
Warning episode kali ini ada beberapa adegan dewasanya, yang 20 tahun ke bawah skip aja ya. Hehe
Entah apa yang ada dalam fikiran Tita, ia mulai mendekatkan wajahnya pada Troy, bibirnya mulai maju-maju.
Jarak di antara mereka semakin sedikit, mungkin hanya tinggal beberapa centi. Tita mulai memejamkan matanya.
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu, Troy menahan bibir Tita dengan tangannya membuat ia membuka kembali matanya.
"Ada yang mengetuk pintu" ucap Troy.
"Hem?"
"Bisakah anda bangun nona?" Tita menggelangkan kepalanya dan mendorong wajahnya ingin mencium Troy lagi tetapi tangan Troy masih menempel di bibirnya dan kembali menahannya. "Maaf ada tamu nona, dia sedang menunggu di depan pintu"
Tita mendengus kesal dan menghela nafasnya, ia mengangkat tubuhnya untuk duduk melepaskan Troy yang padahal sedang ada dalam genggamannya dengan terpaksa.
Troy berdiri lalu ia melangkah berjalan menuju pintu mencari tahu siapa datang ke villa mereka.
Ceklek
"Maaf mengganggu selamat malam tuan" seorang pegawai villa.
"Iya ada apa ya?"
"Sepertinya tadi saya melihat listrik di villa ini mati, boleh saya memeriksanya?"
"Oh iya betul tadi mati tapi hanya sebentar, silahkan jika ingin memeriksa" Pria itu masuk ke dalam memeriksa bagian listrik, Troy mengikutinya.
"Tidak ada masalah dalam mesin listriknya, aneh kenapa bisa mati dan hidup sendiri" ucap pegawai villa pelan. Troy hanya melirik pada pegawai tersebut saat mendengarnya.
"Listriknya dalam keadaan baik, mungkin tadi mati karena ada kesalahan kecil tapi tidak ada membahayakan di sini" pegawai tersebut menghentikan aktifitasnya. "Kalau begitu saya permisi tuan" pegawai itu pun berjalan keluar dan pergi.
Troy menutup pintu rumah kemudian hendak pergi ke kamarnya, Tita menunggunya begitu ia melihat Troy ia langsung menghampirinya.
"Tadi ada siapa kak Troy?" tanyanya basa basi.
"Pegawai villa" jawabnya singkat.
"Oh" Troy berjalan melewati Tita.
"Sebaiknya kita tidur ini sudah larut malam nona"
__ADS_1
"Iya" Troy membuka pintu kamarnya tetapi Tita malah ikut masuk ke dalam.
"Apa yang nona lakukan?"
"Tadi katanya ayo kita tidur" Troy menghela nafasnya panjang.
"Maksudnya nona tidur di kamar nona, aku tidur di kamarku. Kita tidur di kamar masing-masing bukan tidur bersama"
"Kirain, hehe" Troy sedikit mendorong Tita keluar dari kamarnya.
"Selamat malam nona" Troy menutup pintunya.
"Eh kak Troy" Tita tak bisa berkata-kata lagi. "Lain kali pokoknya aku dan kak Troy harus lebih dekat" Tita pantang menyerah, ia pun akhirnya masuk ke kamarnya.
Setelah Troy menutup pintu, tak lupa ia juga menguncinya.
"Aku takut tiba-tiba nanti dia menerobos masuk" Troy kemudian merebahkan dirinya untuk tidur.
Masih dari balik dinding, ada dua pasang manusia yang sedari tadi mengamati Tita dan Troy sampai mereka masuk ke kamar masing-masing.
"Huh payah pegawai villa tadi mengganggu saja" umpat Nafiza.
"Lagi pula mereka kan belum menikah, menurutku lebih baik untuk mereka tidak melakukannya sekarang. Meski hanya ciuman Laki-laki kalau sudah di beri kesempatan sekali nanti akan melakukannya lagi dan lagi yang ada nanti mereka kebablasan"
"Iya sama seperti kamu" ledek Nafiza.
"Sudah kuduga pasti ujung-ujungnya kamu bilang Jun mau bertemu"
"Hahaha, ya sudah ayo jun kita beraksi" Brian menggendong Nafiza ala bridal style dan membawanya ke kamar mereka.
