Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 55


__ADS_3

Keesokan paginya. Matahari mulai menampakan sinarnya. Memberi kehangatan dan kesegaran pada makhluk hidup di bumi.


Seperti Rian dan Maudy yang tinggal menghitung hari untuk melahirkan si kecil. Rian tampak antusian karena ini kali pertamanya ia akan menemani sang istri melahirkan.


Aneh memang padahal dirinya sudah memiliki anak. Tapi pengalaman untuk menemani istri melahirkan belum ada sama sekali. Kerap kali ia bertanya kepada sang Kakak apa yang mesti ia lakukan saat Maudy melahirkan nanti.


"*Hal utama kamunya jangan tegang, ataupun takut karena otomatis Maudy juga akan takut"


"Terus beri semangat keistri kamu bahwa semuanya akan baik-baik saja"


"Apapun yang di butuhkan istri kamu nanti harus kamu turuti. Ya seperti minta di pijitin pinggang nya"


"Harus sabar pokoknya* !"


Banyak sekali ucapan Kenan yang ia katakan, bahkan saking banyak nya Rian tak mengingat semua itu. Lalu beralih bertanya kepada Alya tentang rasa sakit saat melahirkan.


"Sakit banget Rian. Seperti seluruh tulang patah semua" begitu kata Alya yang berhasil membuat Rian menelan ludah berkali-kali.


"Tapi kalau udah lihat si kecil lahir semuanya akan hilang bahkan rasanya saja tak ingat"


Rian sedikit takut dengan persalinan yang akan di alami istrinya, namun anehnya Maudy tetap tenang. Bahkan tak ada raut ketakutan sama sekali di wajahnya.


"Dek" panggil Rian kepada Maudy yang berjalan duluan. Ya seperti biasa Rian akan menemani sang istri jalan-jalan pagi untuk membantu melancarkan persalinan kelak.


"Ada apa Mas ?" tanya Maudy.


"Caesar aja Ya dek !" titah Rian.


Maudy menatap Rian dengan kening mengkerut "Kan kata dokter bisa normal Mas. Ngapain pakai caesar sih. Lagian mau operasi atau normal juga tetap akan ada rasa sakitnya kok" jelas Maudy.


"Tapi mas takut dek"


"Takut kenapa ?"


"Takut kamu kesakitan"


Maudy justru tergelak "Ya ampun Mas. Aku aja yang ngalamin gak setakut itu kok." ucap Maudy sambil geleng-geleng kepala "Ada-ada saja kamu ini Mas"


Setelah itu Maudy kembali melanjutkan jalan nya, sementara Rian masih berdiam diri di tempat


"Mas ayo ! kok malah bengong disana" ucap Maudy


"Eh. Iya sayang" Rian langsung berlari mengejar istrinya.


Setelah merasa puas, Rian dan Maudy kembali pulang. Di perjalanan pulang Maudy melihat penjual somay keliling yang mengenakan grobak. Padahal masih pagi tapi bapak paruh baya itu sudah keliling.


"Mas"


"Hmmm"


"Mau somay"


Rian melihat penjual somat itu. Lalu menatap sang istri.


"Ya sudah ayo !" ajak Rian.


"Makasih Mas"

__ADS_1


Rian langsung menghampiri penjual somay itu bersama sang istri.


"Mang somay nya satu ya !" ucap Rian pada Bapak penjual somay.


"Baik den,.tunggu sebentar !" balas si bapak dengan ramah.


Maudy menatap penjual somay itu dengan teliti, terlihat sekali kalau bapak itu pembersih. Saat akan menuangkan somay bapak itu mengelap piringnya dahulu.


"Masih pagi kok udah keliling Pak ?" tanya Maudy


Bapak penjual somay menoleh dengan senyuman "Iya Neng, lagi ngejar target soalnya"


"Target apa Pak" tanya Maudy lagi.


Rian langsung istrinya takut kalau pertanyaan Maudy membuat Bapak itu agak tersinggung karena bertanya terus.


"Anak bapak mau masuk kuliah kedokteran Neng, makanya bapak ngejar supaya anak bapak bisa mencapai cita-citanya. Ya siapa tau besok anak saya bisa mengangkat derajat saya menjadi yang lebih baik" jelas si bapak tanpa risih sekalipun.


Maudy menjadi terenyuh dengan pengorbanan bapak itu, seketika ia mengingat sang Papa dulu saat dirinya baru lulus SMA dan melanjutkan ke jenjang kedokteran.


