menjahilimu"
"Benarkah? aku tidak begitu ingat kejadian saat aku masih kecil. Kemarilah ceritakan padaku cerita lucu saat kita masih anak-anak" Nafiza menepuk ranjang di sebelahnya, Brian duduk di samping Nafiza dan menarik selimut sampai menutupi pinggangnya, Nafiza menurunkan sedikit posisi tubuhnya dan melingkarkan tangannya di tubuh Brian.
"Dulu saat kamu masih kecil, kamu sering mengikutiku kemana-mana. Aku merasa risih dan tidak suka harus menjagamu saat bermain, aku berniat membuatmu menjauhiku. Saat itu aku melemparkan seekor katak dan mengejutkanmu, kamu berlari karena ketakutan, akhirnya terjatuh dan kedua lututmu berdarah" Brian bercerita sambil mengelus rambut Nafiza.
"Kalau itu terjadi sekarang mungkin aku akan menendangmu!"
"Sebelum kamu menendangku aku akan melakukan ini" Brian mencubit hidung Nafiza.
"Aw sakit" Nafiza mengelus hidungnya. "Lalu?"
"Saat itu kamu menangis sangat kencang, seharusnya aku senang mungkin kamu tidak akan mengikutiku lagi tetapi melihatmu menangis aku jadi menyesal, akhirnya aku membantumu berdiri dan mengantarmu menemui orangtuamu dan menceritakan kejadian yang sebenarnya"
__ADS_1
"Apa aku trauma dekat denganmu?"
"Tidak, kau malah semakin menempel padaku"
"Aaa kau berbohong ya?" Nafiza mendongakkan wajahnya memandang Brian.
"Aku tidak berbohong, jadi waktu itu saat melihat luka di lututmu aku sangat menyesal. aku ingin meminta maaf jadi aku membuatkanmu katak bicara dari origami, kamu sangat menyukainya akhirnya semakin hari kamu semakin menempel padaku"
"Jadi kamu sudah merayuku dari semenjak aku kecil ya?"Β
"Aku ini pria yang bertanggung jawab nona bukan pria perayu".
"Bagiku kau tetap pria penggombal!" goda Nafiza.
Nafiza mengalungkan kedua tangannya pada tengkuk leher Brian, mereka melanjutkan ciuman hangat itu kembali.
***
Mama dan papa tengah menunggu Nafiza dan Brian di ruang makan untuk sarapan bersama-sama, tak lama keduanya terlihat keluar kamar. Mama dan papa memperhatikan dengan baik raut wajah keduanya.
"Pah sepertinya mereka sudah berbaikan, lihat wajah Nafiza menjadi sumringah" mama sedikit berbisik di telinga papa yang hanya menjawabnya dengan senyuman dan anggukan. Nafiza dan brian duduk di depan mama dan papanya.
"Pagi pah pagi mah" sapa Nafiza.
__ADS_1
"Pagi sayang" jawab mama.
"Hari ini kamu akan ke kantor Brian?" tanya papa.
"Tidak pah, rencananya hari ini aku akan mengajak Nafiza pergi jalan-jalan"
"Iya kalian pergilah bersenang-senang lupakan peristiwa kemarin, oia apa yang akan kamu lakukan pada anak pak Ardi Brian? Bukankah dia terlibat dalam penerbitan artikel berita itu dan juga dia teman sekelas Nafiza kan?" Brian belum menceritakan pada Nafiza bahwa dalang berita perselingkuhanya dengan Sabrina adalah ulah Septa.
"Maksud papa Septa?" Nafiza terkejut mendengarnya.
"Iya, Brian mungkin belum menceritakannya padamu Nafiza, Sabrina dan Septa bekerja sama untuk membuat skenario perselingkuhan, Brian tidak sepenuhnya masuk ke dalam jebakan mereka, bahkan meski mengetahuinya Brian tidak membiarkan Sabrina mengungkap kejadian yang sebenarnya dan hanya menyiarkannya seperti kesalah pahaman biasa"
"Kenapa kamu tidak menceritakannya padaku?" Nafiza memandang Brian.
"Tadinya aku berniat untuk menceritakannya saat kamu sudah tenang, tetapi melihatmu tenang membuatku tak ingin merusak ketenangan itu" ucap Brian, mama tersenyum dan menyenggol tangan papa pelan, merasa kagum dengan perkataan yang di lontarkan Brian.
"Sudah, masalahnya sudah selesai. Biarkan Brian berfikir akan melakukan apa pada anak pak Ardi itu. Dia kan sudah memiliki buktinya, mama yakin kamu akan mengambil keputusan yang tepat agar semuanya baik-baik saja. Sekarang ayo kita makan dulu" ajak mama sambil mengisi makanan di piring papa, sedangkan Nafiza masih ingin mengetahui dan mendengar penjelasan dari Brian, raut wajahnya sedikit berubah.
***
**Author minta maaf lagi atas ketidakstabilan up episode terbaru π
Pekerjaan author hampir finish πͺ
Jangan bosan menunggu Nafiza dan Brian ya
__ADS_1
πππ**