Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Anak


__ADS_3

Mak bagaimana ini sebentar lagi Troy akan melepas masa bujang" ucapnya sendiri dengan wajah layu.


Dalam lubuk hati Troy ada yang bergelayut, bukannya ia tidak ingin menikah, ia hanya belum siap. Terlebih ia dan Tita belum membicarakan ini. Berkencan saja belum sampai seminggu tetapi bulan depan ia sudah harus bertunangan dengan Tita, bahkan Tita belum berkenalan dengan keluarga Troy. Ia menjadi semakin pusing memikirkannya, ia menyayangi Tita tetapi pernikahan ini terlalu buru-buru.


Sangkar burung wahana kincir angin yang di naiki Troy telah berputar beberapa kali, saat yang lain berteriak dan tertawa Troy hanya bisa meratapi nasibnya.


"Mak. . Mak. ." ucapnya menghela napas seperti orang yang hidup segan mati tak mau.


Pintu kincir angin Troy di buka, ia dipersilahkan untuk turun dan keluar.


"Boleh tidak bang aku naik satu kali lagi?" tanyanya lesu belum mau beranjak dari duduknya.


"Beli karcis dulu lah bang"


"Oohhh begitu ya, ya sudah aku beli dulu" akhirnya Troy turun untuk sekedar membeli karcis dan kembali menghampiri penjaga wahana kincir, Troy memberikan tiketnya.


"Kok 2 bang, abang kan sendirian?" tanyanya sambil memperlihatkan dua karcis sekaligus.


"Biar tidak usah beli tiket lagi bang, saya mau naik kincir yang lama"


"Owh siap bang kalau begitu" penjaga tersebut mempersilahkan Troy masuk dan menutup kembali slot pada pintu sangkar burung.


Ia kembali meratapi keadaannya sambil bersandar di pojokan, pikirannya menerawang di balik jeritan orang-orang yang naik wahana tersebut di sangkar burung yang lain.


Setelah hampir 30 menit Troy di bawa berputar-putar ke langit, penjaga wahana membukakan pintu untuk Troy dan mempersilahkannya keluar. Troy keluar dengan terburu-buru sambil memegang mulutnya.


"Abang menangis?" tanya penjaga tersebut melihat Troy berlari, Troy tak menggubris dan trus melangkah. "Kasihan sepertinya sedang banyak pikiran" gumam sang penjaga kincir memandang Troy pergi.


Ia berlari ke belakang wahana dimana tidak terlihat oleh orang-orang.


"Uweeekkk uwweeekkk" Troy merasa pusing dan muntah-muntah. "Ternyata terlalu lama naik sangkar burung itu tidak baik, Uweeekkkk" ia kembali mengeluarkan isi perutnya.


Author : "Sini Troy Othor pijitin"


Troy : "Ga usah Thor ini juga gara-gara author"


Author : "Dih situ naik sendiri othor ga nyuruh"


Troy : "Othor ga nyuruh cuma othor yang nulis"


Author : " Hahahaha harap bersabar ya Troy ini ujian"

__ADS_1


Troy : "Udah sono Thor ni mau muntah lagi. Uweekk"


Author : "Lain sekali naik kincir sekali aja ya jangan berkali-kali"


Troy : "Kapok ga mau naik lagi"


Author : "Haha ya udah othor mau naik kora-kora aja. Bye Troy"


Troy melambaikan tangannya. Halu banget author πŸ˜‚πŸ˜‚ balik ya lanjut ke cerita.


***


Troy pulang dengan wajah pucat, perutnya kini kosong tak berisi. Ia berjalan menuju mobilnya dan dengan pelan ia mulai melajukannya untuk berjalan pulang.


***


Nun jauh dari sana, Nafiza dan Brian telah sampai di rumah. Mereka sudah merebahkan dirinya di ranjang, Nafiza memeluk Brian membenamkan kepalanya di dada Brian sambil melingkarkan tangannya, Brian menutupi tubuh mereka dengan selimut sampai ke dada. Hanya kepala Nafiza yang terlihat.


"Kak Troy ada masalah apa ya Brian?" Nafiza memulai obrolan.


"Aku tidak tahu, coba besok kamu hubungi Tita"


"Kasihan jika baru saja menjalin hubungan mereka sudah bertengkar terus"


"Belum tentu juga mereka bertengkar"


"Lalu?"


"Aku juga tidak tahu"


"Ya sudah dari pada membicarakan Troy dan Tita yang belum tahu ada masalah apa lebih baik kita membicarakan anak kita"


"Anak kita?" Nafiza mendongakan wajahnya memandang Brian.


"Iya, semoga sebentar lagi kamu hamil, rasanya aku sudah tidak sabar"


"Semoga aku aminkan saja, hari senin aku sudah mulai ospek loh"


"Bagaimana sudah mempersiapkan perlengkapannya?"


"Sudah, tidak terlalu banyak yang harus di persiapkan di hari pertama"

__ADS_1


"Oh, aku sudah lama ingin bertanya. Kamu ingin punya anak berapa?"


"Aku? aku mau 2 saja sudah cukup. Satu laki-laki dan satu perempuan" Nafiza memainkan jarinya di atas dada Brian.


"Kalau aku mau punya lima anak"


"Banyak sekali" Nafiza melebarkan matanya.


"Tidak apa-apa dong, biar rumah kita ramai. aku ingin 3 anak laki-laki dan 2 anak perempuan"


"Aku hamil satu anak pun belum"


"Kan nanti juga hamil sayang"


"Hemmmm"


"Membicarakan tentang anak membuatku ingin cepat menghamilimu" Brian menyeringai, wajahnya berubah menjadi pria nakal.


"Iissshhh maksudmu? Jun lagi?"


Brian menganggukan kepalanya dengan semangat.


"Tadi kan sudah"


"Itu kan di mobil, di rumah belum" Brian mengangkat-angkat kedua alisnya.


"Ya ampuuunnn"


"Sudahlah ayo" Brian menarik selimut mereka menutupi seluruh tubuhnya. Entah lah apa yang terjadi di dalam sana yang jelas hanya ada suara ranjang yang bergoyang.


***


Maaf ya pikiran dan tulisan author yang satu ini terlalu bersih πŸ˜‚πŸ˜‚ padahal sebaliknya. Uuppsss


Episode kali ini di buat pendek, karena sudah mulai memasuki finish ya


Author sedih jika memikirkan akan menamatkan cerita Brian dkk, berat rasanya tetapi author sudah membuat keputusan memang harus segera di selesaikan.


Beri dukungan dan semangat terus ya buat author.


Selamat berakhir pekan πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2