
"Sayang, tidak apa-apakan kalau aku tinggal" kata Rian kepada sang istri.
Maudy tersenyum "Tidak Mas, pergilah. !! bantu Mbak Dewi, kasihan dia" balas Maudy.
Rian mencium kening Maudy dengan sangat dalam. Lalu kemudian menatap wajah cantik sang istri.
"Aku pergi dulu, berharap jasad Mas Afnan segera di temukan"
Maudy menganggaukan kepalanya, lalu meraih tangan sang suami untuk dia cium.
"Hati-hati Mas"
"Iya Sayang, kamu juga jaga diri baik-baik dirumah. Kalau ada apa-apa langsung hubungin Mas ya !"
"Iya Sayang"
Setelah itu Rian pergi, tidak lupa ia juga pamit kepada Papa Bayu, sementara Kenan juga ikut Rian untuk sekedar melihat keadaan mantan adik iparnya. Karena walau bagaimanapun Dewi akan tetap menjadi bagian keluarga Abraham karena ia adalah ibu Kandung dari Alwi.
Di dalam perjalanan baik Kenan maupun Rian hanya berdiam diri. Kenan menyandarkan kepalanya di jok mobil sementara Rian fokus kejalanan. Melajukan kendaraan beroda empat itu dengan kencang supaya sampai di lokasi tidak terlalu malam.
Waktu menunjukan pukul 05 sore, tepat saat Rian memarkirkan mobilnya di parkiran yang di sediakan. Kenan dan Rian turun dan mencari Dewi dan orang tuanya.
"Assalamualaikum" ucap Kenan dan Rian serentak.
Papa Edi mengangkat kepalanya "waalaikumsalam" balas Papa Edi.
"Bagaimana ? apa sudah ada hasilnya ?" tanya Kenan.
Papa Edi menggelengkan kepalanya "sejauh ini baru satu orang yang di temukan itupun keadaan tubuhnya hampir tak kenali"
"Ya Allah" gumam Rian yang membayangkan para penumpang yang menjadi korban pesawat tersebut.
"Hiks--hiks--hiks. Mas Afnan jangan pergi Mas !"
Suara rintihan Dewi kembali terdengar membuat Kenan dan Rian menatap nya dengan iba.
"Sabar ya Dek !" hanya itu yang dapat Rian katakan.
Namun Dewi tak menjawab, kesedihan yang ia alami tak mampu membuatnya sabar apalagi harus tegar seperti yang mereka katakan.
Ini sangat menyakitkan disaat semua orang bahagia lalu kenapa dirinya harus di pisahka dengan sang suami.
"Hiks--hiks--hiks" Dewi kembali terisak didalam pelukan sang Mama.
Sementara itu Alya dan juga Fina sedang merencanakan waktu untuk melihat keadaan Dewi. Sebagai seorang sahabat mereka berdua juga tidak tega jika melihat apa yang terjadi dengan Dewi.
"Bagaimana kalau besok ?" tanya Fina di sambungan telepon.
Alya tampak berpikir, "Jangan besok, soalnya anak gue sekolah. Lusa aja gimana sekalian besok gue minta izin ke gurunya"
"Ok baiklah. Lusa kita ketempat Dewi. Ketemuan di rumah Lo aja deh. Sekalian gue bawa si Jihan buat nemenin Key main"
"Ide bagus, ok gue tunggu di rumah"
__ADS_1
"Deal. Lusa gue kerumah Lo"
Setelah sambungan telepon terputus Alya kembali bergabung bersama Maudy dan kedua anak nya serta Alwi juga.
"Jadi berangkat Kak ?" tanya Maudy.
"Iya. Tapi Lusa dek" jawab Alya.
"Mommy mau kemana ?" sahut Keyla yang penasaran.
"Mommy mau pergi sebentar Nak, Key sama Tante di rumah. Ada Jihan juga nantinya" balas Alya sambil mengelus rambut anaknya.
"Jihan mau kesini Mom ?" tanya Keyla.
"Iya Sayang. Jihan mau kesini"
"Wah, asik dong"
Alya dan Maudy tersenyum, tidak berapa lama Papa Bayu juga ikut bergabung bersama mereka. Mengajak Zio dan juga Alwi bermain.
Dari tadi Alwi selalu bertanya.
"*Bunda kemana ?"
"Bunda pergi kemana ?"
"Tadi Pas Alwi pergi kok Bunda nangis* ?"
Tapi Alya dan Maudy hanya tersenyum, mereka bingung harus menjawab apa.
