Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Episode 118


__ADS_3

Suasana Kafe semakin ramai apalagi di meja dekat dengan jendela dimana ke empat cowok tampan sedang bercanda gurau, atau lebih tepatnya mereka mengejek Zaki yang berani mengutang dengan cewek disana.


Menahan rasa malu yang amat dalam akan tetapi tak membuat Zaki tersinggung, apalagi dengan candaan Kenan dia malah senang karena bisa tertawa bersama lagi.


Meja sudah di penuhi dengan aneka makanan, karena memang mereka memesan menu yang berbeda.


“Periksa dulu dompet Lo entar ketinggalan lagi” cerocos Aska sambil terkekeh.


“Tenang sekarang aman Kok, mau Lo pada makan yang banyak di sini gue pasti akan sanggup bayar” jawab Zaki sambil memperlihatkan dompet nya yang tebal.


Kenan dan Pras kembali tertawa, melihat sikap Zaki yang seperti itu.


Sementara di bengkel Zaki ada Diana yang sedang menunggu kepulangan sang pemilik bengkel, sudah lewat jam makan siang nyatanya Zaki juga belum kembali.


Kembali menghembuskan nafas berat, Rasanya Diana sudah tak tau harus bagaimana, Zaki benar-benar mengusirnya, dan memang sudah saatnya dia pergi dari sana.


“Tujuan gue kemana ??”


Memang benar kalau Diana belum punya tujuan lain, dia sudah sangat betah berada disana selama ini Diana pikir Zaki tidak akan melakukan ini kepadanya akan tetapi kenyataan nya berbeda.


“Kita beres-beres yuk Nak, sepertinya memang Om Zaki beneran mengusir kita” ucapnya kepada Kaisar yang sedang menatapnya.


Dia langkahkan kaki memasuki rumah yang selama 2 bulan ini menjadi tempat ternyaman nya, sepertinya bukan rumahnya akan tetapi kehadiran Zaki yang selalu membawa keceriaan berhasil membuat hatinya nyaman.


Harusnya dari awal Diana memang tak menumbuhkan rasa yang lebih, dia harus sadar diri kalau Zaki tak mungkin membalas cintanya, mengingat masalalu nya pahit bahkan sangat kotor.


“Harusnya kamu sadar diri Diana, kamu itu hanya perempuan Hina dan kotor, tak pantas untuk laki-laki seperti Zaki” ucapnya pada diri sendiri.


Diana tersenyum getir sambil memandang ke kaca besar di kamarnya, sedangkan Kaisar dia letakkan di atas tempat tidur.


Sejujurnya tubuh Diana masih sangat indah hanya perut dan buah dadanya saja yang berbeda mungkin karena habis melahirkan dan di tambah saat ini sedang menyusui, akan tetapi jika Diana kembali merawat tubuhnya seperti dulu mungkin saja semuanya akan kembali sempurna, tapi Diana tak memikirkan itu lagi yang ada di pikiran nya sekarang bagaimana dia dan Kaisar hidup.


“Ok aku akan pergi ke Bandung, mungkin disana aku akan menemukan kehidupan yang lebih baik, lupakan Zaki dan semuanya yang terjadi, anggap saja kita tidak pernah bertemu”


Diana melangkah ke arah lemari, mengambil tas dan memasukan semuanya bajunya, setelah itu dia mengemasi barang-barang Kaisar, akan tetapi Diana tak membawa satu buah pun barang yang di belikan Zaki, baginya sudah cukup laki-laki itu menolong nya, apalagi uang yang di berikan Zaki sangat banyak.


“Ayo nak kita pergi, semoga nanti kamu betah ya di tempat yang baru”


Akhirnya Diana meninggalkan tempat itu, membawa 2 tas dan menggendong Kaisar, Diana sudah memesan taksi online untuk mengantarnya ke hotel, baginya besok saja pergi ke Bandung nya ini juga sudah sangat siang.


Beberapa karyawan Zaki pada bertanya mau kemana Diana akan tetapi Diana hanya menjawab bahwa dirinya akan pulang kerumah, dan karyawan Zaki hanya mengangguk tak bertanya lebih.

