
Bangun di pagi hari yang damai, Nafiza menggeliatkan tubuhnya ia mengedarkan pandangannya pada langit-langit kamar. Biasanya ia tidur di samping Brian tetapi kali ini ia tidur sendirian, sejenak ia merindukan kehadiran suaminya.
"Di Italia sudah jam berapa ya? apa yang sedang Brian lakukan? apa dia juga merindukanku saat bangun tidur seperti ini?" Nafiza memeluk guling di sampingnya. Ia merindukan sosok Brian yang hangat.
Kring kring kring
Bunyi ponsel Nafiza seperti mempunyai telepati, yang menghubunginya adalah Brian, ini adalah panggilan video, Nafiza segera mengangkatnya.
"Halo istriku yang cantik" Brian menyapa Nafiza, ia segera merapikan rambutnya yang kusut.
"Hai juga suamiku yang tampan" sapanya bersikap sok imut.
"Kamu belum berangkat ke sekolah?"
"Belum, nanti sekitar satu jam lagi aku pergi. Di sana pukul berapa sekarang?" tanya Nafiza melihat Brian berada di kamar hotel dan terlihat masih gelap.
"Di sini baru pukul 02.00 malam" perbedaan waktu Indonesia dengan Italia 5 jam, waktu Indonesia lebih cepat dari Italia.
"Kenapa kamu belum tidur?"
"Aku tidak bisa tidur, aku merindukanmu, aku ingin tidur sambil memelukmu" wajahnya sendu.
"Aku juga sangat merindukanmu"
"Pergilah ke sekolah ambil kertas hasil ujianmu, aku akan mengirim tiket pemberangkatan lebih awal jam 12.00"
"Hem, lalu tiket yang kemarin?"
"Biarkan saja, terlalu lama menunggumu untuk besok baru berangkat. Walau pun kamu tidak lulus ujian aku tetap akan menyuruhmu ke sini"
"Jangan berkata seperti itu, aku pasti lulus" Nafiza merengek.
"Hahaha iya kamu pasti lulus"
"Tidurlah, kamu harus beristirahat"
"Kiss dulu" muncul sifat manja Brian.
Muachhhhhhh
Nafiza memajukan bibirnya ke arah ponsel miliknya.
Muaaccchhhh Muaaccchhh Muaaccchh
Di balas Brian berkali-kali lebih banyak, Nafiza dan Brian saling tertawa.
__ADS_1
"Cepatlah datang istriku" manjanya lagi.
"Iya aku akan segera meluncur ke sana"
***
Nafiza sudah bersiap dengan seragam sekolah miliknya, ia sudah berada di mobil di antar oleh pak Ramli supirnya. Setelah tiba di sekolah Nafiza langsung menuju kelasnya di sana sudah ramai murid-murid berkumpul. Tak lama kemudian pak Sardi wali kelas Nafiza datang.
"Baik anak-anak apa sudah berkumpul semua?" tanyanya.
"Sudah pak" di jawab serentak.
"Bapak akan membagikan hasil kelulusan hari ini, yang bapak panggil silahkan maju ke depan" Pak Sardi mulai memanggil anak-anak kelasnya satu persatu.
"Nafiza aku sangat gugup" Tita merangkul tangan Nafiza.
"Aku juga" Nafiza juga cemas.
"Tita Widya" panggil pak Sardi, Tita melepaskan tangannya dari Nafiza dan maju ke depan mengambil surat hasil ujian. Ia langsung duduk dan merobek amplop suratnya.
"LULUS!!" Nafiza dan Tita berteriak, keduanya berpelukan.
"Selamat ya Ta"
"Nafiza Sakura" panggil pak Sardi, ia sedikit berlari maju ke meja pak Sardi dan segera kembali ke tempat duduknya.
"Ayo cepat buka amplopnya Fiz" Tita sangat penasaran.
"Kenapa?"
"Aku akan membukanya bersama Brian, setelah pulang dari sini aku akan langsung berangkat ke Italia menyusul Brian."
