Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Episode 124


__ADS_3

Sekarang Kenan dan Alya sudah masuk kedalam ruangan Papa Bayu yang sudah di pindahkan keruangan VVIP oleh Rian, awalnya Kenan melarang Alya untuk ikut mengingat kondisi Alya belum stabil walaupun Dokter sudah menjelaskan bahwa istrinya tidak apa-apa, akan tetapi tetap saja Kenan khawatir.


“Papa” panggil Kenan pelan.


Papa Bayu membalas dengan senyuman, dengan wajah pucat serta selang oksigen yang masih menempel di hidungnya,namun tetap membuat Papa mengembang kan senyum di hadapan anak-anak dan menantunya.


Kenan berdiri di sisi Kanan ranjang sementara Rian berdiri di sisi kiri, begitupun dengan Alya dan Dewi yang mengikuti dimana suami mereka berada. Air mata Alya tetap mengalir, merasa bersalah itu ada karena hanya untuk membantunya Papa Bayu rela mengorban kan dirinya, walaupun dia tidak tahu sama sekali.


“Papa maafkan Alya karena sering banget nyusahin Papa, termasuk sekarang” ucap Alya dengan tangisan nya.


Papa Bayu memandang wajah Alya, dia hanya membalas dengan senyum kecil. Dirinya masih terlalu lemah sekarang.


“Pa--pa tidak apa-apa” balas Papa Bayu berusaha sekuat mungkin agar anak-anak nya tak khawatir.


“Papa jangan banyak bicara dulu, sekarang Papa harus banyak istirahat agar cepat sembuh, dan kita bisa pulang ke rumah” ujar Rian.


“Iya Pa betul kata Rian, Papa jangan banyak bicara dulu, Papa harus banyak istirahat” sahut Kenan kemudian.


Lagi-lagi Papa Bayu hanya membalas dengan senyuman, walau itu hanya senyum kecil namun sangat membuat Kenan dan Rian bahagia.


“Kalian juga harus istirahat, jangan khawatirkan Papa !! Papa akan baik-baik saja, dan kamu Kenan jaga istri kamu, jangan biarkan dia terlalu lelah, Papa sudah tidak sabar bertemu dan bermain dengan cucu Papa” tutur Papa Bayu dengan suara pelan.


Kenan menatap wajah istrinya, dia tahu Alya merasa lelah karena sudah melewati perjalanan yang lumayan jauh, di tambah dia sedang hamil besar.


“Aku akan mengatar Alya ke hotel, biarkan dia istirahat bersama Dewi, nanti aku sama Rian akan balik lagi kesini”


“Tidak, kalian juga harus istirahat, Papa tidak mau kalian sakit, percayalah Papa akan baik-baik saja, ada dokter di sini yang akan menjaga Papa”


Kenan dan Rian saling pandang karena bingung harus bagaimana, jujur jika mereka meninggalkan Papa nya disana sendiri Kenan takut terjadi sesuatu atau Papa Bayu butuh bantuan lalu siapa yang akan membantunya jika mereka semua pergi.

__ADS_1


“Kalian istirahat saja, biarkan Tuan Bayu aku yang jaga” tiba-tiba Pras ikut menyahut, dia tahu Kenan dan Rian bingung..


“Tidak usah Pras, kamu juga harus istirahat, sebentar lagi kamu akan menikah” balas Papa Bayu.


Desakan demi desakan Papa Bayu berikan, akhirnya semua nya menurut untuk meninggalkan ruangan itu dan mencari penginapan terdekat, sebenarnya mereka bisa saja menginap di rumah Alya akan tetapi Kenan belum ingin teringat kejadian beberapa jam yang lalu.


Setelah kepergian para anak-anak nya, Hendrik teman Papa Bayu tiba bersama para anak buahnya, tadi Hendrik langsung di kabari anak buahnya saat Papa Bayu sudah di larikan kerumah sakit karena tertembak.


“Bagaimana ini bisa terjadi ??” tanya Hendrik.


“Iya begitulah, aku malas menjelaskan”


“Cih, aku pikir tubuhmu masih sekuat dulu ternyata kau sudah rapuh Ya, dasar tua bangka”


“Hei, jaga ucapan mu, Aaawwww” Papa Bayu hendak memukul Hendrik akan tetapi rasa sakit di dada nya membuatnya tak berdaya.


