
Selasa. 15 agustus 20**.
Malam itu menjadi saksi bisu berakhirnya perjalanan kisah cinta rumah tanggan Dewi dengan seseorang yang teramat ia sayangi. Rasa sakit dan kecewa bercampur menjadi satu.
"Malam ini aku talak kamu, dan pergilah yang jauh karena aku tidak ingin melihat wajah kamu lagi"
Kata menyakitkan dan paling menusuk itu berhasil membuat langka kaki Dewi lemah. Sekuat tenaga ia tak ingin menangis tapi tak berhasil karena air mata yang berwarna bening itu telah meluncur dengan deras.
Kenapa semua ini terjadi ??
Tidak kah ada kesempatan lagi untuknya ?
Apa begitu besar kesalahan yang ia lakukan sehingga semuanya harus berakhir seperti ini.
"Mama" panggil Dewi terisak.
Mama Mira memeluk anaknya, heran bercampur bingung karena Dewi pulang sendiri dan malam-malam begini.
"Mana Rian ? kenapa pulang sendiri ?" tanya Mama Mira.
Dewi hanya menjawab dengan gelengan kepala, belum kuat untuk menceritakan semuanya kepada sang Mama, tentang apa yang terjadi dengan pernikahannya dengan Rian.
Laki-laki itu teramat tega memperlakukan dirinya selama ini, Rian terus menyalahkan Dewi atas keguguran yang ia alami.
"Ayo masuk !" ajak Mama Mira.
Di ruang keluarga, dengan cahaya yang terang karena sinar lampu, Dewi masih saja menangis. Mama Mira mengelus punggung Dewi.
"Ada apa Nak ? kenapa kamu sendiri kesini ?"
"Mana Rian ?"
"Kenapa dia tidak mengantar kamu"
Sederetan pertanyaan yang di ucapkan sang Mama belum ada satupun yang ia jawab. Rasa sakit di hatinya tak bisa membuat Dewi berbicara dengan jelas.
Papa Edi mendengar tangisan seseorang, karena penasaran akhirnya Papa Edi keluar dan terkejut melihat keberadaan anaknya yang menangis di pelukan sang istri.
"Dewi" ucap Papa Edi
"Kenapa kamu menangis ?"
"Aku sama Mas Rian berpisah Pa, dia sudah menalak aku malam ini" jawab Dewi.
Hingga sejak saa itu kedua orang tua Dewi sangat membenci Rian. Dan berjanji tidak akan membiarkan anaknya balik dengan Rian lagi apapun yang terjadi.
Seminggu semenjak perpisahan Dewi. Rian datang kerumah. Awalnya Dewi enggan untuk bertemu karena masih sakit hati dengan pria itu.
"Ngapain kamu datang kesini ?" tanya Dewi
Rian menatap wajah mantan istrinya "Cuman mau ngasih ini" ujar Rian sambil meletakkan sebuah surat dari pengadilan agama.
Dewi menatap nanar kertas putih itu, tangan nya bergetar dan detik itu juga bahwa hubungan nya dengan Rian benar-benar kandas.
"Pergi kamu dari sini" usir Dewi sambil menunjuk pintu keluar.
"Aku minta maaf, jika selama kamu jadi istriku kamu menderita" balas Rian.
__ADS_1
"Pergi ! aku gak mau lihat wajah kamu"
Rian pergi.
Air mata Dewi mengucur dengan deras, ia terduduk lemas di pinggir sofa, dadanya terasa sesak.
*Ini sudah berakhir.
Tak ada jalan lagi untuk bersama
Ini berakhir*.
Dewi memukul dadanya sendiri, sesak sekali.
Bayangan masalalu saat dirinya pacaran dengan Rian kembali melintas. Bagaimana dulu Rian berjanji akan menjaga Dewi, membahagiakan Dewi.
Namun nyatanya musna, hanya karena satu kesalahan Rian bersikap layaknya orang tak berperasaan.
Dimanakah Rian yang dulu Dewi kenal ?
"Hiks-hiks-hiks. kamu jahat Mas Rian"
"Kamu jahat !"
"Kamu adalah pria yang kejam yang perna aku kenal"
πππππ
1 bulan kemudian..
"Jam berapa pesawatnya sampai Ka ?" tanya Ustadz Rahman kepada Jaka sopir pribadi.
"Sebentar lagi Ustadz" jawab Jaka.
Hingga tak berapa sudah terdengar pemberitahuan pesawat dari Turki mendarat. Ustadz Rahman langsung mendekat. .
Seorang pria tampan terlihat berjalan mendekat.
