Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Hari Perpisahan


__ADS_3

Brian harus menelan kembali kekecewaannya, malam ini Nafiza tidak bisa menepati janjinya. Jangankan dua kali, satu kali pun Nafiza benar-benar tidak bisa memberikannya. Itulah kodrat sebagai seorang perempuan dan pihak laki-laki harus menerima kenyataan. 😁


Brian akhirnya berguling ke sisi ranjang, ia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebal. Posisinya miring kalau di bayangkan bisa seperti sebuah kepompong hanya saja kepompong berkepala manusia.


"Ya ampun kamu marah?" tanya Nafiza melihat tingkah Brian yang aneh.


"Tidak, aku hanya kecewa" walaupun ngambek tapi Brian masih berusaha menjawabnya.


"Hahaha kamu seperti anak kecil padahal sudah berusia 25 tahun" Nafiza menepuk-nepuk tubuh Brian.


"Jangan menyentuhku karena aku tidak bisa membalasnya, aku tidak bisa menyentuhmu" Brian melirik ke belakang, memandang Nafiza sekejap dan langsung membuang wajahnya kembali. Nafiza semakin merasa geli melihat sikap Brian.


"Kalau bahasa gaulnya kamu suami ngenes, Hahaha"


"Kamu malah mentertawakanku, tidak iba terhadapku dan jun? Uupppsss" Brian keceplosan, ia menutup kepalanya dengan selimut, sekarang ia sama sekali tidak terlihat yang terlihat hanya gundukan kain.


"Jun? siapa jun?" Nafiza penasaran ia menarik paksa selimut yang di pakai membuntal Brian. "Hey Brian siapa jun? katakan padaku!"


"Jun itu adalah. ."


"Adalah. ." Nafiza mengikuti Brian berbicara, tapi Brian tak melanjutkan perkataannya. "Apa jun itu temanmu? apa aku mengenalnya?"


"Kamu sangat mengenalnya. Huahahuahaha" Sekarang Brian malah tertawa terbahak-bahak. Nafiza menjadi bingung.


"Apa sih kenapa aku tidak ingat" Nafiza menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ada fotonya tidak? aku ingin melihat jun yang mana"


"Aku tidak pernah memotretnya, terlalu menjijikan. Hahahaha" Brian tertawa lagi. tak sanggup membayangkannya memotret jun.


"Kamu hanya tertawa terus, kenalkan sekali lagi jun padaku"


"Seminggu lagi kamu akan bertemu dia"


"Kenapa seminggu lagi?"


"Karena ya bisanya dia seminggu lagi"


"Haaaaahhhh sudahlah aku tidak mengerti, aku mau mandi dulu" Nafiza bangun dari posisi duduknya dan berjalan menuju kamar mandi.


"Kamu akan terkejut dengan yang namanya jun" Brian berbicara dan terkekeh sendiri.


***


Keesokan paginya, tibalah hari perpisahan SMA Nafiza, ia sedang berdandan di kamar, sedangkan Brian sudah bersiap dan menunggunya di ruang TV. Brian sangat tampan mengenakan jas.



Nafiza tidak memanggil orang untuk mendandaninya, ia memilih berdandan sendiri, ia menyukai gaya make up natural dan simple. Rambutnya pun ia memilih untuk di ikat dan di jepit ke belakang. Dengan kebaya abu-abu yang cantik dan elegan ia mulai menuruni tangga menuju ke lantai bawah.



(Maaf di crop soalnya wajahnya bukan wajah Nafiza. Hehe)


Brian terkejut dan terpesona melihat keanggunan Nafiza, istri kecilnya itu memang selalu memberinya kejutan. Entah dari sikapnya maupun penampilannya.


"Istriku cantik sekali" Nafiza mengulurkan tangannya di sambut baik oleh Brian.


"Biasanya tidak cantik ya?"


"Cantik kok, walaupun ileran kamu tetap cantik di mataku"


"Isshhh merayu tapi meledekku, kak Troy sudah datang belum?"


"Sudah, itu dia di sana" tunjuk Brian dengan wajahnya. Terlihat Troy yang sedang bersandar pada pintu, ia sudah gagah mengenakan setelan jas seperti Brian.



