Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Setuju


__ADS_3

Entah kenapa Nafiza sangat gugup, ia tak berani melihat hasil test pack yang ada di tangannya.


"Lebih baik dokter saja yang memeriksanya, aku ragu tentang hasilnya" Nafiza langsung menyerahkan test pack itu pada suster dan suster memperlihatkannya pada dokter yang menulis sesuatu dan menganggukkan kepalanya.


Brian rasanya sangat tidak sabar ingin mendengar hasil test pack Nafiza.


"Bagaimana dok hasilnya apa istri saya hamil?" Brian sangat antusias.


"Hasil test pack istri anda. . . Negatif tuan" wajah Brian berubah menjadi sendu sedangkan Nafiza yang duduk di sampingnya menghela nafas panjang.


"Tunggu kenapa aku malah jadi terlihat tenang?" Nafiza menyadarinya, Brian sedih dan kecewa tetapi ia malah seperti bersyukur.


Nafiza menegakkan punggungnya dan menundukkan kepalanya.


"Memang kemungkinan hamil setelah datang bulan bisa saja terjadi tetapi mohon maaf kali ini istri anda belum hamil, sepertinya ia mual muntah karena sebelumnya telat makan"


"Oh begitu ya dok" jawab Brian datar, Nafiza dapat melihatnya sorot mata Brian menyiratkan kesedihan.


"Kalau tuan dan nona ingin segera mempunyai momongan kami bisa membantu dengan program kehamilan"


Brian menatap Nafiza ingin tahu apa pendapatnya tetapi Nafiza malah menundukkan kembali kepalanya tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Lain kali saja dok kami ikut program kehamilannya" ucap Brian, Nafiza hanya bisa meremas ujung pakaiannya saja. Membayangkan pasti berat untuk Brian memutuskan hal itu dan sudah pasti ia juga sangat kecewa pada Nafiza.


"Baiklah, saya tetap memberikan resep untuk meredakan mual muntah nona. Jika kalian berubah fikiran silahkan untuk kembali ke sini lain kali" dokter memberikan resep obat pada Brian.


"Terima kasih dok" Brian dan Nafiza berpamitan. Mereka keluar dari ruang pemeriksaan menuju apotik rumah sakit untuk mengambil obat.


Brian berjalan di depan Nafiza, ia tidak ingin mensejajarkan dirinya dengan Brian. Bahkan saat duduk pun Nafiza menjaga jarak selang satu kursi dari tempat duduk Brian tapi sepertinya suaminya itu benar-benar kecewa, ia acuh saja dengan sikap Nafiza.


Setelah mendapatkan obat, Brian mengantar Nafiza pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan suasana di dalam mobil hening, Brian menepikan mobil tepat di depan pagar rumahnya.


"Kamu pulang jam berapa?" tanya Nafiza basa basi.


"Seperti biasa"


Nafiza membuka sabuk pengamannya dan turun.


"Hati-hati ya say. . .ang" belum Nafiza menyelesaikan perkataannya Brian sudah melajukan mobilnya, Nafiza yang semula melambaikan tangannya kemudian menurunkannya pelan.


"Aku harus bagaimana?" Nafiza frustasi, ia menjambak rambutnya sendiri sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


***


Berada di lain tempat, Troy sedang sibuk memeriksa beberapa laporan dan berkas tentang proyek pengerjaan apartemen yang di jalankan oleh perusahaan Brian. Troy sangat teliti, ia memeriksa selembar demi selembar berkas yang bertumpuk cukup banyak.


Drrttt Drrttt


Ponsel milik Troy bergetar, ia meraih ponsel dari atas meja dan membaca pesan yang masuk.


"Hai kak Troy selamat siang, semangat ya bekerjanya. 💕"

__ADS_1


Pesan itu dari Tita, Troy meletakkan ponselnya kembali, ia tak membalas pesan Tita dan melanjutkan pekerjaannya.


Kemudian fikirannya menerawang, Troy memasukkan tangannya ke dalam saku celana, memikirkan sesuatu.



"Apa aku terlalu kejam ya, tidak membalas pesan Tita lagi?" ia berbicara sendiri. Setelah beberapa menit melamun akhirnya ia mengambil ponselnya dan mulai mengetik sesuatu.


"Terima kasih"


Pesan tersebut ia kirim kepada Tita, beberapa detik kemudian ponselnya kembali bergetar.


"Sama-sama, sudah makan belum kak Troy?"


Troy hanya membacanya, kali ini ia memutuskan lebih fokus bekerja dan meletakkan kembali ponselnya. Terdengar bunyi langkah kaki seseorang berjalan menuju meja Troy.


Brian menenteng tasnya dengan langkah cepat.


"Laporan tentang pembangunan apartemen J mana Troy?" tanyanya langsung membuka pintu masuk ke dalam ruangannya.


Troy dengan cepat mengambil satu berkas tebal dan mengekor mengikuti Brian.


"Ini tuan laporannya" Troy menyerahkannya setelah Brian duduk di kursinya.


"Tidak ada masalah kan?" Brian memeriksa berkas tersebut.


