
Brian dan Troy mengikuti langkah Nafiza, Brian berada di belakang sedangkan Troy fleksibel bisa ada di sisi kanan atau di sisi kiri tergantung pada keadaan orang yang menurutnya cukup mengganggu atau membahayakan majikannya yang sedang hamil muda. Nafiza hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Kini para peserta ospek harus berkumpul di lapangan, di sana sudah di sediakan kursi, masing-masing orang duduk berdasarkan urutan nomor kelompoknya. Kebetulan Nafiza sudah menemukan kelompoknya, beberapa anggota kelompoknya memandang sedikit aneh karena Nafiza selalu di ikuti oleh Brian dan Troy.
"Aku rasa kalian harus agak menjauh sedikit" bisik Nafiza pada Brian. Kelompok Nafiza duduk di ujung tenda jadi Brian dan Troy bisa duduk di samping Nafiza tidak masuk ke dalam barisan peserta ospek hanya saja tetap menjadi bahan perhatian orang lain.
"Tidak mau, aku akan duduk di dekatmu saja. Aku bukan hanya akan menjagamu tetapi juga si kembar triplet anak-anak kita" jawab Brian.
"Tapi aku malu Brian ini terlalu berlebihan"
"Masa bodoh, terserah aku, kamu istriku bukan istri mereka. Kalau aku mau menjagamu memang mereka punya masalah apa"
Nafiza setuju dengan perkataan Brian hanya saja dia sedikit gusar saat beberapa orang terdengar berbisik-bisik membicarakan dirinya. Tetapi bicara pada Brian pun rasanya tetap saja ia tidak mengerti. Brian adalah orang yang jarang mengatur hidup Nafiza, jika ia sudah membuat keputusan maka tak ada yang bisa menolak keputusannya.
Nafiza hanya bisa pasrah, hari semakin panas. Dengan sigap Troy mengipasi Nafiza dan memberikan air minum dingin untuknya, ya di saat yang lain merasa kepanasan dan mengantuk, Nafiza tetap segar selalu di layani oleh suami dan sekretarisnya. Lama-lama ia menjadi tersenyum sendiri melihat Brian yang mungkin bosan karena duduk terus seharian mendengarkan Presiden Mahasiswa beserta Panitia Ospek menjelaskan berbagai hal tentang kampusnya.
Brian terlihat menahan matanya yang mulai terpejam, meski akhirnya matanya terpejam dan ia hampir jatuh ke depan. Benar-benar membuat Nafiza tertawa renyah. Meski sedikit ribet tetapi ia bersyukur Brian dan Troy menemaninya, bayangkan jika tidak ada mereka pasti ibu hamil ini juga akan merasa bosan.
Mata Brian kembali terpejam, rasanya matanya sangat berat, Nafiza tak tega melihatnya terkantuk-kantuk. Ia menarik kepala Brian untuk bersandar di bahunya. Nafiza tak lagi memikirkan pandangan sinis dan bisikan orang lain, ia hanya ingin memastikan suaminya ini juga aman seperti suaminya yang selalu menjaganya. Nafiza juga mengelus pipi Brian pelan.
__ADS_1
Troy yang melihat pemandangan itu seolah mendapat pencerahan baru dalam bersikap terhadap pasangan, kedua majikannya ini saling melindungi satu sama lain, membuat dia juga sedikit iri, ia harus berlaku demikian juga pada Tita.
Peserta ospek di samping Troy terdengar mencibir dan berbisik pada orang di sebelahnya, mereka membicarakan Nafiza dan Brian. Sontak saja Troy menyenggolnya dan melototinya.
"Ssstttt jangan mengobrol! dengarkan panitia di depan" Troy berbicara dengan wajah datar dan juteknya. Dua peserta itu langsung terdiam, takut dengan teguran Troy.
Troy kembali mengipasi kedua majikannya.
"Hemmmm" Brian mengucek matanya dan mengangkat kepalanya. "Maaf aku mengantuk sekali tadi, apa bahumu pegal? mau aku pijat?" pandangnya pada Nafiza, istrinya itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak pegal kok, aku baik-baik saja. Jika kamu lelah kamu bisa tidur lagi"
Nafiza menaruh kepalanya di bahu Brian sambil memegang tangannya, ia tak bisa berhenti tersenyum.
"Terima kasih ya sudah menemaniku dan si kembar mengikuti kegiatan ini, rasanya menyenangkan ada kamu di sampingku"
"Sama-sama" Brian mengelus perut rata Nafiza. "Kembarnya ayah kalau sudah besar juga nanti akan ikut kegiatan seperti ini, kalian harus rajin belajar dan semangat terus ya, gapai cita-cita dan pendidikan yang tinggi"
"Aamiin, memangnya kamu mau di panggil ayah oleh anak-anak kita?"
__ADS_1
"Ayah saja, sederhana panggilannya. Kamu mau di panggil apa?"
"Kalau kamu ayah, aku di panggil bunda saja"
"Oke bundaku" Nafiza merasa sangat bahagia mendengar untuk pertama kalinya di panggil bunda. Ia juga ingin mendengar anak-anaknya kelak memanggilnya seperti itu.
Troy yang berada di belakang Brian selalu mengedarkan pandangannya, matanya melotot ke sana dan ke sini. Melindungi majikannya dari bisik-bisik tetangga.
***
Halo maaf edisi hari ini pendek ya Hehe
Oia besok author tidak up
Bagi yang menyukai tulisan author ayo dong mampir ke novel baru author yang berjudul My Slave Beauty
Seru dan kocak juga loh, sama kok genrenya 21+ ππ
Jangan lupa mampir ya
__ADS_1
See you π