"Selamat pagi Nona" Troy membungkukan badannya.


"Pagi, kalau begitu ayo kita langsung berangkat." ajak Nafiza.


"Iya, mama dan papamu sudah menunggu di sekolah"


"Iya tadi mama sudah menelfonku" kemudian mereka bertiga berjalan menuju mobil, Brian membukakan pintu mobilnya untuk Nafiza dan mengikutinya masuk ke dalam. Sedangkan Troy duduk di depan, ia mulai melajukan mobilnya.


***


Troy menepikan mobilnya, Brian dan Nafiza turun duluan, keadaan sudah ramai. Untuk siswi angkatan Nafiza mengenakan kebaya, untuk siswa laki-laki mengenakan setelan jas.


Setelah memarkirkan mobilnya, Troy segera menyusul Brian dan mengikutinya dari belakang. Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, Nafiza di apit oleh dua lelaki tampan, semua mata tertuju pada mereka, sungguh pemandangan yang menyegarkan mata bagi siapapun yang melihatnya.


Mereka segera masuk ke dalam gedung acara di sana mereka bertemu dengan orangtua Nafiza.


"Cantiknya anak mama" Nafiza memeluk mamanya.

__ADS_1


"Terima kasih mah, aku rindu mama"


"Mama juga"


"Bagaimana kabar kamu Brian?" Brian menyalami papa dan mama Nafiza.


"Baik pah"


"Ini siapa Brian?" tanya mama melihat Troy.


"Ini Troy mah sekretaris Brian"


"Selamat pagi Nyonya dan Tuan" Troy membungkukan badannya.


"Pagi" jawab mama Nafiza sambil tersenyum.


Tak lama kemudian Tita datang menghampiri Nafiza dan memeluknya.


"Hai Fiz"


"Hai Ta"


"Eh ada Om, Tante, Kak Brian dan kak Troy" sapa Tita.


"Tita cantik dan anggun sekali" puji mama Nafiza melihat Tita mengenakan kebaya perpaduan krem dan abu-abu.



(Maaf di crop lagi 😁)


"Ah Tante bisa saja, Hehe. Fiz acara sudah mau dimulai, kita duduk di sana yuk" tunjuk Tita pada tempat yang di sediakan untuk siswa kelas tiga.


"Iya, mah pah Brian aku duduk di sana ya"


"Iya nak" ucap mama.


Brian dan keluarga Nafiza duduk di depan, keluarga Brian adalah salah satu donatur terbesar di sekolah Nafiza.


Acara demi acara pun di laksanakan, hingga akhirnya acara persembahan terakhir, yaitu sebuah persembahan lagu yang akan di nyanyikan oleh salah satu band dari angkatan Nafiza. Band tersebut akan menyanyikan lagu dari Endang Soekamti yang berjudul Sampai jumpa.


Datang akan pergi


Lewat kan berlalu


Bertemu akan berpisah


Awal kan berakhir


Terbit kan tenggelam


Pasang akan surut


Bertemu akan berpisah


Hey!


Sampai jumpa di lain hari


Untuk kita bertemu lagi


Kurelakan dirimu pergi


Meskipun


Ku tak siap untuk merindu


Ku tak siap tanpa dirimu


Ku harap terbaik untukmu


Semua siswa siswi angkatan Nafiza berdiri di bawah panggung, mereka terhanyut dalam lagu tersebut, mereka saling merangkul pundak temannya, tak sedikit yang meneteskan air mata. Perpisahan memang sangat menyedihkan.


Beberapa orang mengabadikan moment tersebut, termasuk Brian. Ia meminta Troy untuk mendokumentasikan perpisahan sekolah Nafiza. Meski begitu ia tidak mau mengganggu Nafiza, ini adalah salah satu moment berharga bagi istrinya. Ia membiarkan Nafiza menikmati masa-masa yang akan menjadi kenangan manis untuknya.


Moment haru itu pun berakhir, semua siswa saling berpelukan dan berjabat tangan, mereka juga mulai membubarkan diri.