Dua hari kemudian, Alya dan juga Fina langsung berangkat kelokasi kejadian. Bersama Kenan dan juga Aska tentunya kedua laki-laki fosesif itu tidak akan membiarkan istrinya pergi sendiri.
Sebelum berangkat kemaren Alya menelpon Mama Mira untuk menanyakan dimana Dewi berada. Dan kata Mama Mira. Dewi masih berada di lokasi kejadian semenjak pesawat yang di tumpangi Afnan jatuh Dewi bahkan mencari penginapan di sekitar sana ia tidak ingin melewatkan hari untuk mengetahui tentang sang suami.
"Ramai banget ya Al" ucap Fina
"Namanya juga lagi ada kecelakaan" balas Alya.
Kenan langsung memberi tahukan dimana Dewi berada. Seperti biasa Dewi duduk di kursi dengan tatapan yang kosong sambil mengarah ke lautan.
"Wi" panggil Alya.
Dewi mendongak melihat kehadiran kedua sahabatnya Dewi langsung berhambur memeluk Alya dan Fina.
"Kenapa hidup gue gini banget Al. Kenapa ?" ucap Dewi.
"Sabar Wi, ini ujian buat kamu" kata Alya menenangkan.
"Gue udah gak sanggup Al, ini terlalu menyakitkan buat gue. Lebih baik gue mati aja sekalian gue ingin nyusulin Mas Afnan"
"Jangan ngomong gitu Wi. Lagian jasad Mas Afnan belum di temukan kemungkinan Mas Afnan masih hidup" sahut Fina.
Dewi melepaskan pelukan nya lalu menatap wajah Fina dengan seksama.
__ADS_1
"Dari sekian banyak orang yang gue temui hanya Lo yang bilang Mas Afnan kemungkinan masih hidup" ucap Dewi.
"Tidak ada yang tidak mungkin Wi, kalau Allah sudah menakdirkan" ucap Fina lagi.
Sedikit senyuman terukir di bibir Dewi. Membuat Yang lainnya juga ikut tersenyum.
Namun tiba-tiba..
"Aaawwww" Dewi merintih kesakitan. Ia memegangi perut besarnya.
"Kenapa Nak ?" tanya Mama Mira panik.
"Perut ku sakit sekali Ma" jawab Dewi merintih. Ia mencengkram tangan Fina dengan kuat membuat Fina juga merintih kesakitan.
Melihat sang istri kesakitan Aska menggantikan posisi Fina. Hingga lengan Afnan yang di cengkram Dewi
"Adooowwww" teriak Aska.
"Diam ah Mas, kasian tu Dewi" omel Fina.
"Tapi ini sakit sekali Sayang"
Sementara Kenan langsung mengambil mobil untuk membawa Dewi melahirkan.
"Apa udah mau lahiran Wi ?" tanya Alya.
Dewi menggeleng "Belum Al, masih 1 bulan lagi waktunya" jawab Dewi.
"Aaawww" Dewi masih merintih.
"Sabar ya Sayang ! sebentar lagi kita kerumah sakit" sahut Mama Mira.
Tidak berapa lama Kenan sudah kembali dengan mobilnya, mereka semua membantu Dewi menuju mobil setelah itu segera Kenan melajukan mobilnya untuk kerumah sakit terdekat.
Tidak berapa lama mereka sudah sampai di rumah sakit.
"Tunggu sebentar saya panggilkan suster dulu" ujar Kenan..
Suara rintihan Dewi terus terdengar.
Hingga satu orang suster membawa brankar bersama Kenan kembali. Alya dan Fina kembali membantu menurunkan Dewi lalu membaringkan Dewi ke atas brankar.
"Kalian semua tunggu disini biar saya periksa dulu" ucap seorang dokter perempuan
Mama Mira, Papa Edi serta yang lain menunggu di depan ruangan IGD.
Di dalam ruangan Dewi terus merintih terkadang perutnya terasa kencang lalu kemudian redah.
"Belum ada pembukaan. Ini masih kontraksi palsu" jelas dokter.
"Ibunya terlalu setres, makanya terjadi kontraksi palsu. Lahiran nya masih lama ini. Tapi kita tetap akan melakukan USG dulu ya ! untuk melihat kondisi janin nya" ucap dokter lagi.
"Iya Dok. Memang masih 1 bulan lagi" jawab Dewi.
__ADS_1
"Mas Afnan lihatlah bahkan kedua anakmu juga meraskan sakit karena kepergian mu. Aku mohon kembali Mas !"