Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Modus


__ADS_3

"Brian cepat bangun, hasil ujiannya sudah ada"


"Hem" Brian mengucek matanya dan mendudukan dirinya. "Bagaimana apa kamu di terima?" Brian masih menguap.


"Aku . . ."


"Aku apa?" kini ia menjadi sedikit antusias.


"Aku tidak di terima" Nafiza menjatuhkan ponsel dan tangannya di kasur.


"Kamu tidak bercanda kan?"


Nafiza menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak di terima di fakultas kedokteran tapi di terima di jurusan s1 Psikologi" Brian menghela nafasnya.


"Syukurlah, bukankah kamu memang memasukkan jurusan psikologi pada pilihan kedua?"


"Iya, tapi cita-citaku kan ingin menjadi psikiater bukan psikolog" Nafiza memajukan bibirnya.


"Psikiater dan psikolog itu sama-sama menangani kesehatan mental seseorang hanya bedanya psikolog tidak bisa meresepkan obat-obatan. Jika kamu tidak mau menjadi psikolog ya sudah kamu coba mendaftar pada kampus lain dan ikut tes lagi"


"Iya sih tapi aku lelah belajar lagi"


"Bukankah jika di terima juga kamu akan belajar lagi"


"Bukan begitu, maksudku aku lelah ikut tes seperti itu lagi membuatku pusing"


"Ya sudah berarti kamu terima saja untuk kuliah di jurusan psikologi"


"Aku pikir-pikir dulu"


"Batas daftar ulangnya kapan?"


"3 hari lagi"


"Terlalu banyak berpikir, sudah terima saja." Brian memegang tangan Nafiza.


"Menurutmu begitu?" Nafiza dan Brian saling menatap.


"Iya, di terima di sebuah universitas negeri itu sekarang susah. Kamu termasuk orang yang beruntung sudah di terima dengan kemampuan seperti ini" Ledeknya sambil tertawa.


"Maksudmu aku bodoh!" Nafiza memicingkan matanya pada Brian.


"Bukan bodoh tapi lambat mengerti. Hahaha" Brian tertawa.


"Sama saja!" Nafiza memukul pundak Brian.


"Sudah cepat daftar ulang sebelum terlambat"


"Jadi terima saja?" Nafiza mencoba meyakinkan hatinya lagi.


"Iya"


"Aku telepon Tita dulu, dia di terima atau tidak ya" Nafiza meraih ponsel yang berada di dalam laci nakas.


Tuuut Tuuut Tuuut


"Halo" sapa suara Tita.


"Ta bagaimana kamu sudah memeriksa hasil tes kemarin? kamu di terima tidak?" ucap Nafiza tak sabar.


"Aku tidak di terima Fiz" suara Tita sedih.


"Tidak di terima di mana? di kedokteran? atau justru di terima di psikologi?"


"Aku tidak di terima oleh dua-duanya Fiz" suara Tita semakin sendu.

__ADS_1


"Yaaaahhh" Nafiza tak tahu harus berkata apa pada Tita.


"Kamu bagaimana hasilnya di terima ya?"


"Di terima di jurusan psikologi Ta tapi aku tak tahu akan mengambilnya atau tidak"


"Ambil saja, kamu beruntung. Aku saja tidak di terima dimana-mana"


"Brian juga berkata begitu sih, kamu yang sabar ya. Kan masih ada jalur masuk yang lain. Daftar lagi saja di jurusan yang sama denganku"


"Iya aku belum memikirkannya, nanti saja aku pikirkan lagi" suara Tita terdengar menjadi lebih parau, sepertinya hampir menangis.


"Tita ayo semangat, ini seperti bukan Tita yang aku kenal. Kamu bisa daftar pada jalur lain, biar nanti bisa kuliah denganku"


"Hemmmm iya semangat" suara Tita masih lemas.


"Bilang semangat tapi tidak semangat"


"Baik semangat!" suaranya agak meninggi.


"Gitu dong. Oia sudah dulu ya Ta, ingat jangan terlalu lama sedihnya, masih ada kesempatan lain"


"Iya selamat untukmu ya"


"Iya terima kasih, Dahhhh"


"Daaaahhhh" Nafiza menutup jaringan teleponnya.


"Sepertinya Tita tidak di terima ya?" tanya Brian.


"Iya, kasihan padahal dia ingin kuliah bersamaku"


"Kuliah itu bukan untuk main-main atau sekedar cari teman, kalian harus lebih serius"


"Iya tuan Brian"


"Nanti siang daftar ulanglah ke kampus, aku temani"


"Aku ikut" Brian dengan cepat mengikuti langkah Nafiza dan menggandeng tangannya.


"Awas! tidak usah ikut ke kamar mandi" Nafiza menepis tangan Brian.


"Ibadah Nafiza ingat itu" Brian merangkul tangan Nafiza lagi.


"Hal seperti ini saja kamu semangat mengingatkan ibadah"


"Hehe kan selain pahala seru juga"


"Hadeehhhhh, Brian tolong ambilkan handuk barunya di dalam lemari" pinta Nafiza.


"Siap!" saat Brian memutar tubuhnya dan berjalan ke arah lemari, Nafiza berlari masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Brian mengejarnya tetapi terlambat pintunya sudah terkunci rapat.


"Hey Nafiza kenapa malah mandi sendirian. Buka pintunya" Brian menggedor-gedor pintu kamar mandi ingin di bukakan.


