
Nafiza akan pergi ke kantor Brian untuk memberikan ponselnya yang tertinggal, ia sudah memakai sweater dan topi kesayangannya, hari ini ia tidak begitu memperhatikan penampilannya, ia ingin bergaya cuek dan santai. Kini ia sudah berada di depan gedung perusahaan tempat Brian bekerja. Nafiza sedikit takjub ternyata gedung perusahaan Brian cukup besar.
Baru kali ini ia mengunjungi Brian di tempat kerjanya, selama ini ia tidak pernah mengurusi atau mencari tahu tentang pekerjaan Brian. Seharusnya dari dulu ia sudah melakukan ini, ia baru sadar masih begitu banyak hal yang harus ia ketahui dan pelajari tentang suaminya.
Nafiza masuk ke dalam, gedung ini di jaga dengan cukup ketat, ada beberapa sekat pintu masuk yang hanya bisa di lewati oleh pegawai. Nafiza masih melihat ke sana dan kemari mencari tahu caranya agar ia bisa pergi ke ruangan Brian.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" seorang satpam menghampiri Nafiza yang terlihat kebingungan.
"Saya mau pergi ke ruangan pak Brian."
"Apa nona sudah membuat janji?" tanyanya
pada Nafiza, ia hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Kalau begitu nona pergi dulu ke resepsionis untuk membuat janji bertemu pak Brian."
"Tapi saya. ."
"Silahkan nona menemui resepsionis di sebelah sana" tunjuk satpam ke arah kanan kemudian satpam tersebut meninggalkan Nafiza.
"Hemmm sepertinya aku harus meminta bantuan kak Troy" Nafiza mengeluarkan ponsel miliknya dan menghubungi no. ponsel Troy.
"Selamat siang nona Nafiza ada yang bisa saya bantu?" suara Troy.
"Kak Troy aku ada di bawah dekat meja resepsionis tolong cepat kemari, aku ingin pergi ke ruangan Brian."
"Baik nona saya akan ke tempat anda segera."
"Kak Troy jangan katakan pada Brian aku ada di bawah ya."
"Baik nona." Nafiza menutup teleponnya. Ia menunggu Troy datang, tetapi tiba-tiba satpam tadi menghampiri Nafiza lagi sepertinya dia mencurigai Nafiza.
"Nona belum pergi ke resepsionis? kalau tidak ada keperluan lain sebaiknya nona cepat pergi. Bertemu pak Brian tidak bisa mendadak seperti ini, beliau orang yang sibuk. Penampilan anda juga terlihat mencurigakan."
"Tapi saya adalah . ."
"Ayo nona sebaiknya anda keluar jika tidak ada kepentingan lain" satpam memotong perkataan Nafiza lagi, ia menarik tangan Nafiza menuju keluar gedung.
"Saya adalah istri pak Brian" Nafiza berusaha untuk tetap di dalam gedung.
"Nona jangan mengaku-ngaku, nona ini kelihatan masih muda sekali seperti masih anak SMA. Masih kecil sudah pandai berbohong. Ayo lebih baik nona pulang saja!" Satpam tersebut semakin menarik kencang Nafiza karena mendapat perlawanan darinya.
"Aku tidak berbohong, tunggu sebentar nanti ada kak Troy kemari" terjadi drama pengusiran antara satpam dan Nafiza.
"Nona ada apa ini?" Suara Troy tiba-tiba, ia menghampiri Nafiza.
"Maaf pak Troy nona ini ingin pergi ke ruangan pak Brian dan mengaku-ngaku sebagai istrinya." satpam menjelaskan.
"Jaga sikapmu, ini adalah nona Nafiza. Ia adalah istri pak Brian. Beraninya kamu berlaku kasar kepadanya." satpam yang mendengarnya terkejut dan melepaskan tangannya dari Nafiza, ia segera menundukan wajahnya.
"Maaf nona, maafkan saya. Saya benar-benar tidak tahu kalau nona adalah istri pak Brian."
"Tidak apa-apa, mungkin salahku juga berpenampilan seperti ini sehingga orang lain jadi curiga."
