
Nafiza tengah menunggu Brian pulang, sekarang sudah pukul 23.OO dan Brian sepertinya pulang agak terlambat. Nafiza melirik lagi pada jam dinding, entah kenapa saat menunggu seseorang waktu berjalan terasa lama sekali, ia juga mengambil ponsel dan di perhatikannya terus menerus, tak ada panggilan atau pesan dari Brian, hatinya menjadi risau dan gelisah.
"Kenapa belum pulang ya? apa dia terkena macet di jalan" setelah banyak berfikir ia akhirnya mencoba menelfon Brian.
Tut tut tut
"Tidak tersambung!" ia mengunci layar ponselnya, Nafiza menjadi semakin gelisah. Akhirnya ia memilih untuk pergi ke kamarnya, ia duduk menyadarkan bahunya di ranjang. masih mencoba menelfon Brian tapi tidak terhubung juga, ia merebahkan dirinya menarik selimut dan memiringkan tubuhnya ke kanan kemudian ke kiri. Akhirnya ia menghela nafas panjang, rasanya tak sabar menunggu Brian pulang.
Kemudian terdengar bunyi suara kaki melangkah ke atas, Nafiza langsung bangun dan sedikit berlari berharap Brian sudah pulang, tapi ternyata Bi Inah yang datang.
"Maaf nona menganggu, saya hanya memperhatikan sepertinya nona sedang bingung, apa ada yang bisa saya bantu atau ada yang nona butuhkan?" tanya Bi Inah.
"Aku sedang menunggu Brian pulang bi, aku tidak perlu apa-apa, bibi tidur saja"
"Kalau begitu saya permisi non, panggil saja kalau non memerlukan sesuatu" Bi Inah kemudian turun ke lantai bawah.
Nafiza masuk kembali ke kamarnya, memandang ponselnya, tak lama terdengar suara kaki menuju lantai atas, ia segera membuka pintu dan ternyata kali ini benar-benar Brian yang datang dan sedang di depan pintu kamarnya memegang gagang pintu.
"Kamu belum tidur?" tanya Brian, Nafiza menghambur memeluk Brian.
"Kenapa baru pulang?" Brian membelai rambut Nafiza.
__ADS_1
"Tadi ada beberapa dokumen yang belum selesai jadi aku mengerjakannya di kantor" Brian membalas pelukan Nafiza.
"Aku menelfon juga tidak terhubung" Nafiza memanyunkan bibirnya sudah mulai manja.
"Ponselnya mati aku tidak sempat mengisi baterainya, kenapa kamu tiba-tiba memelukku?" mengendurkan pelukannya dan memandang wajah Nafiza.
"Aku takut kamu kenapa-kenapa" jawabnya polos. Brian tersenyum mendengarnya, dia membuka pintu dan menarik tangan Nafiza membawanya masuk ke kamar.
"Tunggulah di sini jangan kemana-mana" dia mendorong tubuh Nafiza duduk di atas ranjang, Nafiza hanya diam menurut saja. Brian pergi ke kamar mandi di dalam kamarnya.
"Eh Brian mandi, lalu kira-kira setelah mandi kita akan melakukan apa ya?" Nafiza terkekeh membayangkan apa yang akan terjadi. "Apa mungkin. . ." ia menutup wajahnya dengan tangannya.
Tak lama kemudian Brian keluar dari kamar mandi dan sudah memakai pakaian tidur, dia langsung menyandarkan tubuhnya ke samping ranjang dan menepuk kasur meminta Nafiza mendekat kepadanya.
"Apa kamu sangat merindukanku?" tanya Brian.
"Hanya sedikit tidak banyak" Nafiza melingkarkan tangannya ke tubuh Brian.
"Cih" Brian tersenyum melihat perlakuan Nafiza, dia mengecup pucuk kepala Nafiza dengan lembut dan mengelusnya pelan.
"Lusa aku akan pergi ke Hongkong, ada beberapa pekerjaan di sana"
__ADS_1
"Berapa lama kamu akan pergi?" Nafiza mendongakkan kepalanya memandang Brian.
"Lima hari"
"Hemmmm lama sekali" rengek Nafiza. "apa aku boleh ikut?"
"Tidak boleh, kamu harus sekolah"
"Lalu aku di rumah bagaimana?"
"Kamu boleh pulang ke rumah orang tuamu jika kamu merasa kesepian"
Nafiza memanyunkan bibirnya, Brian terkekeh melihatnya.
"Kamu sangat menggemaskan, aku pasti akan merindukanmu"
"Aku juga"
Kemudian Brian mengangkat sedikit kepala Nafiza, bibir mereka bertemu, ciuman yang lembut. Nafiza membuka sedikit bibirnya semakin lama ciuman itu semakin dalam, brian membaringkan tubuh nafiza pelan tanpa melepaskan bibirnya.
"Malam ini tidurlah di sini" Brian menatap pekat mata Nafiza.
__ADS_1
Nafiza mengangguk, mereka melanjutkan ciuman panasnya.