Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Episode 29


__ADS_3

“Apa ?” ucap semua orang serempak.


“Alwi anak ku” Rian mengulang ucapan Afnan.


“Iya, maafkan kami karena merahasiakan semua ini” Jawab Afnan dengan rasa penyesalan yang mendalam.


Rian menghela nafas sebentar, masih mencerna apa yang di ucapkan oleh Afnan.


“Alwi anak ku” gumam Rian lagi.


Rasanya tak percaya jika memang Alwi adalah anaknya dengan Dewi.


“Muhammad Alwi Abraham, itu nama lengkap Alwi, Nama Alwi sendiri di ambil dari nama kalian berdua yakni Almer dan Dewi sedangkan Abraham itu nama keluarga kalian kan” Jelas Afnan lagi.


Semua orang hanya menggeleng kan kepalanya, sementara Maudy tak tau harus berbuat apa, tapi air matanya tak ada yang menetes entahlah ada rasa bahagia di hatinya karena mengetahui jika Alwi adalah anak Rian yang otomatis akan menjadi anaknya juga.


“Maafkan Dewi Mas Rian, dia tidak bermaksud untuk merahasiakan masalah ini, hanya saja luka yang dia tanggung dulu begitu dalam, Dewi hanya ingin pergi dari kehidupan kamu, dia ingin melupakan kamu” Afnan Kemabli berkata.


Siapa sangka awalnya Afnan mengira Rian akan memaki atau memukul dirinya mala merangkul dan memeluk nya dengan erat.


“Antarkan aku dimana Alwi di rawat, ambilah darahku sampai habis tak tersisa asal anak ku selamat” ucap Rian Yang sudah terisak.


Afnan membalas memeluk mantan suami istrinya itu, memukul-mukul punggung Rian dengan pelan, tanda memberi kekuatan.


“Akan saya antar Mas, terima kasih sebelumnya” balas Afnan.


“Alhamdulillah akhirnya kita punya anak Mas” sahut Maudy yang teramat bahagia.


Afnan mengernyit bingung, setelah Rian melepaskan pelukan nya, Afnan bertanya -


“Anda tidak marah kan dengan semua kenyataan ini ?” tanya Afnan.


“Kenapa saya harus marah, saya malah senang karena sekarang saya memiliki anak walaupun bukan lahir di rahim saya sendiri, lagian itu masalalu Mas Rian, tapi Alwi adalah darah daging Mas Rian, sebelum menikah saya sudah berjanji akan menerima semua masalalu Mas Rian dengan ikhlas, jadi kehadiran Alwi pun akan saya terima” jawab Maudy membuat semua orang tersenyum termasuk Rian.


“Ayo Mas kita kerumah sakit, Alwi butuh Mas sekarang” ucap Maudy lagi.


“Ayo” Rian menganggukan kepalanya.


Mereka semua berangkat kecuali Alya, karena untuk ikut sementara Zio sedang istirahat, kalau di bangunkan takut Zio nangis.


Didalam perjalanan Rian menggenggam tangan sang istri dengan erat, ibu jarinya mengelus punggung tangan Maudy.


“Udah ah Mas, geli tau gak” kata Maudy berusaha melepaskan tangan nya, namun Rian Mala semakin menggenggam nya denga erat.


“Makasih ya Sayang karena tidak marah,setelah mengetahui kenyataan ini, Mas aja sampai kaget mendengar nya”

__ADS_1


“Iya Sayang, Maudy gak marah kok, malah senang karena ada anak di antara kita, lagian kamu sama Mbak Dewi kan sudah bahagia sama pasangan masing-masing. Mungkin benar kata kak Alya kalau Mas sama dia gak berjodoh”


Hingga tiba saatnya mobil Mereka tiba di rumah sakit tempat Alwi di rawat, Rian dan Maudy masuk bergandengan sambil mengiringi langka kaki Afnan.


Di depan ruangan sudah terlihat Dewi bersama kedua orang tuanya.


Melihat kedatangan Rian, Dewi hanya bisa menundukan kepalanya, ia sudah menyiapkan diri jika Rian akan mencaci maki atau membentaknya di tempat seperti ini, karena Dewi merasa ia bersalah karena dirinya telah menyembunyikan tentang Alwi.


“Ma, Pa” Rian menyalami kedua orang tua Dewi.


“Dek” panggil Rian ke Dewi.


