Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Milik Brian


__ADS_3

"Hai Nafiza apa kabarmu?" sapa lelaki tersebut sambil tersenyum. Nafiza mengadahkan pandangannya.


"Kamu? Dhio kan?"


"Iya, rupanya kamu masih ingat padaku" Dhio mengulurkan tangannya berjabat tangan dengan Nafiza.


"Tentu saja, mana mungkin aku lupa kita selama 6 tahun lamanya berada dalam satu kelas. Hehe"


"Syukurlah, siapa tahu kamu lupa siapa saja teman masa kecilmu" godanya.


"Aku masih hafal semua" Nafiza dan Dhio berbincang-bincang sedikit bernostalgia. Brian memperhatikan mereka yang melupakan keberadaannya. Ia mengembungkan pipinya sambil menghela napas.



"Mereka kelihatan akrab sekali" batin Brian.


"Ehemmmm uhuk uhuk" Brian berdehem dan berpura-pura batuk mencoba menegur mereka yang asyik sendiri. Nafiza dan Dhio kemudian menoleh kepadanya.


"Ya ampun aku melupakan suamiku" seolah mengerti, Nafiza kemudian memperkenalkan Dhio dan Brian.


"Oia Dhio perkenalkan ini Brian"


"Kakakmu ya? atau sepupumu?" Dhio dan Brian berjabat tangan.


"Apa-apaan enak saja menyangka aku ini kakak Nafiza!"


Brian semakin menatapnya tajam, setajam silet. Hahaha (Ga kok author halu, menatap tajam saja intinya 😁)


"Bukan dia sua . ." Nafiza baru akan menjelaskan.


Dddrrtttt Drrrrttt


Ponsel milik Dhio bergetar, ia segera mengambilnya dari dalam tas slempang yang di pakainya.


"Sebentar ya Fiz" Dhio pergi menjauh menerima telepon itu.


Brian menatap Nafiza dengan wajahnya yang cemberut dan istrinya itu hanya tersenyum kaku, ia tahu sepertinya Brian sedikit cemburu dan marah.


"Dia hanya teman SD ku, aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya" Nafiza mencoba menjelaskan.


"Jangan dekat-dekat dengannya, aku tidak suka"


"Haha, kamu cemburu ya? tenang saja Brian istrimu ini tidak mungkin berselingkuh. Dia masih tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan suamiku yang baik, pintar dan imut" Nafiza memberinya senyuman paling manis sambil mengangkat-angkat kedua alisnya.

__ADS_1


"Cih aku tidak mau di sebut imut, aku ini lelaki sejati yang jantan" jawab Brian protes.


"Oia saking jantannya suamiku itu sampai-sampai terlalu nafsu dan mesum" ledeknya.


"Biarpun mesum tapi kamu suka kan? kamu sama mesumnya denganku!"


"Sssttt Brian bicaranya tidak usah kencang-kencang" Nafiza merangkul tangan Brian sambil mengedarkan pandangannya, beberapa orang memperhatikan mereka dan mulai berbisik-bisik.


"Kenapa? itu kenyataannya kok. Jika tidak mesum kamu tentu tidak akan mau melakukannya denganku" Nafiza menutup mulut Brian dengan kedua tangannya.


"Stop Brian kamu tidak usah bicara lagi! yang lain pasti berpikir kita ini sepasang kekasih bukan sepasang suami istri"


"€\=¥\=!?@^#:-/'$@^#€#¥#₩$&"%$" Brian mengomel mencoba menyingkirkan tangan Nafiza dengan sekuat tenaga. Beberapa kali ia berhasil menjauhkan tangan Nafiza pada mulutnya tetapi dengan sigap Nafiza kembali menutupnya.


"Nanti orang-orang berfikiran macam-macam tentang kita, berjanjilah dulu jika kamu tidak akan berteriak-teriak dan berbicara yang aneh" tegasnya, Brian menganggukkan kepalanya, Nafiza menyingkirkan tangannya perlahan.


"Nafiza ini istriku, kami sudah menikah. Kalian jangan mencoba mendekatinya, mesum? tentu saja itu hal yang wajar untuk dilakukan sepasang suami istri seperti kami" Brian dengan sengaja berteriak seperti memberi sebuah pengumuman.


"Haaaahhhh percuma saja, aku tahu kamu pasti akan melakukannya" Nafiza pasrah tangannya lemas. Orang-orang jadi tersenyum melihat Brian yang berbicara sambil menggebu-gebu.


"Lihat orang-orang di kantin sudah tahu kamu istriku, apa aku harus melakukan pengumuman agar satu universitas juga tahu?"


"Tidak usah, ini sudah cukup. jangan mengumumkannya lagi"


Seseorang kemudian menghampiri Nafiza dan Brian kembali.


"Oh tidak apa-apa Dhio santai saja"


"Kamu masuk jurusan apa Fiz?"


"Aku s1 psikologi"


"Wah sama dong, mungkin kita akan satu kelas lagi. Nafiza aku tidak bisa berlama-lama maaf ya, aku harus bertemu seseorang. Lain kali kita harus makan bersama ya"


"Hei!" Brian berusaha memperingatkan Dhio tetapi Dhio terlanjur pergi sambil berlari.


"Sampai jumpa lagi Nafiza" teriaknya. Brian memukul meja dan berdiri.


"Tidak usah bertemu Nafizaku lagi! hey kau!" Brian menunjuk Dhio, ia sepertinya tidak mendengarnya dan berlalu pergi.


Nafiza menarik lengan Brian agar duduk kembali.


"Sudah Brian, dia kan hanya teman lamaku. Lain kali kamu tidak usah menemaniku ke kampus kalau begini caranya"

__ADS_1


"Memangnya kenapa? kamu maunya di anggap masih gadis dan belum bersuami?"


"Bukan begitu, Arrrgghh" Nafiza mendengus kesal. "Lebih baik sekarang kita pulang, berlama-lama di sini kita bisa bertengkar" Nafiza berdiri dan mulai melangkahkan kaki meninggalkan Brian.


Brian berusaha mengejarnya tetapi ia harus pergi ke ibu kantin terlebih dahulu membayar makanan dan minumannya tadi. Barulah ia bisa mengejar Nafiza.


"Nafiza tunggu aku, kenapa sekarang kamu yang marah? seharusnya kan aku yang begitu" Brian menarik lengan Nafiza agar berhenti berjalan.


"Aku tidak marah, aku hanya lelah lebih baik kita cepat pulang"


"Ya sudah tetapi jangan meninggalkanku juga dong" Brian menggandeng tangan Nafiza menuju mobil mereka.


Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Nafiza, sepertinya dia sangat kesal pada Brian.


"Ini jangan marah lagi padaku" Brian menaruh sebuah kertas di depan Nafiza.


"Apa ini? Villa? kita mau menginap di Villa?" Nafiza membolak balik brosur yang di pegangnya.



"Iya"


"Kapan?"


"Sekarang, sesampainya di rumah langsung kemasi barangmu" Brian berbicara sambil fokus menyetir.


"Yessss!!! apa kita cuma berdua di Villa ini?"


"Memangnya mau sama siapa lagi"


"Boleh aja kak Troy dan Tita tidak? akan lebih seru jika sedikit ramai"


"Ya sudah ajak saja mereka"


"Wah asyiiikkkk terima kasih suamiku yang super duper baik"


"Sama-sama" jawab Brian sambil tersenyum.


"Horeee OTW puncak"


***


Maaf ya jika kurang menarik ceritanya. hehe

__ADS_1


Ngapain aja ya nanti dua couple itu di Villa?


Tunggu besok lagi ya ✌


__ADS_2