
Setelah berdiskusi dengan sang suami, Maudy akhirnya merasa sangat lega, Rian mendukung apapun keputusan Maudy.
“Apapun yang kamu inginkan Mas akan mendukung Sayang, asal kamu selalu bahagia” Begitu yang Rian ucapkan semalam.
Di saat mati lampu semalam, setelah Alya memberikan sebuah lilin yang masih menyala, tidak berapa lama Rian pulang, dan lampu sudah menyala.
Di sanalah Maudy mengungkapkan keinginannya, siapa sangka Rian mendukung apapun yang di inginkan Maudy.
--------------
Sementara itu.
Pagi hari yang sedikit cerah, di tambah dengan hari libur, Afnan ingin mengajak anak istrinya untuk jalan-jalan santai di taman, sekaligus berolahraga supaya sehat.
Dewi dan Alwi dengan semangat menuruti, dan disinilah mereka berada di sebuah taman yang sudah ramai pengunjung, Afnan dan Dewi saling bergandengan sementara Alwi bermain bola.
“Beneran Alwi gak mau ikut keliling ?” tanya Afnan.
Alwi menggeleng “Enggak Abi, aku mau disini saja, capek kalau keliling” jawab Alwi .
“Ya sudah, tapi ingat jangan dekat jalan raya, terus jangan berantem sama temannya !” titah Afnan.
“Siap Bi”
Setelah Afnan dan Dewi pergi, Alwi bermain bola bersama satu temannya yang baru ia kenal di taman itu, saling bercanda.
Alwi begitu semangat bermain bola, ia mengoper bola itu kearah temannya, namun siapa sangka teman Alwi menendang bola itu dengan sangat kuat sehingga bola itu terlempar ke jalan raya.
“Aku ambil dulu” ucap Alwi kepada teman nya,.
Tanpa meminta persetujuan Alwi sudah berlari menuju jalan raya yang begitu banyak kendaraan yang lewat, melupakan pesan Afnan.
Saat Alwi jongkok untuk mengambil bola itu sebuah motor lewat dengan kecepatan tinggi, hingga langsung menabrak tubuh kecil Alwi.
Alwi terlempar sangat jauh, tubuhnya bergulung di jalan raya, dan berhenti saat kepalanya mengenai trotoar di pinggir jalan.
Sementara sang pengendara langsung kabur namun gagal karena seorang polisi sudah menangkapnya.
“Lepasin saya Pak, saya tidak salah anak itu yang menghalangi jalan saya" ucap pengendara berusaha berontak, ingin melepaskan diri karena ia berpikir kalau dirinya tidak salah.
“Sudah diam” bentak seorang polisi yang berhasil menjegalnya.
Di sudut sana sudah banyak Yang menggwrumuni Alwi yang kini sudah di banjiri darah segar.
“Anak siapa ini, mana kedua orang tuanya” ucap Bapak-bapak berkumis.
__ADS_1
“Iya, kenapa anak di telantarkan seperti ini” sahut yang lain.
“Gak benar kedua orang tuanya, anak masih kecil udah di bolehin main kejalan raya”
Masih banyak lagi ocehan demi ocehan dari beberapa orang di sana, tidak ada yang membantu mereka hanya melihat .
Dewi dan Afnan sudah sampai di tempat semula , dimana mereka meninggalkan Alwi sendiri. mata Dewi menyapu sekeliling untuk mencari anak nya tersebut .
Namun hasilnya nihil, Alwi tidak ada dimana-mana.
Sementara Afnan langsung tertuju pada orang gang bergerombol.
“Sayang aku kesana dulu” tunjuk Afnan pada beberapa orang yang berdiri membentuk lingkaran. “Siapa tau Alwi disana”
“Aku ikut”
Dewi mulai khawatir, seiring langkahnya menuju pada gerombolan orang, jantung Dewi berdegup dengan kencang.
“Ada apa ini ?” tanya Afnan
“Ada anak kecil yang tertabrak motor, kasian mana orang tuanya gak ada” jawab ibu-ibu yang di tanyai oleh Afnan.
“Anak kecil ?” gumam Afnan “Ya Allah Alwi” segera Afnan menerobos beberapa orang disana. Melepaskan tangan Dewi dengan paksa.
Seketika mata Afnan langsung melotot dengan sempurna, melihat tubuh Alwi yang meringkuk di atas aspal dan kepala yang sudah di banjiri darah.