Brian menurunkan Nafiza di ranjang perlahan, ia merapikan rambut yang menutupi wajahnya lalu ia beralih mencium kening Nafiza kemudian turun menciumi kedua pipi dan melengguh bibir mungilnya. Kini ia beralih pada leher putih milik istrinya sedikit lebih ganas, meninggalkan sebuah tanda kemerahan pada leher tersebut.
"Aaahhh sakit" Brian mengigit leher itu, ia hanya tersenyum tipis memandang wajah Nafiza dan kembali meraih lekukan indah di bawah dagu istrinya. Tangannya kini masuk ke dalam atasan yang di pakai Nafiza memegang ujung dadanya dan sedikit memutarnya dengan kedua ujung jarinya. Membuat Nafiza mengeluarkan suara erot*s dan melenguh. Brian yang mendengar hal itu menjadi semakin brutal, ia pun sama tak bisa menahannya. Bohong jika ada yang mampu menolak semua ini. Detak jantung Brian bedetak lebih cepat, nafasnya juga semakin memburu.
Brian semakin turun dan turun menciumi tubuh bagian depan istrinya, tak ada yang terlewat, hingga tanpa Nafiza sadari semua pakaiannya telah tertanggal. Dia menahan suaranya dan mengigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara-suara desau itu lagi. Meski sudah berkali-kali melakukannya dengan Brian tetapi sampai sekarang ia masih merasa malu.
"Jangan di gigit sayang" ucap Brian pelan, kini ia mencium bibir Nafiza lagi dengan lembut dan dalam. Nafiza meresponnya ia merangkul leher suaminya dan memejamkan matanya, menikmati setiap perlakuan Brian, suaminya semakin bernafsu.
"Sayang Jun ingin segera masuk ke dalam GUAnya" Nafiza menjawab dengan menganggukan kepalanya, Brian segera bangun dan melepas semua pakaian yang menempel padanya dan bersiap memposisikan dirinya di antara kedua kaki istrinya. Perlahan tapi pasti Jun masuk ke dalam peraduannya yang sempit dan hangat tetapi itulah tempat yang selalu di inginkannya, membuatnya nyaman bergerak masuk dan keluar.
Malam panjang itu mereka lewati dengan penuh cinta.
***
__ADS_1
Pagi itu, Tita dan Troy bertemu di ruang makan. Mereka sudah memesan beberapa makanan dan minuman untuk sarapan, tak lama kemudian sang majikan dan istrinya menyusul menghampiri mereka.
Nafiza duduk di sebelah Tita.
"Wah aku lapar, maaf ya aku makan duluan" Nafiza langsung melahap makanan yang ada di depannya. Tita memandangnya matanya tertuju pada sesuatu.
"Lehermu merah-merah, kenapa itu?"
Uhuk
Nafiza tersedak, ia segera mengambil air di depannya. Ia juga memegangi lehernya sambil meminum air.
"Oh ini agak gatal aku menggaruknya" ucapnya sambil meletakkan gelas yang di pegangnya.
"Bohong! aku tahu bekas-bekas merah seperti itu biasanya habis bercumbu. Hahaha"
Ehem
Brian berdehem mendengar ucapan Tita.
"Apa sih Ta!" Nafiza menyenggol bahu sahabatnya.
"Ciye ciye mengaku saja mukamu sampai merah tuh" Tita semakin membuat Nafiza salah tingkah, Brian pun sama.
"Bagaimana kalau hari ini kita pergi ke air terjun" Brian mencoba mengalihkan pembicaraan, ia pun merasa malu.
"Jauh tidak?" tanya Nafiza.
"Tidak, nanti sehabis sarapan kita pergi ke sana ya"
"Siap!" Nafiza bersemangat.
Tita masih sesekali senyum-senyum menggoda Nafiza, Brian dan Troy asyik menghabiskan makanannya.
***
Bersambung
Author lagi kurang fokus maaf ya jika kurang seru
Jika kalian suka jangan lupa Like dan Komennya ya
Soalnya semakin hari like untuk author semakin berkurang padahal viewersnya sedang nambah
__ADS_1
Mangkanya jangan lupa pencet tombol jempolnya ya biar author tambah semanga
Have a nice day ππ