"Tidak nona, saya yang bersalah karena berburuk sangka pada nona. Tolong maafkan saya." satpam tersebut menurunkan lututnya ke lantai masih meminta maaf.
"Pak bangunlah, tidak apa-apa saya sudah memaafkan bapak. Ini hanya salah paham. Bangunlah." Satpam tersebut belum bangun dan masih meminta maaf, membuat Nafiza canggung.
__ADS_1
"Nona bilang sudah memaafkanmu, berdirilah!" tegas Troy. Mendengar ucapan Troy satpam tersebut segera berdiri. "Lain kali jangan di ulangi lagi."
"Sudah kak Troy" Nafiza tidak ingin berlama-lama dalam kondisi seperti ini.
"Iya tuan, saya akan memperbaiki sikap saya. Sekali lagi maafkan saya nona." satpam itu membungkukan tubuhnya pada Nafiza.
"Iya sudah ya pak tidak perlu meminta maaf lagi."
"Terima kasih nona sudah memaafkan saya."
"Kalau begitu ayo nona saya antar ke ruangan tuan." Ajak Troy menunjukan jalan
menuju lift dan di ikuti oleh Nafiza.
"Kak Troy masalah ini tidak usah di ceritakan pada Brian ya, ini hanya masalah sepele jangan di besar-besarkan." pinta Nafiza kini mereka sudah berada di dalam lift.
"Baik nona jika itu permintaan anda."
***
Nafiza dan Troy sudah keluar dari lift, mereka melewati beberapa ruang kerja pegawai dan hampir semua pegawai yang ada memperhatikan mereka.
"Kalian beri salam pada nona Nafiza, ia adalah istri pak Brian!" ucap Troy, Nafiza tersenyum canggung.
"Tidak usah di umumkan seperti itu juga kak Troy" Nafiza sedikit berbisik pada Troy.
"Selamat siang nona Nafiza" semua pegawai tersenyum dan membungkukan tubuhnya.
Nafiza dan Troy kembali berjalan, mereka bertemu beberapa pegawai lagi.
"Ini istri pak Brian namanya nona Nafiza." ucap Troy lagi.
"Selamat siang nona." pegawai tersebut memberi hormat.
"Beri hormat, ini adalah nona Nafiza istri pak Brian." Troy mengulanginya lagi memperkenalkan Nafiza.
"Selamat siang nona"
"Siang" jawabnya singkat melanjutkan perjalanannya. "Kak Troy gigiku mulai kering jangan memperkenalkanku terus pada pegawai di sini."
"Ini agar tidak ada yang salah paham pada nona Nafiza." kemudian mereka bertemu beberapa pegawai lagi dan tentu saja Troy memperkenalkan Nafiza lagi.
"Kak Troy kalau begini caranya sekalian saja buat pengumuman untuk satu gedung kalau aku datang." keluh Nafiza.
"Oia baiklah akan saya laksanakan, tunggu sebentar di sini nona" Troy meninggalkan Nafiza entah pergi kemana lalu tiba-tiba terdengar suara dari speaker di dalam gedung.
"Aku rasa kak Troy benar-benar mengumumkannya, dia orang yang aneh" Nafiza memegang dahinya pusing dengan perilaku Troy.
"Halo selamat siang" suara Troy ada di mana-mana dalam gedung. "Aku ingin memberitahukan bahwa hari ini perusahaan kita kedatangan istri pak Brian, ia berambut panjang, memakai sweater dan topi hitam, berkulit putih dan berhidung mancung. Tolong bagi yang melihatnya sapa dan hormati beliau. Ingat sapa dan hormati beliau! Terima kasih."
"Aku sudah memberinya ide gila" Nafiza mengelengkan kepalanya.
Tak lama Troy pun kembali, ia menunjukkan jalan dan Nafiza mengekor di belakangnya.
"Ide nona memang briliant, sekarang nona hanya tinggal tersenyum menjawab sapaan pegawai dan tidak akan ada yang salah sangka lagi pada nona."