Nafiza menghampiri Brian dan keluarganya, di sambut dengan pelukan hangat mamanya.


"Selamat ya kamu sudah bukan anak SMA lagi sekarang" ucap mama.


"Ingat tetap harus belajar untuk pendaftaran masuk universitas" ucap papa.


Nafiza bergantian memeluk papa dan mamanya.

__ADS_1


"Iya terima kasih ya mah pah sudah mendidik Nafiza sampai sekarang, Nafiza janji akan lebih baik lagi"


Nafiza beralih memeluk Brian, ia melihat ada air mata di ujung mata Nafiza dan mengusapnya pelan.


"Selamat sayangku, belajarlah lebih dewasa lagi, kalau tidur jangan berantakan" bisik Brian di telinga Nafiza.


"Masa ucapan selamatnya seperti itu" Nafiza mengerucutkan bibirnya.


"Hehe, pokoknya selamat kamu sudah beruasaha dengan baik" Brian mengelus kepala Nafiza.


"Selamat nona" Troy membungkukan lagi badannya.


"Terima kasih semuanya" Nafiza tersenyum bahagia. " Ayo kita berfoto sebelum pulang" Brian dan kedua orangtua Nafiza mendekat dan mulai berpose.


Troy memotretnya dengan kamera yang di pegangnya.


"Aku ikut berfoto ya" tiba-tiba Tita muncul dari belakang.


"Ayo kemari Ta" mereka berpose kembali.


Cekrek cekrek cekrek


"Kak Troy mau ya berfoto denganku untuk kenang-kenanganan" pinta Tita.


"Sini Troy aku yang akan memotretnya" ucap Brian mengambil kamera dari tangan Troy.


"Tapi tuan"


"Sudah cepat Troy"


Tita merangkul tangan Troy dan mulai berpose manis, sedangkan Troy malah tersenyum kaku.


"Kamu kelihatan tegang sekali" Brian memperlihatkan hasil foto Tita dan Troy.


"Tak apa, biar tegang tapi tetap tampan. ehhh" Tita menutup mulutnya dengan kedua tangannya, lagi-lagi terlihat bucinnya.


"Fiz mama dan papa pulang ya, nanti mama ada acara arisan dengan teman-teman mama" pamitnya.


"Iya mah pah, hati-hati ya" Brian, Nafiza Troy dan Tita menyalami orang tua Nafiza, mereka pun pergi.


"Kita juga pulang yuk" ajak Nafiza.


"Iya"


"Ta kalau mau bertemu kamu main ke rumahku ya"


"Iya aku akan main nanti, aku juga pulang ya orangtuaku sudah menungguku"


"Daaaahhhh" Nafiza dan Tita saling melambaikan tangan.


Brian, Troy dan Nafiza berjalan menuju keluar, tetapi tiba-tiba Brian menarik tangan Nafiza pergi ke parkiran di samping gedung.


"Mau kemana Brian? kenapa terburu-buru sekali"


"Ayo aku ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu"


Nafiza terkejut dan terbelalak di depannya ada sebuah mobil sedan mewah berwarna putih berhiaskan bunga-bunga.



"Ini apa?"


"Hadiah untukmu" Brian menyunggingkan senyumnya.


"Ya ampun Terima kasih banyak ya Brianku sayang" mulut Nafiza sedikit terbuka ia menutupnya dengan kedua tangan, kini ia mulai menyentuh mobil barunya itu sambil berjalan membuka pintu mobilnya.


"Ini bagus sekali, apa aku boleh mengendarainya sekarang?"


"Tidak, aku dulu yang akan menyetirnya hari ini. Jika kamu sudah kursus menyetir dan mendapat SIM baru kamu boleh mengendarainya"


"Hem baiklah"


"Mau menaikinya sekarang?"


"Ayo"


"Troy bawa pulang mobil yang kamu bawa ke rumahmu ya"


"Baik tuan"


Brian dan Nafiza segera masuk ke dalam mobil, Brian melajukan mobilnya pelan dan hati-hati.


***

__ADS_1


πŸ’•πŸ’• From Brian dan Nafiza untuk author dan readers yang selalu mendukung cerita ini.


__ADS_2