Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 72


__ADS_3

Setelah mengobrol banyak, Afnan dan Dewi pamit pulang, karena hari sudah malam. Bahkan mereka melaksanakan sholat Maghrib di pesantren.


"Tidak menginap saja ?" tanya Zahran.


"Untuk sekarang tidak bisa, lain kali insya Allah kami menginap disini. Anak-anak cuman di jagain sama neneknya di rumah" jawab Afnan.


"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan !" ujar Zahran.


Afnan mengangguk. "Kapan main ke Jakarta ?" tanya Afnan lagi.


"Kami sering kesana, soalnya mertuakan rumahnya disana. Dan kebetulan kantor pusat perusahaan akan Ana pindahkan ke Jakarta"


"Wah keren dong, besar kemungkinan kalian akan menetap di Jakarta ?"


"Insya Allah, doakan saja yang terbaik"


"Pasti" balas Afnan. Kemudian berjabat tangan dengan Zahran dan juga Fahri, sementara Dewi berpelukan dengan Zenia dan Aisyah istrinya Fahri..


Di dalam perjalanan pulang, entah kenapa Dewi ingin menempel terus dengan Afnan, membuat Afnan heran namun juga sangat bahagia karena istrinya seperti ini.


"Kamu kenapa dek ?" tanya Afnan.


"Kangen" jawab Dewi manja.


Afnan terkekeh "Kok kangen, padahal di dekat Mas terus"


Dewi tak lagi menjawab ia terus bersandar pada pundak Afnan tak peduli walau suaminya sedang menyetir, perlakuan Dewi membuat Afnan menjalankan mobilnya dengan pelan.


Hingga beberapa saat kemudian, terdengar dengkuran halus. Afnan menatap wajah sang istri sesaat lalu kemudian kembali fokus kejalanan.


"Astaghfirullah, tidur rupanya" gumam Afnan


Melihat jalanan yang agak sepi Afnan menghentikan mobilnya, ia membenari posisi sang istri. Afnan tidurkan Istrinya di atas kedua paha tak lupa menyelimuti tubuh Dewi dengan jaket yang ia pakai.


"Bisa-bisanya kamu langsung tidur nyenyak seperti ini dek" kembali Afnan bergumam.


Setelah memastikan posisi Dewi nyaman, Afnan kembali melajukan mobilnya. Menembus jalanan yang temaram hanya ada sinar lampu yang menerangi. Setiap melalui tikungan Afnan akan membunyikan klakson mobilnya.


3 jam kemudian mobil Afnan memasuki rumah Dewi, Ternyata Papa Edi belum tidur ia masih di luar sambil menikmati segelas teh hangat.


"Assalamualaikum Pa" seru Afnan


"Waalaikumsalam, kenapa malam sekali pulangnya Nak ?" tanya Papa Edi


"Maaf pa, tadi ada banyak yang di bahas"


Papa Edi menganggukan kepalanya "Dewi mana ?" tanya Papa Edi karena tak melihat anaknya turun dari mobil.


Afnan terkekeh "Masih di mobil Pa, ketiduran"


"Owalah. Ya sudahh bangunkan saja ! langsung istirahat di dalam" titah Papa Edi

__ADS_1


"Baik Pa"


Afnan kembali membuka pintu mobil, ia menepuk pipi sang istri supaya kembali bangun, namun ternyata Dewi tak terganggu sedikitpun.


"Masya Allah, lelap sekali kamu tidurnya Sayanh" gumam Afnan


Dengan pelan-pelan Afnan membangunkan Dewi, dan menggendong tubuh sang istri menuju kamar.


Pas sampai dikamar barulah Dewi terbangun, ia kaget karena sudah di atas ranjang tempat tidur.


"Mas kok gak bangunin aku sih ?" gerutu Dewi kesal.


"Sudah sayang, tapi kamu gak bangun-bangun" jawab Afnan


"Jadi mas yang menggendong aku sampai ke kamar ?" tanya Dewi.


"Enggak, tadi Mas minta bantuan sama Satpam kompleks" canda Afnan sambil tersenyum.


"Iiihh gak lucu ya Mas"


Afnan mendekati sang istri "Ia sayang kalau bukan Mas siapa lagi, tubuhmu sekarang berisi ya, Mas sampai ngos-ngosan gendongnya"


"Jadi Mas bilang aku gendut ya ?" mata Dewi menatap tajam ke arah Afnan


"Enggak, mas kan cuman bilang badan kamu berisi"


"Sama aja artinya"


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Keesokan paginya, Maudy terbangun lebih dulu ia menatap sang suami masih tidur dengan sangat lelap. Kemudian beralih menatap putrinya yang juga masih terlelap. Maudy beralih mengecek popok Nura ternyata masih aman.


