
Tok tok tok
Suara pintu kamar ada yang mengetuk.
"Tita aku masuk ya" ucap Nafiza sambil membuka pintu, sahabatnya itu berjalan menghampirinya yang masih membenamkan kepalanya di kedua lututnya yang ia tekuk rapat-rapat, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah juga kedua pipinya yang sedikit basah.
Nafiza menghela nafasnya dan duduk di sebelah Tita. Dia masih memperhatikannya yang masih tidak bereaksi terhadap kedatangannya.
"Sabar ya mungkin kak Troy belum siap untuk memulai sebuah hubungan" elusnya pelan pada pucuk kepala Tita.
"Aku tidak suka dengan sikapnya yang acuh saat aku menyatakan perasaanku padanya Fiz" Tita mulai berbicara tetapi posisinya masih tidak berubah belum menatap Nafiza.
"Masing-masing orang kan memiliki sikap dan watak yang berbeda-beda Ta, kita tidak bisa memaksa dia untuk bersikap yang seperti kita mau. Lalu menurutmu bagaimana? apa kamu masih ingin bertahan atau melupakan?"
"Aku tidak tahu Fiz" Tita mengangkat kepalanya. Kedua mata coklatnya berbinar menahan air mata, Nafiza memeluk Tita dan mengusap punggungnya pelan.
"Menangislah tidak usah di tahan, jika menangis bisa mengurangi rasa sesak di hatimu keluarkanlah" Tita menangis sejadi-jadinya. Ia memang mengharapkan Troy membalas perasaannya mangkanya ia sangat kecewa ketika Troy bahkan tak memberikan jawaban apapun ia anggap itu sebagai penolakan.
Setelah beberapa menit ia mencurahkan segala isi hatinya pada Nafiza, Tita mulai menarik napas panjang walau pun masih sedikit sesegukan.
"Bagaimana? apa perasaanmu sudah menjadi lebih baik?" tanya Nafiza yang tak bisa mengalihkan pandangannya pada Tita.
"Iya"
"Maaf tapi aku harus berkata seperti ini saat kamu masih sedih Ta, hari ini kita akan pulang ke Jakarta. Aku akan membantumu packing"
"Iya aku mengerti Fiz, terima kasih ya"
"Sama-sama" Nafiza dan Tita bangun dan mulai merapikan barang bawaan Tita yang masih berserakan, hari ini adalah hari terakhir mereka berlibur di puncak. Tetapi rasanya menjadi hari yang suram untuk Tita.
Setelah selesai packing, Tita dan Nafiza kembali duduk di ranjang.
"Ahhh akhirnya selesai juga"
"Fiz mataku bengkak karena menangis aku malu"
"Kamu bisa memakai ini" Nafiza mengeluarkan sebuah kaca mata hitam dari sakunya.
"Ini kan milikku, dari mana kamu menemukannya?" Tita mengambil kaca mata itu dari tangan Nafiza.
"Di dalam resleting kopermu"
"Aku sudah mencarinya ke mana-mana. Terima kasih ya Fiz" Tita merangkul bahu Nafiza.
"Iya, kalau begitu aku akan kembali ke kamarku ya. Kamu mandilah dulu nanti kita akan langsung pulang hari sudah mulai sore"
"Baik nyonya" Tita membungkukkan badannya.
" Iisshh apa sih!!" Nafiza memukul bahu Tita pelan. "Aku pergi ya" Nafiza berdiri dan mulai melangkahkan kakinya menuju pintu kamar.
__ADS_1
"Eeemm" Tita menganggukan kepalanya dan melambaikan tangannya saat Nafiza keluar dan menutup pintu. Tita kembali merenung, "Apa yang harus aku lakukan untukmu hatiku" Tita memegang dadanya yang lagi terasa sesak.
***
Troy dan Brian tengah memasukan koper dan tas yang di bawa mereka ke dalam bagasi belakang mobil, Nafiza dan Tita sudah duduk di dalam. Mereka duduk di bangku tengah sambil bersebelahan, selesai merapikan bagasi Troy dan Brian juga masuk ke dalam mobil, kedua lelaki itu duduk di depan, Troy yang mengendarai mobil tak lagi di temani Tita.
"Sudah tidak ada yang ketinggalan?" tanya Brian memastikan.
"Tidak sepertinya sudah semua, aku juga sudah memeriksa villa sebelum ke sini" jawab Nafiza.
