
1 bulan telah berlalu, terhitung dari haid terakhirnya Dewi sudah telat 1 Minggu, harusnya memang setiap tanggal 15 setiap bulan nya ia akan mengalami Haid namun sekarang sudah hampir tanggal 25 Dewi juga belum hamil.
Dewi tersenyum sendiri, ia merasa yakin kalau ia tengah mengandung, sejak bangun tadi pagi Dewi selalu tersenyum sendiri, hingga membuat sang suami kebingungan.
“Kamu kenapa sayang, kok senyum-senyum terus dari tadi ?” tanya Afnan.
“Ada deh” jawab Dewi, lagi-lagi tersenyum membuat Afnan hanya geleng-geleng kepala.
“Nanti aku kasih tau Mas kalau memang beneran positif” batin Dewi lalu berlalu dari hadapan suaminya.
Afnan sedang duduk di ruang televisi untuk menyelesaikan pekerjaan nya, karena rencananya Afnan akan memindahkan perusahaan nya ke Jakarta saja supaya tidak bolak-balik lagi dan meninggalkan anak istrinya.
“Abi lagi ngapain sih ?” tanya Alwi yang duduk di samping Afnan.
Afnan menoleh lalu mengelus kepala Alwi sambil tersenyum “Lagi ada pekerjaan sedikit Nak, kenapa memangnya ? Alwi sudah mainnya ?”
“Sudah Bi, aku bosan main terus”
Afnan hanya terkekeh, Alwi memang begitu, dia mudah sekali bosan dengan permainan tapi kalau ke toko mainan Alwi selalu ingin di minta belikan.
Afnan pun tidak pernah menolak dia dengan senang hati membelikan apa saja yang di inginkan Alwi, walaupun ia tau kalau Alwi bukan anak kandungnya, namun kasih sayang itu tumbuh begitu saja di saat hari pertama mendengar tangisan Alwi kedunia ini.
“Mas aku keluar dulu ya" pamit Dewi
Afnan mengernyit kan keningnya sambil menatap sang istri yang sudah berpakaian rapih.
“Mau kemana ?” tanya Afnan
“Mau keluar sebentar, janji gak lama deh” jawab Dewi.
“Iya, tapi keluar itu mau kemana ? Kan banyak tempat nya”
Dewi berpikir sebentar, sebenarnya ia tidak ingin memberi tahu sang suami, nanti saja pikirnya saat sudah selesai melakukan tes.
“Ya Mas, aku keluar sebentar” Dewi kembali pamit.
“Kalau Mas tidak tahu tujuan nya tidak akan Mas izinkan” tegas Afnan
Dewi mendesah kesal, lalu duduk di sofa dengan keadaan begitu menyebalkan.
Afnan menutup laptopnya setelah sebelumnya mematikan nya terlebih dahulu. Ia berdiri dan beralih duduk di samping istrinya.
__ADS_1
“Mas bukan nya tidak mengizinkan sayang, mas hanya ingin tahu kamu mau kemana, karena Mas takut terjadi sesuatu sama kamu” ucap Afnan dengan lembut.
“Aku cuman mau ke Apotik Mas” akhirnya Dewi mengatakan kejujurannya.
“Apotik ? Mau ngapain kesana Dek ?”
“Beli taspeck” gumam Dewi namun masih terdengar jelas di telinga Afnan
Seketika Afnan langsung tersentak kaget mendengar sebuah alat untuk mengetahui kehamilan yang barusan di ucapkan oleh sang istri.
“Tapi aku juga belum yakin Mas, cuman emang udah telat 1 Minggu" ujar Dewi menjelaskan.
“Ya sudah tes aja dulu dek, siapa tau memang beneran positif” ujar Afnan.
Terlihat sekali kalau Afnan begitu bahagia mendengarnya, Dewi merasa tidak enak hati jika kenyataannya tidak sesuai yang mereka harapkan.
“Semoga memang sudah positif ya Allah, hamba ingin membahagiakan suamiku”batin Dewi penuh harap.
