Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Troy


__ADS_3

Nafiza dan Tita masih berada di sekolah, tiga jari tengah mereka sudah berwarna ungu, mereka baru saja melakukan cap tiga jari untuk ijasah SMA. Mereka masih enggan untuk pulang, sesudah lulus SMA seperti ini tentu mereka akan merindukan masa-masa berada di sekolah yang tidak akan bisa terulang kembali.


"Tak terasa ya Fiz setelah ini kita tidak akan lagi memakai seragam putih abu-abu, aku akan sangat merindukan waktu seperti ini" Tita dan Nafiza sedang duduk di bangku depan lapangan olahraga.


"Iya, tiga tahun sangat cepat berlalu. Bagaimana kamu sudah menentukan akan daftar ke kampus mana dan jurusan apa?"


"Aku kan sudah bilang akan mengikutimu, kampus maupun jurusannya. Intinya kita tidak boleh terpisah. Hehe"


"Isshhh kamu benar-benar tidak punya cita-cita" Nafiza menggelangkan kepalanya.


"Kamu sudah menentukan mau daftar kemana?"


"Belum, aku masih bingung. Aku harus berbicara dan meminta pendapat Brian"


"Oooo, oia Fiz kita sudah lama tidak jalan-jalan berdua, bagaimana jika nanti sore kita pergi ke mall?" ajak Tita.


"Iya ya, aku juga ingin membeli buku sih tentang kiat-kiat untuk tes masuk universitas. Kalau begitu aku akan meminta ijin Brian dulu ya nanti aku kabari"


"Oke kalau begitu sekarang kita pulang, nanti sore kita akan bertemu lagi"


"Ayo" Nafiza dan Tita menelepon supir pribadi masing-masing agar segera di jemput.


***


Nafiza sudah berada di rumah sedang duduk di sofa depan TV, ia sudah rapi berpakaian dan hendak menghubungi Brian meminta ijin untuk pergi bersama Tita. Baru saja ia mengeluarkan ponselnya.


"Nafiza kamu mau ke mana?" Suara Brian berada tepat di belakangnya.


"Kamu sudah pulang? aku baru akan menghubungimu"


"Iya aku pulang cepat hari ini, kamu mau kemana sudah rapi seperti itu?"


"Aku akan pergi ke Mall bersama Tita, aku ingin membeli buku baru untuk persiapan daftar ke universitas. Boleh ya aku pergi" Nafiza memasang sikap manjanya, Brian terdiam sambil berfikir tetapi kemudian. .


"Iya boleh" Brian duduk di samping Nafiza.


"Asyik, kalau begitu aku berangkat ya. Kamu istirahat saja tidak usah mengantarku. Kamu kan baru pulang kerja, aku akan di antar Pak Ramli"


"Hem baiklah, ingat hati-hati tidak boleh pulang terlalu malam" Nafiza berdiri ia siap akan berangkat.


"Siap Boss" baru saja Nafiza melangkahkan kakinya.


"Tunggu."


"Ada apa?"


Nafiza berhenti berjalan, ia menunggu Brian yang sedang menghampirinya memperhatikannya dengan lekat, Nafiza sedikit curiga.


"Ada apa?" tanya Nafiza ulang.


"Sejak kapan kamu jadi semenor ini, hapus lipstiknya" Brian menghapus lipstik di bibir Nafiza dengan ibu jarinya.


"Ih Brian jangan sembarangan menghapusnya" Nafiza menyingkirkan tangan Brian.

__ADS_1


"Jangan memakai lipstik seperti ini lagi, aku akan melarangmu keluar jika kamu menggunakannya lagi"


"Hem iya!" Nafiza kesal, ia pergi ke kamar mandi untuk memperbaiki lipstik yang sudah terhapus dan mengenai sedikit pipinya.


Beberapa menit berlalu Nafiza sudah menghapus lipstiknya, bibirnya polos tak memakai apapun.


"Sudah ya aku pergi" pamitnya pada Brian.


"Tunggu"


"Apa lagi?" Nafiza mendengus kesal.


"Berbalik"


"Untuk apa"


"Berbalik!" perintah Brian. Dengan gerakan malas Nafiza berbalik.


"Pakaianmu terlalu pendek, ganti dengan yang lain!"


"Brian!"


"Ganti!"


Nafiza mengembungkan pipinya, dengan malas ia kembali ke kamarnya, kali ini ia memang memakai dress selutut, sedikit bergaya feminim tidak seperti biasanya. Karena tahu Brian akan melarangnya pergi jika tetap bergaya seperti itu akhirnya Nafiza memilih memakai jeans dan t-shirt biasa.


