Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Tanda-tanda


__ADS_3

Nafiza dan Brian tertawa terbahak-bahak saat seorang waria mengerjai Troy, mengejar dan menggodanya.


"Aduh perutku sakit" ucap Nafiza sambil memegang perutnya.


"Tuan tolong saya tuan" pinta Troy sambil masih di ikuti waria tersebut.


"Kenapa takut padaku laki-laki tampan, aku kan hanya ingin berkenalan. Aku temani daripada kamu sendirian"


Masih di iringi dengan gelak tawa, melihat Troy yang kelelahan dan hampir kehabisan nafas akhirnya Brian turun tangan.


"Hei sudah jangan mengejar sekretarisku lagi, ini untukmu. Kamu boleh pergi sekarang" Brian menghampiri dan memberikan satu lembar uang berwarna merah.


"Dari tadi dong tuan, sampai bertemu lagi ya tampan. Jika kamu butuh teman kamu bisa mencariku di sini" ucap waria pergi sambil mengecup tangannya dan meniupnya ke arah Troy.


"Iiihhh amit-amit" Troy bergidik merinding.


Nafiza masih saja mentertawakannya.


"Terima kasih tuan sudah menyelamatkan saya" Troy mendudukkan dirinya di tanah, menggibaskan baju olahraganya bagian atas, merasa sangat panas.


"Sama-sama, lain kali ajak seseorang untuk menemanimu Troy dari pada di temani mahluk seperti tadi"


"Aku tidak memintanya menemaniku tuan"


"Sudah-sudah, benar kata Brian kak Troy lain kali jika ikut bersama kami ajaklah seorang wanita"


"Aku tidak punya pasangan nona"


"Kalau aku menyarankan seseorang boleh? bagaimana kalau Tita?"


"Sebenarnya nona Tita agak menyeramkan"


"Teganya kamu bilang temanku menyeramkan, memangnya dia monster yang bisa menggigitmu!"


"Maaf nona bukan itu maksud saya, yah ya sudahlah terserah nona mau mengajak siapa saja"


"Yesss berarti lain kali kita bisa jalan berempat ya"


"Jangan memikirkan hal lain, fokus dengan belajarmu dan tes masuk universitas"


"Iya iya seminggu saja diam di rumah, aku pasti bisa"


"Sudah larut malam, ayo kita pulang"


"Baik" ucap Nafiza dan Troy bersamaan.


Brian dan Nafiza menjalankan mobilnya, sedangkan Troy pulang mengendarai mobilnya sendirian.


Mobil mereka berhenti karena lampu merah menyala, seseorang mengetuk kaca di sebelah Troy dan mengecupnya. Waria tadi bertemu dan mengenali mobil Troy.


"Iiiihhh kenapa bertemu dia lagi" Troy menginjak pedal gas dengan kencang saat lampu hijau menyala. Dari kaca spion ia dapat melihat waria tadi melambai-lambaikan tangannya.


***


"Kasihan Troy saat hendak pulang pun masih bertemu orang tadi, aku tidak bisa berhenti tertawa" Brian menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk rumah mereka.

__ADS_1


"Waria tadi benar-benar iseng" Brian turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Nafiza.


Nafiza mengangkat kedua tangannya.


"Apa?"


"Gendong" ucapnya dengan manja.


"Gendong belakang saja ya" Nafiza menganggukkan kepalanya cepat.


Brian berjongkok dan membelakangi Nafiza, ia menaiki punggung Brian dan mereka mulai memasuki rumah di sambut oleh beberapa asisten rumah tangganya.


"Tuan dan nona mau makan malam terlebih dahulu?" Bi Inah menawarkan.


"Tidak bi, kami ingin istirahat" jawab Nafiza, Brian membawanya menaiki tangga.


"Aaahhhh akhirnya sampai juga di kamar" Brian menurunkan Nafiza pelan.


"Hehe terima kasih Brian sudah menggendongku sampai sini" Nafiza mengecup pipi Brian.


"Iya tadi sebenarnya saat di sungai aku mendengar kamu berkata lebih baik olahraga di kamar, maksud kamu olahraga apa?" Brian menatap Nafiza di sampingnya.