"Ya terserah padamu sajalah kak Troy" Nafiza sudah pasrah dengan sikap penurut dan aneh Troy.
Kemudian sampailah mereka di depan pintu ruangan yang bertuliskan Ruangan CEO.
"Ini adalah ruangan tuan nona."
__ADS_1
"Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu, tak usah mengantarku lagi. Aku ingin memberi Brian kejutan."
"Baiklah nona kalau begitu, panggil saja saya jika nona membutuhkan sesuatu." Troy berjalan menuju mejanya yang berada tepat di samping pintu ruangan Brian.
***
Tok tok tok
"Masuk" perintah Brian, ia sedang duduk di mejanya, matanya fokus pada komputer yang berada di depannya. Saking fokusnya ia bahkan tidak melirik pada orang yang sudah berjalan menghampirinya.
"Ada berkas yang harus di tanda tangani olehku?" tanya Brian masih mengetik pada keyboard di tangannya.
"Tidak ada" jawab Nafiza singkat, Brian menghentikan aktifitasnya dan memutar kepalanya melihat Nafiza. "Surpriseeeeesss" Nafiza mengangkat kedua tangannya ke atas sambil sedikit melompat.
"Nafiza!!" Brian berdiri dan memeluk Nafiza seolah sudah lama tidak bertemu.
"Kamu terkejut? memangnya kamu tadi tidak mendengar suara kak Troy dari speaker tentang aku datang ke sini?"
"Di ruangan ini tidak di pasang speaker seperti itu, suara dari speaker itu hanya untuk pegawai saja. Ini pertama kalinya kamu datang ke sini. Ada apa kamu kemari? kamu tidak berfikir untuk bermain-main di sini kan?" Brian melepas pelukannya.
"Karena kamu bilang begitu aku jadi ingin benar-benar bermain di sini."
"Tidak boleh, aku sedang banyak pekerjaan. jika melayanimu terus pekerjaanku tidak akan selesai-selesai."
"Huhhh payah!! aku hanya ingin mengantar ini kok" Nafiza merogoh tasnya ia memberikan ponsel Brian.
"Oh iya aku melupakan ini. Terima kasih ya sudah jauh-jauh membawakan ini padaku." Brian mengelus rambut Nafiza kemudian ia kembali ke tempat duduknya dan mulai melanjutkan kembali pekerjaannya.
Beberapa saat hening tidak ada suara, Nafiza masih berdiri, matanya mengedarkan pandangannya mengitari ruangan Brian.
"Tunggu apa lagi kamu boleh pulang" ucap Brian.
"Isshh aku bosan di rumah kalau tidak ada kamu, memangnya aku tidak boleh di sini dulu sebentar." rengek Nafiza.
"Tidak boleh aku sedang sibuk." Brian bahkan tidak memandang Nafiza ia hanya fokus pada komputernya.
"Aku mau di sini sebentar ya" Nafiza memohon.
"Tidak boleh!"
"Sebentar saja ya boleh ya."
"Pulang saja sana aku tidak bisa mengajakmu bermain di sini."
"Aku hanya ingin menemanimu kok. Boleh ya." Nafiza masih memohon.
"Tidak bisa, Aku sedang bekerja Nafiza."
"Huuuhhhhh ya sudah aku pulang!!" Nafiza berjalan sambil menghentakkan kakinya keras menuju pintu ruangan Brian, bibirnya cemberut, Brian memandangnya dari belakang.
"Baiklah kamu boleh di sini, tapi ingat cuma sebentar dan jangan mengganggu pekerjaanku."
"Hehe baik bos, aku tidak akan mengganggumu" Nafiza berbalik sambil tersenyum, ia mendudukkan dirinya di kursi tamu ruangan Brian. Sekilas muncul ide jahil dari fikiran Nafiza.
***
Hayo Nafiza akan melakukan apa ya di ruangan Brian? hehe
Semoga masih setia ya Readers sama cerita abal-abal ini π
Besok author ga up ya karena author sedang lelah begadang terus, author benar-benar serius memikirkan novel ini π
__ADS_1
Aku padamu Readers ππ