Dewi mendongak kan kepalanya, menatap wajah Rian dengan seksama, seketika mata mereka saling pandang, namun dengan cepat Dewi mengalihkan tatapan matanya.


“Mana Alwi ?” tanya Rian lagi.


“Didalam” jawab Dewi cepat.


“Boleh aku masuk”


“Silahkan, ada dokter juga didalam”


Rian mengangguk, sebelum masuk Rian pamit keistrinya Maudy, semua itu tidak lepas dari pandangan Dewi, ia ikut tersenyum bagaimana cara Rian memperlakukan Maudy.


Sambil menunggu Rian didalam mereka semua duduk di bangku panjang, Maudy duduk disamping Dewi. Entah harus mulai dari mana pembicaraan mereka, mengingat selama ini mereka berdua tidak pernah saling menyapa.


“Emmmm”


“Emmmm”


“Sabar ya mbak Dewi !” akhirnya Maudy berbicara dahulu untuk memecahkan kecanggungan di antara mereka berdua.


“Makasih” balas Dewi.


“Kamu gak marah karena tau kalau Alwi adalah anak Mas Rian ?” tanya Dewi lagi.


“Iya enggak dong mbak, malahan aku senang karena akhirnya aku sama Mas Rian punya anak walau itu bukan darah dagingku” jawab Maudy.


Dewi tersenyum. “Terima kasih sudah mau mengerti” balas Dewi lagi.


-


-


Sementara di dalam ruangan, air mata Rian terus menetes dengan deras melihat anaknya tak berdaya seperti ini.

__ADS_1


“Anda Ayah kandungnya ?” tanya dokter Rendra.


“Iya” jawab Rian.


“Apa anda bersedia menjadi pendonor darah untuk anak Anda ?” tanya Dokter Rendra lagi.


“Lakukan lah, ambil semua darahku asal anakku bisa selamat”


“Baik”


Dokter Rendra bersama dua orang suster langsung menyiapkan alat untuk Rian mendonor kan darahnya.


Sembari menunggu sang Dokter menyiapkan alat, Rian duduk di kursi sambil menggenggam tangan mungil Alwi.


“Haloo Anak Papa” ucap Rian terbata-bata.


“Ayo bangun Nak, Papa mau dengar Alwi manggil Papa, nanti Papa janji akan membelikan Alwi banyak mainan, asal Alwi mau bangun”


Rian mencium tangan anaknya, tetesan air mata mengenai punggung tangan Alwi,.


“Sudah siap pak" ucap Dokter Rendra.


Rian menganggukan kepalanya, ia berjalan ke arah ranjang samping tempat Alwi, seketika Rian meringis kesakitan saat Jarum suntik menembus kulitnya.


Hingga darah segar mengalir dengan deras melalui selang yang telah di sediakan, menampung darah Rian begitu banyak untuk kesembuhan Alwi.


Suara monitor terus berbunyi dengan nyaring, Rian memejamkan matanya sambil menunggu darahnya selesai di ambil.


Setelah hampir 1 jam Rian keluar dari ruangan Alwi, tubuhnya mendadak lemas mungkin karena banyak darah yang ia keluarkan.


“Kamu gak Papa Mas ?” tanya Maudy. Ia langsung memapa Rian untuk duduk di bangku panjang dengan di bantu oleh Kenan.


“Aku baik-baik saja Sayang” jawab Rian.


Afnan memberikan satu gelas A-qua kepada Rian, tidak lupa memberi nya roti supaya Rian bertenaga lagi.


“Makan dulu Mas supaya tenaga nya balik" ucap Afnan.


“Terima kasih” jawab Rian.


“Bagaimana Mas apa berhasil ?" tanya Maudy antusias.


“Alhamdulillah, semua berjalan lancar, smeoga Alwi segera sadar”


“Aamiin”

__ADS_1


Rian memandang wajah Dewi, ia tahu sedari tadi Dewi terus memperhatikan dirinya, hanya saja Dewi tidak berani bertanya.


“Biar seperti ini Wi, kamu sama Afnan aku sama Maudy, untuk Alwi kita besarkan sama-sama, aku juga tidak akan egois akan mengambil hak asuh Alwi dari kamu karena aku yakin Alwi hanya mengenal sosok Afnan sebagai Ayah kandungnya. Aku akan menunggu sampai kamu bersedia memperkenalkan aku sebagai ayah kandungnya" batin Rian


__ADS_2