Afnan langsung mengajak istrinya untuk segera berangkat ke Apotek, sama seperti Dewi, Afnan juga begitu berharap dirinya menjadi ayah seutuhnya, bukan tidak bersyukur dengan kehadiran Alwi hanya saja Afnan takut jika suatu hari nanti Alwi tau ayah kandungnya ia akan meninggalkan Afnan.
----------
“Sudah ?” tanya Afnan yang memang tidak turun dari mobil karena tidak di izinkan oleh sang istri.
“Nih” Dewi menunjukan 3 buah alat tes kehamilan kepada sang suami.
Cup.
Afnan mencium kening istrinya dengan gemas.
“Iiihhh, Mas main cium aja, kalau ada orang yang lihat bagaimana.?” Gerutu Dewi dengan kesal, namun tidak bisa di pungkiri kalau dirinya begitu bahagia di perlakukan oleh Afnan seperti itu.
“Buktinya gak ada yang lihat kan dek” seloroh Afnan.
Afnan langsung melajukan mobilnya untuk kembali kerumah, sepanjang perjalanan sesekali Afnan mengelus perut Dewi sembari mengucapkan doa.
Robbana hablana min azqajinaa wa zurriyatina qurrota’ayunin, waj’alna lil muttaqiina imama.”
Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerakanlah kepada istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
Dewi semakin takut jika hasil tes nanti menunjukan garis satu, apa yang akan ia jelaskan kepada suaminya itu.
__ADS_1
“Mas ini belum pasti ya, Mas jangan terlalu berharap dulu !” ucap Dewi hati-hati.
“Iya Sayang, mas tau kok, lagian jika memang belum positif berarti Mas harus kerja keras lagi” ucap Afnan sembari terkekeh.
Setelah sampai di rumah, Dewi langsung menuju kamarnya.
“Tes besok aja lah biar akurat kalau pagi” gumam Dewi, lalu meletakkan 3 buah tespeck itu kedalam laci.
“Enggak di tes sekarang ?” tanya Afnan yang baru muncul di ambang pintu.
“Besok aja Mas, biar lebih akurat” jawab Dewi.
“Sekarang aja Dek, Mas penasaran banget, tapi jangan di pakai semua biar besok bisa tes lagi”
Melihat suaminya begitu ingin mengetahui kebenarannya, akhirnya Dewi menyetujui. Di ambilnya satu buah tespeck dan masuk kedalam kamar mandi.
Dengan begitu hati-hati Dewi mencelupkan tespeck itu kedalam wadah yang berisi air kencingnya.
“Semoga garia dua” gumam Dewi.
Matanya terpejam tak berani melihat sebuah warna merah yang terus naik untuk sampai ke batas tespeck itu, setelah 5 menit berada di dalam kamar mandi, Dewi mulai membuka matanya dan melihat hasilnya.
Namun kenyataan tak sesuai dengan harapan ketika garis satu mendominasi alat tes itu, berulang kali Dewi mengecek namun hasilnya tetap sama. Negatif.
“Ternyata belum di beri kepercayaan” gumam Dewi dengan mata yang berkaca-kaca.
Dewi keluar dengan langka yang pelan, melihat sang istri sudah keluar Afnan langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Dewi.
“Bagaimana ?” tanya Afnan antusias.
Dewi menggeleng, lalu memberikan hasil tes itu kepada sang suami, mendadak bayangan tentang masalalu nya kembali teringat ketika Rian begitu ingin Dewi segera hamil, ia takut Afnan akan melakukan tindakan yang sama. Mencaci atau bahkan bertindak kasar.
“Negatif ya ?” tanya Afnan dan langsung di angguki oleh Dewi.
Siapa sangka Afnan langsung menarik Dewi kedalam pelukannya.
“Jangan sedih sayang, kita masih banyak waktu untuk berusaha lebih, lagian kan kamu baru satu bulan selesai KB jadi wajar kalau belum ngisi” ucap Afnan dengan mengelus punggung Dewi dengan penuh kasih sayang.
“Maafin aku Mas. Hiks-hiks-hiks” Dewi mulai terisak
“Kenapa minta maaf kamu gak salah sayang, mungkin memang Allah belum memberikan kepercayaan lagi kepada kamu” .
__ADS_1