"Oke kalau begitu ayo kita jalan" Troy mulai melajukan mobilnya, ia melirik ke arah Tita melalui kaca kecil di tengah mobilnya, sekilas melihat Tita yang mengenakan kaca mata hitamnya. Tak ada percakapan di antara mereka selama perjalanan, hanya terdengar beberapa lagu yang di putar tanpa ada suara pengiring tak seperti saat mereka berangkat ke villa yang sangat gembira.
Waktu berlalu, mereka telah sampai di rumah Brian dan sedang menurunkan beberapa barangnya.
"Troy antarkan Tita pulang ke rumahnya" perintah Brian.
"Tidak usah kak Brian, aku akan memanggil taksi"
"Jangan menolak Ta, aku sudah mengajakmu pergi setidaknya aku harus memastikan kamu juga sampai dengan selamat di rumah"
"Iya Ta, hanya di antar pulang kok"
"Ya sudah baiklah" Tita menuruti permintaan Brian, ia tak beranjak dari tempat duduknya. Nafiza mulai turun dari mobil.
"Hati-hati ya Ta"
"Sama-sama" Brian menutup pintu belakang. Troy kembali menaiki mobil dan mulai melajukan mobilnya. Tita menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangannya pada Nafiza.
Selama perjalanan suasana sangat hening, tak ada obrolan dan tak ada lagu yang di putar. Tita hanya terus memandang keluar jendela.
Mereka tiba di rumah Tita, Troy membantu memberikan koper dan tas dari bagasi, Tita mengambilnya.
"Terima kasih" Ucapnya singkat ia langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam gerbang rumahnya, tetapi tas yang di pegangnya tiba-tiba talinya terputus membuatnya terjatuh.
Troy berusaha membantunya membawakan tas karena Tita juga harus menyeret koper.
"Tidak usah membantuku, aku bisa salah paham lagi karena kebaikan kak Troy" tolaknya sambil menarik paksa tas dari tangan Troy.
"Tapi aku benar-benar ingin membantu"
"Tidak perlu, mendapat perlakuan baik dari kak Troy hanya akan menambah sakit hatiku" Tita berjalan meninggalkan Troy dengan segala keribetannya.
Troy hanya bisa memandangnya dari belakang sampai Tita tak terlihat dan pintu gerbang rumahnya di tutup.
"Maaf ya Tita" lirihnya pelan. Ia kembali ke mobil dan berjalan pulang, di perjalanan ia memikirkan bagaimana perasaannya terhadap Tita yang sebenarnya. Ada rasa nyaman saat bersama Tita tetapi juga ada perasaan gundah seperti ia merasa tak pantas baginya. Ia belum mengetahuinya membuatnya jadi ikut-ikutan frustasi, Troy hanya bisa membuang nafasnya kasar dan meremas setir mobil.
***
Nafiza menjatuhkan dirinya di kasur, sedangkan Brian hanya melihatnya sambil tersenyum dan menaruh kamera yang di bawanya ke dalam lemari.
__ADS_1
"Brian" panggilnya.
"Heemmmm"
"Aku kasihan pada Tita, dia sangat sedih di tolak oleh kak Troy"
"Kita tidak bisa memaksakan perasaan seseorang"
"Iya sih hanya saja aku tahu perasaan Tita untuk kak Troy itu sangat dalam dan tulus"
"Kita doakan saja semoga perasaan Troy untuk Tita nanti bisa berubah, bisa membalasnya" Brian menyandarkan bahunya di ranjang persis di sebelah Nafiza.
"Iya semoga suatu hari nanti kak Troy bisa menyukai Tita"
"Lalu kamu kapan akan mulai ospek di kampusmu?" Brian mengalihkan pembicaraan.
"Dua minggu lagi"
"Oh masih lama"
"Brian sambil menunggu ospek bagaimana jika kita mulai ikut program kehamilan" Nafiza merubah posisinya, ia kini sedang memperhatikan suaminya.
"Program kehamilan? apa kamu sudah siap?" Mereka berdua saling menatap.
"Aku siap"
"Serius?"
"Dua rius"
"Jangan bercanda!"
"Hehe iya aku serius" mendengar hal itu Brian ikut merebahkan dirinya dan memeluk Nafiza.
"Terima kasih ya setidaknya kamu sudah mau mengandung anakku"
"Aku bilang jangan berterima kasih sekarang, nanti saja jika ia sudah benar-benar lahir"
"Aku mencintaimu Nafiza, sangat mencintaimu" Brian semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku juga sangat mencintaimu suamiku"
***
Maaf author telat update ya
Seperti biasa author sibuk di dunia nyata. Hehe
Lanjut ga nih?
__ADS_1