"Tidak ada tuan, semua berjalan sesuai rencana, terkecuali satu"


"Sepertinya kehamilan nona Nafiza belum terlaksana sesuai rencana. Upppsss" Troy menutup mulutnya, keceplosan.


"Dari mana kamu tahu Nafiza belum hamil?" tanya Brian tanpa melirik pada Troy dan terus saja membalik laporan demi laporan.


"Dari ekspresi wajah tuan, suram dan muram" Troy menutup mulutnya lagi, keceplosan dua kali, Brian menatapnya tajam.


"Kamu kembali saja ke mejamu Troy"


"Maafkan saya, baik tuan" Troy meninggalkan ruangan Brian dan menutup pintunya.


"Suasana hati tuan Brian sedang tidak baik, sebaiknya aku menghindar jika keadaan tidak mendesak" Troy berbicara sendiri sambil mengintip pada jendela di samping pintu Brian, dan manjikannya itu menyadarinya di perhatikan oleh Troy dari luar. Ia kembali menatapnya tajam.



Troy langsung kabur dan duduk di kursinya. Brian jadi menggeleng-gelengkan kepalanya.


***


Nafiza berada di kamarnya, ia sedang belajar. Hari ini belajarnya sedikit tidak fokus, ia teringat sikap Brian yang tadi. Ia mengetuk-ngetuk pulpen pada meja belajarnya. Akhirnya ia memilih untuk menyalakan laptop dan membuka internet. Ia melakukan pencarian dengan kode "Kehadiran buah hati".


Muncul beberapa artikel yang terkait, ia mulai membacanya, pada semua artikel terdapat foto-foto bayi nan lucu dan menggemaskan.


"Imut dan cantik sekali, aku menjadi gemas melihat foto bayi-bayi ini" Nafiza jadi terpesona. Ia melanjutkan kembali membaca artikel yang lain.

__ADS_1


***


Hari sudah malam, bintang dan bulan bersinar terang di langit. Nafiza sebenarnya belum tertidur, ia hanya bingung nanti harus bersikap seperti apa di hadapan Brian yang masih marah padanya. Ia sudah merebahkan dirinya di ranjang dan memakai selimut.


Brian pulang larut malam, seseorang terdengar membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Nafiza memejamkan matanya, berpura-pura tidur.


Brian membuka setelan jas yang di pakainya dan masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya lalu kembali telah mengenakan piyama kesayangannya. Dia merebahkan dirinya di samping Nafiza tetapi memunggunginya.


Nafiza membalikkan tubuhnya perlahan, ia dapat melihat punggung Brian, ia berusaha menyentuhnya rasanya ingin memeluknya. Suasana canggung seperti ini ia tidak suka.


Akhirnya Nafiza memberanikan diri, ia memeluk Brian dari belakang.


"Apa kamu sudah tidur?" Brian tak menjawabnya. "Maafkan aku ya jika aku bersalah padamu" ucapnya lagi.


Nafiza bisa mencium aroma tubuh Brian, baru kali ini Brian benar-benar acuh padanya.


"Brian aku sudah memikirnya, ayo kita ikut program kehamilan, benar apa katamu kuliah nanti aku bisa cuti hamil dan melanjutnya lagi setelah melahirkan anak kita" Brian terkejut dengan yang di dengarnya, ia memutar tubuhnya menghadap Nafiza.


"Benarkah? kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu?"


"Iya, setelah aku di terima di sebuah universitas ayo kita ke rumah sakit itu lagi" ucap Nafiza sambil tersenyum.


Brian memeluknya dan mengecup kening Nafiza.


"Terima kasih akhirnya kamu mau melakukannya, mengandung anakku"


"Jangan berterima kasih sekarang, nanti saja jika aku sudah hamil dan melahirkan" Brian semakin senang mendengarnya. "Oia aku jadi teringat sesuatu"


"Teringat apa?"


"Temanmu yang bernama Jun, katamu akan mengenalkannya padaku"


"Oh sepertinya sekarang waktu yang tepat kamu bertemu dengannya"


"Sekarang?"


Brian mematikan lampu yang berada di atas nakas, kamar menjadi gelap gulita.


"Brian maksudnya apa? aku tidak mengerti kenapa kamu mematikan lampu? dan Jun maksudmu sekarang?"


"Nafiza Jun itu adalah ##%&€¥#₩#,\=/!" (Brian menjelaskan apa Jun itu sebenarnya 🤣🤣)


"Apaaaaaa!!!! ih mesum! kamu bahkan menamai anu mu sendiri" Nafiza bergidik ngeri ia menjauhi Brian.


"Hahaha, Jun ini yang akan memberimu anak" Brian menarik tubuh Nafiza dan menciumi wajahnya gemas. "Ayo Jun kita buat replika Brian" teriaknya pelan, Nafiza hanya pasrah meski ia merasa sedikit aneh dengan Brian.


"Jadi ini Jun??"


***


To be continued

__ADS_1


Author ngantuk, udah dulu ya 😁


__ADS_2