"Oh itu sit up atau push up kan bisa di lakukan di kamar"


"Aku jago push up loh"


"Benarkah? coba perlihatkan padaku"


"Push up sama kamu. Hahahaha"


"Maksudnya apa push up bersamaku?" tanya Nafiza tak mengerti.


"Tapi"


"Tidak ada tapi-tapi jika kamu di tinggal sebentar saja olehku ke kamar mandi pasti kamu langsung tidur, mangkanya jangan di tunda-tunda lagi" Brian mematikan lampu yang berada di atas nakas, kamar yang gelap gulita tetapi ada aktifitas panas di dalamnya.


Iya kamar mereka berdua, Nafiza dan Brian.


***


Troy telah sampai di rumahnya, ia memang tinggal sendirian di rumah yang berbentuk minimalis. Orangtua dan saudaranya tidak tinggal bersamanya, mereka lebih memilih tinggal di kampung dari pada hijrah ke kota, hanya Troy saja yang merantau. Terkadang ia merasa kesepian, mangkanya jika di minta oleh Brian untuk datang ia selalu siap sedia karena tidak ada lagi orang di layaninya selain Brian.


Ia masuk ke dalam kamarnya hendak membuka pakaiannya, rasanya ia ingin mandi. Setelah berolahraga tadi tubuhnya terasa lengket. Meski sudah tengah malam ia ingin tetap membersihkan dirinya menggunakan air hangat. Baru saja ia mengangkat kaosnya ke atas.



Kring kring kring


Dering ponsel Troy, ia menurunkan kembali pakaiannya dan meraih ponselnya.


Telepon dari nomor tak di kenal.


"Halo"


Tak ada jawaban dari pemilik no tersebut.

__ADS_1


"Halo siapa ini?" tanyanya. Masih tidak ada jawaban.


Tut tut tut


Sambungan telepon itu terputus.


"Siapa sih, sepertinya orang iseng" Troy melempar ponselnya ke ranjang. Ia kemudian melangkah untuk pergi ke kamar mandi.


Mandi dan berendam air hangat memang menyegarkan, Troy memakai baju handuk dan sedang mengeringkan rambutnya memakai handuk kecil.


Ponselnya bergetar tanda ada sebuah pesan masuk, ia duduk di ranjang sambil membuka layar kunci ponselnya.


"Hai kak Troy ini aku Tita, maaf ya tadi aku menelfon tapi tidak berbicara. Aku terlalu malu dan ragu untuk menghubungimu, kamu boleh menyimpan nomorku barangkali suatu hari kamu akan mencariku πŸ’•"


Begitulah pesan dari Tita, Troy tak membalasnya. Ia hanya meletakkan ponselnya kembali.


***


Pagi hari, Nafiza meregangkan tubuhnya, merasa sedikit pegal pada kakinya. Mungkin karena ia tak terbiasa berolahraga, ia memijat-mijat kakinya sendiri sambil duduk.


Ceklek


Terlihat Brian memasuki kamar.


"Kakimu sakit dan pegal?" tanya Brian.


"Iya sedikit"


"Sini aku pijat" Brian mendekatinya dan mulai memijat kaki Nafiza.


"Hahaha, geli. Aku tidak bisa di pijat oleh orang lain" Nafiza mendorong tangan Brian yang memijatnya dari kaki sampai paha.


"Kamu ini aneh sekali di pijat malah tertawa-tawa"


"Kamu memijat pahaku yang tidak pegal, betisku yang pegal bukan paha. Kalau ada yang menyentuh pahaku aku merasa geli" ucap Nafiza sambil menggeliat seperti di kelikitik.


"Seperti ini geli?" Brian semakin menekan-nekan paha Nafiza bercanda.


"Hahaha, Uwek!" Nafiza menutup mulutnya.


"Kenapa kamu mual?"


"Uwek" Nafiza berlari ke arah kamar mandi, Brian mengikutinya. Nafiza menumpahkan semua isi perutnya tiba-tiba saja ia merasa mual. Brian memijat leher Nafiza pelan.


"Bukankah salah satu tanda hamil itu mual-mual?"


"Hamil?" Brian dan Nafiza saling memandang.


***


Selamat siang Readers


Maaf ya author telat update Hehe


Ada kesibukan di dunia nyata yang harus author kerjakan

__ADS_1


Semoga suka ya


Salam hangat dari Brian Nafiza dan Troy 😘


__ADS_2