“Udah diam saja !! cepat sembuh” ujar Hendrik sambil menarik kursi dan duduk di samping ranjang tempat tidur Papa Bayu.


“Fandi tewas di tempat karena di tembak anak buah kita dan mayatnya di buang ke sungai, sementara Mayang mereka buang ke panti jumpo, ya kalau di jalanan kasihan kan, dia juga cantik” jelas Hendrik.


Mendengar kalimat terakhir Hendrik membuat Papa Bayu mencebik kesal.


“Terus rumah nya bagaimana ??”


“Rumah itu sudah di bersihkan seperti sedia kala, tak ada yang tersisah sehingga membuat orang lain curiga kalau ternyata di rumah itu sudah terjadi pertumpahan darah”


Papa Bayu menyeringai, sekarang dia legah sekarang karena Fandi dan Mayang tidak akan mengganggu keluarganya lagi dan rumah itu resmi milik menantunya Alya.


“Tapi Mayang masih punya anak laki-laki, kau harus hati-hati karena setau ku dia kuliah di luar negeri, takut nya dia balas dendam karena kamu sudah menghancurkan keluarganya dan membuang ibunya” Ucap Hendrik mengingatkan.

__ADS_1


Papa Bayu baru ingat bahwa Mayang masih punya anak laki-laki yang bernama Rayhan, akan tetapi dia sudah punya rencana supaya Rayhan jatuh ke tangan nya dan melupakan ibunya..


“Kenapa kau tersenyum ?? jangan bilang kau punya rencana mengerikan ??” Tanya Hendrik waspada melihat seringai licik dari Papa Bayu.


“Kita urus dia nanti setelah aku sembuh”


“Dasar mafia, udah kena tembak masih saja berpikir yang lain, harusnya kau khawatir dengan dirimu, tembakan itu hampir menembus jantungmu, jika itu terjadi dan kau tak selamat bagaimana dengan anak-anak mu” jelas Hendrik..


“Hei kau lupa dulu aku juga pernah tertembak, dan aku masih hidup sampai sekarang”


Iya dulu Papa Bayu pernah juga tertembak dan sama seperti sekarang dia banyak kehabisan darah, akan tetapi Hendrik langsung mendatangkan orang lain agar bersedia mendonorkan darah mereka untuk kesembuhan Papa Bayu.


“Sudah kau istirahat yang banyak, biar cepat sembuh” titah Hendrik yang berdiri dan berjalan menuju sofa.


“Baiklah !! tapi tolong bantu aku memiringkan badan ku, aku capek jika terlentang”


Hendrik kembali berbalik, dan membantu Papa Bayu membaringkan badan nya setelah itu dia kembali ke sofa.


Papa Bayu miring membelakangi Hendrik, dia sana dia tersenyum tapi mata nya mengeluarkan air.


“Jangan panggil aku dulu tuhan, aku masih ingin menjaga anak-anak ku, dan aku ingin bertemu dengan cucu pertamaku, aku mohon beri aku sedikit waktu lagi” doa Papa Bayu dalam hati.


Cairan bening mengalir dengan deras membasahi pipi nya yang saat ini sudah mengkeriput.


“Istriku tunggu aku sebentar lagi, aku akan segera menemui mu, tapi tidak untuk sekarang karena aku masih ingin menjaga anak-anak kita, entah apa yang akan terjadi dengan dua putra kesayangan mu itu jika aku sudah pergi”


Rasa rindu kepada seseoang yang saat ini sudah pergi untuk selamanya itu memang sangat menyakitkan, itulah yang setiap hari Papa Bayu rasakan, setiap malam dia akan memeluk foto sang istri dan berdoa semoga mereka beremu di mimpi, namun nyatanya istrinya jarang sekali menemuinya.


Perlahan mata nya mulai terpejam, dia merasa ada seseorang yang membelai wajahnya, Papa Bayu ingin terus merasakan nya entah itu nyata atau hanya perasaan nya saja.

__ADS_1


BERSAMBUNG -------


__ADS_2