
Setelah di periksa dokter, Dewi di pindahkan ke ruang rawat. Ia belum di perbolehkan pulang karena kondisi Dewi belum pulih di tambah dengan kontraksi palsu yang ia alami.
"Aku mau pulang Ma, aku mau lihat Mas Afnan" ucap Dewi.
Air mata Mama Mira kembali menetes, melihat keadaan Dewi seperti ini ia begitu terluka, hatinya seperti tersayat pisau tajam. Melukai tapi tak mengeluarkan darah.
"Sabar ya Nak ! kondisi kamu belum stabil kita lihat besok kalau memang sudah membaik kita pulang" balas Mama Mira dengan lembut.
Alya dan Fina semakin iba dengan kondisi Dewi sekarang, air mata mereka tak henti-hentinya menetes.
"Kasihan sekali kamu Wi, semoga Allah memberikan keajaiban supaya Afnan bisa selamat walaupun itu kemungkinan yang sangat kecil" batin Alya.
"Ya Allah tidak ada yang tidak mungkin jika engkau yang berkehendak. Tolong kembalikan suami sahabat hamba. Kasian sekali dia" batin Fina.
Sore hari Alya dan Fina pamit pulang. Walaupun Dewi masih terus ingin di temani tapi kedua sahabathya tetap harus pulang karena ada anak di antara mereka apalagi Fina yang anak keduanya masih bayi.
"Yang sabar ya Wi, gue yakin Lo pasti bisa lewati semua ini" ujar Fina sambari memelum Dewi dengan erat.
"Makasih Fin udah mau jenguk gue disini" balas Dewi.
"Sama-sama. Kalau ada apa-apa jangan sungkan cerita sama kita. Karena sampai kapanpun kita berdua adalah sahabat Lo" Fina tersenyum lalu mencium pipi kanan Dewi tanda kalau ia teramat menyayangi sahabatnya itu.
Begitupun dengan Alya ia juga melakukan hal yang sama. Memberi semangat, memeluk dan mencium pipi Dewi. Alya juga begitu menyayangi Dewi. Apalagi Dewi pernah membantunya saat kedua orang tuanya meninggal dulu.
"Kita pulang ya Wi"
"Iya hati-hati dijalan !"
Alya dan Fina serempak mengangguk, lalu beralih pamitan kepada kedua orang tua Dewi.
"Hati-hati ya Nak Alya. Nak Fina" ujar Mama Mira dengan lembut.
"Iya Tante. Semoga Dewi cepat pulih"
-
-
Di dalam perjalanan pulang Alya terus bercerita kepada sang suami.
"Kira-kira ada kemungkinan gak ya Mas kalau suami Dewi selamat ?" tanya Alya kepada Kenan.
"Ada sih, kalau Afnan bisa keluar lewat pintu darurat dan memakai rompi darurat. Kemungkinan ia akan selamat. Tapi kan dalam situasi darurat seperti itu mana mungkin orang mikirin semua itu sayang" jawab Kenan
Alya tampak menganggukan kepalanya. Lalu menatap keluar jendela.
"Mungkin hak ya Mas kalau suami Dewi masih hidup ?" tanya Alya lagi.
__ADS_1
"Iya gak tau lah sayang, coba nanti kita lihat perkembangan para Tim sar mencari korban. Jika memang Afnan masih hidup ia pasti akan segera kembali"
-
-
Sementara itu di rumah. Rian sedang menemani Alwi tidur siang. Karena tiba-tiba tubuh Alwi mendadak panas dan berkeringat dingin.
Rian dan Maudy langsung memeriksa keadaan Alwi. Dan ternyata Alwi mengalami demam.
"Apa di bawa kerumah sakit aja ya Dek ?" tanya Rian dengan raut wajah khawatir.
"Tunggu sebentar lagi Mas lagian kan baru di beri obat siapa tau nanti panas nya turun. Alwi sepertinya rindu dengan Bunda nya Mas" jawab Maudy.
"*Abi. Alwi rindu !"
"Abi dimana ?"
"Abi pulang. Alwi mau sama Abi*"
Deeeggg.
Jantung Rian berdetak kencang, segitu dekatnya Alwi dengan Afnan sampai-sampai Alwi sakit seperti ini.
