
Semuanya berkumpul di meja makan, suasana tampak ramai apalagi dengan kehadiran Rayhan di tenga-tenga keluarga Abraham menjadikan pagi itu lebih indah dari biasanya.
Zio terus menempel dengan Rayhan bahkan makan saja ia minta di suapi sama Rayhan. Alya hanya tersenyum karena melihat kehadiran Rayhan ia merasa punya sandaran hidup lain selain suaminya. Karena selama ini yang ia tau keluarga nya hanya dari keluarga Kenan sang suami.
Saat ada masalah Alya hanya memendam nya sendiri tak ada teman untuk curhat atau tempat mengadu, namamya kehidupan pasti dalam rumah tangga ada bertengkarnya tak akan selalu mulus seperti yang di harapkan. Begitupun dengan rumah tangga Kenan dan Alya yang sering bertengkar karena masalah sepele.
Tapi semua itu bisa teratasi dengan baik, hanya saja Alya merasa sendiri tak ada keluarga tempatnya berpulang selain keluarga suaminya.
"Makan yang banyak Ray !" ucap Alya dengan suara serak hampir menangis.
Rayhan menoleh dan menatap Alya dengan seksama "Iya Kak" jawab Rayhan.
Papa Bayu terus memperhatikan interaksi Alya dan Rayhan, ia dapat melihat jika Rayhan adalah orang yang baik, tak seperti Mayang dan Fandi yang berniat jahat dengan Alya.
"Nak Rayhan tinggal disini aja gak usah ke Kota S" ujar Papa Bayu dengan tulus.
"Terima kasih Om, tapi saya akan tetap tinggal disana karena Ray akan mencoba menjalankan perusahaan kakek" jawab Rayhan.
Kenan menganggukan kepalanya, ia dan Alya sudah berunding akan memberikan perusahaan peninggalan kakek Hermawan kepada Rayhan dengan syarat keuntungan di bagi dua dengan Alya, beruntung Rayhan setuju saja.
"Baiklah kalau begitu, sering-seringlah main kesini, Walaupun beda ibu tapi kamu dan Alya itu keluarga" Papa Bayu kembali berkata.
"Baik Om, saya akan sering kesini buat menemui Kak Alya, Atau Kak Alya bisa menginap di rumah sana"
"Pasti Ray, Kakak akan sering mengunjungi rumah Itu" sahut Alya kemudian.
Rian dan Maudy hanya diam saja tak menyahut sama sekali. Tadi pagi Maudy banyak memberikan pertanyaan pada sang suami tentang Rayhan dan Alya.
Setelah sarapan bersama. Rayhan langsung pamit untuk segera pergi ke kota S. Ia di bekali mobil baru oleh Kenan dan Alya membuat Rayhan terus berterima kasih.
"Ini berlebihan kak" ucap Rayhan tak enak hati.
"Tidak apa-apa Ray, ini buat kendaraan kamu pulang pergi ke kantor. " balas Alya
Rayhan menganggukan kepalanya "makasih banyak Kak"
"Sama-sama. Minggu depan Kakak menginap di sana, kita adakan syukuran kecil-kecilan"
"Iya Kak, katakan saja apa yang harus Ray kerjakan"
"Nanti Kakak hubungi"
Rayhan beralih kepada Keyla dan Zio yang dari tadi terus memperhatikan dirinya.
"Om pulang dulu ya ! nanti kalau mau kerumah kabarin Om biar Om jemput" kata Rayhan.
__ADS_1
"Kenapa Om cepat sekali pulangnya, kan Zio masih mau main sama Om" balas Zio.
"Iya Om, Key juga masih mau main" sahut Keyla.
Rayhan tersenyum lalu mengelus pipi Keyla dan Zio secara bersamaan. "Nanti kita ketemuan lagi, Om janji akan main dengan puas sama kalian"
Mata Zio langsung berbinar "Benarkah Om ?"
"Benar dong, nanti bilang sama Daddy supaya menginap di rumah sana lama ya !"
Serempak Keyla dan Zio mengangguk. Kemudian Kenan mendekat.
"Hati-hati disana Ray. Kalau belum mengerti tentang perusahaan jangan sungkan untuk bertanya sama Kakak" ucap Kenan.
"Baik Kak"
Rayhan langsung pergi dari rumah Kenan dan Alya.
ππππππ
"Dek sini sebentar" pinta Afnan pada sang istri.