Afnan langsung mengangkat tubuh Alwi.
“Anda Ayahnya ?” tanya bapak berkumis tadi
“Iya”
Huuuuuuuu. Semua orang langsung mengejek Afnan, menghina Afnan yang sudah gagal menjaga Anak.
Dewi yang mendengar teriakan sang suami langsung ikut masuk kedalam lingkaran beberapa orang yang berdiri.
“Ya Allah Apa yang terjadi Mas” tanya Dewi yang sudah di banjiri air mata melihat anaknya yang sudah tak berdaya.
Afnan langsung membawa Alwi ke mobil, mengabaikan ucapan semua orang yang menghina dirinya dan Dewi.
Afnan mengaku salah karena meninggalkan Alwi bermain seorang diri, ia terlalu berpikir pendek, seandainya tadi ia menemani Alwi bermain mungkin Alwi tidak akan seperti ini.
“Permisi Pak, apa anda Ayah dari anak ini ?” tanya seorang polisi yang menangkap pelaku tabrakan tadi.
“Iya Pak” jawab Afnan.
__ADS_1
“Saya mau melaporkan kalau yang menabrak anak bapak sudah di tangkap dan sekarang sudah di pos kami, apa bapak mau menemuinya”
“Nanti saja setelah saya membawa anak saya dulu”
Afnan melajukan mobilnya dengan kencang, sementara di bangku belakang tangis Dewi masih pecah.
“Maafkan Bunda Nak !”
“Maaf Bunda yang tidak becus menjaga kamu !”
“Hiks--Hiks--Hiks”
Afnan hanya diam saja, ia tahu apa yang di rasakan istrinya itu.
Tidak berapa lama mobil Afnan berhenti tepat di depan rumah sakit, Afnan langsung turun dan memanggil perawat untuk membantu nya.
Sebuah brankar yang di dorong oleh 2 perawat, langsung mendekat, Afnan mengangkat tubuh Alwi dan menidurkannya dengan pelan.
“Bawa ke IGD !”
Afnan dan Dewi duduk di depan ruangan IGD, menunggu sang dokter memeriksa keadaan Alwi, Dewi terus berdoa semoga Alwi tidak apa-apa. Namun saat darah mengalir begitu banyak di kepala Alwi membuat Dewi kembali histeris.
“Sabar Sayang !” ucap Afnan menenangkan.
Dewi memeluk suaminya, membenamkan wajah di dadanya bidang Afnan. Tangisnya masih pecah rasa bersalah dan takut terus mendominasi pikirannya.
Seorang dokter wanita keluar, Afnan langsung berdiri di susul oleh Dewi, mereka mendekat dan bertanya kepada dokter.
“Bagaimana keadaan anak saya Dok ?” tanya Afnan.
“Keadaan nya kritis kita butuh pendonor darah”
Deggg.
Afnan dan Dewi langsung terdiam, bagaimana ini ? apa yang mesti mereka lakukan, karena baik Afnan maupun Dewi tidak ada yang cocok dengan darah Alwi, dulu Alwi pernah mengikuti tes dan disana lah Dewi tau kalau Dirinya tidak cocok dengan Darah Alwi.
Dewi bergolongan darah A sementara Afnan B, dan Alwi sendiri bergolongan darah AB, iya Alwi sama dengan Rian sang Ayah kandung.
“Siapa kalian yang bersedia menjadi pendonor ?” tanya dokter itu.
“Apa tidak ada stok darah disini dok ?” tanya Dewi.
Dokter itu mengernyit “Kenapa harus mencari stok darah di rumah sakit, kalau ada kedua orang tua kandungnya, karena salah satu dari mereka ada yang bergolongan darah yang sama, bisa Ayah atau ibunya” jelas dokter itu.
“Silahkan berdiskusi dulu, tapi mohon secepatnya memberi keterangan siapa yang bersedia, karena anak ibu dan bapak butuh secepatnya kalau enggak kami tidak bisa menyelamatkan nya” Dokter itu berlalu pergi.
__ADS_1
Dewi teruduk lemas di bangku panjang, baru saja ia ingin hidup bahagia tanpa bayangan dari Rian, namun ternyata musiba ini terjadi, otomatis Rian harus tau kalau Alwi anaknya.
“Mas yang akan membicarakan ini sama ayah kandungnya Alwi.” ucap Afnan.