"Oh begitu, pasti sangat menyenangkan membukanya dengan orang yang kita sayangi. Bersiaplah mungkin saja Brian sudah menyiapkan sesuatu untukmu di sana" Tita menyenggol bahu Nafiza.
"Aku tidak tahu, aku hanya ingin cepat bertemu dengannya" Nafiza memasukkan surat hasil ujiannya ke dalam tas.
"Ciye ciye ehem, aku membawakan ini untukmu" Tita menyelipkan sesuatu pada tangannya di bawah meja dan memberikannya pada Nafiza.
"Apa ini? FIESTA?" sebuah kotak kecil berwarna warni dari Tita.
"Hey jangan bicara kencang-kencang Nafiza" Tita menutup mulut Nafiza dengan kedua tangannya.
"Tapi apa ini?" ia mengecilkan volume suaranya.
"Ini pengaman, jika Brian memakai ini kamu tidak bisa langsung hamil."
"Bagaimana cara memakainya? pakainya di mana? benda sekecil ini apa muat untuk Brian?" Tita menepuk dahinya sendiri.
__ADS_1
"Tanya dan lihat sendiri Brian memakainya!! Hahaha" Tita tertawa bahagia sedangkan Nafiza hanya menganggukan kepalanya.
"Baiklah tapi Tita kamu dapat ini darimana?" wajah Nafiza memerah.
"Aku menemukannya di laci kamar ibuku, sudah cepat masukkan tas. Mungkin kamu akan membutuhkannya nanti" Tita tersenyum menyeringai.
"Kamu adalah sahabatku yang paling pengertian, hahahaha"
***
Nun jauh dari sekolah, di rumah Tita di kamar ibunya.
" Satu dua tiga empat, sepertinya kemarin masih ada lima kotak. Ayah melihat pengaman kita?" tanya Ibu Tita pada suaminya.
"Tidak bu, lagi pula untuk apa ibu mengumpulkannya banyak-banyak?" Ibu Tita tak menjawab dan masih menggeledah lacinya.
***
Nafiza sudah berada di bandara, ia di temani pak Ramli dan Bi Inah.
"Non tidak apa-apa berangkat sendirian?" tanya Bi Inah cemas.
"Aku sudah besar bi, Brian akan menjemputku di bandara sana"
"Hati-hati ya non" Bi Inah mengantar Nafiza sampai ke pintu masuk penumpang di bandara.
Nafiza menyeret kopernya, ia menaiki tangga menuju tempat duduknya di dalam pesawat. Ini pertama kalinya ia naik pesawat sendiri, pesawat sudah terbang naik. Nafiza memandang awan-awan putih yang sepertinya lembut itu walaupun faktanya awan itu tidak lembut karena terbuat dari air dan kristal es.
***
Setelah melalui perjalanan hampir 17 jam akhirnya Nafiza tiba di Italia, ia kembali menyeret kopernya, ia mengedarkan pandangannya mencari suami yang akan menjemputnya. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah spanduk cukup besar yang bertuliskan 'Selamat Datang Istriku Nafiza'.
Nafiza hanya terkekeh melihatnya, tak lama terlihat dua orang lelaki yang di kenalnya di samping spanduk. Iya Brian dan Troy sudah menunggunya.
"Aku merindukanmu" sambut Brian memeluk Nafiza.
"Aku juga, apa ini tulisannya sangat besar dan memalukan" Nafiza mendongakkan kepalanya pada spanduk di atasnya.
"Aku takut kamu hilang tak bisa menemukan jalan keluar"
"Aku bukan anak TK!!"
"Haha, aku hanya ingin menyambutmu" Brian merangkul pinggang Nafiza dan mengajaknya ke pintu keluar bandara.
***
Bagaimana perjalanan Nafiza dan Brian di Italia? Apa Brian membuat rencana manis untuk Nafiza?
__ADS_1
Tadinya author mau up nanti malam tapi tangan author sudah gatal π€£π€£π€£
Semoga suka ya teman-teman ππ