
Hujan di luar sudah sedikit redah, malam kian larut sementara Rian tak juga bisa memejamkan mata. Ia masih duduk di atas sofa dengan menatap langit-langit kamar.
Di atas Ranjang ada Maudy yang sudah tertidur dengan damai. Sedari tadi Ponsel Maudy terus bergetar menandakan ada panggilan masuk tapi Rian tak berani untuk menjawab karena ia yakin kalau yang menelpon adalah Papa Maudy.
“Apa alasan gue kalau sampai ketahuan” gumam Rian dengan pikiran yang tak tentu arah.
Di sisi lain Rian merasa beruntung karena Maudy mau berjuang bersama untuk mempertahankan hubungan mereka, tapi di sisi lain juga Rian takut kalau ia dan Maudy ketahuan sedang menginap berdua disini karena semua itu akan membuat Papa nya Maudy bertambah membencinya.
”Semoga saja Papa nya Maudy tidak tahu kalau Maudy ada di sini”
Denting jam terus berbunyi, suara jangkrik saling bersahutan di samping Villa, menandakan kalau malam kian larut.
Rian mendesah frustasi. Apalagi ketika hawa dingin menyerangnya membuat Rian tak kuat. Ia berjalan untuk mematikan AC supaya mengurangi rasa dingin yang menerpa. Namun langkahnya justru membuat Maudy terbangun dari tidurnya.
“Kamu mau ngapain Mas ??” tanya Maudy saat melihat Rian sedang memegang remote AC.
“Dingin dek jadi AC nya Mas Matiin”
“Tapi aku gak bisa tidur kalau gak pakai AC”
Akhirnya Rian mengala, ia kembali menghidupkan AC yang barusan ia matikan. Tak ingin membuat Maudy tidak bisa tidur seperti dirinya.
”Kalau dingin sini tidur di sebelah aku” titah Maudy
“Enggak, Mas disini aja” jawab Rian langsung menolak. Ia tentu tak akan secepat itu menyetujui keinginan Maudy untuk tidur seranjang. Rian takut ia tak bisa menahan hasratnya.
“Tapi nanti dingin Mas” ucap Maudy lagi.
“Enggak Papa sayang, asal kamu bisa tidur dengan nyenyak”
**********
Keesokan paginya Maudy terbangun lebih dulu, cahaya sinar mentari yang masuk di sela-sela jendela kamar memberikan efek silau. Dengan menyipitkan kedua matanya Maudy menggeliat, meregangkan kedua ototnya Supaya terasa enak saat bangun tidur.
“Mas Rian” gumam Maudy saat meihat Rian masih tertidur dengan nyenyak di atas sofa dengan Kaki yang masih berada di lantai.
“Jadi semalam ia tetap tidur disana” ucap Maudy lagi.
__ADS_1
”Aku pasti tidak akan menyesal telah memilih kamu untuk menjadi calon suami ku Mas”
Maudy bangkit dan membawa selimut yang semalam ia kenakan,lalu menyelimuti Rian karena seperti nya ia menggigil.
“Maaf ya Mas karena keegoisan ku kamu jadi kedinginan seperti ini” kata Maudy sambil memandang wajah Tampan Rian.
Maudy masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, pagi ini ia kembali memakai baju yang sama seperti semalam karena ia tak membawa baju ganti saat kabur kemaren.
Setelah keluar dari kamar mandi, Maudy hendak ingin memesan makanan untuk sarapan nya dan Rian. Namun ia kaget melihat ponselnya banyak sekali panggilan tak terjawab dari nomor Papa dan Mama.
“Dimana kamu Maudy ?? Cepat pulang sebelum Papa bertambah Marah”
Pesan singkat itu Maudy terima yang pengiriman nya dari Mama, namun Maudy tak menanggapi ia malah langsung mengembalikan aplikasi pesan tanpa berniat untuk membalas pesan Mama.
“Biarin aja Mama dan Papa pusing cariin aku, lagian siapa suruh tak merestui hubungan ku sama Mas Rian”
“Jangan gitu sayang, kamu harus pulang”
Maudy langsung menoleh kebelakang dimana Rian sedang menatap kearah nya dengan tersenyum.
