
Brian dan Nafiza tengah berada di dalam mobil, Brian melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tidak ada pembicaraan di antara mereka, Nafiza hanya tidur dan Brian seperti biasa jika melakukan sesuatu dia akan fokus, iya hanya fokus mengendarai mobilnya dan ingin cepat sampai di rumah. Mobil mereka masuk ke dalam, Brian menepih tepat di depan pintu rumah mereka.
"Nafizaku sayang bangun, kita sudah sampai di rumah." Brian menggoyangkan tangan Nafiza.
"Hemmmm" Nafiza membuka matanya perlahan. Brian membuka pintu mobil di sampingnya ia turun dan membuka pintu di samping Nafiza.
"Ayo turun, tidurlah di kamar" ajak Brian.
"Gendong" manja Nafiza ia mengulurkan kedua tangannya pada Brian.
"Hemmmm" Brian menghela nafasnya tetapi tak bisa menolak permintaan Nafiza di raihnya tangan Nafiza, ia menggendong istrinya ala bridal style untuk masuk ke dalam rumah.
Beberapa asisten rumah tangga menyambut kedatangan mereka, ada yang menutup pintu mobil setelah Brian menggendong Nafiza, ada yang membukakan pintu rumah dan ada yang mengekor kemudian membukakan pintu kamar Brian.
Nafiza tak lagi malu, ketika Brian menggendongnya ia malah menyamankan dirinya berpura-pura tidur. Brian meletakkan tubuh Nafiza pelan di atas ranjang kemudian ia merebahkam dirinya di samping Nafiza mencoba mengatur nafasnya. Nafiza terkekeh melihat Brian yang terlihat kelelahan.
"Terima kasih ya suamiku sayang" Nafiza mengecup pipi Brian, ia turun dari ranjang dan bersiap untuk pergi ke kamar mandi.
"Bukannya kamu tadi tidur saat di gendong?"
"Hehe sekarang sudah tidak ngantuk, aku akan membersihkan diri dulu ya" Nafiza baru akan melangkahkan kakinya tetapi langkahnya terhenti karena tangannya di tarik Brian dan akhirnya ia malah berada di atas tubuh Brian.
"Eits enak saja mau pergi setelah mengerjaiku" Brian melingkarkan tangannya di pinggang Nafiza menahannya agar tidak berkutik.
"Aku benar-benar mengantuk tadi Brian"
"Sekarang tidak kan? kamu harus bertanggung jawab"
"Iya nanti aku akan memijat tangan dan kakimu" Nafiza sedikit berontak, ia menggeliatkan tubuhnya berusaha bangun.
"Aku tidak mau di pijat"
"Lalu?" Brian tersenyum nakal, ia memutar tubuhnya dan tubuh Nafiza. Kini berganti posisi Nafiza berada di bawah Brian.
"Hari ini kamu menggangguku seharian di kantor, sekarang giliranku menganggumu semalaman" bisik Brian di telinga Nafiza dan langsung ******* bibir istrinya, tentu saja Nafiza tidak melawannya. Setelah merasakannya kini Nafiza juga menginginkannya. Ia membalas ciuman Brian.
"Ayo jun kita beraksi!!!" semangat Brian dalam hati. ('Yeeeaaahhhh' di jawab jun dari bawah 🤣🤣)
Author : "Tidak usah di bayangkan ya jawaban dari jun cuma buat lucu-lucuan saja. Hahaha"
***
Cahaya matahari mulai nampak, Nafiza memaksakan dirinya untuk bangun. Ia harus pergi ke sekolah untuk memberikan cap tiga jarinya pada ijasah, sedangkan Brian masih tertidur. Nafiza turun perlahan dari kasur dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, ia dapat melihat beberapa bekas merah kecupan Brian di dadanya, selama ini Brian memang tidak pernah meninggalkan bekas kemerahan di area yang terlihat orang lain, ia hanya meninggalkan bekas pada tubuh Nafiza yang tertutup pakaian sehingga Nafiza selalu bebas memakai pakaian apa pun.
Selesai dengan kegiatannya di kamar mandi, Nafiza keluar dan menatap suaminya yang belum bangun. Berfikir sejenak mungkin ia akan membangunkan Brian lebih awal namun Nafiza mengurungkan niatnya. Ia akan membiarkan Brian tidur sedikit lebih lama.
__ADS_1
Nafiza keluar dari kamar dan menutup perlahan pintunya kembali. Ia menuruni tangga berjalan menuju dapur, hari ini ia ingin menyiapkan sarapan untuk Brian.
Nafiza mulai sibuk membuat sarapan, setelah beberapa menit berlalu dua piring sarapan, satu gelas kopi dan satu gelas susu sudah tertata rapi di meja makan. Bi Inah dan asisten rumah tangga yang lain di larang membantu Nafiza menyiapkannya, ia ingin menyiapkannya sendiri untuk Brian.