"Bodo ah! nanti mandi sendiri saja!" teriak Nafiza dari dalam.


"Aku mau mandi denganmu Nafizaku sayang" rayunya.


"Aku tidak mau"


"Huuuhhh payah!" Nafiza tertawa mendengar Brian mengumpat.


"Aku tahu nanti akhirnya bukan cuma mandi, pasti nanti macam-macam jadinya. Selalu saja modus dan tidak ada kenyangnya" Nafiza berbicara sendiri kemudian ia melanjutkan kegiatan membersihkan badannya.


***


Hari memang masih cukup pagi, angka pada jam digital yang di pakai Troy menunjukkan pukul 7. Troy telah rapi mengenakan pakaian olahraga dan sepatu ia memarkirkan mobilnya kemudian melakukan sedikit pemanasan sebelum berlari.

__ADS_1


Ia berada di sebuah alun-alun kota, cukup ramai orang-orang yang berolahraga pagi di sana. Udaranya masih sejuk, belum banyak kendaraan yang lewat karena mungkin jam kerja belum di mulai.


Troy mulai mengelilingi lapangan yang ada di dalamnya, cukup banyak. Ia tidak menghitungnya entah sudah berapa kali ia berputar sambil berlari. Kini ia sedang melakukan pendinginan, menjulurkan kakinya pada sebuah kursi panjang dan menggenggam jari kakinya sambil mencondongkan tubuhnya selama 10 menit secara bergantian.


Tiba-tiba seseorang duduk di kursi tempatnya menjulurkan kaki membuat Troy sedikit terkejut. Seorang gadis masih memakai piyama dan cardigan juga sandal rumah, meletakkan plastik berwarna putih dan mengambil sesuatu di dalamnya, sebuah ice cream dalam cup.


Troy memperhatikannya secara seksama, ia seperti mengenalnya.


"Nona Tita?" Troy berdiri di sampingnya. Gadis itu juga menoleh padanya.


"Kak Troy" pandangan mereka bertemu.


"Sedang apa nona Tita di sini? dan pagi-pagi sudah makan ice cream"


"Aku hanya mencari udara segar" Tita membuang wajahnya sambil menikmati ice creamnya.


"Tumben cuek, biasanya ia memandangku terus lalu menggombaliku" gumam Troy dalam hati.


Tita benar-benar menghabiskan ice cream yang di pegangnya dalam sekejap.


"Nona Tita memangnya sudah makan? makan ice cream pagi-pagi begini bisa sakit perut loh" Troy mendudukan dirinya di samping Tita.


"Aku belum makan" ucap Tita acuh, ia mengambil ice cream kedua dari dalam plastik. Troy masih memperhatikannya.


"Maaf nona tapi ini tidak baik untuk kesehatan" Troy meraih ice cream yang di pegang Tita.


"Kembalikan ice creamku. jangan ikut campur kak troy!" Tita berusaha merebutnya.


"Nona bisa sakit, jika punya masalah nona bisa menceritakannya padaku" Troy membaca raut wajah dan sikap Tita yang tak seperti biasanya.


"Berikan ice creamku dulu" Tita masih berusaha mengambil ice creamnya dari tangan Troy tetapi Troy juga tak membiarkannya, terjadilah rebut merebut ice cream. kemudian ice cream itu terlepas dari tangan Troy,  jatuh dan tumpah ke tanah.


Huwaaaaaa


Tita menangis sejadi-jadinya, orang-orang yang berada di sekitar mereka memperhatikannya.


"Eh nona Tita kenapa malah menangis, aku minta maaf menjatuhkan ice creamnya. Aku akan membelikan yang baru tapi berhentilah menangis" Troy merasa malu, ia  tidak mau jadi pusat perhatian orang lain.


"Bukan karena ice cream tapi. . tapi . ." Troy mendengarkannya dengan seksama. "Aku tidak di terima tes masuk universitas kemarin" tangisan Tita semakin menjadi.


"Oh karena itu aku kira karena ice creamnya jatuh" ucap Troy polos sambill terkekeh.


"Aku sedih, aku memang bodoh sampai tidak di terima daftar kuliah" Troy sedikit iba, ia menepuk-nepuk punggung Tita.


"Tenanglah nona Tita, terkadang tidak semua keinginan akan kita dapatkan dengan mudah"


Glepp


Tita menjatuhkan dirinya pada Troy masih menangis tetapi tangisannya agak sedikit mereda, sebenarnya Troy kurang nyaman tetapi ia tidak tega menolaknya.


"Nafiza di terima di jurusan psikologi tapi aku tidak di terima sama sekali, padahal aku ingin kuliah bersama Nafiza. Aku sudah giat belajar rasanya harapanku hancur seketika" ucap Tita sambil terisak.


"Bersabarlah nona bisa mencobanya lagi, bukankah masih ada tahap selanjutnya tesnya lagi"


"Ada"


"Cobalah lagi"


"Aku tidak yakin"


"Harus yakin dan semangat" Troy berusaha menepuk pundak Tita tetapi di urungkannya.


Tita bisa menghirup aroma parfum yang di pakai Troy, rasanya nyaman. Tak di sangka ia bisa sedekat ini dengan Troy, diam-diam Tita menyunggingkan senyumnya. (Bisa aja Tita ngambil kesempatan dalam dekapan 😂😂)


***


To be continued

__ADS_1


Maaf jika kurang menarik ya


Maaf juga telat update, terjadi banyak kendala di luar kuasa author


__ADS_2