Maudy beranjak dan menuju kamar mandi, ia menggosok gigi, mencuci muka terakhir mengikat rambut panjangnya.


Ia mengamati wajahnya sekarang di pantulan cermin, sangat berbeda saat ia masih gadis dulu, wajah Maudy sudah sedikit kusam di tambah dengan pinggiran hidung yang berwarna hitam efek ia mengandung dulu..


Bahkan Maudy sudah membeli scancare untuk menghilangkan flek hitam di wajahnya tapi belum hilang, dan bahkan tak membuahkan hasil sama sekali.


"Jadi jelek banget wajah ku sekarang" gumam Maudy sambil meneliti setiap inci wajahnya.


Setelah puas menatap wajahnya Maudy keluar. Suami dan Anaknya masih tidur dengan pulas, kesempatan ini Maudy gunakan untuk membantu Alya memasak atau beres-beres rumah...


Saat menuruni anak tangga Maudy sudah mencium wangi masakan, Maudy hapal betul kalau itu masakan Alya sang Kakak ipar.


"Masak apa Kak ?" tanya Maudy.


Alya menoleh lalu tersenyum ke arah Maudy "Telor balado, tumis kacang panjang, sama ikan mas goreng Dy" jawab Alya yang kembali mengaduk telor dengan bumbu berwarna merah itu.


"Oh iya, kakak udah siapin sayur bening khusus buat kamu. Kalau mau sarapan tinggal ambil aja Dy, di atas meja kayanya" Ucap Alya lagi.


Maudy menjadi tak enak hati karena Alya selalu memperhatikan kesehatan dirinya. Setiap hari Alya akan memasak sayur bening yang berbeda-beda supaya Maudy tidak bosan. Sayur bening yang rasanya sangat lezat.

__ADS_1


"Makasih Kak"


Tinggal bersama dengan Alya membuat Maudy serasa memiliki seorang Kakak.


Tidak berapa lama seluruh masakan Alya sudah siap, Maudy membantu menghidangkan di atas meja makan..


"Kakak mandi dulu ya, sama mau banguni Key dan Zio" ujar Alya.


"Baik Kak"


Saat Maudy menyusun piring seseorang terdengar mendekat, Maudy langsung kaget saat menatap seorang pria yang belum Maudy kenal.


"Siapa kamu ?" tanya Maudy.


"Rayhan adiknya Kak Alya"


Maudy mengernyitkan keningnya, bukankah Alya anak tunggal sama seperti dirinya, lalu kenapa pria ini mengaku adik nya Alya.


Otak Maudy berpikir dengan keras, iya betul Maudy tak salah ingat. Alya tak punya adik.


"Aku anaknya tante Mayang adik dari ibunya Kak Alya" jelas Rayhan langsung karena ia tahu perempuan di depan nya ini sedang kebingungan.


"Oh" jawab Maudy singkat.


Rayhan mengambil satu gelas air putih, kemudian kembali memasuki kamarnya. Semua itu tak luput dari tatapan Maudy. Pantas aja ia belum bertemu dengan Rayhan karena Rayhan mengurung diri di kamar.


"Kapan dia datangnya" gumam Maudy.


Hingga suara teriakan dari sang suami, membuat pikiran Maudy tentang Rayhan langsung hilang seketika. Ia langsung berlari menaiki anak tangga untuk sampai di kamar.


"Ada apa sih Mas ?" tanya Maudy.


"Nura E'ek dek. Bau banget" jawab Rian sambil menutup hidungnya.


Maudy geleng-geleng kepala "Kalau dia Pup, ya bersihin Mas. Ngapain teriak sih" gerutu Maudy.


Nah ini yang Rian tidak mau, membersihkan bekas BAB anaknya sendiri padahal ia sebagai seorang dokter Ahli beda pasti pernah melihat Pup orang dewasa. Kalau masalah Pipis Rian masih mau menggantikan popok Nura.


"Ada ya Ayah yang gak mau gantiin popok anaknya kalau dia pup" guman Maudy.


_


_


tinggal 3 episode terakhir ya semuanya.


Setelah itu lanjut novel Raja dan Keyla yang bertema religi. Aku boleh minta gak untuk novel Raja dan Keyla kalian like yang banyak dan share di akun media sosial kalian supaya novel itu nangkring di karya baru.. πŸ˜€πŸ˜€



Itu penampakan rumah Papa Bayu... ada yang mau ikut tinggal disana.

__ADS_1


__ADS_2