__ADS_1


------------------


Jam sudah menunjukan pukul 03 soreh, Kenan pulang kerumahnya bersama Zaki dan Pras, di perjalanan pulang Zaki kembali menceritakan awal mula nya dia bertemu dengan Diana.


Setelah sampai di rumah ternyata Zaki langsung pamit, begitupun dengan Pras karena dia sudah ada janji dengan Siska malam harinya.


“Gue langsung pulang ya Ken” ucap Zaki.


“Gak mampir dulu ?? katanya kangen”


“Enggak kayaknya Ken, lain kali aja kita ngumpul bareng”


“Ok deh hati-hati Lo”


“Sip, gue jalan ya”


Kenan membalas dengan anggukan, kemudian dia melihat kepergian Zaki dan Pras barulah dia masuk ke dalam rumah.


“Sayang, Daddy pulang” teriak Kenan


“Aku di dapur” balas Alya


Dengan langkah cepat Kenan langsung menghampiri istrinya, rasanya dia sudah sangat rindu dengan sang istri.


“Hiiis, gak nyampek sehari masa udah kangen”


Namun Kenan langsung mendekat dan memeluk istrinya dari belakang, entahlah apa yang sedang sang istri masak.


“Iih malu tau, di lihat bibi nanti” ucap Alya sambil berusaha melepaskan diri.


“Biarin”


Para Art yang sedang ada disana hanya tersenyum melihat keromantisan mereka berdua, bagi mereka sudah biasa.


“Lagi bikin apa sih ??” tanya Kenan masih memeluk sang istri.


“Bikin Nastar”


“Bukan nya kue Nastar pakai nanas ?? kamu kan gak boleh makan nanas ??”


“Iya kalau dikit gak papa, cuman obat pingin kok”

__ADS_1


“Kamu tu makan yang di bolehin aja sih Yang. Kalau yang di larang sama dokter ya jangan”


Alya menoleh ke belakang, dia menatap suaminya dengan kesal, memang benar kalau makan nanas tidak di anjurkan untuk ibu hamil, jika berlebihan dan kandungan masih mudah. Kalau Alya kan sudah 7 bulan lebih itu juga bukan nanas nya langsung yang dia makan melainkan yang sudah berbentuk kue.


“Tapi kan aku pingin, cuman dikit Kok” balas Alya.


“Iya tapi pingin kamu itu membahayakan anak ku, ngerti gak ??”


Alya tercengang mendengar kata anak ku dari suaminya, jadi Kenan pikir itu hanya anak nya gitu ?? lalu Alya ???


“Ini juga anak ku” bentak Alya marah.


“Iya kalau kamu sadar itu anak kamu ya jangan makan yang aneh-aneh yang membahayakan dia”


“Tau Ah” Mata Alya sudah berkaca-kaca, namun Emosi yang dia tahan semakin memuncak, mangkok kaca yang ada di hadapan nya dia banting sehingga membuat para Art dan Kenan kaget, akan tetapi yang lebih mengagetkan untuk Kenan adalah kaki Alya berdarah mungkin karena pecahan kaca yang mengenai kakinya.


“Ya Allah non, kaki Non berdarah” ucap Bik Mina


“Tidak apa-apa Bi, luka di kaki aku gak seberapa di bandingkan luka di hati aku”


Kenan menatap tajam istrinya, dia tidak menyangka Alya akan melakukan itu.


“Kamu tu apa-apaan ?? sini cepat biar aku obati kaki kamu”


“Gak usah biar aku sendiri saja, aku bisa kok tanpa kamu”


Dengan menahan perih di kakinya Alya langsung meninggalkan Kenan, menaiki anak tangga dengan ringisan kesakitan, tetesan darah segar menjadi jejak disana.


“Tuan susul non Alya saja, ini biar bibi yang bersihkan !!”


“Baik Bi, itu kue yang di bikin Alya buang aja, jangan sampai istri saya memakan nya , karena itu membahayakan”


“Baik Tuan”


Kenan berlalu meninggalkan Bik Mina dan menyusul Alya.


------------


...**LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...

__ADS_1


...RATE BINTANG LIMA**...


__ADS_2