
kring kring kring
Bunyi ponsel Nafiza, sang pemilik masih terlelap tidur. Ia bergerak dengan malas meraba-raba membuka nakas di samping tempat tidurnya, meraih ponsel dalam keadaan mata masih tertutup dan langsung menerima panggilan yang telah sampai kepadanya.
"Halo" ucapnya dengan intonasi berat.
"Halo Fiz ini sudah siang kamu belum bangun?" tanya Tita.
"Memangnya ini jam berapa?" masih dengan nada malas.
"Sudah jam 9 Fiz"
"Oh jam 9" Ia mengucek-ngucek matanya. "Apa! jam 9?" kemudian ia langsung tersadar dan menoleh mencari keberadaan Brian tetapi Brian tidak ada.
"Hem baru sadar ya nyonya" ledek Tita mendengar Nafiza terkejut.
"Aku bangun kesiangan, sepertinya Brian sudah pergi bekerja. Tumben sekali dia tidak membangunkanku" Nafiza mendudukan dirinya bersandar pada tepi ranjang.
"Memangnya kamu habis melakukan apa semalam sampai bangun kesiangan?"
"Aku tidak berbuat apa-apa, semalam aku langsung tidur sehabis makan malam"
"Oh aku kira kamu habis perang bersama Brian. Hahahaha"
"Memangnya aku pasukan penjaga keamanan negara pakai perang segala"
"Hehe, Fiz aku mau menceritakan sesuatu"
"Ceritalah aku akan mendengarkannya"
"Aku sudah resmi berpacaran dengan kak Troy"
"Syukurlah"
"Cuma begitu saja responmu?"
"Memangnya harus bagaimana? haruskah aku berteriak?"
"Iya, aku kira kamu akan melompat kegirangan mendengarnya" ucap Tita nada suaranya seperti agak kecewa.
"Ya sudah reka ulang lagi, kali ini aku akan merespon dengan lebih baik"
"Benarkah? kalau begitu kita beralih ke video call ya"
"Iya kamu ulang perkataanmu ya, satu dua tiga" Mode panggilan pada ponsel Nafiza beralih menjadi video call, wajah mereka sudah berhadapan sekarang.
"Fiz aku resmi berpacaran dengan kak Troy"
"Apa!!! yeyeye Horeeeeee akhirnya kalian berkencan" Nafiza melompat-lompat di atas ranjangnya sampai nafasnya terengah-engah.
"Hahahaha sudah Fiz sudah jangan terlalu berlebihan melompatnya" Tita mentertawakan reka ulang ekpresi sahabatnya.
"Hahhhh haaahhhh tadi katanya kamu ingin aku melompat kegirangan" Nafiza berbicara dengan tersenggal-senggal.
"Tapi aku kasihan melihatnya, haha. Sudah kamu duduklah dulu" Nafiza menurutinya, ia duduk kembali bersandar sambil meluruskan kakinya.
"Kapan kalian jadian?"
"Kemarin sore, Fiz bagaimana jika kita berempat bertemu? aku ingin mentraktir kamu dan kak Brian. Kalian sudah membantuku selama ini untuk mendekati kak Troy, aku ingin berterima kasih"
"Baiklah ini pajak jadian ya"
__ADS_1
"Terserah kamu menganggapnya apa, pokonya nanti kita makan-makan"
"Asyik, aku akan menanyakan Brian dulu dia bisanya kapan"
"Oke kalau begitu sudah dulu ya, nanti saja kita sambung lagi"
"Iya aku mau mandi dulu"
"Oke bye Nafiza"
"Daaahhhh Tita" Nafiza menutup panggilannya dan meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. "Hem Brian tidak ada, aku juga tidak ada kegiatan. Ospek masih satu minggu lagi, hari ini aku akan melakukan apa ya?" Nafiza menurunkan tubuhnya kembali rebahan di ranjang king sizenya, ia sedang berfikir.
"Kalau aku pergi ke kantor Brian bagaimana ya? aku mengganggunya atau tidak, hemmm kalau ganggu ya aku tinggal pulang saja. Sekarang aku harus mandi" ucapnya bicara sendiri, Nafiza bangun kemudian berjalan ke arah kamar mandi.
***
Brian dan Troy sedang duduk di sofa di dalam ruangan Brian, mereka bersama-sama berdiskusi tentang keberhasilan proyek perusahaan Brian. Brian dan Troy sedang memegang berkas dan melingkari beberapa poin penting di sana.
"Bagaimana Troy tanggapan dari konsumen tentang proyek ini?" tanya Brian.
"Mereka merasa cukup puas tuan"
"Baiklah hanya tinggal 3 proyek lagi yang harus kita selesaikan bulan ini"
"Iya tuan"
Tok Tok Tok
Mereka berdua menoleh ke arah pintu, ada yang berusaha masuk dengan mendorong gagang pintunya.
