
Keesokan harinya Nafiza bangun lebih pagi, ia ingin datang ke sekolah lebih awal agar bisa menghafal kembali rumus-rumus yang di ajarkan Brian semalam. Kini ia sudah bersiap dengan seragam yang di pakainya.
"Brian bangun, antar aku ke sekolah lebih awal." Nafiza menggoyangkan tubuh Brian pelan tetapi Brian tak meresponnya.
"Brian cepat bangun! kamu kan juga harus bekerja, lebih pagi lebih bagus" Nafiza menepuk-nepuk pipi Brian masih tidak ada responnya. Brian masih tidur pulas.
"Brian cepat bangun! bangun!!" Kesal Nafiza dengan kencang menggoyangkan kedua bahu Brian.
"Cepat bang. . . Kyaaa Brian!!!"
"Brisik Nafiza ini masih terlalu pagi"
Nafiza menahan nafasnya, Brian menariknya dengan cepat dan sudah berada di atasnya, menindihnya dan kembali tidur, menenggelamkan wajahnya di leher Nafiza.
"Brian berat!!" teriak Nafiza tubuhnya meronta-ronta.
"Istriku" panggil Brian lembut.
"Hem, apa?"
Tidak ada jawaban ternyata Brian tidur lagi.
"Brian jangan tidur lagi, cepat bangun!! antar aku ke sekolah, aku mau belajar di sekolah sebelum ujian di mulai!"
"Diamlah sebentar" pinta Brian dengan suaranya yang serak.
Nafiza terdiam sejenak, Brian hanya menindihnya dan tidak melakukan apa-apa. Tapi mau sampai kapan kegiatan tindihan-tindihan ini di lakukan. Brian sangat berat sehingga Nafiza sulit bernafas.
"Kamu sangat berat Brian aku merasa sesak" Brian perlahan membuka mata mengangkat tubuhnya sedikit lalu memandang Nafiza di bawahnya, wajah Nafiza memerah. Ia merasa malu dengan posisinya sekarang.
"Baiklah aku akan bangun tapi berikan ini dulu" Brian memajukan bibirnya ingin mencium Nafiza, segera saja Nafiza menahan wajah Brian dan mendorongnya. Persis seperti yang di lakukan Brian semalam saat Nafiza akan menciumnya tetapi Nafiza mendorongnya dengan keras. Ralat dengan sangat keras!!
"Sudah berhenti Brian, tidak ada ciuman pagi. Yang ada nanti aku terlambat ke sekolah."
"Rasakan!! aku balas kejadian semalam!! sementara waktu aku tidak mau di cium olehmu. haha" Nafiza tertawa dalam hati.
Brian menggulingkan tubuhnya ke samping Nafiza setelah mendapat penolakan dari istrinya. Baru kali ini Nafiza benar-benar menolaknya. Nafiza segera bangun dan merapikan pakaiannya.
"Ya ampun Brian kamu membuat seragamku jadi kusut."
"Kenapa kamu menolak ciuman dariku apa kamu marah karena kejadian semalam?"
"Tidak, aku benar-benar tidak mau morning kiss saja, kamu belum mandi" Nafiza mencari alasan. "Ayo cepat bersiap, antar aku sekolah."
Dengan sedikit paksaan Nafiza menarik lengan Brian agar segera bangun dari kasurnya tetapi tubuh Brian lebih berat di banding tubuh Nafiza, Brian bahkan tidak bergeser dari posisinya.
Setelah kegiatan konyol mereka yaitu tarik menarik akhirnya Brian sudah di mobil mengantar Nafiza, Brian belum mandi ia hanya mencuci muka dan menggosok gigi.
"Aku kira kamu akan berangkat kerja juga"
"Ini masih pagi, aku akan berangkat agak siangan" mereka pun tiba di gerbang sekolah dan ternyata memang baru beberapa murid yang hadir di sana. Nafiza membuka sabuk pengamannya.
"Nafiza"
__ADS_1
Nafiza menoleh dan mendapati wajah Brian yang sudah mendekati wajahnya, dengan cepat ia mendorong lagi wajah Brian jauh-jauh.
"Tidak ada morning kiss pagi ini Brian!!" Nafiza kesal.
"Akh, baiklah" Brian pasrah istrinya benar-benar membalas penolakannya semalam berkali-kali, tetapi dia tetap senang menggoda Nafiza pagi-pagi begini.
"Aku pergi ya, doakan aku bisa mengerjakan ujian hari ini dengan baik"
"Iya istriku pasti bisa" Brian memberikan senyum manis untuk Nafiza. Ia turun dari mobil dan melambaikan tangannya, Brian mengemudikan mobilnya kembali ke rumah untuk mandi dan bersiap untuk bekerja.
***
Besok adalah hari terakhir ujian, Nafiza berada di kamarnya masih belajar, setidaknya ujian untuk pelajaran matematika sudah di lewati, untuk pelajaran lain Nafiza masih bisa mengatasinya. Setelah agak lama belajar ia merasa tenggorokannya kering akhirnya ia memutuskan untuk turun ke bawah dan mengambil minum di dapur.
