Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 37


__ADS_3

Setelah sang suami berangkat bekerja, Maudy membantu Alya. Mengurus Keyla yang hendak berangkat sekolah atau menemani Zio bermain.


"Istirahat aja dulu Dy, kan Lusa mau ke Bali" titah Alya.


"Masih pagi Kak, nanti aja" balas Maudy.


Alya hanya tersenyum, lalu kembali mengepang rambut Keyla.


"Sudah cantik, ayo berangkat !" ajak Alya kepada anak perempuan nya


"Pamit dulu sama Tante !" kata Alya lagi.


Keyla mencium punggung tangan Maudy, lalu berangkat sekolah bersama Alya dan Zio.


Sekarang tinggalah Maudy sendiri di rumah, rasa bosan mulai menyelimuti.


"Mending ke rumah Mama. Sekalian pamit karena lusa mau ke Bali" gumam Maudy.


-


-


Hari ini Dewi begitu lemah, wajahnya yang pucat karena selalu mual dan muntah, sangat berbeda saat mengandung Alwi dulu, karena seingat Dewi waktu mengandung Alwi ia bahkan tak merasakan mual.


"Kedokter dulu ya Sayang" ajak Afnan.


"Mas takut terjadi sesuatu sama kamu" ucap Afnan lagi.


"Iya Mas" jawab Dewi akhirnya setuju ikut sang suami pergi kerumah sakit.


"Mau ganti hijab dulu gak ? atau ganti baju sekalian ?" tanya Afnan.


"Ambilin baju yang Mas beliin waktu itu sama hijabnya sekalian Mas" titah Dewi.


"Baik sayang"


Afnan langsung beranjak menuju lemari istrinya dan mengambil gamis serta hijab untuk sang istri.


Setelah itu Afnan membantu mengganti pakaian sang istri, memakaikan hijab untuk menutupi rambut panjang nan indah Dewi. Afnan tidak rela siapapun memandang rambut berwarna hitam milik istrinya selain dirinya sendiri.


"Mas gak ganti baju ?" tanya Dewi.


"Ganti sayang, tapi kamu dulu" balas Afnan.


Dewi mengambil sebuah Bros di tangan sang suami "Biar aku saja. Mas ganti baju sana" titah Dewi.


Cup.


Afnan mencium kening Dewi, lalu beranjak untuk mengganti pakaiannya.


Dewi hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala, ia begitu bahagia karena sang suami selalu memberikan kebahagiaan kepada Dewi, memberikan seluruh perhatian nya kepada Dewi. Bahkan tak jarang Afnan melupakan dirinya sendiri hanya untuk memperhatikan Dewi.


"Terima kasih atas semuanya Mas, semoga Allah membalas semuanya dengan surga" batin Dewi.


Tak lama Afnan selesai mengganti baju, ia memakai kemeja berwarna biru langit dengan lengan yang di gulung sampai ke siku, serta celana bahan yang menjadi favorit Afnan.

__ADS_1


"Bagaimana tampan tidak ?" seloroh Afnan


"Enggak" Dewi mencibir, padahal di dalam hatinya "Ganteng banget"


"Jangan bohong ! entar dosa loh"


"Udah ah, ayo berangkat. Entar panjang lagi antrian nya" Dewi langsung menarik tangan suaminya, untuk segera berangkat.


Kedua orang tua Dewi hanya tersenyum melihat kelakuan anak dan menantunya itu.


"Akhirnya kamu bisa juga mencintai Afnan Nak !"


"Semoga kamu bahagia selalu"


"Doa Mama selalu menyertaimu Sayang*"


Mama Mira membatin. Sangat berharap kebahagiaan selalu menghampiri Afnan dan Dewi.


-


-


Sementara itu.


Maudy sudah sampai di rumah kedua orang tuanya, Melda langsung menyambut kedatang anak nya itu, memeluknya dengan erat karena sudah lama tak bertemu.


"Kok jarang banget sih nak mengunjungi Mama dan Papa" seloroh Melda.


"Maaf Ma, Mas Rian sangat sibuk akhir-akhir ini." jawab Maudy merasa bersalah. Harusnya dia sering berkunjung kerumah kedua orang tuanya apalagi ia adalah anak tunggal.


"Rian bagaimana kabarnya ?" tanya Melda lagi.