"Permisi, tuan Brian aku masuk ya" intip Nafiza sudah terlihat ujung kepalanya.
"Eh kamu ada di sebelah sini padahal tadinya aku yang ingin mengejutkanmu" Nafiza masuk dan menutup pintunya kembali.
"Untuk apa mengejutkanku" Brian terkekeh mendengar ucapan Nafiza.
"Iseng saja" Nafiza mengedarkan pandangannya dan menemukan Troy yang sudah berdiri dari duduknya, ia membungkukan badannya pada Nafiza.
"Kak Troy sudah cerita pada Brian belum?" tanyanya sambil merangkul tangan Brian dan mengajaknya duduk di sofa.
"Cerita apa nona?"
"Oh berarti belum ya, beginilah loh Brian. Kak Troy dan Tita kemarin sudah resmi berpacaran" wajah sumringah Nafiza saat menceritakannya pada Brian membuat wajah Troy memerah karena malu-malu.
"Wah selamat ya Troy kenapa kamu tidak bilang padaku"
"Terima kasih tuan, aku malu masa menceritakan masalah pribadi pada tuan"
"Tak apa-apa Troy, sekali-sekali anggaplah aku temanmu"
"Oia Tita ingin mentraktir kita makan untuk pajak jadian mereka"
"Boleh juga, bagaimana jika sambil makan siang hari ini?" ajak Brian.
"Aku akan mengatakannya pada Tita" Nafiza mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Tita. "Kata Tita ia akan bersiap-siap untuk ke sini"
"Baiklah ayo kita tunggu Tita di bawah" Brian mengambil jas miliknya dan menghampiri Nafiza sambil memegang tangannya. Troy mengekor dari belakang.
Setelah cukup lama mereka menunggu Tita di lobi akhirnya Tita pun datang.
"Maaf ya lama" ucapnya sambil jalan sedikit berlari menemui Troy Nafiza dan Brian.
__ADS_1
"Tak apa-apa, kita akan makan di mana?" tanya Brian.
"Aku sudah meresvasi sebuah tempat makan kita hanya tinggal ke sana"
"Baiklah ayo berangkat" mereka berempat pun menaiki mobil yang sudah terparkir di depan dan tiba di sebuah restaurant yang sudah di pesan Tita.
Mereka duduk berhadapan dan berpasangan. Tak lama makanan pun di hidangkan, mereka makan dengan lahapnya tak ada yang malu-malu karena makanannya semua terlihat lezat dan perut mereka kelaparan.
"Ahhhh kenyangnya terima kasih ya Ta traktirannya" ucap Nafiza sambil mengusap-ngusap perutnya.
"Sama-sama, terima kasih juga kalian sudah mendukung kami sampai resmi berpacaran" Tita memandang Troy yang masih melanjutkan makannya tanpa menoleh pada Tita sedikitpun. "Issshhh!" Tita menginjak kaki Troy.
"Awww" barulah Troy menoleh pada Tita.
"Kalau aku bicara jangan acuh seperti itu"
"Maaf ya" melihat pasangan baru di depannya Brian menjadi tertawa.
"Masih saja kamu Troy tidak peka"
"Aku harus mengajarinya kak Brian agar lebih cepat merespon padaku"
"Oia kalian sudah melakukan apa semenjak jadian?" tanya Nafiza penasaran.
"Kami? kami hanya berpelukan" jawab Tita dengan percaya diri.
"Bukan itu maksudku Ta, fikiranmu mesum sekali. Hahaha"
"Oh aku kira pertanyaanmu ke arah situ" Tita jadi malu dan menundukkan kepalanya.
"Jangan berbuat yang aneh-aneh dan di luar batas. Kalau sudah menikah sih tidak apa-apa" Brian memberi nasihat.
"Menikah?"
Mendengar hal itu tiba-tiba Tita membayangkan dirinya dan Troy sudah menikah dan sekarang berada di dalam sebuah kamar. Troy sudah merebahkan dirinya di ranjang dan membuka sedikit demi sedikit kancing kemejanya.
"Ayo sayang kita tidur bersama" ucap Troy dalam bayangan Tita dengan wajah tampan dan menggodanya.
"Aaahhhhh" Tita berteriak dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Nafiza Brian dan Troy memandangnya aneh.
"Ada apa denganmu?" tanya Troy menyenggol bahu Tita.
"Emmmm tidak kok" Tita tersadar dan membuang wajahnya ke arah lain tak ingin memandang Troy.
"Kamu pasti membayangkan bisa menikah dengan kak Troy ya?" tebak Nafiza.
"Tidak kok tidak"
"Ayo mengaku saja, kak Troy Tita sudah memberi kode tuh"
"Aku belum memikirkannya, untuk pernikahan"
Seketika Tita lemas mendengar ucapan Troy.
***
Selamat pagi
Semangat terus ya semuanya πππ
__ADS_1