
"Jadi ini jun?"
"Iya kamu mengenal rupa tapi tak mengenal namanya, nama panjangnya Ju-ni-or, nama panggilannya jun. Hahaha"
"Hentikan Brian aku geli mendengarnya" seketika bulu kuduk pada tangan Nafiza di buatnya merinding.
"Kalau begitu kita langsung saja" Brian melepas kancing piyama yang di pakai Nafiza.
"Pelan-pelan!!" suara gelak tawa terdengar dari kamar Brian dan Nafiza tak lama kemudian suara tawa itu berubah menjadi suara deru dan desah yang mengiringi pergantian malam.
***
Matahari telah terbit, menyemburatkan warna orange di langit, sinarnya menembus masuk ke dalam celah-celah kamar Brian. Nafiza masih tertidur, tubuhnya terbungkus selimut, pagi ini cuacanya begitu dingin. Bukan! bukan karena cuacanya tetapi sebenarnya karena ia belum memakai pakaian.
Berbeda dengan Brian yang sudah berpakaian rapi dan memakai minyak wangi. Ia sedang menyisir rambutnya dan menggosokkan sedikit gel agar rambutnya merekat dan tidak berantakan.
"Nafiza bangun" panggilnya lembut.
"Hemmmm" Nafiza masih menguap, ia berguling-guling dan memonopoli selimut membungkus dirinya.
"Kamu nanti tidak bisa keluar dari dalam selimut, jangan menggulung-gulung seperti ini" ucap Brian sambil menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Nafiza.
"Jangan di tarik!" Nafiza kembali menutupi area tubuhnya yang terbuka. Brian menyunggingkan senyumnya melihat pemandangan indah di depannya.
"Cepat pakai pakaianmu dan sarapan, aku membuatkanmu sesuatu"
"Kamu membuatkan makanan untukku?" Nafiza menarik selimutnya dan duduk di depan Brian.
"Iya tapi sepertinya harus di panaskan lagi, aku akan meminta Bi Inah menghangatkannya" Brian memegang sebuah piring yang berisi nasi goreng.
"Tidak usah di panaskan lagi, aku akan memakannya sekarang. Ini kamu sendiri yang membuatnya?"
"Iya, aku berjanji akan menjadi suami yang baik dan calon ayah yang siaga. Siap antar dan jaga"
"Uuhhh aku jadi terhura"
"Terharu!"
"Hehe iya terharu, semoga nanti program hamil yang kita ikuti cepat membuatkan hasil. Aamiin"
"Aamiin, tes masuk universitasnya bagaimana? lusa kan pelaksanaannya?"
"Iya doakan juga aku lulus dan di terima ya"
"Kamu harus yakin dengan kemampuanmu sendiri, kamu pasti bisa" Brian mengelus rambut Nafiza dengan sebelah tangannya.
"Iya semangat!!" Nafiza mengangkat kedua tangannya ke atas, selimut yang di pegangnya menjadi turun ke bawah.
"Semangat sih semangat tapi berpakaian dulu. Akan repot jika Jun harus beraksi pagi-pagi di saat aku sudah rapi seperti ini" ucap Brian sambil tertawa kecil.
"Iisshhh selalu fikiranmu kotor!" Nafiza memukul bahu Brian dan segera menutup kembali tubuhnya.
"Bukannya kamu suka fikiran kotorku ini" godanya.
"Tidak!"
"Tak usah bohong, ayo mengaku"
Nafiza : "Author tuh yang fikirannya suka kotor"
Author : "Eh author lagi anteng juga di bawa-bawa"
Brian : "Thor jangan ada dirimu di antara aku dan Nafiza"
Author : "Laaaahhhh" author memegang ponselnya berjalan keluar dari kamar Nafiza (Halu banget sejak kapan author masuk kamar mereka π€£π€£ β) Lanjut ahhhh
__ADS_1
"Tolong ambilkan pakaianku" pinta Nafiza menunjuk dengan jarinya, meminta di ambilkan pakaian yang ada di samping kaki Brian.
"Ini" Brian mengambil dan memberikannya pada Nafiza. Ia memakainya cepat.
"Aku ingin mencoba nasi goreng buatanmu" Nafiza meraih piring yang berada di pangkuan Brian sedari tadi.
"Aku tidak tahu rasanya enak atau tidak"
Nafiza menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Emmmm rasanya enak kok cuma sedikit pedas"
"Benarkah? jadi aku berbakat menjadi seorang koki"
"Baru membuat nasi goreng mana bisa di bilang berbakat jadi koki" ucap Nafiza sambil mengunyah makanannya.
"Kalau begitu kamu habiskan ya, aku akan pergi berangkat bekerja. Sudah mulai siang"
"Iya hati-hati ya Brianku sayang" Brian mengecup pipi Nafiza dan pergi meninggalkannya. Ia melambaikan tangan dan melanjutkan sarapan dengan nasi goreng buatan suaminya.
"Kalau di pikir-pikir, nama Jun bagus juga. Asal jangan sampai nama itu menurun pada anak kita nanti, eh apa sih yang aku pikirkan"
Author : "Mangkanya si Jun jangan di ingat-ingat terus Nafiza" ππ
Nafiza : "Jun lagi trending di kalangan pembaca, Wkwkwkwk. Peace readers" βπ
***
Nafiza makan dengan lahap dan menghabiskan makanannya tanpa tersisa, kini ia tengah berada di depan meja belajarnya, melanjutkan kembali kegiatan membaca dan memahami berbagai rumus dan materi di dalam buku.