Dewi yang baru selesai mengganti pakaian Baby Arin langsung mendekat.
Cup.
Afnan malah mencium pipi Dewi, hingga membuat Dewi kesal ia kira suaminya memangggil karena hal penting atau minta bantuan memasangkan dasi tapi ternyata salah.
"Mas, aku kira kenapa"
Afnan tergelak, hingga pipi kiri Dewi kembali mendapatkan ciuman hangat darinya.
"Mas, iiih" gerutu Dewi
"Apa sayang, mau lagi ?" canda Afnan dengan mengerlingkan sebelah matanya.
"Pagi-pagi udah mesum" balas Dewi dan langsung berlalu dari hadapan sang suami.
"Kan mesum sama istri sendiri, masa iya gak boleh"
Dewi menggelengkan kepalanya, tapi ia tersenyum penuh kebahagiaan, sekarang tak diragukan lagi kalau Afnan sangat berbeda dengan Rian dulu. Cinta Dewi sudah full untuk Afnan dan anak-anaknya.
"Abi berangkat kerja dulu ya, kalian baik-baik di rumah" pesan Afnan.
"Iya Abi, hati-hati di jalan" sahut Dewi kemudian.
__ADS_1
Baby Arin dan Baby Kia berceloteh menyuarakan suara khas bayi, membuat Afnan selalu merasa gemas dengan tumbuh kembang anaknya.
Sebelum berangkat bekerja Afnan mengelus perut istrinya.
"Semoga isi lagi ya dek"
Puuuukkk.
"Aaawwww" Afnan mengadu kesakitan karena mendapat pukulan dari istrinya.
"Kalau ngomong tu di filter Mas, masa iya doain isi lagi, Arin sama Kia aja belum genap 3 bulan" ujar Dewi.
"Iya gak papa sayang, banyak anak banyak rezeki ya gak ?"
"Pokoknya jangan hamil dulu lah Mas biarin Arin sama Kia besar dulu, katanya kita pakai KB alami"
"Serahkan semunya pada Mas !" balas Afnan kembali mengerlingkan sebelah matanya.
Setelah Afnan berangkat bekerja, Dewi membawa kedua putrinya turun kebawa. Beginilah kegiatan nya sekarang menjaga ketiga anaknya dengan di bantu sang Mama. Walaupun Afnan ingin menyewa baby sister tapi Dewi menolak dia ingin mengurus anaknya sendiri..Ingin melihat tumbuh kembang baby Arin dan Kia.
ππππππ
Begitupun dengan rumah tangga Rian dan Maudy yang selalu ada drama saat mengurus putri mereka.
Seperti tadi Rian tidak mau mengganti popok Nura, dan Maudy yang belum bisa memandikan Nura dengan alasan takut jatuh.
Hingga Alya lah yang turun tangan memandikan Nura. Walau awalnya Kenan marah karena Maudy selalu minta bantuan pada Alya padahal di rumah itu ada pembantu.
"Istri saya bukan baby sister anak kamu Rian, bisa-bisa nya Maudy terus menyuruh Alya memandikan Nura. Kalau belum becus mengurus anak ngapain ngebet minta hamil. Lama-lama kakak gak tahan ya kalian tinggal disini. Kamu memang adik Kakak tapi istri kamu tetap orang lain. Jadi jangan seenaknya saja menyuruh isrti saya. Ingat Rian. Alya itu istri Tuan Kenan hanya aku yang bisa memerintahkan dia. Lagian kami juga punya anak jadi belajarlah" itulah kata Kenan waktu itu. membuat Rian tak enak hati.
Walaupun Rian sudah bilang dengan Maudy untuk belajar memandikan Nura. Atau kalau memang perlu bantuan panggil pembantu jangan apa-apa Alya.
"Aku panggil Kak Alya dulu ya Mas" ucap Maudy.
"Mau ngapain ?" tanya Rian.
"Kan Nura mau mandi, aku masih takut Mas"
"Jangan Kak Alya lah Dek, gak enak tau apa-apa nyuruh Kak Alya"
"Kamu ini kenapa sih Mas. Orang Kak Alya aja enggak papa kok bantuin aku"
"Ingat dek, di rumah ini hanya kamu yang berani minta tolong sama Kak Alya. Aku, Papa gak berani bukan takut sama Kak Alya tapi takut sama Kak Kenan"
Maudy langsung terdiam seketika.
__ADS_1