Nafiza turun dan berhenti di dekat Brian tanpa di perintah ia berbalik dan memutar tubuhnya seolah memamerkan pakaian biasanya dengan memasang wajah cemberut. Brian harus menahan dirinya agar tidak menertawai Nafiza yang menurut pada perintahnya dengan memasang wajah yang menggemaskan.


"Baiklah kamu boleh pergi"


"Eh awas ya beraninya kamu berkata seperti itu padaku!" teriak Brian melihat Nafiza pergi. Brian menyukainya menggoda Nafiza.


***


Setelah Nafiza pergi Brian hanya merebahkan dirinya di ranjang, ia sudah bersemangat untuk pulang cepat hari ini ingin segera bertemu istrinya tetapi Nafiza ternyata malah sudah punya rencana lain yaitu pergi dengan Tita, ia tidak bisa melarangnya.


Ia mengeluarkan ponselnya dan berinisiatif menelpon Nafiza.


***


Nafiza dan Tita sudah berada di mall, mereka sedang berkeliling di toko buku yang cukup besar mencari buku untuk persiapan tes masuk universitas Nafiza. Ia sedang memilah dan memilih beberapa buku yang ada di depannya.


Kring kring kring


Suara telepon Nafiza, ia merogoh tas dan mengambil ponsel miliknya. Panggilan tersebut berasal dari Brian


"Halo" sapa Nafiza.


"Halo, kamu sedang apa sekarang?" suara Brian.


"Aku sedang di Gramedia mencari buku, ada apa?"


"Oh tidak ada apa-apa, aku hanya merindukammu"

__ADS_1


"Iiihhh Brian menelpon hanya untuk mengatakan ini!" gumam Nafiza dalam hati.


"Iya aku juga merindukanmu, sudah dulu ya aku sedikit sibuk, aku tidak bisa mencari bukunya jika sambil memegang ponsel"


"Huuuh baiklah" suara Brian kecewa.


"Dahhhh" Nafiza menutup panggilannya.


"Dari siapa Fiz?" tanya Tita menghampiri.


"Brian Ta, dia menelpon hanya untuk bilang merindukanku padahal baru satu jam yang lalu bertemu" Nafiza bercerita sambil mengembalikan beberapa buku yang di pegangnya.


"Senangnya ya ada yang merindukan dan menunggu kamu"


"Ini sih terlalu berlebihan Ta!" tak lama kemudian.


Kring Kring kring


Suara ponsel Nafiza lagi dan tentu saja Brian menelpon kembali. Nafiza dengan malas memerima panggilannya.


"Halo, ada apa lagi?"


"Kamu sudah makan belum? kalau belum lebih baik kamu makan dulu baru mencari buku" suara Brian dari telepon.


"Ya ampun Brian aku tidak usah di ingatkan jika masalah makan!" Nafiza menutup teleponnya. "Issh ada apa sih dengannya!" Nafiza melanjutkan kegiatannya mencari buku yang cocok untuknya.


Kring kring kring


"Ini dia mau apa lagi sih? Halo!! Kenapa lagi? awas ya kalau tidak penting aku akan mematikan ponselku biar sekalian kamu tidak akan bisa menelponku lagi!" kesal Nafiza.


"Jangan galak-galak dong Nafizaku sayang" Seseorang menyentuh bahu Nafiza dan ia pun berbalik.


"Brian!!" suaminya kini tengah tersenyum lebar sambil memegang ponsel di telinganya.


"Istriku tidak usah terkejut seperti itu dong" Brian mematikan teleponnya dan mengantongi ponselnya, tangannya kini beralih mencubit pipi Nafiza.


Tita yang melihat kehadiran Brian pun ikut menghampiri Nafiza tetapi matanya menjadi salah fokus.


"Fiz siapa lelaki yang di sebelah Brian?" bisik Tita sambil merangkul tangan Nafiza.


"Oh itu sekretaris Brian namanya Troy"


"Troy?" Tita tak bisa berhenti memandangnya.


"Halo nona" sapanya sambil tersenyum.



***


Hai hai hari ini aku kasih visual Troy ya Readers hehe


Ceritanya sampai sini dulu ya author ngantuk berat πŸ˜ƒ

__ADS_1


Besok lagi ya di sambung ceritanya


See you next time πŸ’—πŸ’—


__ADS_2