Tap tap tap
Bunyi suara kaki, ternyata Brian sudah pulang tetapi dia tidak pulang sendirian, dia bersama seseorang di belakangnya.
"Kamu sudah pulang?" sapa Nafiza sambil menaruh gelas yang di pegangnya.
"Iya, kamu masih belajar?" Nafiza menganggukan kepalanya. " Oia Fiz kenalkan ini sekretarisku yang baru sebenarnya bukan baru sih, dia menjadi tangan kananku selama ini tetapi baru kali ini dia benar-benar mau menerima posisi ini" Brian berdiri di samping Nafiza dan meletakan tangannya di bahu Nafiza.
"Namanya Troy" lelaki itu menundukkan tubuhnya memberi hormat pada Nafiza dan Nafiza membalasnya dengan menudukkan kepalanya sambil tersenyum kaku.
"Troy ini istriku Nafiza"
"Selamat malam nyonya"
"Baik nona" jawab Troy menganggukan kepalanya.
"Dia ini sedikit kaku Nafiza, santailah sedikit Troy aku juga tidak suka sikapmu yang seperti robot"
"Ba baik tuan saya akan berusaha bersikap tidak seperti robot" Nafiza terkekeh mendengarnya.
"Haaaahhhh" Brian menghela nafasnya.
"Aku malu tuan, anda terlalu baik selalu memperlakukanku seperti teman" gumam Troy dalam hati.
"Kamu sudah makan malam?" tanya Nafiza mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, kamu bisa pulang Troy. Aku hanya ingin memperkenalkanmu pada istriku"
"Besok saya akan ke sini menjemput tuan"
"Tidak usah, tiap pagi aku mengantar Nafiza ke sekolah, kita akan bertemu di kantor"
"Baik kalau begitu tuan nona, saya akan pulang" pamitnya sambil menundukan tubuhnya dan pergi.
"Sangat pemalu dan kaku tapi seperti dia penurut" ucap Nafiza.
"Begitulah, bagaimana ujian matematikamu hari ini?"
"Aku rasa aku bisa mengerjakannya"
__ADS_1
"Bagus, itu berkat gurumu yang hebat dan pintar ini. Upahnya mana?"
"Upah? jadi sekarang kamu minta di bayar?" Nafiza mendongakkan wajahnya pada Brian.
"Tentu saja, tidak ada yang gratis di dunia ini nona"
"Kalau begitu berapa upahmu tuan?" goda Nafiza.
"Kalau di nilai dari nominal uang sih sepertinya kamu tidak akan sanggup bayar. Aku ingin yang lain sebagai upahnya"
"Yang lain apa?" Brian langsung tersenyum menyeringai. Ia menggendong Nafiza ala bridal style dan membawanya naik ke lantai atas.
"Turunkan aku Brian!" Nafiza memukul dada Brian.
"Tidak akan, ini hukuman karena kamu dua kali menolakku" Brian menjatuhkan tubuh Nafiza di ranjangnya. Ia merapikan rambut yang menutupi wajah istrinya.
"Aku tahu kamu kecewa kemarin malam di tolak olehku, kali ini aku akan menyerahkan wajahku secara sukarela. Wajah ini milikmu Nafiza kamu malam ini bisa menciumku sepuasnya" Brian menutup kedua matanya.
"Aku tidak semesum dirimu Brian" Nafiza tertawa melihat wajah Brian yang polos.
"Kalau tidak mau mulai duluan biar aku saja" Brian langsung ******* bibir Nafiza, ciumannya kali ini cukup memburu membuat Nafiza hampir kehabisan nafas.
"Pelan-pelan Brian" suaminya itu hanya membalasnya dengan senyuman.
"Kamu malam ini akan belajar lagi?"
"Iya hanya tinggal satu hari ujiannya"
"Mau ku ajari lagi?"
"Tidak usah, ini hanya hafalan materi aku bisa mengerjakannya"
"Kalau begitu pergilah belajar lagi sana" Brian bangun dan duduk di samping ranjangnya.
"Jadi cuma satu kali saja malam ini? padahal aku mau lagi"
"Hah? ya sudah aku akan belajar lagi" jawabnya sedikit kecewa sambil bangun dan berjalan keluar kamar.
"Pengumuman hasil ujiannya kapan?" tanya Brian tiba-tiba.
"Minggu depan, kenapa?"
"Aku minggu depan ada pekerjaan di Italy, jika kamu berhasil lulus aku akan memberikan tiket pesawat agar kamu bisa ikut menyusulku ke sana" seketika Nafiza melompat kegirangan.
"Benarkah? aku akan lulus!! aku pasti lulus!! kamu tidak boleh mengingkari janjimu ya" Nafiza pergi belajar dengan semangat sementara Brian tersenyum sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Aku harus membuat rencana spesial untuk Nafiza"
***
Aku padamu readers πππ
Happy Reading
__ADS_1