
TROOOOYYY!!!" teriak ibu Troy wajahnya menjadi garang melihat kelakuan anaknya.
"Emak?" Troy menelan salivanya.
"Tercyduk lagi, bagaimana ini?"
Troy menghampiri ibunya dengan langkah yang gemetar.
"Ikut mak masuk ke dalam!" Troy menurutinya ia mengekor dari belakang. Ia sempat menengok pada Tita yang di tinggalkannya, sama seperti Troy, kekasihnya itu juga ketakutan, entah apa yang akan di lakukan ibu Troy kepadanya.
"Sidang paripurna tingkat ibu negara, semoga aku tidak di cambuknya" doa Troy dalam hati.
Ibu Troy mengajaknya masuk ke dalam kamar.
"Duduk!" perintahnya menunjuk tepi ranjang.
"Iya mak"
"Apa yang kamu lakukan Troy? kalian belum menikah, kenapa kamu bisa menciumnya?" selidik ibu Troy menatapnya tajam.
"Anu mak. ." jawabnya ragu dan bingung.
"Anu apa?"
"Kamu seharusnya menjaganya, meski nanti kalian akan menikah, belum waktunya untuk melakukan hal itu sekarang, memangnya kamu tidak bisa bersabar sampai kalian halal?"
"Tidak eh bisa kok mak"
"Troy kamu itu punya dua adik perempuan, Tita dan dua adikmu itu sama saja. Jika seorang lelaki melakukan hal itu pada Gea dan Giska memangnya kamu rela?" perkataan ibunya begitu menusuk di jantung Troy, benar ia melupakan hal itu, jika ada laki-laki yang berani mencium adiknya di depannya ia juga tidak tega dan tidak mau. Troy menggelengkan kepalanya.
"Mangkanya jaga calon istrimu, jika sudah resmi menikah toh kalian akan bebas melakukannya, berapa kalipun, gaya apa pun, kapan pun, dimana pun eh harus di tempat tertutup dan aman. Tidak seperti tadi kamu mencium Tita bahkan di belakang rumah yang terbuka, kalau ada yang melihat bagaimana? kalau adikmu yang melihat bagaimana? kamu mencontohkan hal yang tidak baik." penjelasan panjang lebar ibunya benar dan Troy jadi sadar perbuatannya sekarang ini sudah salah.
"Maaf mak Troy janji akan menahan diri dan menjaga jarak dengan Tita" Troy menundukkan wajahnya menyesali perbuatannya, akhir-akhir ini dia sering khilaf.
"Tidak bisa!" jawab ibunya tegas membuat Troy mengangkat kepalanya.
"Kalian harus cepat menikah, emak tidak percaya dengan janji-janji kamu"
"Cepat menikah? maksud mak?"
"Ya di percepat, lusa kita lamaran ke rumah Tita. Kalau bisa kalian menikah minggu depan"
"Tapi mak. ."
"Yeeessss kawiiiiinnnn" dalam hati Troy sangat bergembira, berbanding terbalik dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Emak tidak mau kamu terperosok semakin dalam pada perzinahan, emak tidak mau menanggung dosanya. Lebih baik cepat halal saja"
"Baik mak" jawabnya lesu.
__ADS_1
"Kenapa lemas? memangnya kamu tidak senang pernikahan kamu di percepat?"
"Senang mak" bibir Troy sedikit menyunggingkan senyuman malu-malu.
"Awas sampai halal jangan mencium Tita lagi!"
"Iya mak, terima kasih banyak emak sudah merestuiku dengan Tita"
"Kamu sangat mencintainya?" Troy menganggukan kepalanya pelan.
"Pokoknya kamu tenang saja, kamu pasti akan menikah dengannya"
"Terima kasih mak, boleh tidak Troy peluk emak?" tanyanya ragu-ragu khawatir ibunya masih menyimpan amarah.
"Boleh" sontak Troy memeluk ibunya dari samping dengan erat dan mencium pipinya.
"Kalau cium emak boleh kan?"
"Sudah di cium baru bertanya" ibu dan anak itu saling melempar senyuman, ibu Troy memegang tangan anaknya dan mengelusnya pelan.
"Anak bujang emak, sudah cukup kamu bekerja keras untuk kami Troy, tangan ini sekarang pakailah untuk memberi kasih sayang pada keluargamu nanti, kamu sudah berperan sebagai kakak dan pengganti bapak dengan baik, ini saatnya kamu meraih kebahagiaanmu sendiri" mata ibunya mulai berkaca-kaca, dia mengingat perjuangan Troy yang kuliah sambil bekerja demi membiayai sekolahnya sendiri tanpa meminta pada ibunya, kuliah pun demi dia agar bisa meningkatkan taraf hidupnya bahkan setelah bekerja setiap bulan ia selalu menjamin kebutuhan keluarganya di kampung tercukupi dan terpenuhi. Dia sangat berjuang keras demi kehidupan keluarganya, kini ibunya melepasnya agar dia bahagia.
