
“Nih undangan buat kalian berdua” ucap Kenan sambil meletakkan dua buah undangan kepada kedua sahabatnya yakni Aska dan Zaki.
“Undangan dari siapa ?” tanya Aska, namun tangan nya terulur untuk mengambil undangan yang berada di depan matanya.
“Dari adik gue lah siapa lagi, masa iya gue nyebarin undangan milik tetangga” jawab Kenan.
“Ya kirain” sahut Zaki sambil mengu Lum senyumnya.
Sama seperti Aska, Zaki pun membuka undangan dimana tertulis nama Rian dan Maudy, mereka berdua serempak menganggukan kepalanya, lalu kemudian menutup undangan itu dan memasukan lagi ke dalam plastik bening.
“Si Duda laku juga ya” seloroh Aska, tak memperdulikan kalau ucapan nya akan membuat ia memperoleh tatapan tajam dari Kenan.
“Lah iya, enak bener ya udah Duda dapat nya perawan terus” sahut Zaki kemudian.
“Brengsek, kalian berdua kenapa mala kek ngehina adik gue ya ?” balas Kenan dengan menggebrak meja.
Hahahaha.
Justru Aska dan Zaki serempak tergelak, hingga membuat Kenan semakin naik pitam.
“Tenang bro, santai aja ! Jangan kek orang gak di kasih jatah” ucap Aska masih dengan tawanya yang menyebalkan.
“Eh tapi semalam gue emang gak dikasih jatah tau gak sama Cella” Zaki memasang wajah yang begitu menyedihkan.
“Lah itu derita Lo, kalau gue mah kagak, mana berani si Fina membuat si Junior terbengkalai gak dapat belaian”
Kenan langsung mengusap wajahnya dengan kasar, berhadapan dengan kedua makhluk paling aneh seperti Aska dan juga Zaki harus sering nyebut, Kenan bahkan bingung kenapa dulu ia bisa bersahabat dengan mereka.
Tidak berapa lama, pesanan mereka datang, menghentikan kegiatan Aska dan juga Zaki yang masih salinga membahas masalah jatah.
“Makasih Adek cantik” ucap Zaki saat pelayan kafe selesai menghidangkan makanan mereka.
Pelayan itu hanya membalas dengan senyuman malu-malu.
“Gak usah senyum sama dia mbak, dari pada entar di samperin sama bininya” ucap Kenan dimana ucapan nya langsung membuat pelayan tersebut mengatupkan bibirnya dengan cepat, hingga tidak ada lagi senyum indah yang Zaki lihat barusan.
“Iya, bininya galak mbak" Aska pun menambahi.
Pelayan itu langsung pergi meninggalkan meja Kenan, Aska dan juga Zaki.
“Sialan kalian berdua” umpat Zaki kesal.
Namun Aska dan Kenan Hanya tertawa saja, hingga mereka menghabiskan makanan mereka dengan tenang, mereka bertiga sengaja tidak membawa istri masing-masing karena kangen dengan kebersamaan para lelaki.
---------------
Tepat pukul 2 siang, Aska pulang kerumah dengan perasaan bahagia, ia langsung menghampiri sang istri dimana sedang bermain bersama Jihan putri mereka.
“Ada undangan dek” ucap Aska sambil mendudukan diri di samping sang istri, tak lupa ia mencium kening Fina sebentar.
__ADS_1
“Dari siapa ?” tanya Fina
“Rian, mantan suami Dewi”. jawab Aska, lalu memberikan undangan tersebut kepada sang istri.
Fina hanya mengangguk saja, memang ia sudah tau kalau Rian akan menikah lagi, kemaren Alya sudah memberi tahu dirinya hanya saja Fina lupa memberi tahu Aska.
“Mau makan dulu apa mandi dulu ?” tanya Fina lagi.
“Bentar Dek, Mas mau mainan sama Jihan dulu, oh iya bagaimana sama yang di perut apa rewel ?” Aska mendekati Jihan yang sedang bermain boneka Barbie.
“Enggak Mas dia enteng” jawab Fina sambil mengelus perut buncitnya yang sudah akan melahirkan tinggal menunggu hari saja.
“Syukurlah kalau begitu”
-----------
Sementara itu,
Dewi sedang menemani Alwi bermain di depan rumahnya, ia tidak ingin kejadian waktu itu terulang lagi apalagi dengan ancamana Rian yang begitu menakutkan.