"Mas Rian baik Ma, oh iya Lusa aku sama Mas Rian mau ke Bali bulan madu" ucap Dewi.


"Wah, semoga segera isi ya Nak, Mama udah ingin sekali gendong cucu"


"Doain ya Ma"


"Pasti itu Nak"


Setelah itu Maudy pergi kekamarnya, entahlah ada rasa rindu dengan kamar itu, kamar yang selalu ia huni dari dia beranjak SMP. Dan sekarang ia pergi.


Terlihat sekali kalau kamar nya selalu di rawat, tak ada debu yang muncul di meja, bahkan seprai dan selimut sangat wangi.


"Makasih Ma karena menjaga kamar Maudy dengan baik" gumam Maudy.


-


-


Afnan dan Dewi sudah sampai di rumah sakit, Afnan langsung mendaftarkan istrinya kepoli kandungan.


"No urut 25 gak papa kan ?" tanya Afnan lalu ikut duduk di samping istrinya, mengantri sama dengan yang lain.


"Tidak apa-apa Mas" jawab Maudy.

__ADS_1


"Sini kalau capek. Senderan !" Afnan menepuk bahunya.


"Malu Mas, banyak orang" bisik Maudy.


Afnan melirik kekiri dan ke kanan, memang sudah banyak yang antre dan semuanya ibu-ibu yang sedang mengandung.


"Alhamdulillah istriku ada di antrean para wanita hamil ini" batin Afnan bahagia.


Setelah lama mengantri akhirnya nama Dewi di panggil. Ia langsung masuk kedalam ruangan bersama sang suami.


"Keluhan nya apa saja Bu ?" tanya Sang dokter


"Mual dan Muntah Dok, ***** makan berkurang, gak enak sama wangi-wangi yang menyengat" jawab Dewi menjelaskan semuanya.


"Baik, itu masih dalam tahap wajar ya Bu, tapi jangan sampai berlebihan, untuk meredahkan mual dan Muntah usahakan perut ibu jangan sampai kosong, karena perut kosong akan semakin memicu muntah yang berlebihan. Makan walau sedikit. Kalau ibu tidak bisa makan nasi, bisa di ganti dengan roti dan jangan lupa minum susu" dokter menjelaskan.


"Hamil anak kedua ya ?" dokter kembali bertanya karena melihat data Dewi saat di isi oleh Afnan tadi.


Dewi menganguk "Betul dok, tapi saya pernah keguguran saat hamil anak pertama"


"Usia berapa keguguran nya dan penyebab nya apa ?" tanya dokter.


"2 bulan dok karena jatuh di kamar mandi"


"Baiklah kalau begitu kita periksa dulu, nanti saya akan resepkan vitamin dan penguat kandungan untuk ibu"


Dewi berbaring di atas brankar, seorang suster membantu menyelimuti kaki Dewi lalu menyingkap baju gamis Dewi hingga menampakan perut Dewi yang masih rata.


Tangan Afnan menggenggam tangan Dewi dengan erat.


Dokter mulai mengoleskan jell ke perut Dewi, lalu meratakan nya menggunakan alat USG, dan menekan alat itu sedikit sehingga menampilkan bagian perut Dewi di layar monitor.


"Bagus"


"Baik"


"Ketuban juga bagus"


"Usia nya 7 Minggu ya Bu"


Rentetan kalimat yang di ucapkan dokter sudah cukup melegakan dan membahagiakan Afnan dan Dewi.


"Ada dua titik, besar kemungkinan calon bayi ibu dan bapak kembar"


Afnan langsung menganga tak percaya "Kembar dok ?"


"Kemungkinan kembar, bapak bisa lihat sendiri ini ada dua titik yang terlihat, nanti kita pastikan lagi saat usia kehamilan Ibu Dewi sudah besar" jawab dokter


"Terima kasih ya Allah" batin Afnan.


"Udah cukup, semuanya bagus, mual dan muntah yang ibu alami masih tahap wajar, perbanyak minum air putih ya Bu supaya ketuban nya bersih"


"Baik dok"


Setelah perut Dewi di bersihka Afnan langsung menurun kan kembali gamis sang istri, dan membantu mendudukan Dewi.

__ADS_1


"Ini resepnya vitaminnya ya pak tolong di tebus. Dan di minum secara rutin ya !"


__ADS_2