Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Troy Mahendra


__ADS_3

Tita kali ini benar-benar kesal, ia masuk ke dalam villa sambil menutup pintu pagarnya. Troy berusaha mengikutinya tetapi terhalang oleh pintu pagar.


"Nona kenapa di kunci? saya juga mau masuk ke dalam, nona tolong buka pintunya" teriaknya melihat Tita pergi.


"Bikin aku kesal saja, memangnya tidak bisa ya dia peka sedikit saja!" umpat Tita sepanjang ia berjalan kaki menuju ke dalam.


Setelah sampai di ruang utama, Tita bertemu Brian dan Nafiza. Sahabatnya itu langsung menghambur dan memeluknya.


"Ta kamu dari mana saja? kami sangat cemas" ucap Nafiza.


"Aku hanya dari villa sebelah" Nafiza melepas pelukannya beralih menatap wajah Tita.


"Villa sebelah?"


Flashback on


Saat malam itu, melihat Troy yang berpelukan dengan seorang wanita yang tak di kenal, Tita merasa sangat kecewa, dadanya terasa sesak. Fikirannya menjadi tidak karuan.


"Mungkin itu mantan pacarnya yang sangat ia rindukan, jika mereka kembali menjalin hubungan. Bagaimana denganku? apa aku masih sanggup menjalani ini semua? berjuang untuk mendapatkan hatinya" Tita berbicara pada dirinya sendiri, buliran air mata terus menetes membasahi pipinya.


Tita ingin pergi, rasanya untuk saat ini ia tidak siap untuk bertemu dengan Troy lagi. Ia menyusuri sekeliling villa dan menemukan sebuah pintu yang terhubung dengan villa yang berada di sebelahnya, villa itu kosong tidak berpenghuni.


Tita berjalan masuk ke sana, karena luka di hatinya ia menjadi tidak takut akan hal apa pun. Meski tidak ada yang menginap di villa itu tetapi lampunya masih menyala, sehingga keadaannya tidak terlalu menyeramkan. Menurutnya kali ini ada yang lebih seram dari pada villa kosong, yaitu kenyataan.


Kenyataan jika hati Troy telah milik orang lain, Tita tidak bisa membayangkannya. Ia duduk di kursi pinggir kolam renang. Merenungi kejadian yang menimpanya hingga akhirnya ia tertidur di sana.


Hari telah siang, Tita yang masih bersembunyi di villa sebelah terlihat masih sesegukan. Entahlah setelah bangun tidur rasanya hatinya semakin sakit, tidur tidak membuatnya lebih baik, semua terasa semakin sesak di dadanya, karena terus menangis matanya pun membengkak.


"Aku tidak mungkin kembali ke sana dengan mata seperti ini" Tita mencuci wajahna sambil berkaca di pantulan air kolam renang. Ia memutuskan untuk menunggu hingga matanya menjadi lebih baik.


Flashback off


"Bukannya villa sebelah kosong?" tanya Nafiza, ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sahabatnya itu.


Ponsel Brian berdering, Brian pergi keluar meninggalkan Tita dan Nafiza.


"Iya" jawab Tita singkat.


"Apa yang terjadi? ceritakanlah padaku" Nafiza menarik tangan Tita mengajaknya untuk duduk di sofa.


"Fiz sepertinya aku harus menyerah pada kak Troy" ucap Tita pelan.


"Memangnya kenapa kamu menyerah?"


"Sepertinya kak Troy akan kembali dengan mantan pacarnya"


"Mantan pacar? kamu tahu dari mana?"


"Aku semalam . ." belum selesai Tita bercerita, Brian dan Troy sudah masuk ke dalam.


"Ya ampun Tita kenapa kamu mengunci Troy di luar?" tanya Brian tanpa basa basi. Tita tak menjawabnya ia hanya diam saja.


Seolah mengerti, Nafiza beranjak bangun.

__ADS_1


"Bicarakanlah dengan kak Troy" bisiknya sebelum meninggalkan Tita.


"Brian ayo kita ke kamar" ajak Nafiza memegang tangan Brian dan mengajaknya melangkahkan kaki pergi dari sana.


"Ke kamar? ini masih siang Nafiza, Jun masih bobo"


"Hadeh dia malah membicarakan masalah Jun. Kamu kira untuk apa aku mengajakmu ke kamar. Sudah menurut saja, cepat masuk ke dalam!" Nafiza membuka pintu dan mendorong bahu Brian.


"Kamu tidak akan berusaha membangunkan dan mengajak Jun bermain kan" Nafiza menutup bibir Brian dengan tangannya sambil mengunci pintu kamar perlahan, suara mereka lama kelamaan hilang tak terdengar lagi oleh Tita dan Troy.