"Kamu tidak membangunkanku?" ucap seseorang yang baru saja berjalan masuk, matanya terlihat masih mengantuk. Brian menguap sesekali dan duduk di kursi di dekat Nafiza berdiri.
"Maaf aku berniat membangunkanmu setelah sarapannya siap" Nafiza menarik kursi dan duduk.
"Ini kamu memasaknya sendiri?" tanya Brian melihat meja makan sudah rapi.
"Iya cobalah cicipi" Nafiza menyodorkan sendok dan piring berisi makanan. Brian mengambilnya dan mulai menyendok memakan sarapan yang di siapkan istrinya. Nafiza gugup melihat sendokan pertama suaminya.
"Lumayan enak" Nafiza bernafas lega, ia khawatir masakannya tidak layak untuk di makan.
"Kalau begitu habiskan ya" Nafiza juga ikut memakan masakannya sendiri.
"Kamu harus ke sekolah kan? nanti aku antar sekalian berangkat kerja"
"Iya" mereka melanjutkan sarapannya berdua.
***
Nafiza sudah siap dengan seragam sekolahnya, setelah beberapa hari ini ia tidak mengenakannya, ia jadi merasa rindu dengan seragamnya. Brian dan Nafiza sudah berada di mobil, Brian menepikan mobilnya di depan gerbang sekolah.
"Aku berangkat ya" pamit Nafiza sambil mengecup pipi Brian.
"Oke boss!!" Nafiza turun dari mobil dan menutup pintunya, ia melambaikan tanganya sampai mobil Brian berjalan jauh. Nafiza melangkahkan kakinya menuju ke dalam sekolah.
"Nafiza!!" Tita tiba-tiba muncul dari belakang dan langsung merangkul tangan sahabatnya.
"Hay Tita" jawabnya sambil tersenyum.
"Wah rambut panjang Nafiza basah pagi-pagi. Habis keramas ya? pasti habis ehem ehem" Goda Tita melihat rambut terurai Nafiza sedikit basah.
"Ssstttt bicaranya jangan kencang-kencang!!" Nafiza berusaha menutup mulut Tita dengan tangannya tetapi tidak berhasil. Tita malah menarik Nafiza ke kantin sekolah mengajaknya mengobrol lebih jauh.
"Jadi kamu sudah melakukannya dengan Brian?" tanya Tita penasaran, Nafiza hanya menganggukan kepalanya sambil memasang wajah bahagia.
"Waaaahhhhh" Tita memukul-mukul bahu Nafiza dengan kedua tangannya, merasa gembira mendengar jawaban Nafiza. "Lalu bagaimana rasanya?" Tita semakin antusias.
"Awalnya rasanya sakit Ta tetapi semakin lama aku semakin menikmatinya"
"Waaaaaa" teriak Tita semakin kencang memukul bahu Nafiza.
"Aw sakit Ta!! Oia aku ingin mengembalikan ini" Nafiza memutar dan merogoh tas ranselnya mengeluarkan sesuatu.
__ADS_1
"Kamu tidak jadi pakai ini?" Tita menerima 'pengaman' yang di berikannya pada Nafiza tempo hari.
"Tidak, mangkannya aku kembalikan"
"Kenapa? apa rasanya tidak enak? kamu mau mengganti rasanya? kamu ingin mengantinya tidak? ada rasa coklat, mint, pisang, stroberi, coklat dan anggur. Kamu bisa pilih nanti ku bawakan untukmu"
"Kamu tahu darimana pengaman seperti itu ada rasanya?" Nafiza merasa aneh dengan apa yang di dengarnya, seperti makanan padahal bukan. Hehe
"Bukan cuma rasa Fiz, ada juga yang berduri, bahkan yang lebih hebat lagi yaitu yang menyala dalam kegelapan. Glow in the dark, hahahaha" mereka berdua tertawa.
"Kamu sangat ahli dalam hal ini, jangan-jangan kamu pernah mencobanya!!" tatapan tajam Nafiza pada Tita.
"Tidak Fiz, bagaimana mau mencobanya. Suami tidak punya, pacarpun tak ada"
"Aku jadi ingat seseorang yang selalu jomblo"
"Siapa?"
"Ahh tidak, kalau tidak mencobanya kamu tahu dari mana Ta masalah pengaman ini?"
"Aku membacanya dari internet, hahaha"
"Kamu sangat nakal, untuk apa kamu membacanya?"
"Untuk berjaga-jaga"
"Jangan melakukannya jika bukan dengan suamimu Ta"
"Mangkanya carikan aku suami" rengek Tita tiba-tiba.
"Cari saja sendiri"
"Ih jahat!!"
***
Ini dia visual si imut Tita sahabat terbaik Nafiza, dia polos dan berani. Haha
***
**Sehat dan semangat selalu Readers
Maaf jika ceritanya kurang bagus hehe
__ADS_1
Silahkan like komen dan vote jika berkenan
Aku padamu 😍**