
“Biar Mas yang menjelaskan semuanya kepada Ayah kandung Alwi” Afnan kembali mengulang perkataannya.
“Aku gak mau, lagian kenapa pihak rumah sakit harus kedua orang tua kandungnya yang mendonorkan darah, apa tidak ada stok darah di sini” balas Dewi
Sebelum Afnan kembali membalas ucapan Dewi, ia sudah berlalu dari hadapan sang suami, pergi menemui pihak rumah sakit untuk menanyakan stok darah yang sama dengan Alwi.
“Permisi Sus saya mau bertanya” ucap Dewi kepada seorang wanita yang berdiri di depan meja.
“Iya, silahkan” jawabnya
“Di rumah sakit ini apa ada stok darah, dengan golongan AB ?”
“Sebentar saya periksa dulu”
Dewi menunggu wanita itu memeriksa data stok darah yang ada di rumah sakit tersebut, dengan perasaan gelisah, dan berharap stok darahnya masih ada, jadi Dewi tidak perlu menghubungi Rian.
Mungkin bisa di katakan ia jahat karena merahasian status Alwi sebagai Anak Kandung Rian, Dewi hanya tidak ingin rumah tangga Rian yang baru seumur jagung harus berantakan karena dirinya.
“Bagaimana Mbak ?” tanya Dewi lagi.
“Stok darah yang ibu maksud masih sisa 2 kantong lagi, tapi mohon maaf Bu itu sudah si pesan sama keluarga pasien yang lain”
Dan dalam hitungan detik, tubuh Dewi langsung melemas seketika, matanya sudah berkaca-kaca, mungkin memang sudah jalannya Rian mengetahui rahasia yang ia jaga selama bertahun-tahun ini.
“Bagaiman sayang ?” tanya Afnan saat Dewi kembali ketempat semula dengan keadaan lesu dan wajah yang pucat.
Dewi menggeleng “Ada, tapi sudah di pesan sama pasien yang lain”
Terdengar helaan nafas berat dari Afnan, Dewi tahu kalau suaminya itu kecewa dengan keadaan ini. Mungkin rasa sayang nya kepada Alwi yang terlampau besar, dan rasa takut kehilangan pastinya.
Sama seperti Dewi, ia juga begitu takut jika Rian tau tentang Alwi, maka Rian akan mengambil hak asuh Alwi.
Tidak ini tidak akan terjadi !!
Jangan sampai Rian mengambil hak asuh Alwi !!
Berulang kali Dewi menggelengkan kepalanya.
Dari ujung sana terlihat Mama dan Papa nya Dewi berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan wajah yang cemas. Setelah Afnan memberi tahu kalau Alwi kecelakaan detik itu juga mereka langsung kerumah sakit.
“Wi” panggil Mama
Dewi langsung bangkit dan memeluk Mamanya dengan erat, menumpahkan rasa sesak yang kini sedang bertkhta.
“Alwi Ma, ini salah Dewi yang gak becus jaga anak” Dewi masih terisak.
“Sabar Sayang, Insya Allah Alwi akan baik-baik saja”Mama mengelus punggung Dewi dengan pelan.
Tidak berapa seorang dokter datang, bukan dokter yang memeriksa Alwi tadi, karena sekarang dokter nya adalah laki-laki.
__ADS_1
“Dengan keluarga pasien ?” panggil dokter tersebut.
“Iya dok, saya Ayahnya” Jawab Afnan.
“Perkenalkan saya dokter Rendra, saya dokter anak disini, dan saya yang akan menangani anak anda yang bernama Muhammad Alwi Abraham”
Afnan menganggukkan kepalanya.
“Karena di rumah sakit ini stok darahnya habis, apa dari bapak dan Ibu bersedia mendonorkan darahnya ?” dokter itu kembali bertanya.
“Sebentar lagi dok, tolong beri kami waktu” ucap Afnan.
“Baiklah saya tunggu”
Setelah dokte itu pergi, Afnan kembali menghampiri istrinya.
“Tidak ada jalan lain sayang, Mas harus ke rumah Ayah kandung Alwi, kalau tidak Alwi tidak akan mendapatkan donor darah” jelas Afnan kepada sang istri.
“Lakukan saja Nak, ini demi kebaikan Alwi. Semua ini salah Papa yang menyuruhmu merahasiakan tentang Alwi kepada Rian, sesalah apapun Rian tapi dia tetap harus tau tentang Alwi”
Dengan pelan Dewi mengangguk, mungkin memang ini jalannya.