Troy tak bicara sepatah kata pun, ia mendudukan dirinya agak jauh dari tempat Tita duduk.


"Kak Troy boleh aku bertanya tentang sesuatu?" Tita menarik napas mencoba mencari kebenaran dari semua prasangka dan dugaannya.


"Boleh, mau bertanya tentang apa?" Troy tidak ingin membuat Tita marah lagi karena memanggilnya nona, tetapi ia juga tak ingin memanggilnya hanya dengan nama.


"Begini sebenarnya semalam aku melihat kak Troy bertemu dengan seorang wanita di depan, apa dia adalah mantan pacar yang kak Troy ceritakan?"


"Oh yang semalam itu adalah adikku bukan mantan pacarku" ucapnya enteng, Tita menghela napasnya sedikit lega.


"Adik kandungmu?"


"Iya"


"Kenapa kak Troy tidak mengajaknya ke dalam dan menginap di sini?"


"Ia terburu-buru jadi hanya mampir"


"Kak Troy aku rasa mungkin kak Troy sudah tahu"


"Tahu apa?"


"Kak Troy tahu kan jika aku sangat menyukai kak Troy, aku tidak ingin menahannya lagi. Rasanya sakit memendamnya terus menerus"


Troy tak menjawabnya, wajahnya menjadi datar.


"Jadi bagaimana, apa kak Troy juga menyukaiku?" tangan Tita menjadi gemetar, ia ingin segera mendengar jawaban Troy. "Aku rasa ini terdengar gila, tapi aku benar-benar menyukai kak Troy. Setiap hari aku menunggu balasan chat dari kak Troy, aku bahkan tidak bisa tidur, aku terlalu gelisah memikirkan kak Troy, aku tidak bisa menahan perasaan ini lebih lama lagi" air mata kembali menetes di pipinya. Bukan hanya tangannya, bibirnya pun sedikit gemetar.


Troy masih tidak bersuara, baru kali ini ia mendengar ada seorang wanita yang menyatakan cinta langsung kepadanya.


"Ayo bicaralah kak Troy" Tita meremas ujung pakaiannya.


"Jawablah kak Troy aku siap mendengar jawaban apa pun"


Sekitar 10 menit mereka tak saling bicara. Tita membuang napasnya kasar.


"Aku rasa aku tahu jawabannya, kak Troy tidak menyukaiku kan? hanya tinggal jawab tidak bisa atau maaf. Kenapa kak Troy diam saja, membuat hatiku semakin sakit!!" Tita berdiri dan meninggalkan Troy sendirian, ia membanting pintu kamar cukup kencang.


Troy yang melihat sikap Tita masih tidak bergeming.


"Aku. . aku meminta waktu untuk menjawabnya tita" ucapnya pelan, terlambat Tita sudah tidak ada.


Troy menjambak rambutnya sendiri.

__ADS_1


***


Nafiza dan Brian menempelkan telinganya di pintu mencoba mendengarkan percakapan Tita dan Troy.


"Sepertinya tidak sesuai harapan kita Brian"


"Iya, Troy payah sekali dalam masalah percintaan dan wanita. Aku harus mengajarinya"


"Mengajari apa?"


"Mengajarinya untuk menghargai wanita"


"Oh tumben bicaramu benar"


"Kamu ini sangat meremehkan suamimu" Brian berjalan dan merebahkan dirinya di ranjang membelakangi Nafiza.


"Hehe jangan ngambek sayang aku hanya bercanda, suamiku ini kan seorang pecinta wanita. Tetapi wanita yang di cintainya hanya aku dan maminya" Nafiza mengikuti Brian dan menggoyang-goyangkan bahunya.


"Tahu ah"


"Ciye ciye marah" Nafiza malah menggodanya. "Cini cini mana Brianku sayang yang baik, yang manis yang penyayang" Nafiza mencium pipi Brian.


"Ciumnya sini juga" Brian menunjuk keningnya.


Cup


Nafiza mengecup keningnya.


"Ini juga" Brian memutar tubuhnya menunjuk pipi sebelahnya.


Cup


Nafiza mengecup pipi Brian.


"Satu lagi" Brian menunjuk bibirnya.


"Tidak mau ah" Nafiza membuang wajahnya.


"Harus mau!"


"Tidak"


"Harus!"


"Tidak"


"Harus pokonya!" Brian mengelikitik perut Nafiza dan menariknya ke kasur, mereka tertawa bersama dan bercanda.


***


Troy bikin gemas ya. Haha


Lanjut besok lagi ya 😍

__ADS_1


__ADS_2