“Mas kapan bangun nya ??” tanya Maudy heran.
“Jangan gitu ya, ayo balas pesan nya jangan bikin Mama dan Papa kamu khawatir”
“Tapi aku masih Marah sama mereka Mas !!”
“Gak gini juga caranya mengekspresikan amarah kamu sayang, jika kita kuat insya Allah esok atau lusa Papa kamu akan merestui hubungan kita”ucap Rian lagi.
*******
Sementara itu di rumah Maudy, Papa sedang marah-marah karena Maudy tak pulang semalam.
“Bagaimana Ma apa Maudy sudah bisa di hubungi ??” tanya Pak Lukman Papa Maudy.
“Belum Pa” jawab Bu Melda Mamanya Maudy.
“Kemana anak itu ?? pasti dia sedang bersama si Duda itu” geram Pak Lukman.
__ADS_1
“Mama takut terjadi sesuatu kepada Maudy Pa, lebih baik kita restuin saja Maudy sama calon pilihan nya. Walaupun Duda mungkin laki-laki itu bisa membimbing putri kita menjadi wanita yang baik” jelas Bu Melda lagi.
“Seseorang kalau sudah pernah bercerai jelas dia tidak bisa menjadi suami yang baik Ma, Papa tidak mau suatu hari nanti Maudy akan menderita karena salah pilih pasangan. Papa ingin Maudy menikah hanya sekali seumur hidup nya”
Bu Melda tau perasaan suaminya. ia juga sebagai seorang ibu justru sangat ingin melihat putrinya bahagia. Tapi dia juga tidak ingin melarang Maudy dalam memilih pasangan, apapun pilihan Maudy jika memang itu adalah yang terbaik ia setuju saja.
“Papa Mau kemana ??” tanya Bu Melda lagi saat melihat suami hendak pergi.
“Papa ingin kerumah si Duda itu. pasti Maudy ada bersama dia” jawab Pak Lukman sambil melangkahkan kakinya keluar rumah.
“Pa Jangan !!” Bu Melda segera memegangi tangan suaminya “Ini masih pagi Pa jangan bikin keributan di rumah Orang, kita tunggu saja Maudy pasti pulang hari ini” ujar Bu Melda lagi.
“,Tapi Ma”
“Keluarga Abraham adalah orang terpandang Pa, apalagi anak pertama nya yang bernama Tuan Kenan. Mama tidak ingin Papa berusan dengan mereka Pa, kita pasti akan kalah”
“Sialan” umpat pak Lukman kesal.
Akhirnya dengan geram Pak Lukman kembali masuk kedalam rumah. Bu Melda segera mengikuti sang suami tak lupa Bu Melda terus menghubungi nomor Maudy.
“Ayo Nak jawab panggilan Mama, pulang sayang !! biar Papa mau tidak marah-marah lagi” ucap Bu Melda dengan gelisah.
********.
“Pulang ya dek Mas anterin !!” ucap Rian karena tidak ingin terlalu lama membuat Kedua orang tua Maudy khawatir.
“Aku gak mau pulang Mas sebelum Papa merestui hubungan kita” jawab Maudy
“Apa dengan cara kita seperti ini akan membuat Papa kamu merestui kita ?? tidak sayang, Papa kamu malah semakin membenci Mas”
“Aku tidak peduli”
Rian mengusap kepalanya dengan kasar, Maudy benar-benar keras kepala, harus bagaimana lagi Rian membujuk Maudy supaya mau pulang. Karena jujur ia begitu takut kalau Papa Maudy akan bertambah membencinya.
“Kalau mas Rian mau pulang ya pulang saja. Aku akan tetap disini” ujar Maudy lagi.
“Terserahlah” balas Rian putus asa.
__ADS_1
Rian kembali mendudukan diri di sofa, Papa Bayu pasti sedang mencarinya hari ini, apalagi ia juga gak berangkat bekerja.
“Papa pasti akan menghabisi ku kalau tau aku membawa anak orang kesini” ucap Rian dalam hati.