Kring kring kring
Suara ponsel Nafiza berbunyi, panggilan ini berasal dari Tita.
"Iya halo Ta ada apa?" tanya Nafiza langsung pada intinya.
"Aku sedang belajar, kamu sedang apa?"
"Aku juga sedang belajar"
"Oh jadi bagaimana kamu sudah memutuskan kuliah jurusan apa dan mendaftar di kampus mana?"
"Aku sudah mendaftar di kampus yang sama denganmu dan jurusannya juga. Hehe"
"Kamu benar-benar akan mengekor padaku saat kuliah nanti?"
"Iyalah aku bisa mengekor pada siapa lagi selain padamu. Jika aku gagal nanti tak apa, yang penting aku sudah berusaha" Tita menguatkan dirinya sendiri, ia tidak terlalu percaya diri.
"Aku juga sama, yang penting aku sudah mencobanya"
"Kalau begitu ayo kita saling menyemangati dan mendoakan Fiz"
"Ayo semangat semoga di terima!!" suara Nafiza cukup kencang.
"Semangat!!!" balas suara Tita dari telepon.
"Ya sudah aku mau melanjutkannya lagi, aku mau belajar"
"Selamat membaca sahabatku"
"Selamat belajar juga sahabatku" Tita menutup teleponnya. Nafiza menaruh ponselnya, ia kembali membalik halaman demi halaman buku yang di bacanya dan tak lupa mencatat materi yang penting untuk di hapalkannya.
***
Dua hari kemudian, tibalah hari pelaksanaan tes masuk universitas, hari yang sangat menegangkan untuk Nafiza dan Tita. mereka kini tengah berada di kampus memakai pakaian dengan atasan putih dan bawahan hitam.
__ADS_1
Brian hanya mengantar Nafiza, ia juga sudah pergi untuk berangkat bekerja. Beruntung Nafiza dan Tita di tes pada ruangan yang sama. Tes kali ini adalah ujian tertulis, Nafiza tengah duduk di kursi yang di tentukan oleh panitia dengan nomor peserta yang menempel pada mejanya.
Ujian pun di mulai, keadaan ruangan sangat hening hanya terdengar bunyi pensil dan kertas yang di bolak balikan. 90 menit rasanya tidak cukup, semua peserta sudah harus mengumpulkan kembali kertas ujiannya dan di bubarkan keluar ruangan.
"Tadi soal-soalnya sulit sekali bagiku" ucap Tita lemas.
"Bagiku juga sama, besok pengumuman hasilnya kita lihat saja apa kita di terima atau tidak"
"Pilihan kedua untuk jurusanmu tadi apa?"
"Aku memilih psikologi, kamu Ta?"
"Sama, sepertinya kita sehati"
"Intinya aku hanya ingin menolong orang lain yang memiliki masalah agar tidak bertambah parah menjadi gangguan mental dan kejiwaan"
"Kalau aku hanya ikut-ikutan denganmu" ucap Tita enteng.
"Hemmmm"
***
Kini Nafiza telah berada di rumah, ia sedang menonton TV tetapi dari tadi ia terus mengganti chanelnya tak tahu rasanya semua acara yang ia tonton tak ada yang menarik.
"Kenapa di ganti lagi, kamu mau menonton apa?" tanya Brian menghampiri Nafiza dan langsung merangkul bahu istrinya.
"Acaranya tidak ada seru" masih menekan-nekan tombol yang ada pada remote.
"Kamu yang terlalu banyak fikiran"
"Mungkin juga" Nafiza mematikan Tv dan memilih melingkarkan tangannya pada pinggang Brian.
"Bagaimana tesnya tadi?"
"Sulit, aku tidak yakin di terima"
"Harus optimis dong jangan menyerah seperti itu" Brian mengelus rambut Nafiza.
"Besok pukul 8 pagi pengumumannya melalui internet"
"Ya sudah kalau begitu lebih baik kita tidur, kasihan kamu menjadi gelisah terus menerus"
Nafiza menganggukkan kepalanya, ia dan Brian akhirnya pergi ke kamar untuk beristirahat.
Rasanya malam bergulir lama sekali, Nafiza sesekali bangun dan melihat pada jam dinding. Masih larut malam, ia tak sabar ingin mengetahui hasil tes tadi.
Dari pukul 5 pagi Nafiza tak bisa lagi memejamkan matanya, ia menunggu dan menunggu update perilisan hasil penerimaan mahasiswa baru untuk kampusnya.
Akhirnya link yang di tunggu datang juga, Nafiza segera membukanya melalui smart phone miliknya.
Matanya terbelalak, ia menggoyang-goyangkan tubuh Brian yang masih tidur di sampingnya.
"Brian cepat bangun, hasil ujiannya sudah ada"
"Hem" Brian mengucek matanya dan mendudukan dirinya. "Bagaimana apa kamu di terima?"
"Aku . . ."
***
Kira-kira Nafiza di terima tidak ya? hehe
Maaf ya jika ceritanya kurang menarik dan tidak jelas
Author nulis sambil matanya udah berat, udah 5 watt ππ€£
__ADS_1
Besok lagi ya
Salam sayang dari author π