Tau akan perasaan sang suami. Maudy mengelus bahu Rian. Lalu memberikan senyum manis supaya Rian mampu memahami keadaan ini.
Gumaman demi gumaman terus terlontar di bibir mungil Alwi. Rasanya Rian tak tahan tapi ia bisa mengerti jika Alwi begitu sayang kepada Afnan karena Afnan merawat Alwi dari bayi.
"Alwi kenapa ?" tanya Papa Bayu yang datang tiba-tiba.
Rian menoleh "Masih panas Pa. Tapi udah di kasih obat. Semoga panasnya langsung turun" jawab Rian.
"Apa perlu di bawah kerumah sakit ?" tanya Papa Bayu lagi.
"Tidak perlu Pa. Lagian aku sama Maudy juga dokter sama aja kan"
Papa Bayu menganguk dan berjalan untuk duduk di dekat Alwi. Di elusnya kepala Alwi dengan lembut. Hingga gumaman Alwi dapat di dengar oleh Papa Bayu.
"Dia sakit karena merindukan Abi nya" ucap Papa Bayu.
"Iya Pa. Alwi rindu dengan Mas Afnan" jawab Rian.
"Wajar kalau begitu. Karena Alwi di urus oleh Afnan dari bayi"
Rian menganggukan kepalanya. Telinga nya terus mendengar suara Kecil Alwi yang terus memanggil 'Abi'.
-
__ADS_1
-
Waktu berlalu. Tak terasa sudah 20 hari kepergian Afnan.
Para penumpang termasuk kedua pilot dan pramugari sudah di temukan. Hanya satu yang belum yaitu Afnan.
Polisi sudah memutuskan akan menghentikan pencarian dan menganggap kalau Afnan sudah di makan hewan buas di dasar laut.
Mendengar hal itu Dewi marah. Ia kembali ke lautan dan menghampiri polisi yang menugaskan untuk menghentikan pencairan.
"Kenapa kalian hentika pencarian ini Hah ? kenapa ?" teriak Dewi di depan wajah polisi.
"Kalian tau suami saya belum di temukan.. Ia masih di sana. Tolong jangan hentikan pencarian ini ! saya akan bayar kalian berapapun"
Belum sempat polisi itu menjawab Dewi kembali berteriak. Air mata Dewi menetes dengan deras.
Dimana suaminya. Kenapa belum juga di temukan disaat yang lain sudah di temukan kenapa suaminya belum.
Dewi sudah belajar ikhlas jika memang Afnan pergi. Tapi dia ingin jasad Afnan dapat ia makamkan dengan baik. Tapi kenyataan nya seperti ini semua orang menghentikan pencairan nya. Lalu siapa yang akan mencari Afnan lagi.
Tak ada seorang pun yang mengerti perasaan Dewi. Ia kembali terduduk. Menangis meraung-raung dan memanggil nama suaminya.
"Mas Afnan" teriak Dewi menggema.
Mama Mira hanya menangis ke jauhan. Membiarkan anaknya meluapkan perasaan nya saat ini. Mungkin setelah ini Dewi bisa bangkit dan melupakan masalalunya.
"Maafkan kami Bu" ucap Polisi tadi.
"Tapi ini tugas dari atasan kami untuk menghentikan pencarian. Kemungkinan suami Ibu dimakan hewan di dasar lautan"
Dewi menatap polisi itu dengan tajam.
"Anda tidak tau bagaimana perasaan saya" Dewi menunjuk dirinya sendirin "Anda tidak tau"
Belum sempat Dewi melanjutkan ucapanya suara tim sar membuat Dewi dan polisi itu menoleh.
"Ada mayat mengapung" suara riuh tim sar.
Dewi langsung berjalan dengan cepat untuk melihat siapa yang barusan di temukan..Ia melihat beberapa orang laki-laki membopong tubuh laki-laki yang mengenakan rompi darurat di dalam pesawat.
Tapi
Tunggu !
Sepertinya Dewi mengenali kemeja itu. Hingga ia sadar kalau itu kemeja suaminya.
"Mas Afnan" gumam Dewi.
__ADS_1
Ia langsung mengikuti para tim sar membawa tubuh Afnan. Ada sedikit kelegaan di hati Dewi. Dan Sekarang ia hanya tinggal memastikan kalau Afnan masih hidup atau sudah meninggal.