*
*
*
Ketika ia menangkap sebuah mobil mewah berwarna silver berhenti tepat di rumahnya.
“Ada tamu Kak” ucap Maudy kepada Alya.
“Mungkin”
Dan tidak berapa lama seorang laki-laki turun dari mobil, Alya langsung mengenali laki-laki itu.
“Mas Afnan” ucap Alya.
“Siapa Kak, apa Kakak mengenal nya” tanya Maudy.
“Dia suami Dewi”
Deggg.
Jantung Maudy terasa berhenti berdetak, ia terus menatap laki-laki itu dengan pandangan heran, setelah seorang satpam memberi izin masuk Alya langsung mendekat.
“Alya” panggil Afnan.
“Mas Afnan, ngapain kesini Mas ?” tanya Alya lagi.
__ADS_1
“Bisa saya bicara di dalam, ada yang ingin saya sampaikan dan ini sangat penting”
Alya dan Maudy saling pandang, lalu kemudian Alya mengangukkan kepalanya.
Dan disinilah mereka bertiga, di ruang tamu dan di temani 3 gelas teh, Sebelumnya Alya sudah menghubungi Kenan dan Dewi juga sudah menghubungi Rian untuk menyuruh mereka pulang.
Kemudian Papa Bayu ikut bergabung, dan langsung duduk di single sofa setelah menyambut uluran tangan Afnan.
Papa Bayu, Alya dan Maudy di terpa kebingungan, karena tidak biasanya Afnan mengunjungi mereka seperti ini, bahkan tidak pernah sekalipun.
Papa Bayu kenal dengan Afnan saja baru ini setela Afnan menyebutkan nama dan suami dari Dewi.
Tiba-tiba keadaan disana menjadi mencekam, seperti di tahan oleh sekelompok penjahat.
“Assalamualaikum” suara Kenan di ambang pintu.
“Waalauikumasalam” jawab semua orang serempak.
“Ada apa sayang ?” bisik Kenan di telinga sang istri.
“Gak tau, tapi suaminya Dewi mau menyampaikan hal penting katanya” jawab Alya.
Kenan duduk di samping Alya, mereka hanya tinggal menunggu kedatangan Rian.
Maudy sudah gelisah dari tadi, berita apa yang akan di sampaikan oleh suami Dewi ini, kenapa ia datang kerumah dan meminta semua orang berkumpul, apa ini berhubungan dengan suaminya.
Pikiran negatif mulai berkecamuk, Maudy di landa kegelisaan, dan suara dari Rian membuat Maudy mengehela nafas panjang.
Setelah semuanya berkumpul, Afnan memulai pembicaraan.
“Sebelumnya saya mau minta maaf karena kedatangan mendadak ini” ucap Afnan.
“Tapi saya harus menyampaikan semua ini terutama kepada anda bapak Rian, karena ini menyangkut dengan anda”
“Hah Saya” Rian menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi terkejut “Kenapa dengan saya ? saya kan tidak pernah berurusan dengan anda dan keluarga anda”
Afnan tersenyum getir “Memang kamu tidak pernah berurusan dengan keluarga ku Rian, tapi kamu adalah ayah kandung dari anak istriku Dewi yang saat ini sedang berjuang melawan maut” batin Afnan.
“Memangnya kenapa dengan adik saya ?” tanya Kenan yang juga penasaran.
“Iya, apa yang telah di lakukan oleh anak saya?” Papa Bayu ikut menimpali.
“Mas Rian tidak melakukan kesalahan, karena ini adalah kesalahan kami semua, kami menyimpan rahasia yang cukup besar, dan mungkin Allah sudah marah hingga membuat kami mengungkapkan kebenaran”
“Jangan terlalu bertele-tele jelaskan saja apa yang terjadi” serga Rian sedikit emosi.
Afnan menarik nafas panjang lalu berucap dengan lantang “Tolong Alwi mas Rian, dia butuh kamu sekarang, dia sekarang sedang di rumah sakit hanya kamu yang bisa menolong nya” ucap Afnan dengan lirih.
“Kenapa saya ?” tanya Rian semakin heran.
__ADS_1
“Karena Anda Ayah kandung nya, dan Alwi sangat membutuhkan darah Anda, jadi tolong dia !”
“Apa ???”