"Ini Neng somaynya" ucap Bapak itu lagi sambil menyerahkan sepiring somay kepada Maudy.


"Makasih Pak" balas Maudy.


Maudy menyantap somay itu dengan pelan. Rasanya sangat nikmat, bumbu kacangnya pas di lida.


"Mas mau ?" tanya Maudy kepada sang suami.


Rian menggelengkan kepalanya sambil tersenyum "Buat kamu aja dek"


Bapak penjual somay tersenyum melihat keromantisan Rian dan Maudy, apalagi saat Rian mengelap sisa saos di pinggiran bibir Maudy.


"Udah mau lahiran Mang" jawab Rian.


"Wah selamat ya, semoga lancar dan dua-duanya sehat"


"Aamiin" jawab Rian dan Maudy serempak.


Piring somay di tangan Maudy telah kosong, Maudy menyerahkan piringnya kepada bapak penjual somay sementara Rian mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang sebesar 1 juta rupiah.


"Ini kebanyakan Pak, harga somay nya hanya 6000 rupiah" tolak Bapak itu.


"Ini buat biaya tambahan kuliah anak Bapak, saya tau ini gak akan cukup tapi setidaknya dapat membantu.. Terima kasih telah mendoakan istri dan calon anak saya" Rian tetap memberikan uang itu di tangan bapak.


"Ya Allah, kalian ini sebenarnya siapa ? kenapa baik sekali ?"


Rian dan Maudy serempak tersenyum.


"Saya dokter Rian, anak dari bapak Bayu Abraham"


Bapak itu berpikir sebentar "Abraham ? bukan kah itu keluarga konglomerat. Apa dia adik dari Tuan Kenan ya ?" gumam Bapak itu.


"Tunggu sebentar Mas"cegah si Bapak.


"Iya ada apa ya Pak ?" tanya Maudy.


"Apa Mas ini adik Tuan Kenan ya ?" tanya Bapak itu.

__ADS_1


"Iya, saya adik kandung Tuan Kenan."


"Astaga. Mimpi apa saya semalam dapat bertemu dengan adik tuan Kenan"


Rian tersenyum, lalu kemudian pamit pergi.


"Kak Kenan itu terkenal banget ya Mas" ujar Maudy.


"Iya, terkenal galak nya. Hihi" jawab Rian terkekeh.


"Tapi Kak Kenan itu gak galak deh Mas, kata siapa galak"


"Iya kalau di rumah, coba kamu dateng ke kantornya. Aura kejamnya kelihatan sekali"


"Kak Kenan punya mantan gak ya Mas, secara kak Kenan kan tampan pasti banyak cewek yang naksir dia"


Rian terdiam sebentar.


"Ada namanya Diana. Dulu Kak Kenan hampir nikah sama Diana tapi Papa malah jodohin Kak Kenan sama Kak Alya" jelas Rian, kembali mengingat bagaimana dulu Kenan sangat tak menyukai Alya.


"Tapi sekarang rumah tangga Kak Kenan sama Kak Alya harmonis banget, apalagi Kak Alya perhatian banget sama Kak Kenan" puji Maudy kepada kakak iparnya.


"Mas harap kita juga bakalan gitu ya dek" harapan Rian.


"Aamiin"


Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah. Rian membukakan pintu pagar supaya istrinya bisa masuk.


"Tante" teriak Zio


"Hei" balas Maudy.


"Eeettsss" Rian langsung menyetopkan tingka Zio yang ingin di gendong sama Maudy.


"Gendong sama Om aja ya !" ucap Rian.


"Gak mau, Om bau" Zio memberontak minta di turunkan.


"Mana ada Bau, Zio tu yang bau kencing. Kalau malam masih suka ngompol" balas Rian.


"Kata Mommy wajar Om, kan Zio masih kecil. Kalau udah gede kaya om kan gak lagi"


Rian hanya geleng-geleng kepala karena berdebat dengan Zio tak akan ada habisnya. Zio sangay berbeda dengan Keyla yang pendiam.



VISUAL RIAN .


-----


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN.. KASIH HADIA YANG BANYAK 😀


YANG PUNYA IG BISA FOLLOW IG AUTHOR YA 'INDAHRY214'.


YANG PUNYA FACEBOOK SILAHKAN ADD FB AUTHOR.


INDAH RY..

__ADS_1


AUTHOR TUNGGU !!


BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN NOVEL-NOVEL KU YANG BARU.


__ADS_2