"Mak jangan berkata seperti itu, hidup Troy hanya untuk keluarga ini. Walaupun Troy sudah berkeluarga nanti Troy tetap akan melakukan kewajiban Troy sebagai anak dan seorang kakak bagi Gea dan Giska. Troy sayang emak" air mata ibunya tak terbendung, mendengar kata-kata sayang dari anaknya membuat hatinya terharu, perjuangan dan kasih sayang Troy begitu besar pada mereka.
"Jaga dan sayangi kelak keluarga kecilmu" pesan emak untuknya.
"Iya mak, oia emak mau punya cucu berapa? Troy akan memberikannya dengan hati senang berapapun mau emak" godanya membuat ibu Troy yang sedih menjadi tertawa dan mencubit perut Troy.
"Hehe, kan cuma rencana mak"
"Keluarga Tita bagaimana? apa mereka setuju menikahkanmu dengan anaknya?"
"Keluarganya baik mak, mereka juga menyetujui, mak tenang saja"
"Syukurlah, ya sudah kita keluar dulu. Kasihan Tita pasti berpikiran yang bukan-bukan sekarang"
"Iya mak dia pasti takut pada emak"
"Memangnya emak macan?"
"Tadi sih seperti macan" ibu Troy kembali memukul bahu anaknya.
"Kamu ini meledek terus pada orangtua"
"Soalnya Troy sayang emak" mereka berdua berjalan sambil Troy merangkulkan tangannya di bahu ibunya.
Benar saja, tepat saat mereka keluar dari kamar, Tita sudah duduk di ruang tamu dengan wajah tertunduk malu dan takut, melihat calon ibu mertua dan calon suaminya dia langsung berdiri kaku.
"Ibu maafkan Tita sudah melakukan perbuatan lancang di sini" ucapnya tanpa basa basi. Ibu dan Troy saling berpandangan tak menyangka Tita akan berani meminta maaf.
__ADS_1
"Emak tidak membenarkan perbuatan kalian, tadi emak sudah mengatakan dan memarahi Troy, kalian harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kalian lakukan"
"Lusa keluargaku akan ke rumahmu, kami akan melamar secara resmi" timpal Troy yang kemudian membuat wajah Tita berubah, yang awalnya sedih dan malu menjadi sumringah.
"Benarkah?"
"Benar kok" Tita berlari sambil mengangkat kedua tangannya akan memeluk Troy tapi kemudian. .
"Ekhem" ibu terbatuk, hingga akhirnya Tita mengurungkan niatnya dan tersenyum kecut. "Ingat kalian belum resmi menikah, harus jaga jarak"
"Baik mak" jawab Troy dan Tita kompak. Mereka berdua tersenyum bahagia.
***
Di lain tempat, seorang ibu hamil tengah memakan buah-buahan di ruang makan di rumahnya, dia melahap habis mangga yang belum matang dan rasanya asam itu di tambah dengan sambal rujak buatan Bi Inah.
Brian hanya memandangnya ngeri, tadi dia sempat mencicipi sedikit mangga muda itu rasanya benar-benar masam dia bahkan tak sanggup memakannya berbeda sekali dengan Nafiza yang memakan mangga itu seperti makan krupuk, kriuk dan tidak kenyang-kenyang.
"Memangnya rasanya tidak masam Nafiza? enak?"
"Sangat enak, kamu seharusnya mencicipi tadi lebih banyak"
"Tidak mau sedikit saja tadi rasanya bikin ngilu gigiku"
"Hem payah, oia Brian.."
"Apa"
"Kamu tahu jambu mede tidak? yang kepalanya seperti kepala monyet?"
"Iya tahu"
"Sepertinya makan rujak Bi Inah sambil memakan buah itu rasanya enak"
"Iya aku mengerti" Brian bangun dari duduknya dan mengambil kunci mobil dari dalam laci.
"Beli yang warnanya kuning ya" ucap Nafiza melihat Brian pergi.
"Baik bumilku" Sebenarnya tadi Nafiza mendadak minta di carikan mangga muda, beruntung tetangga sebelah mempunyai pohonnya dan mereka boleh memintanya, akhir-akhir ini Nafiza mempunyai banyak permintaan, syukurlah dia punya suami yang sabar yang mau memenuhi keinginannya.
Brian sudah berada di dalam mobil.
"Aku harus cari di mana, sebaiknya liat internet dulu" Brian tidak tahu bahwa mencari jambu mede jaman sekarang sangat sulit. Beberapa kali pun ia mencari artikelnya tetap saja di tempat buah dan supermarket dekat rumahnya tidak ketemu.
"Haaahhh sebaiknya aku tanya tetangga sebelah dulu, siapa tahu punya pohonnya" Brian turun kembali dari mobil dan berjalan menuju pagar tetangga rumahnya.
"Semangat demi bumiiillll" teriaknya cukup keras menyemangati diri sendiri. Satpam rumahnya tersenyum mendengar teriakan Brian.
***
__ADS_1
Semoga terhibur ya đź’•