Entah kenapa Dewi begitu takut dengan ancaman Rian.
“Jaga dia baik-baik jangan sampai kejadian ini terulang lagi, kalau enggak ku gantung kau”
Dewi mendesah berat, lalu menggelengkan kepalanya, tidak seharusnya ia masih memikirkan laki-laki lain padahal ia sudah memiliki suami yang teramat mencintainya.
“Kan tadi udah nak, jangan banyak-banyak lah nanti Abi marah loh” balas Dewi dengan begitu lembut.
Namun Alwi masih saja ingin somay padahal baru 1 jam yang lalu Dewi membelikan nya.
Dengan berat hati akhirnya Dewi membelikan Alwi somay satu porsi.
“Berapa bang ?” tanya Dewi kepada Abang penjual somay.
“5000 Neng” jawab penjual somay.
Tampak Alwi tersenyum dengan gembira, melihat Alwi yang senang Dewi pun ikut bahagia.
“Abisin ya Nak, tapi ingat jangan minta lagi nanti Bunda laporin sama Abi”
Dengan cepat Alwi mengangguk, membuat Dewi tersenyum simpul kemudian kembali mendudukan diri di kursi depan rumah sambil memperhatikan Alwi yang tampak lahap makan.
Sesekali matanya menatap keluar pagar, hanya kendaraan lalu lalang yang di tangkap indera penglihatan nya, namun saat beralih beberapa saat ada seseorang yang memanggil nama Dewi.
“Permisi Mbak” ucap seorang pria yang memakai kemeja biru itu.
“Iya ada apa ?” tanya Dewi heran
“Mau ngasih undangan, untuk Mbak Dewi”
__ADS_1
“Undangan ?”
“Iya, ini mbak”
Dewi mengambil undangan itu, setelah pria tersebut pergi Dewi kembali masuk kerumah tak lupa menutup pagar dahulu.
“Undangan siapa ya ?” gumam Dewi pelan.
Disana jelas tertulis nama Dewi dan Afnan, namun dengan cepat mata Dewi membulat saat melihat kalau undangan itu dari Rian mantan suaminya.
“Mungkin memang ini jalan nya, aku sama Mas Afnan dan kamu sama calon istri kamu” batin Dewi sambil menatap undangan itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Hingga tak terasa buliran air mata sudah mengalir membasahi pipinya, Alwi yang melihat Dewi menangis langsung mendekat.
“Bunda kenapa menangis ?, Alwi janji gak minta di beliin somay lagi” ucap Alwi dengan polosnya.
Dewi langsung tersenyum, melihat kepolosan putranya, hanya Alwi yang akan membuat dia selalu bahagia.
“*Aku tidak akan mengatakan semuanya pada Mas Rian, biarlah semua nya berjalan seperti ini, Alwi menganggap kalau Ayahnya hanya Mas Afnan dan Mas Rian menganggap kalau ia tak pernah memiliki anak dengan ku”
“Mungkin ini salah namun inilah yang terbaik, biarlah semuanya seperti ini*”
“Tadi Bunda kelilipan Nak, tidak nangis” jawab Dewi berbohong.
“Tapi kenapa hidung Bunda merah”
Namun sebelum Dewi sempat menjawab ponsel miliknya berbunyi, dengan cepat Dewi melihat siapa yang menelpon dan ternyata itu adalah Afnan suaminya.
“Ini Abi telepon Nak” Dewi menyerahkan ponselnya kepada Alwi
“Horee Abi telepon”
Secepat kilat Alwi langsung menggeser menu hijau untuk menjawab panggilan dari Afnan.
“Assalamualaikum anak Abi”
Begitu Suara Afnan di seberang sana.
“Waalaikumsalam Abi, kapan pulang ? Alwi rindu Bi”
Dewi terkekeh mendengar anaknya begitu banyak bertanya kepada Afnan.
“Lusa Abi pulang, oh ya mana Bunda ?”
Alwi langsung memberikan Ponselnya kepada Dewi.
“Apa kabar Mas ?” tanya Dewi saat melihat wajah suaminya.
“Alhamdulillah sehat, Lusa Mas pulang ya tungguin Mas di rumah”
__ADS_1