"Assalamualaikum Abi" ucap Afnan
"Waalaikum salam, syukurlah kamu sampai dengan selamat Nak" Ustadz Rahman menepuk bahu anak satu-satunya itu.
"Mari kita pulang" Ajak Ustadz Rahman lagi.
Afnan mengikuti langka kaki sang Ayah, di dalam mobil ia duduk di samping Ustadz Rahman.
"Ada apa ya Bi, menyuruh Afnan pulang mendadak seperti ini ?" tanya Afnan heran
"Nanti kita bicara" jawab Ustadz Rahman.
"Baik Abi, Akan Afnan tunggu"
Setelah sampai rumah, Afnan terdiam sebentar karena sudah sangat lama meninggalkan rumah ini, rumah tempat ia di besarkan dulu.
Rumah minimalis itu tak banyak perubahan, warna dan bentuk sama saja. Karena Ustadz Rahman tidak perna mau mengganti warna catnya. Bagi Ustadz Rahman cat itu adalah warna kesukaan sang istri.
"Assalamualaikum Umi" ucap Afnan pada foto yang menggantung di ruang tamu.
__ADS_1
"Afnan pulang Mi, di suruh sama Abi hehe, mungkin kangen ya Mi"
-----
Malam harinya Afnan menemui Ustadz Rahman di kamar. Ia duduk bersila di atas sajadah berhadapan dengan Ustadz Rahman yang baru saja selesai membaca al-quran.
"Afnan, kamu tau sendirikan kalau Abi menyuruh mu pulang pasti ada hal penting" ucap Ustadz Rahman
"Iya Abi, Afnan paham betul"
Ustadz Rahman memandang wajah Afnan dengan seksama.
"Abi ingin kamu menikah Nak" ucap Ustadz Rahman tiba-tiba.
"Sama siapa Bi, kan Abi tau sendiri Afnan belum ada calon"
"Apa kamu mau di jodohkan ?"
Afnan menatap Abi dengan kening mengkerut "di jodohkan sama siapa Bi ?"
"Namanya Dewi Mustika, dia anak dari bapak Edi Rahardian.. Ia sudah berstatus Janda karena baru sebulan yang lalu ia bercerai dengan suaminya. Kamu tau kan kalau Bapak Edi sering membantu kita, dia ingin kamu menikahi putrinya untuk menyembuhkan luka yang di torehkan mantan suami Dewi" jelas Ustadz Rahman, lalu bangkit dan meraih sebuah kertas yang Afnan yakini adalah foto.
"Ini foto Dewi Nak, dia cantik dan baik"
Afnan meraih foto itu, ia pandangi wanita cantik dengan rambut yang panjang tersebut.
"Kelihatan nya masih muda, tapi kenapa ia sudah menjanda" batin Afnan.
"Bagaimana Nak ? apa kamu mau ?" tanya Abi.
"Izinkan Afnan berpikir sebentar Abi, Afnan ingin sholat dan meminta petunjuk dengan Allah. Karena bagi Afnan menika itu adalah ibada yang paling lama, makanya Afnan tidak ingin gegabah. Beri Afnan waktu seminggu"
Ustadz Rahman kembali menatap Afnan
"Baiklah Nak, minggu depan kita bicara lagi"
"Terima kasih Abi".
Setelah itu Afnan kembali kekamar, tidak lupa membawa foto yang bernama Dewi itu.
Di dalam kamar, Afnan duduk di atas ranjang dengan menyandar di kepala Ranjang. Ia masih memikirkan ucapan Abi untuk menjodohkan dirinya dengan seorang janda.
"Ya Allah apa ini jalan yang terbaik, apa dia memang jodohku ?"
"Jika memang ia adalah jodohku, yakin kan hatiku untuk ikhlas menerima dia dan masalalunya, namun jika dia bukan yang terbaik untukku, jangan sampai ada yang saling menyakiti"
Dan mulai malam itu, Afnan mengerjakan sholat malam, meminta petunjuk kepada yang maha kuasa supaya memberikan petunjuk dan jalan terbaik untuk hubungan yang akan ia jalani.
-
Bersambung..
Sebenarnya novel Afnan dan Dewi pernah terbit di aplikasi hijau tapi karena banyak rintangan ya udah author hapus lagi dan di gabungin sama novel ini.
Flasbacknya gak banyak ya, aku cepetin aja kalau banyak kan bisa panjang banget entar pada bosan lagi hehe.
ok lanjut besok ya guys.. jangan lupa kasih hadia dan vote.
__ADS_1